Feature

Memangnya Kenapa Kalau Perempuan Suka Pulang Malam?

“Tak apa-apa, tapi ya siap-siap saja dicap NAKAL oleh mereka yang melihatnya”

Begini, pada beberapa aspek kehidupan kita giat gencar bicara soal kesetaraan. Tapi, masih ada saja ketimpangan dalam menempatkan pandangan. Tentang apa yang boleh dilakukan oleh satu gender tertentu dengan yang (katanya) tak layak dilakukan. Tak perlu lah jauh-jauh untuk mencari, apa itu yang sedang akan dibicarakan. Sebab pada kehidupan sehari-hari saja kita masih sering menempatkan persepsi yang belum tentu benar, untuk menilai baik buruknya seseorang.

“Kamu tuh perempuan, tak baik pulang malam-malam” Begitu beberapa orangtua, teman, kawan lelaki, bahkan tetangga akan berkomentar. Setiap kali melihat seorang perempuan pulang dalam larut malam. Daripada menempatkan diri untuk memberinya penghakiman, kalau memang kenal dekat. Lebih baik tanyakan, apa yang ia kerjakan?

Mendapat Tuduhan Seperti Itu, Jelas Membuat Perempuan Merasa Dihakimi dengan Sangkaan yang Belum Tentu Dilakoni

Pernah jadi sosok yang dijadikan tersangka untuk kasus serupa. Saya bisa tahu, bagaimana rasanya jadi perempuan yang kerap mendapat cibiran-cibiran halus nan menusuk begini. Harus diakui memang, perempuan tumbuh dalam kerengkeng macam-macam aturan. Tak boleh ini dan tak boleh itu, harus begini dan harus begitu. Bukannya membantu kita mengembangkan diri, seringkali perempuan justru bingung bagaimana mengeksplor keinginan dan kemampuan.

“Anak gadis tak baik pulang malam-malam” jadi kalimat yang akan selalu membekas dalam ingatan, ketika masih tinggal bersama orangtua di rumah. Beberapa orangtua bahkan, boleh jadi menunjukkan kemarahan yang begitu hebat. Hanya karena anak perempuannya pulang lebih larut dari biasanya. Alasannya, ya tetap “Tak baik dilihat orang” atau “Kamu kan perempuan” Lah terus, salahnya dimana? Kita yang tadinya punya pembelaaan atas bentuk tak setuju, barangkali hanya bisa diam. Padahal ingin sekali  melawan.

Marah Disangka Tak Bertata Krama, Diam Seolah Membenarkan Tuduhannya

Hidup dalam lintas generasi yang berbeda dengan orangtua yang mungkin jadi pihak penegur, jelas membuat kita susah untuk memberi pengertian. Mereka masih percaya pada paham-paham lama, dan selalu terbiasa untuk menyakini semua hal-hal yang sudah dijadikan acuan hidup dari dulu. Lalu, bagaimana bisa membuat mereka mengerti bahwa tak semua perempuan yang pulang larut malam adalah manusia tak benar? Ini mungkin sulit, tapi bukan berarti tak bisa.

Jangan buru-buru marah, nanti bisa dicap tak punya etika. Namun diam, juga tak selalu jadi solusi. Karena bisa jadi kita dianggap telah mengamini apa yang mereka sematkan pada diri. Mulailah memberinya pemahaman, tentang apa yang kita lakukan. Baarangkali itu akan sedikit membuatnya berpikiran baik akan aktivitas malam yang kerap kita lakukan. 

Beberapa Kali Disampaikan dalam Bentuk Candaan, Tapi Maknanya Tetap Saja Menyudutkan

Percaya atau tidak, pada kehidupan sehari-hari ada banyak sekali ujaran tentang konotasi buruk pada mereka para perempuan yang doyan pulang malam. Disampaikan dengan nada setengah bercanda atau dalam bentuk percakapan serius lainnya. Dari perempuan atau laki-laki, kawan kuliah atau rekan kerja, rasanya ada saja yang melontarkannya.

