Community

Kekhawatiran Seorang Perempuan Jawa yang Tak Lihai Memasak Seperti Mereka yang Lainnya

Memasuki usia 20-an bukanlah hal tabu untuk memikirkan sebuah pernikahan. Sempat terlintas dipikiranku tentang menikah muda. Tapi apa mungkin aku mampu menjalani status pernikahan yang harus terikat dengan aturan yang dibuat oleh suami.

“Aku pun ingin sesegera mungkin menikah, tapi apa suami dan mertuaku mau menerimaku sebagai bagian dari mereka?”

Aku adalah wanita jawa yang pada dasarnya memiliki norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap insan. Namun aku memang sedikit berbeda. Ayahku adalah seorang pendidik dan beliau sangat menjunjung tinggi sebuah pendidikan. Sampai-sampai dari dulu aku selalu didaftarkan di sekolah yang memiliki mutu bagus.

Untung saja aku termasuk siswa yang pandai sejak berada di sekolah dasar. Saat kuliah pun, orangtuaku merelakan adanya jarak antara aku dengan mereka untuk menempuh ilmu di kota lain. Ya tentu saja, perguruan tinggi yang cukup terpandang.

Aku terbiasa hidup bebas, tapi tak urakan. Aku terbiasa melancong kesana sini dengan uang hasil tabunganku selama beberapa waktu untuk mengunjungi kota bahkan negara yang ingin kusinggahi sejenak.

Ya, tentu untuk belajar pula. Karena itulah aku tak biasa hidup dengan kekangan Jawa yang sesuai dengan istilah “macak, masak, manak” yang artinya “berdandan, memasak, dan melahirkan.”
Aku tak tau nantinya keluarga suamiku bisa menerimaku atau tidak, juga suamiku, apa dia mau menerima apa yang ada dalam diriku saat ini.

Berbagai pikiran itu sering terlintas di benakku, “Apa tak mungkin jika wanita karir tak mampu menjadi ibu yang baik juga istri yang berbakti pada suami?”

Sebab jika pun nanti aku menikah, aku ingin mejadi istri yang mandiri. Bukan hanya berpangku tangan pada suami meminta uang bulanan. Aku pun ingin berpenghasilan setelah sekian lama dan sekian banyaknya materi yang orangtuaku keluarkan untuk menyekolahkan aku setinggi yang mereka mampu.

Aku tak mau menjadi wanita yang hanya diam di rumah, bangun pagi menyiapkan makanan untuk suami dan anak, lantas membersihkan rumah, kemudian menunggu anak pulang sekolah dan suami pulang bekerja. Ahh pasti sangat membosankan.

Apa tak mungkin bagiku menjadi ibu yang baik juga istri yang berbakti dengan statusku sebagai seorang wanita karir nantinya? Ahh sudahlah, bahkan sampai saat ini aku masih harus melihat resep makanan untuk bisa memasak. Ya semoga saja apa adanya diriku mampu diterima oleh suami dan mertuaku kelak. Iya, semoga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dia yang Pernah Selingkuh, Pantaskah Diterima Lagi?

Jadi momok yang selalu ditakutkan dalam hubungan, tak seorang pun ingin hubungannya berakhir karena perselingkuhan. Tapi, perjalanan cerita cinta selalu datang dengan berbagai macam kejutannya. Jika “selingkuh” tiba-tiba jadi prahara, kita tak selalu bisa menolaknya.

Selanjutnya, kelanjutan hubungan jadi pertimbangan yang akan kita pikirkan. Menerima dia kembali, atau memilih untuk melangkah pada jalan yang berbeda haluan. Bersedia untuk memaafkan kekasih yang sudah mendua, dinilai sebagai sikap yang mulia. Tapi, benarkah kita bisa sungguh-sungguh percaya lagi? Karena, dia yang sudah pernah mencurangimu, bukan tak mungkin akan mencobanya lagi di masa depan.

Jangan Takut, Menerimanya atau Tidak Adalah Hakmu Sepenuhnya

Sebagai dua orang yang pernah saling cinta, wajar jika ada rasa tak enak hati untuk tidak mendengar penjelasan darinya. Kita mungkin merasa sudah tak adil, karena akhirnya memilih untuk menyudahi hubungan saja. Ini wajar, sebab sakit hati diduakan jelas tak bisa ditutupi dengan kata maaf yang dia lontarkan.

