Feature

Memangnya Kenapa Kalau Perempuan Suka Pulang Malam?

“Tak apa-apa, tapi ya siap-siap saja dicap NAKAL oleh mereka yang melihatnya”

Begini, pada beberapa aspek kehidupan kita giat gencar bicara soal kesetaraan. Tapi, masih ada saja ketimpangan dalam menempatkan pandangan. Tentang apa yang boleh dilakukan oleh satu gender tertentu dengan yang (katanya) tak layak dilakukan. Tak perlu lah jauh-jauh untuk mencari, apa itu yang sedang akan dibicarakan. Sebab pada kehidupan sehari-hari saja kita masih sering menempatkan persepsi yang belum tentu benar, untuk menilai baik buruknya seseorang.

“Kamu tuh perempuan, tak baik pulang malam-malam” Begitu beberapa orangtua, teman, kawan lelaki, bahkan tetangga akan berkomentar. Setiap kali melihat seorang perempuan pulang dalam larut malam. Daripada menempatkan diri untuk memberinya penghakiman, kalau memang kenal dekat. Lebih baik tanyakan, apa yang ia kerjakan?

Mendapat Tuduhan Seperti Itu, Jelas Membuat Perempuan Merasa Dihakimi dengan Sangkaan yang Belum Tentu Dilakoni

Pernah jadi sosok yang dijadikan tersangka untuk kasus serupa. Saya bisa tahu, bagaimana rasanya jadi perempuan yang kerap mendapat cibiran-cibiran halus nan menusuk begini. Harus diakui memang, perempuan tumbuh dalam kerengkeng macam-macam aturan. Tak boleh ini dan tak boleh itu, harus begini dan harus begitu. Bukannya membantu kita mengembangkan diri, seringkali perempuan justru bingung bagaimana mengeksplor keinginan dan kemampuan.

“Anak gadis tak baik pulang malam-malam” jadi kalimat yang akan selalu membekas dalam ingatan, ketika masih tinggal bersama orangtua di rumah. Beberapa orangtua bahkan, boleh jadi menunjukkan kemarahan yang begitu hebat. Hanya karena anak perempuannya pulang lebih larut dari biasanya. Alasannya, ya tetap “Tak baik dilihat orang” atau “Kamu kan perempuan” Lah terus, salahnya dimana? Kita yang tadinya punya pembelaaan atas bentuk tak setuju, barangkali hanya bisa diam. Padahal ingin sekali  melawan.

Marah Disangka Tak Bertata Krama, Diam Seolah Membenarkan Tuduhannya

Hidup dalam lintas generasi yang berbeda dengan orangtua yang mungkin jadi pihak penegur, jelas membuat kita susah untuk memberi pengertian. Mereka masih percaya pada paham-paham lama, dan selalu terbiasa untuk menyakini semua hal-hal yang sudah dijadikan acuan hidup dari dulu. Lalu, bagaimana bisa membuat mereka mengerti bahwa tak semua perempuan yang pulang larut malam adalah manusia tak benar? Ini mungkin sulit, tapi bukan berarti tak bisa.

Jangan buru-buru marah, nanti bisa dicap tak punya etika. Namun diam, juga tak selalu jadi solusi. Karena bisa jadi kita dianggap telah mengamini apa yang mereka sematkan pada diri. Mulailah memberinya pemahaman, tentang apa yang kita lakukan. Baarangkali itu akan sedikit membuatnya berpikiran baik akan aktivitas malam yang kerap kita lakukan. 

Beberapa Kali Disampaikan dalam Bentuk Candaan, Tapi Maknanya Tetap Saja Menyudutkan

Percaya atau tidak, pada kehidupan sehari-hari ada banyak sekali ujaran tentang konotasi buruk pada mereka para perempuan yang doyan pulang malam. Disampaikan dengan nada setengah bercanda atau dalam bentuk percakapan serius lainnya. Dari perempuan atau laki-laki, kawan kuliah atau rekan kerja, rasanya ada saja yang melontarkannya.

Bukan, ini bukan sedang ingin menyalahkan. Karena pada dasarnya kepercayaan masyarakatlah yang membentuk pemikiran-pemikiran seperti ini. Disematkan dengan mudah para mereka yang suka pulang malam, terlebih pada perempuan. Dan semakin terasa bak tuduhan, kalu kamu kebetulan menggenakan hijab.

Kebiasaan Tak Jadi Penentu Baik dan Buruknya Seseorang, Lagipula Apa Untungnya Jadi Tukang Nilai Hidup Orang

Meski ungkapan “Jangan menilai orang dari penampilan” sudah banyak dipajang, tapi masih banyak dari kita yang melanggarnya demi berkomentar atas hidup orang. Disatu sisi, sikap seperti ini memang sulit sekali untuk dibendung. Tak bisa menghentikan pemikiran-pemikiran buruk atas diri kita, hingga tak mampu menahan orang lain akan berkomentar apa.