Bukan, ini bukan sedang ingin menyalahkan. Karena pada dasarnya kepercayaan masyarakatlah yang membentuk pemikiran-pemikiran seperti ini. Disematkan dengan mudah para mereka yang suka pulang malam, terlebih pada perempuan. Dan semakin terasa bak tuduhan, kalu kamu kebetulan menggenakan hijab.

Kebiasaan Tak Jadi Penentu Baik dan Buruknya Seseorang, Lagipula Apa Untungnya Jadi Tukang Nilai Hidup Orang

Meski ungkapan “Jangan menilai orang dari penampilan” sudah banyak dipajang, tapi masih banyak dari kita yang melanggarnya demi berkomentar atas hidup orang. Disatu sisi, sikap seperti ini memang sulit sekali untuk dibendung. Tak bisa menghentikan pemikiran-pemikiran buruk atas diri kita, hingga tak mampu menahan orang lain akan berkomentar apa.

Tapi, berkata seseorang “buruk” hanya karena kebiasaan tak selalu selaras dengan kenyataan. Cobalah membuka mata, pada orang-orang yang katanya baik dan tak pernah terlihat pulang malam. Belakangan, beberapa dari mereka justru kerap kedapatan jadi orang-orang dengan pekerjaan yang tak benar. Ingat, para penjual diri tak selalu bekerja malam, begitu pula dengan perempuan yang suka pulang malam belum tentu nakal.

Bisa Meredam Amarah dengan Menutup Telingat, Tapi Lama-lama Mereka Juga Bisa Jengah

Pada beberapa fase hidup, beberapa perempuan mungkin akan berupaya untuk bisa tetap sabar dan menutup telinga. Tak menghiraukan, perkataan-perkataan sumbang dari kiri-kanan, dengan beberapa alasan yang mungkin berhubungan dengan kewarasan. Coba bayangkan, jika setiap komentar buruk tentang pulang larut malam kita tanggapi dengan serius. Kewarasan yang kita miliki bisa saja timpang, dan tak lagi bisa berjalan beriringan dengan benar.

Tak ada yang lebih pantas dan tidak pantas, baik laki-laki atau perempuan. Baiknya punya kesempatan serupa untuk mengartikan kegiatan dan kebebasan dalam diri masing-masing. Tak boleh dan dibatasi hanya karena ia adalah perempuan, sedang yang lain boleh karena ia laki-laki.

Selanjutnya, serupa dengan mereka yang tak mau tahu apa yang menjadi alasan mengapa kita pulang larut malam. Mari melakukan hal yang sama, dengan menutup telinga untuk semua cibiran tak benarnya. Kalau nanti sudah merasa tak tertahankan, mungkin kamu berhak untuk memberi tahu apa yang kamu kerjakan setiap malam, sampai pulang lebih lama dari manusia lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketika Hidupnya Lebih Buruk denganmu, Itu Artinya Ia Tak Tercipta Untukmu

Pernah tidak kamu tiba-tiba bepikir, bahwa ada sesuatu yang sepertinya tak beres dalam hubunganmu? Iya, ini bukan tentang kamu tak bisa membuatnya tertawa atau bahagia. Tapi tentang kenyataan lain yang justru jadi tanda tanya.

Coba lihat hidupnya kini, lalu bandingkan dengan hidupnya sebelum kalian bersama. Dulu ia adalah seorang periang, punya banyak teman dan pekerjaan yang lancar. Tapi bersamamu, harinya justru berubah. Menjauh dari temannya, karena memastikan kamu tak kemana-mana jadi yang lebih utama.

Sering khawatir karena cemburu, ketakutan akan kehilangmu menganggu pekerjaan yang ia lakoni. Lantas, sanggupkah kamu terus menerus melihatnya begitu?

Cinta yang Baik Membawanya Kedamaian, Bukan Membuatnya Gusar Tak Berkesudahan

Sikap periang yang dimilikinya, bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya suka padanya. Tapi, jauh berbeda dari saat pertama jumpa. Akhir-akhir ini ia justru terlihat sering berwajah sendu, karena tak bahagia. Senyum manis yang tadinya sering mengembang, pelan-pelan mulai hilang. Berganti dengan segudang kekhawatiran atas hubungan yang kalian jalankan.

