Feature

Menurut Hasil Studi, Mereka yang Kini Jadi Mantan Pacarmu Ternyata Memiliki Beberapa Kesamaan

Bukan ingin mengagalkan proses move on, tapi pernah tidak kamu berpikir, jika ternyata dari beberapa orang yang pernah jadi pacar ternyata memiliki beberapa sikap yang hampir serupa. Seolah ingin memastikan lagi, saat ini kamu mungkin sedang mencoba untuk mengingat-ingat kembali beberapa orang yang pernah jadi kekasih.

Hal ini bukannya mengada-ada, pada salah satu studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychologym, para periset di University of California, Davis, menemukan bahwa, mereka yang pernah menjalin hubungan dengan kita biasanya punya banyak kesamaan. Baik secara fisik maupun secara kepribadian.

Dan menariknya, menurut penulis riset Paul Eastwick dan tim, hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari hal pendidikan dan agama, domilisi tinggalnya, dan hal lain yang mempengaruhinya adalah ketika kesamaan ditemukan karena orang berpendidikan atau religius cenderung akan saling bertemu, jadi bukan karena mereka secara aktif saling memilih. Lalu aspek mana saja yang sejatinya berperan mempengaruhinya?

Barangkali Kita Memang Terjebak dan Berada Pada Lingkungan yang Sama

Gambarannya begini, kamu mungkin aktif disalah satu komunitas, berteman dengan orang lain yang mungkin masih bersinggungan dengan komunitas. Besar kemungkinan, suatu saat kamu akan menjalin hubungan dari salah satu dari mereka. Ya, setidaknya begitulah yang dijelaskan oleh periset genetik di VU University Amsterdam, Abdel Abdellaoui.

Yap, dengan kata lain, seseorang yang kemungkinan akan kamu jadikan pacar masih datang dari lingkungan yang sama. Entah itu teman kuliah, rekan kerja, kawan di komunitas, atau mungkin seseorang yang tinggal tak jauh dari rumahmu.

Dia Memiliki Daya Tarik yang Serupa dengan Kekasih Terdahulu Kita

Bohong jika kamu akan bilang “Aku tak ingin mencari dia yang sama seperti mantan kekasih”, padahal jika ada seseorang yang menyerupai kamu buru-buru senang setengah mati. Ini adalah sesuatu yang wajar, sebab dalam diri kita ada anggapan bahwa jika menemukan dia yang memiliki kepribadian hampir sama, jelas mudah untuk memulai hubungan dengannya. Sayangnya masih banyak dari kita yang tak berani dengan terang-terangan mengakuinya.

Bahkan menurut John Speakman, profesor di Institute of Biological and Environmental Sciences, University of Aberdeen, “Ini menunjukkan bahwa orang memilih pasangan yang tingkat daya tarik fisiknya kurang lebih sama karena mereka mencari keyakinan bahwa pasangannya tidak selingkuh.”

Hingga Bentuk Rupa dan Perawakannya Pun Cenderung Sama

Yap, nampaknya visual memang jadi kunci. Mari tengok lagi beberapa bentuk wajah dari mereka, gaya berpakaiannya, bahkan pada hal-hal remeh yang biasa ia lakukan. Tapi kamu tak perlu gelisah atau berpikir masih dalam bayang-bayang masa lalu. Sebab ini adalah kemampuan diluar kendali yang mungkin tak kita sadari.

Benar memang, wajah tak selalu jadi faktor utama. Sebab biasanya kecerdasan dan latar belakang agama pun turut serta mempengaruhi keputusan kita. Namun lebih dari pada itu, hal itu adalah sesuatu yang biasa. Sebab sains pun sudah membuktikannya.

Padahal Tetap Mencari yang Hampir Sama Adalah Kesalahan Untuk Mencari Sakit yang Serupa

Memiliki kesamaan memang bukan berarti mereka akan menyakitimu dengan perbuatan yang sama. Namun, ketika kita memilih untuk menjatuhkan hati pada sosok yang sama dengan mantan kekasih, hasil akhirnya mungkin sudah bisa ditebak, sakit hati lalu berpisah lagi.

