Feature

Membuat Nyaman Tanpa Kepastian, untuk Apa Sayang?

Menjadikanmu pilihan, rasanya ada saja alasan untuk selalu berkata sayang pada kamu yang sekian lama jadi pasangan. Selalu berhasil membuatku merasa tersanjung, diperlakukan baik dan spesial. Siapa yang tak senang?

Ribuan hari sudah berhasil kita lalui, jutaan memori jadi sesuatu yang menghiasi perjalanan ini. Saling menggenggam tangan lebih erat, mengencangkan pelukan agar tak lagi terpikat pada lain pihak. Kamu dan aku nampaknya sejalan, tetap bersama dan melanjutkan hubungan.

Harus kuakui, hampir pada semua titik kita selalu sepikir. Tak pernah bertentangan meski berbeda haluan, bisa meredam emosi untuk semua yang tak disukai. Hanya satu yang kelihatannya akan jadi pemecah belah hubungan nyaman yang telah sekian lama. Kemanakah arah, yang kan jadi tujuan bersama?

Memilihmu Tanpa Diminta, Aku Selalu Yakin Cinta Kan Membawa Bahagia

Tak ada yang memakasa atau dipaksa, momen memilihmu menjadi kekasih kulakukan dengan sukacita. Berpegang teguh pada kata hati, menjadi kekasihmu jadi satu hal yang kusyukuri. Ribuan hal baru datang dengan cara-cara yang ajaib, bahagia dan semua tawa mengalir begitu saja. Tak berhenti, hari-hari  yang terlalui bersama selalu berhasil mengukir memori indah. 

Menghujaniku dengan berbagai macam perlakuan manis, hingga memastikan tak akan ada tangis dari bibir dan mata milikkku. Nampaknya jadi sesuatu yang menjadi kesukaanmu. Dan harus kuakui pula, jika kamu memang selalu berhasil membuat segala sesuatu menjadi indah.

Terbukti dengan Sekian Lama Kita Bersama

Bukan dua orang yang sering merayakan kebersamaan, bahkan tanggal berapa kita meresmikan hubungan jadi sesuatu yang sering kita lupakan. Kupikir itulah sebabnya, mengapa akhirnya kita tak pernah sadar jika kebersamaan yang sudah terjalan telah berlansung sekian lama. Ribuan hari kau telah menjadi seseorang yang bersedia membantu, sebaliknya. Ribuan hari pula diriku sudah menjadi sosok yang selalu ada saat kau butuh didengar. Kita sama-sama terus belajar, bagaimana menjadi pasangan yang benar. Berubah ke arah yang lebih dewasa, hingga masing-masing dari kita mungkin akan bertemu dengan jati dirinya.

Saling Memberi Tanpa Berharap Balas, Aku Yakin Diriku Tak Mencintai Orang yang Salah

Kita berdua selalu percaya bahwa cinta yang baik akan membawa kita pada rasa sayang yang tak berharap balasan. Semua diberikan dengan dasar ketulusan. Tanpa harus diberi aba-aba, kamu pasti tahu kapan aku tak mau diajak untuk bicara. Mengerti jika pasangannya sedang menggebu dalam sebuah cita-cita, meski itu akan mengabaikan dirinya. Bukannya protes karena tak kutanya kabar, dirinya justru selalu berusaha untuk jadi kawan yang siap sedia.

Pada waktu yang berbeda, di momen-momen tertentu lainnya. Aku selalu ingin melakukan hal serupa. Membawa makanan kesukaanmu sebagai kejutan di akhir pekan, memberi tahumu pencapaian lain yang sudah berhasil kulakukan, hingga berbagai macam kejutan lain yang selalu membuatmu senang.

Pelan-pelan Ada Beberapa Bebatuan Kecil dalam Hubungan

Tak pernah kuanggap serius, penolakan-penolakan dengan dasar kesiapan yang belum mantap yang kau sampaikan. Selalu kuanggap sebagai momen untuk kita berdua bisa sama-sama berubah pada tingkat kedewasaan yang lebih matang. Tak lagi perlu merasa perlu mencari. Bersamamu, membuatku percaya bahwa pecahan lain dari diriku yang selama ini kucari memang benar ada pada dirimu.

Benar kata orang, hubungan tak melulu tentang sesuatu yang senang. Sebab pada akhirnya, kita sampai pada titik yang tak kusukai. Titik dimana kita berdua merasa ada yang salah dalam cinta kita. Entah itu pada rasanya, atau kita berdualah pihak yang salah. Mari kita carai bersama, karena aku jelas tak mau berlama-lama pada dia yang merasa dipaksa.

Jangan Bilang Aku Berubah, Karena Nyatanya Hanya Ingin Berusaha Membuka Mata pada Realita

Tak pernah berniat untuk menjadikanmu sebagai pihak yang akan disudutkan. Apa yang kusampaikan barangkali jadi wujud kesabaran yang selama ini kusimpan. Tak pernah protes meski tak pernah kau perkenalkan pada keluarga, tadinya aku merasa itu hanyalah masalah waktu saja. Namun nampaknya perkiraanku salah, apa yang kuanggap akan terjadi sepertinya jauh dari perkiraan.

