Feature

Menjadi Dewasa Itu Menyebalkan, Tapi Ini Adalah Sebuah Keharusan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali hal-hal yang bisa jadi sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna hal apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia. Dan untuk tetap menjalaninya, tentu tak mudah.

Setelah Dewasa, Hidup Tak Lagi Mudah Sebab Semuanya Berubah

Sebelum sampai di usia sekarang, kehidupan kita hanya diisi dengan aktivitas belajar. Hal terberat yang mungkin terasa paling susah adalah menunggu kiriman uang datang dari orangtua ketika masih sekolah atau kuliah. Kini, siklusnya telah berubah. Masuk di usia 20-an, sebisa mungkin kita berupaya untuk tak lagi menjadi tanggungan orangtua.

Kehidupan impian yang sebelumnya kita pikirkan, nyatanya masih hanya sebatas angan. Keinginan yang dulu ditulis dalam daftar panjang, terlihat jadi sesuatu yang fana dan mungkin tak akan bisa dinikmati semuanya. Kini, ada banyak kegalauan yang harus kita pikirkan. Dan bahagia kadang tak selalu jadi tujuan, ada uang yang kerap jadi nomor satu. Demi hidup yang harus tetap berjalan.

Jungkir Balik Kehidupan, Banyak Hal yang Baru yang Kini Jadi Pegangan

Orientasi dan pikiran atas masa depan dan kehidupan dewasa yang sedang dijalankan, mengalami banyak perubahan. Hal-hal yang dulu jarang diperhatikan, kini mungkin sudah mulai dipikirkan. Proses ini membantu kita membuka mata, bahwa ada banyak hal baru yang mungin belum kita tahu. Dari sini, kita kemudian belajar tentang hal apa saja yang perlu ditingkatkan.

Mata kian terbuuka lebar, tapi bukan berati hidup yang tak lagi punya tantangan. Justru sebaliknya, ketika kita semakin tahu banyak hal. Ada banyak pertimbangan yang juga mendadak perlu dipikirkan dalam setiap keputusan.

Tak Hanya Perkara Asmara, Dewasa Mewajibkan Kita Memikirkan Segala Aspek Kehidupan yang Ada

Percaya deh, proses untuk bisa menjadi dewasa ini menyebalkan. Apalagi ketika hidup mulai terasa membosankan. Tak cukup hanya pada satu sisi saja, semua hal yang kita jalani seolah berteriak meminta dipikirkan juga. Kuliah yang belum selesai juga, pekerjaan, cita-cita, pendidikan lanjutan, gaji hingga pada situasi sosial kita.

Untuk itu, mari belajar membelah diri. Melakukan semau hal berbarengan agar tak ada satu sisi yang merasa ketimpangan hingga menjadi dewasa bisa lebih tenang.

Jatuh Bangun Meraih Mimpi yang Tak Jauh Berbeda dengan Cerita Cinta yang Dimiliki

Sialnya, kisah cinta yang hobi naik turun demi menemukan seseorang yang layak dianggap “The one”. Kerap sejalan dengan perjalanan meraih mimpi yang terasa morat-marit. Susah payah untuk tetap mengalah agar terus bersama, ternyata si dia bukan jodoh kita. Sama halnya dengan passion yang selama ini diyakini akan membahagiakan diri, ternyata bukanlah jalan sukses untuk diri.

Berdiri sendiri lagi, berjalan lagi, lalu mencari apa yang sebenarnya menjadi tujuan. Perjalanannya mungkin masih panjang, untuk itu berkata ‘menyerah’ adalah sesuatu yang pantang. Tegakkan kepala, dan buatlah kuda-kuda. Menjadi dewasa memaksa kita untuk bisa melesat lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Bahkan Teman-teman yang Dulu Dimiliki, Mulai Hilang dan Pura-pura Tak Mengenali

Percaya atau tidak, menjadi dewasa memang memang membawa kita pada banyak kehilangan. Dan teman adalah salah satu bagian yang perlahan akan hilang. Berganti dengan orang baru, atau tetap bertahan dengan mereka yang memang masih bisa sejalan. Ini bukan sebuah kutukan, atas ketidakmampuanmu merawat pertemanan. Tapi memang seperti itulah rules-nya.

Ada yang datang dan pergi, semua orang punya porsinya masing-masing untuk hadir dan berada dalam cerita hidup kita. Jadi jika saat ini kamu merasa banyak teman yang semakin jauh. Tak hanya dirimu, semua orang pun merasakan hal itu.

