Feature

Menurutmu, Haruskah Perempuan Bisa Memasak?

Jadi begini, saya pikir ditakdirkan menjadi seorang perempuan sudah cukup susah. Ditambah lagi, harus mengikuti beberapa hal yang selalu jadi beban. Tameng “Kamu kan perempuan”, selalu jadi alat yang dipakai untuk menekan. Kamu silahkan protes, kalau bagimu ini terlalu dilebih-lebihkan. Karena faktanya, itulah yang dirasakan oleh banyak perempuan. Dan dari sekian banyak hal yang ‘katanya’ harus dimiliki oleh para perempuan, memasak jadi satu hal yang paling getol dibicarakan.

Bukan sedang ingin membela diri, karena meski biasa-biasa begini kemampuan memasak saya cukuplah untuk membuat calon mertua terkesan. Oke, mari kembali ke titik awal. Dimana para perempuan yang tak lihai memasak dipandang tak lebih baik dari mereka yang bisa memasak.

Tak bermaksud mau melupakan ‘kodrat’, yang bilang kalau perempuan memang tempatnya ya ‘di dapur’. Tapi dengan segala perubahan yang kini ada dalam kehidupan sekarang, kenapa memasak selalu dijadikan patokan? 

Ngapain Susah-susah, Toh Sekarang Ada Segala Macam Bumbu Instan

“Kalau memasak pakai bumbu siap saji, bukan memasaknya namanya”

Kamu mungkin tak menduga, tapi percaya atau tidak beberapa orang yang keras sekali berkata bahwa perempuan harus memasak, sering berkata demikian. Tak lupa juga menyerang mereka dengan berbagai macam sindiran.

“Rasa santannya kurang pas, nggak pakai santan dari kelapa parut langsung sih”

“Ini, aroma cabenya agak berbau. Begini nih kalau cabenya nggak ngulek sendiri”

Sebagai orang yang selalu ingin belajar, hal-hal seperti ini jelas bisa jadi pengalaman. Tapi kalau akan dinilai sendiri, rasanya cabe siap saji yang kita beli dengan yang diulek sendiri. Rasanya sama-sama saja tuh. Tapi kok di lidah mereka rasanya beda ya?

Toh Berbagai Macam Platform Pesan Makanan Pun Kian Bertebaran

Lapar tengah malam, tapi tak bisa masak apa-apa? Kenapa harus merasa susah? Toh berbagai macam aplikasi pemesan makanan bisa terpasang dalam satu telepon genggam. Kita tinggal membuka aplikasi, mengetik nama makanan yang diingini dan hanya dalam beberapa menit saja. Makanan yang dipesan, sudah datang.

Dengan kata lain, tak ada lagi alasan kelaparan karena tak bisa masak makanan. Selama kamu punya ponsel dan sambungan internet plus uang yang cukup. Makanan apapun bisa didapatkan dalam hitungan jam bahkan di beberapa menit. Masih mau bilang perempuan harus bisa masak?

Tak Bisa Memasak, Bukan Berarti Tak Jadi Perempuan Kan?

Tahu tidak, ketidak mampuan perempuan untuk memasak. Sering jadi alasan untuk mengganggap diri sendiri punya kekurangan, merasa derajatnya berkurang, hingga berpikir bahwa ini adalah sebuah kesalahan fatal. Iya, terkesan sepele memang. Bahwa mungkin akan dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan, padahal bukan tak mungkin jika ini lahir dari paham patriarki yang banyak kita anut.

Yap, menempatkan laki-laki sebagai kepala sedangkan perempuan hanya akan berada di sumur, dapur, dan kasur saja. Bisa atau tidaknya seorang perempuan memasak, tak lantas mengurangi nilai keperempuanan dalam dirinya. Ia akan tetap dan selalu jadi perempuan, dengan atau tanpa kemampuan memasak, yang sering dijadikan syarat jadi calon menantu idaman.

Walau Sebenarnya Membeli Dibanding Masak Sendiri, Memang Akan Lebih Menguras Pundi-pundi

Yap, satu-satunya hal yang mungkin bisa saya terima kenapa saya harus bisa memasak, adalah perkara biaya. Biar bagaimanapun, memasak sendiri akan menghemat pengeluaran daripada setiap hari harus beli makanan siap saji.

Maka, kalau pun saya akan diminta alasan kenapa perempuan harus bisa memasak. Saya akan lebih memilih untuk menjawab “Biar hemat” daripada “Ya, karena kamu perempuan”. Ini terdengar lebih masuk akal.

Karena Kalau Perempuan Mesti Bisa Masak, Harusnya Laki-laki Juga Melakukan Hal yang Sama

Atas dasar kodrat, beberapa perempuan akirnya memutuskan untuk terjun belajar memasak dengan kesiapan yang belum matang. Bukannya, mendapat hasil yang memuaskan yang terjadi justru mereka semakin tertekan. Merasa tak berguna ketika melangkah ke dapur.

Selanjutnya, hal lain yang mungkin jadi pertanyaan. Kalau perempuan memang harus bisa memasak, berarti laki-laki juga harus bisa. Ini bukan tentang perempuan dan laki-laki, tapi tentang kemampuan yang (kalau) memang harus dimiliki. Sebab akan terasa tak adil dong, kalau yang diharuskan bisa masak itu hanya perempuan saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top