Beberapa kali bertanya perihal kelangsungan hubungan, bukannya memberi jawaban yang menyenangkan. Kamu malah memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Seolah tak suka dengan apa yang kutanyakan, dirimu mulai bersikap bak seseorang yang sedang berusaha menyerangku balik dengan berbagai macam pertanyaan. Meragukan kemampuan perempuan ini, hingga masih belum percaya jika rumah tangga kita nanti.

Ini bukan perkara berubah atau tidak, tega meninggalkan pacar atau bukan, tapi ini tentang hal-hal yang memang sudah seharusnya kujadikan pilihan. Diombang-ambing dalam kenyamanan tak selalu membuat hidup senang.

Laki-laki Mungkin Bisa Saja Merasa Biasa Meski Sekian Lama Bersama, Tapi Perempuan?

Barangkali benar kata orang-orang, untuk urusan perasaan, perempuan memang sering kalah. Terlalu banyak mengikutsertakan perasaan tapi lupa pada akal sehat yang harusnya juga dijalankan. Tapi kurasa, sudah cukup aku bertahan untuk perasaan yang terlalu banyak kukorbankan. Percayalah sayang, hubungan yang tak bergerak bukanlah mimpi seorang perempuan.

Kamu mungkin bisa bilang “bersabarlah sebentar”, tanpa merasa ada berdosa karena sudah melontarkan kalimat serupa sekian lama. Sementara itu, aku harus berjuang memberi pengertian pada diri sendiri, menguatkan hati untuk terus bersabar. Walau akhirnya harus kuputuskan jika hubungan kita memang sudah tak perlu lagi diperpanjang, jika memang kau tak bisa memberi kepastian.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Siap Hidup Susah, Tapi Harusnya Lelakiku Tak Akan Membiarkannya

Fakta tentang menjalani hidup berdua dari titik terendah sampai mas-masa bahagia. Tentu terdengar begitu manis di telinga. Dipercaya jadi bukti nyata dari cinta, beberapa lelaki akhirnya berpikir bahwa perempuannya haruslah mau diajak susah. Kalau tidak, itu artinya dia tak benar-benar cinta.

Eits, tunggu dulu sayang. Aku rasa kamu perlu berpikir sebentar. Tentang bagaimana ayah dan ibuku susah payah membuatku bahagia. Lalu sekarang, tiba-tiba kamu datang untuk mengajak hidup susah. Ini bukan perkara cinta atau tak cinta. Tapi lebih ke bagaimana kesiapanmmu untuk hidup berdua. Karena jika memang benar-benar sayang, kamu tentu akan selalu membuatku bahagia, bukan malah mengajak hidup susah.

“Kita ngontrak dulu ya, sembari nyicil rumah” jauh lebih terdengar bertanggung jawab daripada “Mau beli rumah gimana, hidup juga masih gini-gini aja”. Kalau sama kemampuan diri sendiri saja kamu sudah tak percaya, bagaimana bisa bertanggung jawab atas hidup kita nanti? 

Disamping itu, aku pun tahu jika segala sesuatu butuh proses. Sebelum bisa duduk bersantai di akhir pekan, kita berdua mungkin akan kerja keras, walau di hari libur, demi kebutuhan lain yang sudah menunggu. Tak apa, kupikir ini memang akan jadi bagian dari proses yang harus kita jalani bersama. Tapi, berbeda cerita, jika ajakan hidup susah bersama kamu sampaikan karena kesalahan dalam membuat keputusan. Bukan tak cinta atau tak siap menderita, tapi diriku berhak untuk menolaknya.

Tak perlu terburu-buru, kita masih punya waktu untuk mengatur dan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Lagipula, hidup berdua bukan perkara mudah. Sebab cerita kita bukan hanya tentang bahagia saja, ada sekelumit cerita sedih yang juga bisa menghampiri diri kapan saja. Untuk bisa siap menghadapinya, kita butuh kuda-kuda yang tak sekedar kata ‘pasrah’ dan ‘jalani saja’.

Tak ada yang mengejar kita. tak juga diminta oleh keluarga agar segera menikah. Lantas apa yang kau jadikan alasan untuk menikah dalam waktu dekat? Lupakan puluhan undangan yang sudah datang tiap akhir pekan. Tak semua pencapaian orang harus kita jadikan patokan. Membangun bahtera hidup berdua adalah perkara besar. Ada ribuan kesiapan yang harus direncanakan dengan cepat dan perlahan.

Serupa denganmu, aku pun percaya jika rejeki bisa datang kapan saja. Tapi disamping itu semua, kita juga perlu menjalankan logika. Berpikir rasional untuk segala kemungkinan. Sebab, sebuah persiapan matang saja masih bisa berjalan melenceng dari rencana, apalagi yang tak ada persiapan apa-apa?