Sering Hampir Menyerah, Lalu Sadar Jika Bahagia Tak Datang untuk Orang-orang Lemah

Sebagai manusia biasa, nelangsa yang terjadi atas kehidupan jadi ujian berat yang selalu membuat diri hampir angkat tangan tanda kekalahan. Namun, dunia selalu punya cara yang berbeda-beda untuk menyampaikan pesan semangatnya pada kita. Tak sengaja mendengar cerita hidup orang lain yang lebih susah dari kita, misalnya.

Nah, fase ini akhirnya jadi pembelajaran. Betapa kita perlu untuk terus bersyukur atas segala hal dan tetap berjalan meski sesusah apapun tantangan.

Hingga Akhirnya Kita Sadar, Meski Menyebalkan Menjadi Dewasa Adalah Sebuah Keharusan  

Hidup terus berjalan, usia kian bertambah. Masalah dan kesusahan akan jadi cerita, jadi modal untuk bisa lebih dewasa, dan jadi pelajaran untuk tak lagi berbuat kesalahan serupa. Harus kita akui memang, pada kenyataannya, menjadi orang dewasa tak seenak yang dulu kita bayangkan. Tak segembira yang dulu kita angan-angankan. Tapi biar bagaimanapun, ini adalah sebauh keharusan yang tetap harus dijalankan.

Singsingkan lengan bajummu, dan teruslah melangkah untuk semua hal yang ingin kau lakoni. Selama mau mencoba dan berusaha, selalu ada buah baik yang kelak kita terima sebagai hasil dari perubahan menjadi orang dewasa yang tak lemah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Memintaku Betah Tapi Ditanya Hubungan Kita Apa Jawabmu Entah

Akhir-akhir ini, banyak hal yang berubah dengan cepat. Merombak tatanan yang tadinya sudah rapi, karena sikap labil yang bisa membakar diri. Iya, serupa dengan kamu yang hampir memenangkan hati. Membuatku nyaman dengan manisnya perbuatan. Tapi aku harus sadar kalau sampai saat ini, tak ada kepastian yang bisa kupegang atas hubungan yang kita jalankan.

Hal-hal yang kau ajukan sebagai rutinitas kita berdua, tadinya masih bisa kau terima. Tak ada bedanya memang, aku dan kamu besikap layaknya orang pacaran. Namun kali ini aku ingin bilang, aku lelah jika terus menerus tanpa kepastian.

Harus Kuakui, Sikap Manismu Berhasil Meluluhkan Hati

Meski tulisan ini tak akan kau baca, aku akan tetap bilang. Kalau dirimu adalah salah satu orang yang selalu tahu cara untuk membuatku tertawa. Tak tahu dirimu yang hebat untuk membuat orang nyaman, atau diriku yang terlalu menganggap semuanya dengan berlebihan.

Lihai dalam melihat celah, hampir semua hal yang kau perbuat selalu berujung dengan bahagia. Senyumku yang sudah lama hilang, kini mekar atas perbuatan yang kerap dirimu tunjukkan. Keberhasilanmu meluluhkan hati, pernah jadi sesuatu yang kusyukuri.

Pelan-pelan Kita Mulai Saling Menuntut

Awalnnya, semuanya berjalan sesuai rencana. Lagipula, kupikir kita tak perlu tergesa-gesa untuk mendeklrasikan hubungan berdua. Tanpa sadar, semua hal pun ikut berubah. Sesuatu yang tadinya kita anggap biasa, kini mendadak jadi sebuah kewajiban yang terasa dipaksa. Aku menuntutmu untuk tetap menjaga hati, meski kutahu ada banyak hati yang juga sedang kau tandangi.

Selain itu, kamu memintaku agar terus percaya kalau dirimu tak akan kemana-mana. Sialnya, kamu mendadak jadi sosok yang berbeda. Menghindar tiap kali aku bertanya ‘kita ini apa?’ dan marah jika aku harus pergi dengan lawan jenis yang katamu tak kau suka. Loh, kita kan bukan siapa-siapa?

Terjebak dalam Hubungan Tanpa Arah, Dimataku Ini Akan Sia-sia

Masih dengan situasi serupa, kekesalan atas sikapmu yang mulai arogan kadang jadi sesuatu yang tak terlalu aku pikirkan. Sebab biar bagaimana pun, aku selalu sadar bahwa kita berdua hanyalah dua orang yang sedang bersama bukan sepakat untuk bersama.