Sekilas hal ini memang terlihat remeh, sebab terlihat seolah ingin memberi mereka semua cap yang sama. Walau sebenarnya, serupa pada bentuk fisik dan rupa berarti akan sama, bukan berarti tak ada yang berbeda. Ada bedanya, tapi kemungkinam itu sangat kecil dibanding dengan peluang mereka untuk berbuat hal yang sama. Ujung-ujungnya ya kita mungkin hanya akan mengulang kecewa lagi. 

Cobalah Untuk Menganggap Dia Sebagai Pelajaran, Agar Nanti Tak Lagi Terjebak Hanya Karena Penampilan

Mengagumi mantan atau memujanya seolah masih berharap kembali, memang bukanlah sesuatu yang salah. Toh banyak pasangan yang akhirnya memutuskan kembali bersama dengan pacar lalu menikah dan bahagia.

Tapi hal lain yang sesungguhnya kita perlukan, bijaklah dalam menilai seseorang. Meski sosoknya terlihat sama seperti mantan kekasih, tak berarti lantas akan menyakiti hati. Lebih dari pada itu, kita butuh mata dan pikiran yang jernih untuk bisa menilai mereka lagi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ciri Khas Kencan Generasi Milenial yang Katanya Ideal, Kamu Setuju?

Gaya berkencan generasi millenial dengan generasi diatasnya pasti jauh berbeda. Pun perbedaan terjadi karena imbas teknologi yang di zaman sekarang mengalami kemajuan pesat, sehingga kerap membuat hal-hal yang dulu berlaku sudah tidak terlalu dipakai di zaman sekarang. Seperti telfon-telfonan berjam-jam mungkin tak lagi mengasyikan sejak adanya video call dalam urusan berkomunikasi dengan yang terkasih.

Kencan setiap orang pun juga tak bisa disamakan. Masing-masing pasangan pasti memiliki cara berbeda dalam mengakses rasa sayang kepada pasangan. Generasi millenial yang menjadi generasi yang digital native tentu menjadi pribadi yang unik soal berkencan. Bussiness Insider melansir penelitian yang dilakukan oleh situs Plenty of Fish, yang menjabarkan perlikau kencan generasi millenial.

Cricketing

Salah satu hal yang dilakukan oleh generasi milenial adalah cricketing, yakni membaca pesan dari pasangan atau gebetan tapi tak langsung di balas. Mungkin kamu pernah merasakannya ketika dia selalu lama membalas pesanmu. Bahkan ada beberapa kasus yang menyatakan baru dibalas setelah berhari-hari menerima pesan. 67% responden yang tidak berpacaran mengaku kalau pernah mengalami cricketing.

Flexting

Memberikan kesan baik kepada lawan jenis biasa dilakukan oleh sebagian orang. Atau biasa juga dilakukan sebelum bertemu teman kencan online secara nyata. Apabila kamu pernah melakukan hal tersebut, hal ini dinamakan Flexting alias flirting with a friend using a text message. Dan menurut data plenty of fish, 47% responeden yang belum berpasangan melakukan flexting lewat pesan singkat.

Serendipidating

Serepindating bukan soal sikap, tetapi lebih ke pola pikir kalau jodoh itu adalah takdir, sehingga kamu ada keinginan untuk menolak dengan alasan bakal ada seseorang yang lebih baik lagi. Serendipidating (serendipity dating) oleh karena itu jangan heran kalau sepertiga generasi yang akrab dengan tekonologi ini sangat kehilangan kesempatan untuk berkencan.

Ghostbusting

Tipe orang seperti ini adalah tipikal yang percaya kalau dibalik usaha pasti ada hasil. Karena itu ia merupakan bukan tipikal orang yang tidak gampang menyerah, meskipun kemungkinan yang didapat sudah tidak ada. Seperti mereka bakal terus berusaha mengirimkan pesan kepada orang yang dicintai meskipun tidak mendapatkan balasan dalam waktu tertentu. Ironisnya lagi, 78% millenial mengaku pernah dihantui rasa penasaran sehingga membuat mereka menjadi ghostbusting.

