Feature

Menghindari Fast Food Bisa Saja Asal Kamu Tahu Caranya

Di tengah kebiasaan hidup sehat yang suka disuarakan di media sosial, faktanya ada banyak orang yang masih memiliki masalah dengan fast food. Lantaran terbiasa dengan hal yang serba instan, perkara makanan pun inginnya selalu yang instan. Akhirnya, fast food pun seakan jadi jawaban untuk setiap penantian yang inginnya serba cepat. Prinsipnya, daripada didera lapar, lebih baik makan apa saja yang penting kenyang. Masalahnya, fast food alias makanan cepat saji punya kandungan kalori dan garam yang tinggi. Gizinya pun rendah dan mengandung sedikit gula. Bahkan mereka yang konsisten menjalani diet, sekali waktu bisa saja gagal lantaran godaan makanan cepat saji.

Kendati demikian, bukan berarti yang namanya fast food tak bisa dihindari. Ada tips khusus yang perlu kamu ketahui agar isi perutmu tak selalu makanan cepat saji. Sebab kalau terakumulasi, yang ada tubuhmu menimbun lemak jahat. Sudah saatnya kamu wajib sadar kalau makanan kaya serat dan vitamin itu penting untuk tubuhmu.

Buatlah Batasan Tertentu yang Wajib Kamu Taati, Setidaknya Hal ini Akan Membantumu Belajar Disiplin

Di dalam kepalamu, cobalah untuk selalu mengingat setiap dampak negatif yang muncul kalau kamu mengonsumsi makanan cepat saji. Seporsi makanan cepat saji punya kaitan erat dengan junk food alias makanan sampah. Mulai sekarang konsistenlah untuk membuat batasan tertentu dalam mengonsumsi makanan cepat saji. Cobalah untuk mulai memesan makanan yang menyehatkan, perbanyak konsumsi buah-buahan, serta kalaupun kamu mengonsumsi makanan cepat saji, tinggalkan kebiasaan meminum soda. Segelas soda yang ada justru menambah kadar gula bagi tubuhmu.

Carilah Camilan Alternatif yang Rasanya Sesuai dengan Seleramu Sekaligus Mengalihkan Perhatianmu dari Junk Food

Mencari dan memilih jenis makanan yang bisa membuatmu teralihkan juga patut dicoba. Jika biasanya mata dan insting selalu terfokus pada makanan siap saji, cobalah untuk cari menu masakan sehat yang sekiranya menggugah seleramu. Intinya, carilah makanan yang bisa membuatmu merasa puas saat melahapnya. Percayalah, kalau dibiasakan, kebiasaan semacam ini akan mampu mengalihkan pikiranmu dari keinginan menyantap makanan cepat saji yang kurang baik bagi kesehatan. Sebagai gantinya, cobalah ubah seporsi kentang goreng jadi potongan buah yang menyegarkan.

Kalau Perlu, Tuliskan Targetmu pada Sebuah Kertas Kecil dan Pasanglah di Titik yang Bisa Dilihat Olehmu Setiap Hari  

Menuliskan target merupakan cara konvensional yang cukup efektif. Kamu hanya butuh kertas dan alat tulis, kemudian tuliskan targetmu terkait diet maupun keinginanmu untuk mengurangi konsumsi makanan cepat saji. Tempelkan target tersebut di tempat yang mudah terlihat. Cara ini dipercaya ampuh untuk menekan keinginan mengonsumsi junk food.

Perhatikan Waktu Tidur dan Istirahatmu Agar Tubuh Tak Terpancing Mengonsumsi Kalori Berlebih 

Jam tidur ternyata punya kaitan yang cukup erat dengan kalori di dalam tubuh. Ketika lelah dan kurang tidur, tubuh akan memilih makanan yang berkalori tinggi. Sementara makanan cepat saji diketahui tinggi kalori. Tubuhmu akan menimbun banyak kalori kalau terlalu sering mengonsumsi makanan ini. Karenanya, perhatikan waktu tidurmu sehingga tak perlu mengonsumsi kalori secara berlebihan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Untuk Laki-laki, Cintailah Perempuanmu Seutuhnya Bukan Sebutuhnya!