Tapi, berkata seseorang “buruk” hanya karena kebiasaan tak selalu selaras dengan kenyataan. Cobalah membuka mata, pada orang-orang yang katanya baik dan tak pernah terlihat pulang malam. Belakangan, beberapa dari mereka justru kerap kedapatan jadi orang-orang dengan pekerjaan yang tak benar. Ingat, para penjual diri tak selalu bekerja malam, begitu pula dengan perempuan yang suka pulang malam belum tentu nakal.

Bisa Meredam Amarah dengan Menutup Telingat, Tapi Lama-lama Mereka Juga Bisa Jengah

Pada beberapa fase hidup, beberapa perempuan mungkin akan berupaya untuk bisa tetap sabar dan menutup telinga. Tak menghiraukan, perkataan-perkataan sumbang dari kiri-kanan, dengan beberapa alasan yang mungkin berhubungan dengan kewarasan. Coba bayangkan, jika setiap komentar buruk tentang pulang larut malam kita tanggapi dengan serius. Kewarasan yang kita miliki bisa saja timpang, dan tak lagi bisa berjalan beriringan dengan benar.

Tak ada yang lebih pantas dan tidak pantas, baik laki-laki atau perempuan. Baiknya punya kesempatan serupa untuk mengartikan kegiatan dan kebebasan dalam diri masing-masing. Tak boleh dan dibatasi hanya karena ia adalah perempuan, sedang yang lain boleh karena ia laki-laki.

Selanjutnya, serupa dengan mereka yang tak mau tahu apa yang menjadi alasan mengapa kita pulang larut malam. Mari melakukan hal yang sama, dengan menutup telinga untuk semua cibiran tak benarnya. Kalau nanti sudah merasa tak tertahankan, mungkin kamu berhak untuk memberi tahu apa yang kamu kerjakan setiap malam, sampai pulang lebih lama dari manusia lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Berdamailah dengan Masa Lalu, Buka Hati untuk Cinta yang Baru

Perkara masa lalu, biarkan dirimu terus belajar dari orang-orang sekitar. Aku yakin, akan ada saatnya kamu mau menerima dan mengikhlaskan hubungan yang sempat berakhir di tengah jalan. Aku tahu rasanya memang sulit, kamu harus mengalami kenyataan pahit di masa lalu.

Tapi, kamu sudah melalui hal itu, kini saatnya untuk membuka hati dan melihat masa depanmu pada sebuah hubungan yang baru tanpa perasaan ragu. Kawan, sudahlah, bukan lagi saatnya untuk meragu. Bagaimanapun, kamu berhak mengukir kisahmu dengan hal-hal yang baru yang lebih indah dengan seseorang dimana nantinya kamu bisa merasakan bahagia lagi.

Saat Ragu Mulai Menyapa, Pikirkanlah Kalau Kamu Juga Berhak Bahagia

Setiap orang dibekali Tuhan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kamu hanya harus fokus pada kelebihan yang kamu miliki dan kembangkanlah kemampuan tersebut setiap harinya. Hal ini bisa jadi langkah sederhana yang membuatmu percaya bahwa kamu itu berharga.

Terlepas dari seberapa besar pengalaman membentuk pemikiran untuk menghindari hubungan dengan seseorang yang baru, kamu itu berhak bahagia. Tak usah membandingkan dirimu yang sekarang dengan yang lama serta mengungkit lagi soal kegagalan hubungan dengan orang baru yang datang menghampiri.

Lagipula, Kegagalan Seharusnya Bisa Membuatmu Memiliki Hati yang Lebih Lapang

Kalau kamu pernah putus cinta, bukan berarti kamu gak bisa mencinta lagi. Kegagalan dalam hubungan justru bisa menjadikan pribadimu lebih dewasa dalam hal mencintai dan dicintai. Sudah selayaknya kamu lebih bisa mencintai dirimu yang sekarang, kawan. Menerima seseorang yang pastinya bisa menghargai dirimu lebih dari sebelumnya, dan menjalin hubungan yang lebih naik tingkat. Karenanya, kegagalan memang seharusnya bisa membuatmu memiliki hati yang lebih lapang.

Pahamilah Kalau Setiap Pilihan yang Kamu Tetapkan Selalu Ada Risikonya

Keraguan dalam menerima seseorang justru bisa membawa dampak bagi dirimu sendiri. Mau sampai kapan kamu meragu dan terpenjara dengan perasaan itu seterusnya? Padahal, kamu sendiri juga tahu bahwa setiap hal yang membuatmu bahagia juga sepaket dengan kemungkinan terburuk serta kesedihannya.