Fauxbae’ing

Dapat dibilang orang dengan tipe Fauxbae’ing adalah orang yang sangat kasihan. Lantaran ia ingin membuat mantan cemburu sehingga ia sering kali menutupi kesendiriannya dengan cara pura-pura memiliki pasangan. Bahkan sampai menampilkan kemesraan dengan seseorang di sosial media. Kalau semua terlaksana ia bahagia, Semacam balas dendam yang manis, meskipun ia tidak tahu secara pasti apakah sang mantan cemburu atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Cintamu Harus Lebih Besar dari Egomu, Tapi Tak Boleh Lebih Besar dari Harga Dirimu

Perjalan kisah antara dua orang insan, jadi cerita yang tak akan ada habisnya. Benar memang, ini adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari hidup manusia, sebab asmara juga turut membantu kita dalam berbagai macam perubah. Ya, setelah rentetan fase yang kadang membolak-balikkan hati. Kita akan sampai pada titik yang mungkin sulit untuk dimengerti. Bertahan atau memilih pergi?

Perkara cinta memang tak akan ada habisnya, namun untuk memelihara cinta dengan benar. Kamu perlu tahu, sejauh mana hak dan kewajiban yang kita punya dalam hubungan. Semua rasa, baiknya ditunjukkan dengan porsi yang secukupnya saja. Tak berlebihan tapi juga tak kurang.

Untuk Segala Perkara, Kamu Harus Bedakan Apa yang Menjadi Hak dan Kewajiban dalam Hubungan

Coba ingat berapa kali kamu dituntut atau menuntut pasangan dengan cara yang berlebihan? Memaksanya untuk menjemput selepas kerja, padahal ia sedang sibuk-sibuknya, atau tak saling terbuka untuk perkara-perkara yang menyangkut hubungan berdua.

Beberapa hal boleh menjadi hak seorang perempuan, tapi kamu juga perlu paham situasi dan keadaan. Mencinta tak melulu harus menuruti semua maumu, sebab biar bagaimanapun ia juga punya sisi lain dari kehidupan yang harus ia jalani.

Sejalan dengan itu, kamu pasti paham bahwa kepercayaan dan keterbukaan adalah kunci dari sebuah hubungan. Tapi jika hal ini saja belum bisa kamu jalankan, itu artinya masih ada ego yang berakar.

Redam semua hal-hal yang berpotensi merusak hubungan, dengan mempertimbangkan apa yang akan menjadi resiko pada masa yang akan datang.

Kamu Mungkin Salah, Tapi Berdiam Diri Saat Diperlakukan Kasar, Bukanlah Pilihan yang Benar

Tak hanya dalam biduk rumah tangga saja, kekerasan dalam hubungan sering terdengar dari mereka yang masih berpacaran. Benar memang, tak ada manusia yang sempurna. Setiap kita bisa saja khilaf dan terbawa emosi atas situasi yang ada di depan mata. Tapi untuk kesekian kalinya, kamu harus paham. Diperlakukan dengan kasar oleh pasangan dengan alasan kesalahan sendiri, bukanlah sesuatu yang layak kamu terima dengan berdiam diri.

Sebagaimana ia yang katanya emosi dan tak sadar sudah melayangkan tinju padamu, harusnya juga bisa tahu jika kesalahan yang kamu lakukan bukanlah sesuatu yang disengaja. Jangan biarkan cinta membuatmu bodoh, dengan tak berbuat apa-apa ketika harga dirimu sudah diinjak oleh dia yang mengaku cinta.

Lagi-lagi Untuk Alasan Cinta, Kamu Tetap Memilih Diam Meski Dia Sudah Mendua

Coba pikirkan kembali, hakikat dari jalinan cinta yang disepakati berdua pastilah tentang kamu dan si dia. Lalu jika ternyata ada orang lain yang tiba-tiba masuk dalam hubungan, itu artinya ada sesuatu yang sudah dilanggar. Tak perduli itu dilakukan laki-laki atau perempuan, mendua dari pasangan bukanlah sesuatu yang patut dibenarkan.