Logikamu mungkin berbeda, karena berpikir jika perbuatan yang selama ini kamu tunjukkan bisa membuatku percaya. Padahal dimataku, kejelasan atas status hubungan lebih penting dari keposesifan yang kerap kamu lakukan. Percayalah, apa yang kita berdua lakoni hanyalah kebahagian sebentar. Tak akan berlangsung lama, jika dirimu sendiri belum bisa yakin untuk mengiyakan komitmen untuk bersama.

Kamu yang Selalu Punya Alasan untuk Menghindar, Maka Aku pun Berhak untuk Melangkah ke Depan

Kau harus tahu, jika perempuan lebih peka untuk urusan perasaan. Walau kau pikir aku tak pernah memerhatikan, diam-diam aku sudah mempelajari. Bagaimana caramu lari dari semua pertanyaan yang kerap tak bisa kau jawab. Dan salah satunya adalah tentang status hubungan.

“Entah”

Katamu sembari menghembuskan asap rokok yang sedari tadai bertengger di bibirmu. Tak bisa berbuat banyak, aku pun tak mau memaksamu untuk berikrar tentang hal yang memang aku inginkan. Tapi satu hal yang pasti, kau pun tak bisa memintaku untuk terus mengikuti apa yang menjadi keinginanmu. Sebab sebagaimana dirimu yang terus menghindar, diriku pun berhak untuk meninggalkan apa yang kuanggap tak pantas diperjuangkan.

Tak Pernah Memberi Respon Atas Kejelasan Hubungan, Lalu Bagaimana Aku Bisa Percaya?

Disamping segala perbuatan baik yang selama ini membekas di hati. Hal yang akhirnya membuatku memutuskan pergi, tentu saja karena janji yang tak bisa kau beri. Seolah sedang membangun rumah kebohongan, kau hanya bisa memberiku ilusi tentang indahnya kebahagian.

Memintaku untuk percaya bahwa kamu adalah satu-satunya sumber bahagia yang harus dipercaya. Faktanya, kamu bisa pergi dan melukai hati kapan saja kau mau untuk melakukannya. Setelah itu, mungkin aku hanya bisa meratap dan tak bisa berbuat apa-apa. Karena sedari awal kita memang bukan siapa-siapa.

Bagiku Komitmen Adalah Dasar untuk Percaya, Tapi Katamu Perbuatan Lebih dari Segalanya

Mungkin benar, untuk bisa membangun hubungan yang baik. Persamaan keyakinan atas berbagai macam hal adalah dasar dari sebuah kepercayaan atas hubungan. Sialnya, sedari awal kita memang berbeda. Aku yang meyakini janji sebagai asal mula cinta, harus berhadapan dengan kamu yang tahunya menuntut orang lain jadi orang yang disuka tanpa mau memberi kejelasan atas rasa.

Tak akan menemukan titik temu yang bisa jadi jalan keluar, biar bagaimana pun kau akan selalu percaya perbuatanmu jauh lebih baik dari segalanya. Sedang aku, yakin jika hubungan yang baik haruslah dimulai dengan janji untuk mau mengiyakan diri untuk bersama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Presenter Andre Taulany Memilih Bungkam Atas Kasus yang Menimpa Sang Istri

Presenter dan artis komedi Andre Taulany mengungkapkan alasannya jika beberapa hari ini ia memilih diam. Ia memutuskan tak langsung memberi penjelasan di media sosial berkait postingan istrinya, Erin Taulany, yang kontroversial sehingga membuat dirinya dilaporkan ke polisi oleh pengacara bernama Muhammad Firdaus Oiwobo atas dugaan pencemaran nama baik melalui media sosial terhadap calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto.

“Daripada saya ikutan komentar, mending saya diam aja. Kan kita belum tahu bukti-buktinya,” ujar Andre, seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (24/4/2019).

Tanpa penjelasan apa-apa kepada warganet yang tak terima dengan isi Insta Story akun Instagram bernama @erintaulany, mantan vokalis grup band Stinky ini tiba-tiba menyambangi Polda Metro Jaya. Andre mengaku bahwa ada dugaan akun istrinya itu diretas karena tak bisa diakses pada sekitar 20-an April 2019 dan merasa harus melaporkannya ke polisi.

“Saya mendampingi istri melaporkan ke sana (kantor polisi). Ada penyalahgunaanlah,” katanya. Namun, sebagian pihak sudah tersulut emosi karena postingan tersebut. Menanggapi kontroversi yang menerpa istrinya saat ini, Andre memberi jawaban bijak.