Sebelum berhasil mendapatkan hati seorang perempuan, konon laki-laki akan berbuat apa saja untuk merebut hatinya. Sialnya, setelah resmi menjadi pacar atau suami. Beberapa lelaki justru berubah, tak lagi semanis dan sebaik saat sedang pendekatan. Seolah ada yang hilang dari mereka, perempuan yang paham pasti akan bisa melihat perbedaannya.

Padahal, salah satu tanggung jawab seorang lelaki selepas menjadi pacar atau suami adalah dengan mencintai pasangannya secara utuh bukan hanya ketika sedang butuh. Pacar atau istrimu bukanlah sebuah benda yang bisa kamu cari ketika kamu inginkan dirinya. Untuk itu, selalulah bijak dalam bersikap. Perlakukan ia baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

Jangan Hanya Tahu Berkata Cinta, Kamu Wajib untuk Tetap Menjaga Semua Rasa

Sebagaimana yang tadi sudah dijelaskan diatas, para kaum adam selalu akan bersikap manis untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Maka untuk bisa menilai seberapa teguh ia pada janjinya adalah bagaimana ia bersikap setelah sah menjadi pacar atau suami.

Sebagai perempuan kamu bisa melihat, masihkah ia bersikap sama manisnya atau sudah berbeda dan lupa pada janjinya. Dan teruntuk para lelaki, tanpa harus diperingati, harusnya kamu paham bagaimana bersikap sebagai seseorang yang jantan. Tak lari dari semua yang kamu ucapkan dan selalu bertahan demi cinta kepada sang perempuan.

Tak Ada Manusia yang Sempurna, Jangan Pergi Hanya Karena Perempuanmu Banyak Kurangnya

Setelah menjadi pacarnya, kamu mungkin baru tahu jika ada beberapa kekurangan yang ia miliki. Entah sesuatu yang kurang berkenan atau hal lain yang mungkin tak kamu sukai. Tanpa harus buru-buru kabur dan pergi karena ia punya banyak kekurangan. Cobalah untuk membicarakan semua yang menurutmu kurang berkenan dan sebaiknya dihilangkan.

Dengan begitu perempuanmu bisa tahu, apa yang perlu dilakukannya demi membuat dirimu nyaman. Ingat, hubungan akan bisa berjalan dengan baik jika ada komunikasi yang baik. Jadi jangan main asal pergi ya.  

Karena Mencintai Tanpa Berharap Balas adalah Bentuk Lain dari Cinta yang Sesungguhnya

Seorang laki-laki yang memang sungguh-sungguh mencintai tak akan pernah bosan untuk terus memberi perhatian. Lebih dari itu, ia akan selalu bersikap sebagai pahlawan untuk  memenuhi semua yang dibutuhkan seorang perempuan. Ia memberi dengan tulus, karena merasa perempuannya layak mendapatkan itu.

Kamu perlu tahu, jika rasa cinta yang tulus tak pernah ragu-ragu. Itulah mengapa seorang laki-laki akan rela berbuat apa saja tanpa berharap mendapat balasan dari perempuannya. Hingga kelak kamu akan sadar bahwa cinta yang kalian berdua miliki adalah sesuatu yang luar biasa berbeda dari yang biasanya.

Tak Boleh Sampai Salah, Perempuanmu adalah Tulang Rusuk Bukan Tulang Punggung

Untuk urusan mencari nafkah atau berbagi materi ketika masih pacaran, tentulah tak salah. Sebagaimana lelaki yang bekerja, perempuan pun punya hak serupa untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi dengan catatan, sebagai laki-laki kamu tetap jadi pihak yang bertanggung jawab atas kehidupan dan mencari materi untuk kebutuhan.

Tetapi jika kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, dimana kamu menjadikan perempuanmu sebagai tulang punggung keluarga. Itu artinya ada yang salah dengan pemahamanmu sebagai laki-laki untuknya.

Akan Selalu Ada Masalah, Tapi Bukan Berarti Kamu Bebas Meninggalkannya

Hubungan yang baik bukan yang tak pernah diterpa masalah. Pada beberapa fase kehidupan dan percintaan, akan ada yang namanya pasang surut untuk hubungan. Kalian mungkin akan bertengkar, saling marah dan menyalahkan, merasa jengkel atau kecewa pada pasangan, hingga kepada pertengkaran lain yang bisa membuat kita hampir menyerah.