Sampaikan cintamu dengan rasa yang benar, bukan diam meski sudah diduakan. Katakan padanya, jika apa yang diperbuatnya adalah sesuatu yang salah dan tak boleh bisa diterima begitu saja. Beberapa kali kamu mungkin harus diam, untuk meredam pertengkaran. Tapi jika sudah diduakan, itu artinya kamu tak lagi berharga di matanya. Lalu masihkah kamu akan bertahan dengan alasan cinta?

Cinta Jelas Tak Salah, Tapi Cara Kita Memahaminya Sering Kali Tak Searah

Terlalu sering dihajar oleh pertengkaran yang hebat, bahkan kerap sulit untuk menemukan jalan keluar. Dengan embel-embel rasa sayang yang konon jadi alasan bertahan, sakit hati dan luka kerap kita kesampingkan. Tak ada yang bilang, jika hubungan yang kita jalani akan berjalan tanpa hambatan. Tapi teruse menerus diterus bertengkar hanya karena perbedaan pandangan. Itu artinya ada hal yang perlu dibicarakan.

Mengalah untuk menyelamatkan hubungan memang baik untuk dilakukan, tapi itu hanya berlaku untuk beberapa hal. Jika dirimua justru selalu jadi pihak yang mengalah, coba pikirkan lagi. Apa iya semua pertengkaran jadi salahmu? Tidak juga kan!

Ini bukan tentang cinta yang salah atau bukan, hanya saja kadang kita gelap mata dan dibutakan keinginan. Berpikir bahwa dia adalah orang yang layak disayang, padahal kita hanya dijadikan pelarian.

Suarakan Apa yang Kamu Tak Suka, Jangan Diam Hanya Karena Tak Mau Terluka

“Sabar dulu aja, nanti juga dia berubah”, jadi jargon yang acap kali kita pakai untuk menghibur diri sendiri. Bukan karena tak bisa melawan, atau menyuarakan bentuk tidak suka pada dia yang menjadi pasangan. Namun ketakutan untuk kehilangan, terasa lebih besar dari hak yang harusnya kita dapatkan.

Masa krisis seperti ini, memang membuat kita sulit untuk berpikir jernih. Keputusan-keputusan yang sudah diyakini, bisa saja kita urungkan hanya karena tak mau sendiri, tak mau sakit hati jika nanti ia memilih pergi. Menunda untuk menyampaikan isi hatimu, mungkin akan meredam suasana sebentar. Tapi bukan tak mungkin pula akan lahir luka lain yang juga menyakiti. Percayalah, cinta yang baik tak akan membuatmu bersedih, apalagi melukai hatimu.

Selalu Ingat, Bahwa Kamu Punya Hak yang Serupa dengan si Dia

Kenyataan bahwa tak ada cinta yang tak akan menuai kecewa, jadi fakta yang memang pastilah akan kita rasa. Dan sebagai dua orang yang saling cinta, saling menghargai jadi pondasi utama yang harus kalian jadikan patokan utama. Berusaha mempertahankan hubungan, jika memang masih ada titik terang. Memang baik untuk dilakukan, tapi jika ternyata itu justru mengobarkan hak dan harga dirimu. Kamu perlu untuk mempertimbangkannya lagi.

Bukan tentang siapa yang menjadi perempuan dan siapa yang menjadi laki-laki. Hubungan yang baik akan menempatkan kamu dan dia pada posisi yang setara. Tak ada yang berhak untuk melarang, dan tak ada yang hanya boleh mengikuti aturan tanpa bisa bersuara atas ketidaksukaan. Kamu dan dia sama, sama-sama jadi pihak yang sedang mencoba untuk saling memahami.

Lalu, Haruskah Terus Bertahan dengan Hati yang Terluka atau Memilih Pergi Untuk Hidup yang Lebih Bahagia?

Untuk bisa mencinta dengan benar, kamu memang perlu menurut sertakan logika dan perasaan. Kamu harus paham, siapa dia yang akan kamu cintai untuk bisa lebih memahami dia dengan logikamu sendiri. Mencintai dia dengan benar, sebagaimana perasaan yang ia telah tunjukkan.