Rasa sayang dan cintaku tak perlu kamu pertanyakan, tapi jika kamu datang untuk memintaku mengiyakan ajakan hidup susah. Kupikir aku punya hak untuk menolaknya!

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Di Film Chapter 3-nya, John Wick Makin Gila

Kalian yang sudah menonton 2 seri film sebelumnya, pastilah setuju jika sekuel ‘John Wick’ jadi salah satu film laga terbaik yang pernah ada. Tak banyak basa-basi, keseruan yang ditampilkan berjalan dengan euforia ketengangan yang cukup mengesankan. Baku hantam tanda ampunan, barangkali itu jadi sesuatu yang akan melekat di ingatan.

Keanu Reeves, seorang pembunuh bayaran kelas kakap yang sedang berusaha untuk pensiun. Jadi pesona yang akan membuat semua orang jatuh cinta pada John Wick. Setelah proses syuting yang sudah dirampungkan tahun lalu. Trailer film ketiganya, baru saja dirilis pada Kamis (17/1) lalu. Selain membuat diri makin tak sabar, cuplikan dari trailer ini memperlihatkan satu adegan yang cukup membuat orang penasaran. Yap, John Wick bakalan naik kuda untuk menghajar para pembunuh yang ingin mematikannya.

Mengusung judul John Wick: Chapter 3 – Parabellum, seri ini akan dimulai dari lanjutan film sebelumnya. Ketika John dikeluarkan dari organisasi pembunuh bayaran yang selama ini jadi tempat ia bekerja. Resikonya? Siapapun diperbolehkan untuk merenggut nyawanya. Bahkan ada imbalan 14 Juta Dollar, untuk yang berhasil membunuhnya.

Tapi bukan John Wick namanya, kalau tak bisa melawan semua pasukan yang menghadangnya, termaksud aktor laga tanah air yakni Cecep dan Yayan Ruhiyan. Ya, walaupun pasti ada beberapa adegan yang akan membuatnya berdarah-darah juga.

Masih disutradarai oleh Stahelski, bisa dipastikan John bakalan tetap hidup dan melawan semua orang. Lagipula, kali ini, John Wick akan dibantu oleh Sofia (Halle Berry), pembunuh bayaran yang ingin John tetap hidup. Nah, akan bagaimana aksi mereka. Silahkan saksikan sendiri tanggal 17 Mei 2019 nanti. Sekarang tonton trailernya aja dulu. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

7 Alasan yang Membuat Anak Sulung Laki-laki Pantas Disebut Mantu Idaman

Anak sulung memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam keluarga. Tak jarang anak sulung juga harus rela berkorban demi adik-adiknya. Hal inilah yang membentuk karakter anak sulung laki-laki pantas disebut sebagai menantu idaman. Masih belum percaya? Berikut ini alasannya.

1. Pekerja Keras

Anak sulung merupakan penjaga utama saat orangtua sudah tidak ada. Mereka harus berjuang lebih untuk bisa melindungi dan bertanggung jawab atas adik-adiknya. Akhirnya mereka pun akan tumbuh menjadi sosok pekerja keras yang dapat diandalkan keluarga.

2. Memiliki Kedekatan Lebih dengan Orangtua

Biasanya anak sulung cenderung lebih dekat dengan orangtuanya. Jika seseorang sudah dekat dengan orangtuanya, bukan hal yang mustahil untuknya bisa dengan mudah dekat dengan mertuanya juga.

3. Dapat Diandalkan dalam Berbagai Bidang

Anak sulung harus menjadi sosok yang senantiasa siaga saat orangtua membutuhkan bantuan. Mereka harus siap membantu ayah membersihkan kebun atau membantu ibu memasak. Inilah yang membuat mereka tumbuh menjadi sosok yang bisa diandalkan saat berumah tangga kelak.

4. Memiliki Pola Pikir yang Dewasa

Menjadi anak sulung memaksa mereka untuk menjadi lebih dewasa. Mereka harus mampu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Sikap dewasanya ini juga yang akan membuat mereka tak akan mudah emosi atau naik pitam saat ada masalah yang datang.

5. Memiliki Jiwa untuk Mengayomi

Anak sulung terbiasa mengalah dengan adik-adiknya baik dalam hal apapun. Hal ini membentuk mereka tumbuh menjadi sosok pengayom bagi saudara-saudaranya. Jika nanti mereka sudah berkeluarga, tentu saja mereka bakal mengayomi anak dan istrinya dengan baik.

6. Terbiasa untuk Bertanggung Jawab

Anak sulung laki-laki terbiasa menjadi sosok yang bertanggung jawab bagi adik-adiknya. Mereka sudah biasa membantu adik-adiknya dalam menyelesaikan berbagai masalah. Tak heran jika nantinya saat sudah berkeluarga mereka pun pasti mampu menjadi sosok pemimpin yang bertanggung jawab.

7. Pemimpin yang Baik

Anak sulung laki-laki sudah terbiasa menjadi pemimpin bagi adik-adiknya, Itulah yang membuat mereka mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Tentu saja mereka adalah sosok mantu idaman juga dalam keluarga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top