Tapi, seorang lelaki tak pantas menjadikan hal semacam ini sebagai alasan untuk meninggalkan perempuannya. Kamu bertanggung jawab untuk tetap menyelesaikan masalah. Bahkan jika memang tetap harus berpisah, kamu tak boleh pergi begitu saja. Tetap bertahan dan jelaskan kepadanya apa yang menjadi sumber masalah dalam hubungan kalian berdua.

Dan Bersikaplah Baik dengan Sepenuhnya, Bukan Hanya Ketika Kamu Membutuhkan Dirinya Saja

Tak peduli apa yang akan terjadi, kamu patut untuk selalu berjaga atas rasa cinta pada si dia. Tetap bertahan dan memperlakukannya baik sepanjang waktu, bukan hanya ketika dirimu butuh dan ingin dia ada di dekatmu. Jangan egois dengan hanya mementingkan dirimu sendiri saja, kamu juga perlu sadar bahwa perempuanmu juga tak suka jika kamu hanya mencarinya ketika sedang butuh saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Makin Tua Makin Malas Beli Baju Baru di Lebaran, Kenapa?

Selain bisa berkumpul dengan formasi lengkap, hal lain yang paling dinantikan saat lebaran adalah aktivitas membeli baju baru. Tapi itu dulu! Karena semakin tua kita, ada rasa makin malas untuk membeli baju baru setiap kali lebaran tiba.

Entah berlaku padamu juga, selepas masa-masa sekolah rasanya membeli baju saat lebaran tiba bukan lagi jadi sebuah kebutuhan yang harus digenapi. Karena kadang-kadang, baju lebaran tahun lalu saja hanya dipakai satu kali. Sehingga ada rasa enggan, jika harus beli baru lagi.

Nah, selain alasan yang tadi sudah disebutkan. Kira-kira kenapa sih ketika kita sudah dewasa hasrat untuk membeli baju di lebaran ikut memudar?

Posisi di Keluarga Bergeser, Kini Ada Keponakan yang Wajib Diberi THR

Dulu, kita mungkin jadi si penerima THR dari semua sanak famili. Mulai dari orangtua, kakak, abang, om, tante. Bude, pakde dan semua keluarga besar. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, posisi kita saat ini bukan lagi jadi si penerima. Tapi si pemberi THR kepada mereka yang lebih muda. Entah itu sepupu yang masih kecil atau keponakan-keponakan. 

Barangkali, hal ini pulalah yang membuat pandangan kita berubah. Daripada membeli baju untuk diri sendiri, lebih baik uangnya dibagikan pada keponakan dan sepupu saja. Meski tak banyak, melihat senyum mereka kadang jauh lebih membanggakan daripada saat mengenakan baju baru saat lebaran.

Kita Lebih Bijaksana, Baju Baru di Lebaran Kadang Hanya untuk Dipamerkan Saja, Lalu untuk Apa?

Mari pikirkan dulu, sebenarnya apa sih esensi dari baju baru setiap kali lebaran? Mungkin tak semuanya, tapi sebagian besar dari kita kerap menjadikan lebaran sebagai ajang adu gaya dengan baju baru yang kita kenakan. Entah itu pamer ke tetangga, keluarga besar, atau kepada orang-orang yang ada di masjid serupa tempat kita melakukan salat ied bersama.

Dulu, hal-hal seperti ini menyenangkan, kita anggap sebagai pembuktian diri bahwa kita bisa lebih cantik atau lebih tampan dari orang lain dengan baju yang kita kenakan.

Sekalinya Ingin Beli Baju Baru, Lelah Sendiri Melihat Banyaknya Orang di Toko atau Pusat Perbelanjaan

Yap, satu minggu jelang lebaran. Biasanya semua gerai toko baju dan pusat-pusat perbelanjaan sudah dipenuhi oleh pengunjung yang berburu baju lebaran. Jangankan untuk ikut terjun dan bergabung bersama ratusan orang yang sudah terlihat ramai itu. Melihatnya saja kadang kita sudah pusing duluan.

Terdengar sebagai salah satu alasan dari orang malas memang. Tapi percaya atau tidak, di usia yang sudah sedewasa ini kita sering menghindar dari keramaian-keramaian seperti itu. Rasanya, tak kuat jika harus ikut antri dengan memanjang sampai ke meja kasir.