Tak perlu merasa bersalah, jika akhirnya kamu memutuskan untuk menutup hati saja. Tidak lagi mau menerimanya, biarkan semua cerita berlalu begitu saja. Dia, mungkin datang dengan berbagai macam alasan yang terdengar masuk akal, agar tak disalahkan. Tapi, bukan berarti kamu harus percaya begitu saja. Ingat, kemarin dia jadi pihak yang mendua, berkhianat atas cinta yang sudah lama dibina.

Kepercayaanmu yang Hilang Adalah Sesuatu yang Wajar, untuk Itu Tak Perlu Dipaksakan

Mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya, hubungan dengannya jelas tak lagi bisa berjalan seperti biasa. Kepercayaan yang tadinya, bisa kita berikan secara penuh kepadanya mendadak hilang, karena telah dibuat kecewa.

Sebab biar bagaimanapun, hubungan antar dua orang manusia hanya akan bisa berjalan baik jika ada kepercayaan, rasa saling menghargai dan peduli satu dengan yang lainnya. Maka, jika percaya saja sudah tak lagi terasa ada. Jangan paksakan untuk terus bersama. Ini tak akan menjamin, jika hubungan kita akan tetap berjalan baik-baik saja.

Bahkan Jika “Tidak Lagi Merasa Aman” Jadi Alasanmu sekalipun, Rasanya Akan Sah-sah Saja untuk Didengar

Konon, sebagai pihak yang pernah main serong, si dia punya potensi untuk kembali mengulangi hal serupa. Ketakutan akan kembali merasakan hal yang sama, jadi sesuatu yang menciptakan pandangan serta rasa tak nyaman jika harus kembali menjalin hubungan.

Beberapa kecurigaan mungkin akan datang, bahkan bisa jadi diri akan selalu cemas kalau-kalau dirinya kembali berbohong lagi. Sebenarnya ini memang jadi perkara yang bisa kita putuskan tanpa membebani pikiran. Kita bisa menerimanya kembali jika memang ingin, tapi jika masih ada rasa tak aman didalam pikiran itu artinya kita tak sepenuhnya bisa menerimanya. Jadi untuk apa?

Bayang-bayang Hal Serupa Akan Terulang Lagi, Bisa Jadi Pemicu yang Mempengaruhi Keputusan Hati

“Sekali saja selingkuh, ia akan tetap selingkuh”

Yap, ini bisa jadi sudah jadi tabiat dari para pelaku perselingkuhan. Setelah ketahuan, ia akan berusaha untuk menarik dan mendapatkan percayamu lagi. Lalu setelah itu, tak ada yang bisa menjamin ia akan kembali setia atau justru kembali berulah.

Jika sedari pacaran saja, hal ini sudah ia lakoni berulang-ulang. Jangan terlalu berharap ia akan berubah, meski sudah menikah. Karena sesungguhnya, bisa saja dia justru akan terus-menerus melakukan hal serupa demi ego dan keinginannya.

Tapi Coba Tanyakan Lagi, Adilkah Keputusan yang Kamu Buat untuk Hubungan Kalian Berdua?

Agar tak menjadi sosok yang merasa paling benar sendiri, kita memang perlu untuk melakukan evaluasi pada diri dan si dia yang menjadi kekasih. Apakah ia pernah selingkuh sebelumnya, mengapa dia memutuskan untuk selingkuh darimu, hingga mampukah kita memaafkannya atau memutuskan untuk berpisah saja.

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu untuk dipertimbangkan, dijadikan bahan acuan, dan sebagai patokan atas keputusan yang akan kita sampaikan padanya. Jika memang semuanya terasa tak lagi mudah untuk diterima, jangan pernah memaksakan diri untuk kembali bersama. Begitu pula sebaliknya, jika dimatamu dia bisa berubah dan dapat dipegang janjinya, maka tak ada salahnya juga untuk memberinya kesempatan kedua.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Tak Apa Jika Aku Dianggap Kurang Pergaulan, yang Penting Aku Tak Pernah Menyusahkan Orang

Julukan kuper atau kurang pergaulang sudah biasa terdengar oleh telingaku. Tak jarang mereka pun menjulukiku sebagai seorang introvert. Memang, selama ini aku lebih suka berdiam diri di rumah dan melakukan apapun sendiri tanpa gangguan dari orang lain. Tapi apakah yang aku lakukan salah di mata mereka?