Tak terlihat secara jelas datang darimana sedihnya, yang terlihat hanyalah raut wajah kecewa, takut, serta kerap khawatir untuk berbagai macam alasan. Jika memang begitu, cobalah untuk melepasnya sendiri dulu.

Jauh dari Kata Berkembang, Hidupnya Kian Monoton Setelah Kamu Datang

Rasa sayang harusnya mendorong seseorang untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya terlihat mustahil. Membantunya meningkatkan kemampuan dan kreativitas, dan semua hal baik itu jelas memberi dampak baik untuknya.

Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, itu artinya memang ada sesuatu yang salah. Bandingkan lagi, bagaimana hidupnya ketika kalian tak bersama. Seberapa banyak pencapaian yang ia perbuat dengan seorang diri saja? Dan kenapa ketika sudah bersama ia justru berdiam diri dan tak berbuat apa-apa?

Semangatnya pelan-pelan hilang, dan jika benar begitu sebaiknya kau lepaskan genggamanmu.

Hanya Demi Kamu, Ia Sering Berbohong

Tak jelas apa alasannya, dari seluruh perubahan sikap yang ia tunjukkan. Kebohongan jadi salah satu hal yang paling banyak kau temukan. Mulai dari kebohongan kecil, hingga yang besar. Dari yang menurutmu tak penting untuk ditutupi sampai hal besar lain yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.

Hubungan kalian, kerap kali dijadikan alasan untuk berbohong dan tak ingin membuatmu marah atau kecewa padanya. Tapi asal kamu tahu saja, cinta yang baik merubah sesorang untuk lebih terbuka dan membicarakan semuanya. Jika ia kerap kedapatan berbohong, itu artinya ada sesuatu yang salah.

Tak Lagi Bergairah untuk Melakoni Hal Lain, Hidupnya Seolah Bertumpu Hanya Padamu Saja

Jadi sesuatu yang kadang sulit diterima, perubahan sikap yang ia tunjukkan kadang memang tak masuk akal. Namun itu semua adalah kenyataan yang mau tak mau harus kamu terima. Kamu bisa melihat ia kehilangan semua gairah, tak lagi terlihat hidup melakukan hal yang tadinya ia suka.

Dan kesimpulan yang bisa ditarik dari sikapnya, kemampuan yang tadinya ia bisa perbesar berubah jadi ketidakpastian yang kian kecil. Tak mau berbuat apa-apa tanpa dirinya, baginya kamulah roda pemutar hidup yang ia percaya. Tapi, bukankah cinta harusnya membuat kita kian kuat? Jika dirinya justru melemah, itu artinya bukan cinta.

Lari dari Tanggung Jawab, Ia Berubah Lebih Buruk dari yang Sebelumnya

Yap, coba tengok seseorang yang katamu paling kamu cintai itu. Ingat kembali bagaimana ia dulu menyelesaikan semua pilihan dan menyelesaikannya dengan benar. Lalu masihkah ia bersikap demikian sampai sekarang? Jika ternyata jawabannya adalah tidak. Berarti ada sesuatu yang memang perlu dibenahi dalam hubungan kalian berdua. Dia yang terjebak dan tak bisa memilah perilakunnya, atau sikapmulah yang membuat ia jadi demikian berubah.

Mungkin Bukan Hanya Salahmu Juga, untuk Itu Cobalah Mencari Penyebabnya

Perkara hubungan yang bisab merubah setiap orang. Siapa yang salah jelas sulit untuk ditentukan. Satu pihak bisa saja merasa biasa dan tak berbuat salah, tapi di sisi lain bisa jadi pasangannya mengira dialah penyebab seseorang berubah.

Tak harus buru-buru, coba dilihat pelan-pelan dulu. Pihak manakah yang sekiranya jadi penyebab perubahan diri. Jika memang itu karenamu, belajarlah untuk lebih bijaksana dalam menanggapinya. Lepaskan ia jika ternyata, tak ada bahagia yang ia terima setelah sekian lama bersama. Jujurlah pada dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu memang jadi sosok yang membuatnya berubah menjadi lebih buruk dari dirinya yang sebelumnya.