Lagipula Masih Banyak Baju yang Layak dari Tahun-tahun Sebelumnya, Pakai Itu Saja

Coba ingat lagi, berapa kali baju lebaran tahun lalu kamu pakai? Tiga kali, dua kali, atau cuma sekali di hari H lebaran saja? Nah, dari situ kita bsia menarik kesimpulan jika nyatanya baru lebaran yang sering membuat kita gelap mata biasanya hanya dipakai satu kali saja.

Lain hal jika kamu membeli baju lebaran yang modelnya bisa ke berbagai acara. Mungkin bisa dipakai pada kesempatan lainnya. Karena baju tahun lalu masih baru dan layak untuk dipakai, maka tak perlu membeli baju baru lagi. Cukup pakai baju lebaran tahun lalu saja. Toh masih bagus kan?

Daripada Uangnya Dipakai untuk Membeli Baju, Lebih Baik Ditabung untuk Kebutuhan Lain

Pertimbangan untuk membeli baju baru, perlu memakai logika. Tentang berapa budget yang akan kita keluarkan untuk satu setelan baju. Lalu bayangkan lagi, adakah hal lain yang bisa kita dapat dengan jumlah yang sama. Dan jawabannya tentu saja ada.

Entah itu untuk membeli kebutuhan kursi kerja baru untuk di rumah, menambah biaya pemeliharaan kendaraan, atau ditabung untuk hal-hal penting lain yang kerap terjadi di luar dugaan. Bukannya mau melarang, tapi orang dewasa akan lebih teliti untuk membuat suatu keputusan. Termaksud beli baju lebaran baru.

Alasan Lainnya, Semakin Tua Kita Semakin Tak Merasa Butuh Pula dengan Baju Baru

Lebih dari sekedar baju baru, ada hal lain yang lebih kita butuhkan. Kesiapan diri selepas bulan Ramadan, perubahan sikap yang lebih baik, sampai pada berbagai macam persiapan lain untuk berbagai macam rencana yang hendak dilakukan. Karena biasanya, setelah berhasil melalui bulan puasa, ada semacam introkpeksi diri yang aka memenuhi isi kepala. Untuk itulah, di pikiran orang-orang dewasa. Mencari hal-hal baru untuk dilakoni setelah hari kemenangan pasca berpuasa jauh lebih penting daripada baju lebaran.

Karena Sejatinya, di Hari Lebaran Hati Kitalah yang Perlu Baru Bukan Baju

Inti dari serangkaian ibadah yang sudah kita lakukan satu bulan penuh. Tentu terletak pada proses puasa yang sudah dilakoni. Adakah pelajaran baru yang didapat atau malah tak mendapat pelajaran apa-apa sama sekali. Kemenangan di hari yang fitri tak hanya ditandai dari sekedar baju baru yang kita kenakan. Tapi bagaiman kita bisa membersihkan hati dari semua hal yang tak baik dengan menjadi baru dan suci lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Andre Taulany, Akhirnya Kembali Lagi Muncul di TV

Sempat diistirahatkan dari salah satu acara tv yang biasa dipandunya, karena tersandung kasus dugaan penistaan agama. Terbaru, Andre Taulany kembali terlihat muncul di televisi. Yap, ia masuk ke dalam program sahur “Ini Sahur” yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Terlihat melempar senyum kepada para pemain lain, Nunung yang juga jadi salah satu rekannya terlihat tak kuat menahan haru atas kehadiran Andre.

Sebagai ungkapan rasa bahagianya, ia menghampiri seluruh teman-temannya dan memeluk mereka. Mulai dari Nunung, Vincent, hingga Sule.

Sumber : NetMediatama

Sebelumnya Andre Taulany dituding menghina ulama karena plesetan ‘Adisomad’ hingga dituduh menghina Nabi Muhammad SAW. Namun, karena perilaku dan sikap yang ia tunjukkan olehnya, masyarakat menilai jika Andre Taulany tak sepatutnya diberhetikan dari program tv.

Dirinya pun sudah meminta maaf secara pribadi ke Ustaz Adi Somad. Tak hanya itu, ayah tiga anak tersebut juga mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) untuk menjelaskan bagaiman kronologi yang sebenarnya dan menjelaskan banyaknya pemberitaan miring yang tak benar.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top