Feature

Menjadi Call Center: Pekerjaan Duduk Manis yang Bikin Hati Meringis

Sering membayangkan, bahwa profesi ini hanyalah pekerjaan gampang yang bisa dilakukan oleh semua orang. Angkat telepon, bicara kemudian menutupnya lagi. Begitu terus saban hari.

Padahal ini adalah sebuah pemahaman yang keliru, karena sama halnya dengan jenis pekerjaan lain, menjadi pegawai call center juga ada resikonya. Karena dibalik aktivitas yang terlihat remeh, ternyata ada dampak lain yang cukup memprihatinkan.

Ditempatkan pada garda terdepan sebuah perusahaan, atau yang biasa disebut divisi call center. Pekerjaan ini jadi barisan “pion” yang berkewajiban untuk menangani seluruh keluhan, kebutuhan informasi, ataupun saran dari seluruh customer dalam lingkup nasional.

Kelihatannya memang mudah, namun jika kamu sudah melakoninya tentu pendapatmu akan jadi berbeda.

Mereka Sering Menerima Pelecehan Secara Verbal, Disebut Binatang Hingga Dibilang Pelacur

Menjadi seorang CSO (Call Center Officer) memang jadi situasi yang memaksa kita untuk merubah pemahaman. Termasuk mulai belajar akan beberapa karakter orang. Bersyukur jika nanti akan dipertemukan dengan orang-orang baik yang ramah dengan karakter yang juga santun.

Sayangnya tak semua orang begitu, mereka yang mungkin sedang emosi kadang melampiskan semua kekesalahan akan produk yang dipakai pada sang call center.

Benar memang, ini adalah bagian dari pekerjaan, mau tak mau memang harus dijalankan. Tapi siapa pun itu orangnya, tentu tak ingin jika setiap hari hanya akan menerima caci maki dan berbagai macam bahasa tak enak yang lainnya. Dan para pegawai call center menerimanya setiap hari, selama bekerja.

Tidak Boleh Marah dan Wajib Bersikap Ramah, Walau Pelanggan Kadang Tak Bersikap Sebagaimana Mestinya

Lain hal dengan pekerjaan lain, yang jika sedang tak enak hati bisa menyendiri. Tak begitu dengan pekerjaan ini. Sebab melayani dan berhubungan dengan orang lain adalah hukum yang wajib untuk dijalani.

Jadi call center harus pintar menyembunyikan emosi saat sedang melayani pelanggan. Sekeras apa pun bentakan yang diterima tak bisa dibalas dengan nada serupa, sebab marahnya pelanggan akan jadi bumerang. Alih-alih mendapat pembelaan, kadang sang pegawailah yang justru dijadikan tersangka.

Maka tak heran, jika berdasarkan data dari riset yang dilakukan Biro Statistik Tenaga Kerja dan Business Insider,  profesi CSO atau Call Center Officer jadi salah satu dari 27 pekerjaan dengan tingkat stres paling tinggi di dunia. Bahkan dari angka 0-100, profesi ini ada di level 93,3.

Data ini jelas merubah pandangan siapa saja, mereka yang tadinya terlihat jadi pihak dengan tanggung jawab pekerjaan yang cukup mudah ternyata mengemban beban yang lebih berat.

Padahal Tak Ubahnya dengan Kita, Mereka Juga Manusia yang Bisa Lelah dan Marah

Setiap pekerjaan memang datang dengan emosi dan tingkat kesulitan beragam. Sesuatu yang mungkin saja adalah batas rasa sabar yang kita punya. Tapi sebagai pelanggan yang ingin dilayani, tentu kita tak akan ambil pusing untuk itu. Di mata kita, mereka adalah pegawai, dan kita adalah pelanggan yang berarti wajib dipuaskan.

Ada baiknya, sebelum nanti akan marah-marah. Coba bayangkan orang lain yang menunggu mereka di rumah. Berharap dan bergantung pada mereka yang sedang mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Posisi kita mungkin berbeda, mereka adalah pelayan dengan kita sebagai pelanggan. Meski begitu, cobalah untuk berpikir dahulu, dan jangan marah-marah melulu.

Beban Emosi yang Berlebih, Bisa Membuat Mereka Depresi

Dibalik gagang telepon yang dipakai untuk melakoni pekerjaan, ada beribu marah dan kecewa hingga emosi yang mereka tahan sendiri. Ditimbun hingga berubah menjadi beban yang bisa saja mematikan.

Dan asal kamu tahu saja, menurut hasil dari beberapa peneliti. Mereka yang bekerja sebagai call center dapat menderita stres kerja yang lebih besar seperti: gangguan organ pencernaan, kinerja seksual yang buruk, kelelahan, kinerja yang rendah, kehilangan konsentrasi, dan absensi yang dikarenakan oleh beban emosi yang kadang tak bisa terluapkan.

Demi Mengurangi Tingkat Stres yang Dirasakan, Salah Satu Perusahaan Minyak di Korea Membuat Sebuah Gebrakan

Seolah peduli pada hal yang dialami oleh para call center tersebut, pada Agustus 2017 lalu di laman YouTube perusahaan minyak GS Caltex dan agen komunikasi AdQUA Interaktive dari Korea, ada sebuah video menarik yang dibuat sebagai gebrakan.