“Biasalah semua cobaan harus ada hikmahnya, kita hadapi aja, insya Allah baik-baik,” ucap Andre.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Cerita Korban Pemerkosaan dan Kepedulian yang Dibutuhkan dalam Film “27 Steps of May”

Harus diakui, jika isu tentang kekerasan seksual terhadap perempuan selalu menjadi topik yang sexy untuk dibahas. Barangkali, itulah yang juga dipikirkan oleh sutradara Ravi Bharwani yang kemudian melahirkan film terbarunya berjudul ’27 Steps of May’.

Sebelum tayang pada 27 April 2019 mendatang secara reguler, kamu perlu tahu jika film ini sudah berhasil melenggang di beberapa pagelaran film di beberapa negara. Seperti Cape Town Internasional Film Market & Festival, Goteborg Film Festival, Bengaluru International Film Festival, dan Busan International Film Festival. Dan tak hanya itu saja, ‘27 Steps of May’ juga mendapat antusiasme yang cukup epic pada penayangannya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Plaza Indonesia Film Festival.

Ravi Bharwani bercerita, setidaknya ia membutuhkan waktu selama kurang lebih lima tahun, untuk memproduksi film tersebut. Dan salah satu kesulitan yang dirasakan Ravi selama menggarap film ini adalah mengatur waktu dengan baik.

Sumber : https://www.instagram.com/27stepsofmay/

Ceritanya dimulai dari sosok remaja perempuan berusia 14 tahun bernama May (Raihaanun). Dirinya diperkosa oleh beberapa lelaki yang tak dikenal. Dan seperti yang sudah kalian bayangkan, selapas peristiwa itu, hidup May berubah.

Ada luka yang tak bisa ia jelaskan, sehingga membuatnya menutup diri dari dunia luar. Dan ternyata kesedihan tersebut juga dirasakan oleh sang ayah yang diperankan oleh Lukman Sardi. Pepatah ‘Hidup enggan mati tak mau’, barangkali jadi sesuatu yang menggambarkan bagaimana May dan sang Ayah kemudian menjalani hidupnya. Dua orang ini terjebak dalam sebuah kekacauan yang semakin hari semakin menyakiti hati. Bagaimana situasinya? Silahkan tonton sendiri ya.

Jika selama ini kita hanya bisa berucap ‘kasihan’ atau merasa ‘iba’ pada para perempuan yang jadi korban pemerkosaan. Film ini akan membawa kita memahami mereka lebih dekat. Bagaimana May mengemban semua trauma dan ketakutannya. Meski tak banyak mengumpar kata-kata, kemampuan akting Raihaanun jadi sihir magis yang kemudian membawa kita turut merasakan penderitaannya.

Sumber : https://www.instagram.com/27stepsofmay/

Selanjutnya, kita juga akan menyaksikan bagaimana perasaan seorang Ayah tatkala mendapati putirnya jadi korban atas perbuatan keji dari orang-orang yang tak dikenal. Dan untuk perihal ini, bisa kita pahami dari emosi yang ditunjukkan oleh Lukman Sardi. Tak bisa berbuat banyak, ia meluapkan emosi diatas ring tinju yang akhirnya memberinya luka setiap kali pulang ke rumah. Dari sini, kita tahu jika luka yang dirasakan oleh sang anak jadi luka yang berlipat ganda bagi orangtua.

Makna lain yang juga ditampilkan adalah, korban pemerkosaan atau mereka yang pernah menerima kekerasan seksua, tak bisa sembuh dalam waktu cepat. Semuanya butuh waktu dan upaya untuk meredam semua luka. Sebagaimana May yang menutup diri dan tak mau bicara bertahun-tahun lamanya. Jika harus digambarkan, film ini jadi salah satu perpanjangan lidah oleh mereka yang pernah mengalami hal serupa seperti yang dirasakan oleh May. Sekaligus jadi pengingat bagi kita orang-orang yang mungkin berada di dekat mereka.

Sumber : https://www.instagram.com/27stepsofmay/

Berdurasi 112 menit, film ini juga akan dibintangi Ario Bayu dan Verdi Solaiman. Dan sebelum penayangan resminya, ‘27 Steps of May’ sudah berhasil menyabet 3 penghargaan, yakni ‘Film Panjang Asia Terbaik’ (Golden Hanoman Award) di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan dua penghargaan lainnya diraih dalam Festival Film Tempo 2018 di kategori ‘Aktris Pilihan Tempo’ dan ‘Penulis Skenario Pilihan Tempo’.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top