Tapi sejalan dengan itu semua, ada pula hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan. Bertahan dalam hubungan jadi mimpi semua orang, tapi kamu juga harus jeli melihat bagaimana kejelasan yang akan diperoleh dari ini semua.

Pelihara rasa cintamu dengan skala yang lebih besar dari rasa egomu, tapi jangan sampai melebihi harga dirimu. Sebab cinta bukanlah alasan, untuk orang lain bisa berbuat sesuka hati padamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Sudah Bekerja Lama Namun Gaji Belum Seberapa, Ada Beberapa Hal yang Bisa Memacu Semangatmu Kembali

Mungkin kamu sempat merasa bahwa apa yang kamu alami saat ini tak sesuai ekspektasimu saat dulu masih muda. Kamu sudah bekerja lama, namun gajimu masih saja belum seberapa. Ingatlah bahwa semua butuh proses. Kamu tak akan bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu butuh berjuang untuk menggenggam semua yang kamu inginkan.

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Saja Kamu Pun Harus Berjuang Mati-matian kan?

Apa yang sudah kamu alami di masa silam adalah sebuah pelajaran yang bisa membuatmu lebih dewasa dan lebih kuat di hari sekarang. Begitu pun dengan apa yang terjadi di hari ini, merupakan sebuah bentuk pembelajaran untuk membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Kamu Terus Menerus Hidup dengan Dikerjar Target Kerjaan

Di luar sana masih banyak orang yang bingung mencari pekerjaan. Sedangkan kamu sudah mendapatkannya meski gajinya mungkin belumlah seberapa. Syukuri saja apa yang kini sudah kamu miliki. Dengan hal ini kamu akan tahu, bagaimana susahnya dulu orangtuamu mencari nafkah untuk memenuhi segala kebutuhanmu.

Lembur Pun Menjadi Hal Biasa Demi Memenuhi Segala Kebutuhanmu

Kamu harus mengorbankan waktu istirahatmu demi memenuhi target pekerjaanmu. Karena itulah lembur sudah akrab kaitannya dengan rutinitas kehidupanmu. Mungkin memang berat. Namun ingatlah kembali bahwa kamu lebih beruntung dibanding banyaknya orang yang masih hidup kekurangan di luar sana.

Terkadang Kamu Sampai Lupa untuk Mengunjungi Keluarga

Karena kesibukanmu selama ini, kamu pun jarang memiliki waktu untuk dirimu sendiri. Terlebih untuk mengunjungi keluarga besarmu. Rasanya hal itu sudah menjadi momen langka. Namun hal ini akan mengajarkanmu bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga.

Harus Lebih Selektif dalam Membelanjakan Uang Untuk Pengeluaran

Kamu tahu seberapa keras kamu harus berusaha demi mendapatkan uang. Karena itulah kamu terbentuk menjadi pribadi yang menghargai nilai uang itu sendiri. Kamu pun akhirnya menjadi seorang yang selektif dalam membeli sebuah barang, apakah itu memang kebutuhan atau hanya keinginan yang tak memiliki faedah apapun nantinya.

Sedih Memang Saat Kamu Belum Mampu Memberikan Suatu yang Berharga untuk Orangtua

Meski kedua orangtuamu tak pernah meminta apapun kepadamu. Namun sebagai seorang anak tentu ada kalanya kamu ingin memberikan sesuatu yang bisa membuat kedua orangtuamu bahagia di hari tuanya. Hal inilah yang akhirnya akan membuatmu terpacu untuk terus bekerja keras agar mampu membanggakan dan membahagiakan kedua orangtuamu.

Mengeluh Bukanlah Sebuah Solusi yang Tepat untuk Menuntaskan Masalahmu

Kamu pun sadar bahwa sebanyak apapun kamu mengeluh, hal itu tak akan merubah apapun. Kamu hanya akan membuang energi dan tenagamu secara percuma. Bagaimana pun kamu harus tetap belajar bersyukur agar kamu lebih bahagia dalam menjalani apa adanya kondisimu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top