Meski aku terlihat hanya diam saja di rumah, bukan artinya aku hanya bersantai dan menghabiskan waktuku dengan hal yang tak berguna. Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk mengasah kemampuan intelektualku.

Sebenarnya ada banyak keindahan yang ditawarkan oleh dunia luar, tapi aku tetap memilih untuk sendiri. Merasakan keindahan dengan cara pandangku sendiri. Di saat yang lain sibuk bersenang-senang bersama teman dan keluarga mereka, aku lebih suka menghabiskan waktu dirumah untuk membaca buku, membuat suatu yang unik, menulis sebuah artkel, atau belajar ilmu pengetahuan yang belum aku ketahui sebelumnya.

Bagiku, teman terbaikku hanyalah diriku sendiri. Bukan aku tak membutuhkan orang lain di sampingku. Namun memang pada kenyataannya aku memiliki kehidupan sendiri yang tak mungkin orang lain pahami. Aku punya caraku untuk hidup, aku punya caraku untuk bahagia. Hanya itu, aku belum membutuhkan suatu yang lebih dari itu.

Banyak orang mempertanyakan bagaimana aku bisa hidup dengan caraku ini. Apakah aku tak kesepian, atau apa aku tak punya suatu hal yang ingin kulakukan bersama orang lain di luar sana. Jawabannya, buktinya aku bisa, aku tak pernah kesepian karena ada diriku sendiri yang selalu setia bersamaku, untuk pertanyaan apakah aku tak ingin melakukan suatu hal dengan orang lain, rasanya sampai saat ini aku belum memilikinya.

Bukan aku sombong atau anti sosial, tapi memang beginilah caraku menjalani kehidupan. Aku menghargai cara hidup orang lain di luar sana, jadi tolonglah, hargai caraku juga dalam menjalani kehidupanku.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanglang Buana ke Luar Negeri, Film Marlina Sedang Tayang di Amerika Serikat Pekan Ini

Jadi deretan prestasi yang membuat bangga nama Indonesia, kali ini film garapan sutradara Mouly Surya, jadi salah satunya. Yap, film “Marlina si Pembunuh dalam Empak Babak” akan tayang secara terbatas di bioskop Amerika Serikat, mulai Jumat 22 Juni 2018 kemarin.

Hal ini merupakan kerjasama dari dua distributor spesialis film arthouse, yakni Icarus dan Kimstim. Tak hanya itu saja, konon Marlina juga akan ditayangkan di Kanada terhitung sejak tanggal 29 Juni 2018 mendatang.

Dan fakta lain yang juga perlu kamu tahu, sejak pertama kali diputar di Directors Fortnight, Cannes pada Mei 2017 lalu, film yang dibintangi oleh Marsha Timothy ini sudah di distribusikan di lebih dari 40 Negara dam masuk dalam selesksi berbagai festival film bergengsi bertaraf Internasional.

Sejalan dengan itu, pada salah satu kesempatan, Rama Adi selaku produser berkata “Festival film internasional seperti Cannes dari awal kami jadikan strategi penting sebagai etalase untuk memperluas jalur distribusi film. Theatrical Release di Amerika menjadi penting untuk memperkenalkan Mouly Surya dan film Indonesia ke audiens amerika secara umum,” 

Ini jelas jadi berita membanggakan untuk dunia perfilman tanah air, karena sebelumnya. Produksi film Indoensia yang berhasil mendapatkan distribusi sampai ke bioskop di Amerika, masih hanya film “The Raid” dan “The Act of Killing”. 

Dan dengan film ini juga, Marsha Tomothy sang pemeran Marlina, berhasil mendapatkan pernghargaan sebagai Best Actress dalam Sitges International Fantastic Film Festival di Spanyol tahun 2017 lalu.

Wah, semoga para pembuat film di Indonesia semakin giat dalam membuat karya agar semakin dikenal di berbagai negara juga.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top