Maka, jika benar-benar cinta, cobalah lepaskan ia. Biarkan ia mencari jalannya, dan belajar untuk mencari bahagianya dulu sebelum nanti berbagi bahagia lagi bersamamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kadang Seorang Teman Memberi Solusi Bukan Karena Empati, Tapi Sekadar Asal Bicara Saja

Sadarilah, tak semua teman tempat kita curhat adalah seorang pendengar yang baik, yang mau turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karenanya, tak usah heran kalau akhirnya yang kamu dapat adalah solusi yang terdengar ‘ala kadarnya’ bahkan terkesan menggampangkan sebuah masalah.

Padahal jika dikembalikan ke dirinya sendiri belum tentu mereka akan terima dengan masukan seperti itu. Namun bukan berarti berbagi cerita ke teman adalah langkah yang salah ya. Mungkin supaya tak mendapat respon yang tak enak, kamu perlu mengenali karakter mereka dulu. Carilah sosok teman yang benar-benar tepat, yang bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik bagi dirimu.

Seorang Teman Belum Tentu Merasakan Emosi yang Kamu Rasakan

Bagaimanapun, seorang teman belum tentu bisa merasakan emosi seperti yang kamu rasakan saat kamu menceritakan ceritamu. Padahal ada kalanya kamu hanya butuh didengarkan saja dibanding meminta saran dari mereka. Hati-hati, salah cerita pada orang, justru bisa membuatmu merasa sia-sia.

Sadarilah, meski sejak awal kita berharap mereka mau turut merasakan emosi yang sama seperti yang kamu rasakan kala itu. Tak semua orang bisa merasakan apa yang kita sedang rasakan.

Selesai Cerita Justru Dapat Penghakiman dari Teman yang Kamu Ajak Cerita, Menyebalkan Bukan?

Percayalah, tak semua curahan hati kamu bisa diterima dan direspon dengan baik oleh teman yang kamu ajak berbagi. Bahkan, tak semua teman akan setuju dengan jalan cerita yang kelak kamu bagikan pada mereka. Alih-alih ingin mendapat hati yang plong setelah mengeluarkan segala keluh kesahmu, yang ada kamu hanya akan mendapatkan kecewa.

Jika tahu bakal mendapat penghakiman dari lawan bicaramu. Pastikan terlebih dahulu, sebenarnya seberapa besar ia mau mendengarmu.

Tak Menutup Kemungkinan Ceritamu Justru Disebarluaskan pada yang Lain

Tak semua teman bisa menjaga rahasiamu dengan baik setelah kamu ceritakan seluruhnya pada mereka. Karenanya, jangan menceritakan masalahmu ke sembarang orang. Namun carilah sosok teman yang dapat dipercaya bisa menjaga rahasiamu dengan aman.

Susah memang, tapi kuberitahu, jangan sampai setelah kamu curahkan semua pada temanmu, masalahmu malah makin runyam dan akhirnya hanya mengganggu ketentraman hatimu, kan?

Berujung Penyesalan yang Menderamu Karena Sudah Cerita ke Temanmu

Akhirnya ketika kamu tahu bahwa teman yang kamu ajak berbagi cerita tidak bisa dipercaya dalam menjaga segala rahasiamu, yang ada kamu akan merasa menyesal sendiri. Bahkan hal ini bisa berdampak pada merenggangnya hubungan pertemanmu dengannya. Mungkin pada akhirnya kamu bisa petik pelajarannya dari sini agar bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman untuk diajak berbagi cerita.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jatuh Cinta Itu Mudah, Tapi Menjaganya Susah

Semua kita pasti setuju, jika proses jatuh cinta selalu dipenuhi dengan hal-hal manis yang menenangkan jiwa. Tak berhenti memikirkan dirinya, sampai senyum-senyum manis meski tak ada yang orang disamping kita.

Tapi jatuh cinta, jelas tak hanya sampai pada proses menyatakan cinta lalu diterima saja. Setelah itu, kita justru diminta untuk berjuang dengan porsi yang lebih besar. Memulainya mungkin cukup dengan sebuah perasaan suka, tapi untuk terus bisa bertahan jelas kita butuh usaha. Maka dengan demikian, jika jatuh cinta terasa mudah, menjaganya sudah pasti susah.