Ya, video berdurasi 2:50 menit tersebut berisi penuturan dari 3 orang perempuan yang berprofesi sebagai call center di Korea. Mereka bertiga bercerita bahwa pekerjaan itu kerap membawa mereka pada beberapa perlakuan yang tak menyenangkan. Dimarahi seenaknya, hingga dimaki-maki dan tak dihargai.

Untuk itu, perusahaan tersebut akhirnya memutuskan untuk merekam suara anak atau keluarga dari para pegawai tersebut, untuk kemudian dijadikan nada sambung selama pelanggan menunggu dilayani pegawai call center tersebut.

Hal itu dilakukan agar pelanggan yang sedang melakukan komunikasi tidak lagi marah dan lebih menghargai setiap pegawai yang sedang melayani. Hasilnya? Tingkat stres yang dialami para pegawai berhasil turun sebesar 54,2%.

Kepuasan mereka yang merasa dihargai meningkat sebesar 25%, respon baik konsumen juga meningkat sebesar 8,3%, dan ekspektasi karyawan kepada kebaikan pelanggan meningkat 25%.

Dari Sini Kita Kemudian Belajar, Bahwa Menjadi Call Center Bukanlah Pekerjaan yang Gampang

Hari ini, setelah membaca penjelasan ini semoga kita lebih mengerti dan lebih memahami lagi. Jika sebelumnya kita kerap berpikir bahwa menjadi call center adalah sesuatu yang mudah dilakukan, silahkan ganti pemahamanmu. Melayani memang jadi kewajiban dari mereka, tapi bersikap baik sebagaimana mestinya juga menjadi tanggung jawab kita.

Cobalah tempatkan diri sebagaimana mereka yang melakoninya. Barangkali ini lebih membantu untuk kita mengerti bahwa pekerjaan ini memang tak gampang.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Simaksi Naik Rinjani Akan Pakai Registrasi Online

Sudah digodok sejak satu tahun belakangan, akhirnya prosedur pendakian Gunung Rinjani akan memakai sistem booking online per Juni 2019 mendatang. Untuk jalur pendakian, akan ada 4 jalur dibuka dengan kuota pendaki yang masih akan dibatasi.

Kepala BTNGR, Sudiyono pada Kamis (16/5/2019) kemarin menyatakan akan ada 4 jalur pendakian yang rencananya dibuka, yaitu melalui Senaru, Sembalun, Timbanuh dan Aik Berik. Dimana setiap jalur akan diberi batas kepasitas antara 100 hingga 150 orang pendaki setiap hari.

Selain itu, setiap pendaki juga akan diberi rentang waktu untuk menginap selama dua malam di areal camping yang sudah ditentukan. Namun untuk sistem pembayaran tiket simaksi kemungkinan masih menggunakan proses manual.

“Kami menggunakan booking online nanti. Jadi tetap pakai kuota begitu. Tapi bayar tiketnya kemungkinan masih manual, langsung. Sudah ada bookingnya baru bayar gitu,” jelas Sudiyono.

Sistem itu diterapkan demi efektivitas dan efisiensi pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani. Di sisi lain, reservasi online ini juga jadi salah satu hal yang akan  menguntungkan para pendaki. Karena memberi akses kemudahan untuk mengecek kuota yang tersedia hingga pembayaran tiket yang juga akan terhubung dengan beberapa metode pembayaran. Nantinya, sistem reservasi online Gunung Rinjani dapat dilakukan via web eRinjani atau melalui aplikasi berbasis android yang bisa diunduh di PlayStore.  

Saat ini, keempat titik jalur menuju puncak Rinjani masih dalam proses perbaikan. Masih tetap dengan atauran sebelumnya, setiap pendaki tidak diperkenankan untuk mencapai puncak dan mendirikan tenda di areal Danau Segara Anak. Buat yang ingin segera ke sana, bisa segera melihat jadwal libur ya. Karena kordinasi perizinan dan persiapan sistem booking online yang akan diterapkan akan mulai beroperasi pada awal Juni mendatang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Lelaki Paruh Baya Tebas Kepala Temannya Hingga Tewas Karena Kesal Ditanya “Kapan Nikah?”

Sebenarnya pertanyaan kapan nikah adalah sebuah ungkapan biasa. Tapi akan berbeda jika ditanyakan pada mereka yang mungkin belum juga menikah pada usia yang terbilang sudah tua. Merasa tak nyaman, hingga menuai kesal seorang laki-laki bernisial AM alias Aswin (52) diberitakan menebas teman sekampungnya hanya karena ditanya “Kapan Nikah”.

Kejadian tersebut berlangsung pada Sabtu (18/5/2019) pukul 22.00 Wita, Aswin yang merasa kesal menebas temannya Ari Kongingi (47) dengan memakai parang. Peristiwa naas tersebut berawal ketika Aswin pergi ke rumah korban Ari untuk membeli minuman keras jenis cap tikus. Mulainya mereka sempat berbincang akrab, namun obrolan berubah menjadi tegang karena korban bertanya kepada tersangka perihal kapan menikah. Merasa kesal karena terlalu mencampuri apa yang sebenarnya bukan urusannya. Pelaku meminta korban untuk tak perlu ikut campur tentang statusnya.