Awalnya Semua yang Terasa Kurang Terkesan Manis, Tapi Percayalah Itu Tak Akan Berjalan Lama

Pada beberapa waktu awal, segala hal yang terasa kurang bisa dirayakan dalam sebuah kesederhanaan. Memesan satu porsi lauk dengan dua porsi nasi demi menghemat biaya, memang bukanlah sesuatu yang buruk untuk berdua. Selama masih bisa dinikmati bersama, jelas selalu terasa istimewa.

Namun juga akan terdengar manusiawi, jika kita menginginkan sebuah hubungan yang berjalan dengan angan besar. Bukan yang melulu jalan di tempat. Kita butuh perubahan, sesederhana bisa makan berdua di restoran mewah tanpa takut tak bisa bayar.

Bukan Tak Percaya Rasa Cinta, Tapi Pasti Bosan Jika Setiap Akhir Pekan Hanya Duduk Manis di Rumah Saja

Jangan bilang perempuanmu sedang ingin meragukan rasa sayang dan ketulusan. Biar bagaimanpun dia selalu percaya jika cinta akan mendatang berbagai macam hal baik dalam hubungan. Akan tetapi, kamu juga perlu mencari celah bagaimana caranya untuk terus menghidupkan rasa.

Bayang-bayang akan hidup berdua bisa jadi belum siap diterima. Karena masih pacaran saja, hubungan kalian terasa hambar tanpa ada istimewanya. Sesekali, kalian harus pergi kencan berdua. Walau hanya sekedar menikmati dua gelas kopi, sembari bercerita beberapa angan bersama. 

Kita Harus Realistis, Seberapa Serius Kita Akan Menjalani Hubungan Ini

Tantangan dalam hubungan kita jelas akan berubah, dari hal-hal remeh yang tak harusnya jadi sumber masalah. Berubah dengan berbagai macam pertanyaan seputar keseriusan berdua. Perempuanmu mungkin bisa mendadak marah, karena tahu kamu menghabiskan 30% gaji hanya untuk foya-foya. Padahal jauh lebih berguna jika uangnya kamu tabung saja.

Begitupun sebaliknya, lelakimu bisa saja merasa kecewa jika kamu masih saja bersikap kekanak-kanakan dan mempermasalahkan tentang mantan yang jelas-jelas sudah lama dilupakan. Belajar untuk terbuka dalam segala, mengemukakan sesuatu yang memang sekira tak benar. Dan sama-sama belajar untuk memahami, akan dibawa kemana hubungan ini.

Demi Cinta yang Tetap Terjaga, Kita Pun Butuh Waktu yang Baik untuk Berdua

Memupuk rasa cinta dan kasih sayang, bukan hanya tentang ikatan. Bagi perempuan, perlu untuk bepergian bersama pasangan walau si lelaki mungkin merasa enggan. Hidupkan semua rasa dan cinta dengan cara yang istimewa, agar tak pernah ada kata bosan untuk bersama.

Tak harus sering, asal bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan berguna. Belajar memasak berdua kala akhir pekan, atau berkebun bersama untuk suasana yang lebih kekeluargaan. Dengan begitu kalian akan terlatih, jadi pasangan yang tak hanya saling mencintai tapi juga bisa jadi rekan kerja yang baik untuk segala hal yang akan dilakukan nanti.

Hingga Akhirnya Kalian Akan Sadar, Menjalin Hubungan Bukan Soal Cinta Semata

Membuat perhitungan dalam hubungan, bukan berarti sedang ingin menancapkan sebuah standar besar. Ini lebih kepada sebuah kesadaran, tentang hal-hal nyata lain yang memang akan dirasakan setiap pasangan. Kita butuh pergi berkencan, kita butuh makan malam berdua yang berkesan, kita butuh menghadiahi pasangan, dan berbagai hal lain yang memang membutuhkan perhitungan dan jelas jadi pengeluaran.

Maka dengan demikian, walau katamu jatuh cinta itu mudah, menjaganya jelas saja susah. Karena selain biaya, kau pun perlu untuk mau terbuka. Mempelajari bagaimana sebenarnya sikap aslinya dan seberapa besar kemungkinan bisa berdua selamanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top