“Jangan ikut campur, itu urusan keluarga saya,” jawab tersangka. Selapas obrolan tersebut, tersangka langsung kembali ke rumahnya. Namun ternyata diikuti oleh korban yang ternyata merasa tersinggung atas pernyataan Aswin.

Masuk ke dalam rumah Aswin, mereka berdua sempat berdebat di dalam rumah. Sempat dilerai oleh kepala lingkungan setempat, nyatanya pertengkaran tersebut tak bisa dilerai hingga akhirnya Aswin yang sudah mengambil parang dari dalam rumah menebas kepala korban bagian kiri.

Ari yang menjadi korban, sempat dilarikan ke Puskesmas Ratahan, namun nyawanya tak lagi bisa tertolong ketika dirujuk ke RSUD Noongan Langoan  karena mengalami luka robek dan pendarahan hebat di kepalanya. Kompol Ronny Tumalun, Kapolsek Ratahan mengatakan perisitiwa berdarah tersebut terjadi di  jalan raya Kelurahan Wawali, Kabupaten Minahasa Tenggara, pada Sabtu (18/5/2019) jam 22.00 Wita. 

“Tersangkanya AM alias Aswin (52), melakukan penganiayaan kepada korban dengan sebilah parang dengan cara sekali menebas korban kena bagian kepala sebelah kiri,” kata Kapolsek Ronny Minggu (19/05/2019).

“Korban meninggal dunia pada  Minggu (19/5/2019) pukul 01.30 Wita di rumah sakit,” kata Kompol Ronny

Sempat melarikan diri selepas menebas kepala korbannya, hingga akhirnya berhasil diringkus di rumahnya untuk selanjutnya sudah diamankan ke Mapolsek Ratahan.

“Kami langsung mendatangi rumah tersangka dan menangkapnya. Atas perbuatannya tersangka diancam dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, subsider pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan berat sehingga mengakibatkan orang mati,” jelasnya.

Dari hasil menyelidikan semenatar dari Polsek Ratahan, kasus penganiayaan yang menyebabkan korban tewas, disebabkan karena ketersinggungan atau sakit hati dirasakan tersangka atas ucapan korban. Dan ternyata saat ini, pacar dari tersangka sedang mengandung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Tiga Hari Debut, John Wick Berhasil Geser Posisi Avengers: Endgame

Memasuki hari ketiga penayangannya sejak 17 Mei 2019 lalu, seri ketiga dari film laga John Wick diberitakan berhasil menyaingi pendapatan sensasional dari Avengers: Endgame di puncak box office. Sebagaimana dilansir dari Reuters, John Wick: Chapter 3-Parabellum berhasil mengantongi debut tiga pekan sebesar US$57 juta dari pemutaran di 3.850 lokasi Amerika Utara. Angka tersebut jadi kekuatan yang akhirnya berhasil menggeser posisi Avengers: Endgame yang hanya mengoleksi US$29,4 juta pada periode serupa.

Tak hanya itu saja, film seri ketiga yang diperankan aktor kawakan Keanu Reaves ini juga berhasil mengalahkan 2 seri sebelumnya. Film pertama John Wick (2014) mendapatkan US$14,4 juta dengan periode yang sama, Lalu John Wick: Chapter 2 (2017) mendapatkan US$30,4 juta.

John Wick: Chapter 3-Parabellum adalah lanjutan cerita perjalan John Wick yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran yang tengah mempertahankan nyawa dari buronan semua orang setelah ia ketahuan membunuh salah seorang anggota High Table di wilayah netral, Hotel Continental di New York.

Untuk kamu yang beriat menonton, namun belum pernah melihat dua seri sebelumnya. Sebaiknya, sempatkan waktu untuk menontonnya terlebih dahulu, karena seri ketiga akan berlangsung sebagai lanjutan dari seri 2. Dimana, John Wick terlihat tergopoh-gopoh sambil berlari menuju beberapa tempat demi bertemu teman lama untuk dimintai pertolongan.

Jadi santapan baik untuk para pecinta film laga, penonton seolah tak diberi celah untuk bernafas lega atas rentetan adegan pemburuan yang dilakukan oleh John. Tapi tak melulu menyajikan kekerasan, adegan berdialog yang tersaji beberapa kali diselipi lelocon yang bisa melupakan tumpahan darah dari adegan sebelumnya.

Serangkaian aksi baku hantam dengan tangan kosong dan senjata yang berlangsung selama 130 menit tersebut dinilai lebih variatif dari seri sebelumnya. Menariknya lagi, ada aksi dua aktor laga kebanggaan yang juga turut serta untuk melawan John Wick. Siapa lagi kalau bukan Yayan Ruhiyan dan Cecep Arief Rahman. Selain memperlihatkan kebolehan baku hantam dengan pencak silatnya, mereka juga menggunakan Bahasa Indonesia dalam dialognya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top