Bagaimanapun, kegagalan di masa lalu harus membuatmu lebih bijak dalam mengambil langkah di masa depan. Setiap pilihan ada sisi enak dan tak enaknya memang, tapi jangan sampai kamu justru berhenti menutup diri untuk menjajal kesempatan baru dalam hidupmu.

Yakinkan Diri, Jika Kamu Memang Sudah Benar-benar Belajar dari Masa Lalu

Kalau dulu kamu masih main-main dalam menjalin hubungan, karena kegagalan yang terdahulu otomatis membuatmu makin bisa berpikir rasional, kan? Kamu jadi tahu mana yang lebih cocok dan mengeliminasi yang sekiranya tak sesuai sama dirimu. Termasuk soal memilih dan memantapkan hati pada hubungan yang baru.

Sekalipun memilih seseorang tanpa bayang-bayang orang di masa lalu memang bukan hal yang mudah, Janganlah sering membandingkan keduanya hingga tak kunjung mengambil kesempatan saat ada yang mendekati. Saat ini, yang perlu kamu perlu menghilangkan kebiasaan membandingkan ini, karena setiap orang punya kelebihannya sendiri.

Terpenting, Kamu Harus Sayangi Dirimu Lebih Dulu

Keraguan saat mau menjalin hubungan bisa datang dari ketidakyakinan diri untuk bertahan pada pilihan. Nah, jika kamu merasa dalam kondisi yang semacam ini, cukup jalani segala sesuatu dari apa yang ada di depan mata, terima dirimu seutuhnya. Dengan ini, maka kamu akan lebih mudah mempersilahkan seseorang hadir dan menjalani hubungan baru. Ingatlah, Tuhan pasti punya alasan dalam mempertemukanmu dengan seseorang yang  baru. Terlepas dari kenangan atau kejadian yang tak menyenangkan, aku berharap kamu bisa menjalani hubungan yang lebih berkualitas lagi dari sebelumnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hubungan Kian Hambar Tapi Enggan Tuk Meninggalkan, Aku Tahu Bagaimana Rasanya Kawan!

Relasi yang sudah berjalan dalam kurun waktu tahunan, tak bisa jadi patokan hubunganmu dengannya bisa tetap baik-baik saja. Justru ada saja rintangan yang jauh lebih besar yang akan kamu hadapi. Yang paling sering kejadian, ada sekian orang merasa tak punya lagi cinta yang sama besarnya seperti dulu saat baru awal-awal jadian. Semacam kehilangan gairah dalam hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Tapi dirinya sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan selain bertahan.

Sehat atau tidaknya sebuah relasi pun hanya kamu dan pasanganmu yang tahu. Bersyukurlah kamu kalau saat ini relasimu baik-baik saja, kamu dan pasangan bisa merawat cinta yang ada di tengah-tengah kalian. Sementara di luar sana, ada banyak sekali orang yang memutuskan untuk bertahan dalam sebuah hubungan walau ia merasa hubungannya sudah tak lagi sehat untuknya. Aku pernah merasakannya. Beberapa alasan mungkin terdengar klise, tapi memang itulah kenyataan…

Terlalu Malas Mengulang Pola ‘Kenalan-Pendekatan-Pacaran’ Seperti yang Sudah-sudah…

Memulai lagi. Rasanya malas sekali. Harus cari gebetan lagi, kenalan lagi, pendekatan, bahkan sampai mengulang lagi fase pacaran dari awal—yang berbeda cuma satu, yaitu pasangan yang baru. Yup, yang namanya menjalin hubungan yang baru, semua mau tak mau dilakukan kalau memang memilih untuk melepaskan pasanganmu yang sekarang. Kala itu aku pun berpikir demikian. Terlalu malas untuk berkutat dengan hal-hal semacam itu, karenanya aku memilih bertahan.

Tapi izinkanku memberi saran. Sebab ini soal masa depan, apa iya kamu terlalu malas untuk semua itu?  Bukankah lebih menyebalkan terjebak dengan seseorang yang membuatmu tidak sreg lagi dengan hubunganmu yang sekarang? Soal pasangan, masa depanmu pun ikut dipertaruhkan. Sekali kamu mengiyakan sebuah pernikahan yang tidak kamu inginkan, selamanya kamu akan terjebak di dalamnya. Kalau memang hatimu tidak untuk si dia yang ada disampingmu sekarang ini, lantas untuk apa terus bertahan dan berusaha keras?

Berusaha Mencoba untuk Nyaman Hanya Karena Takut Tak Bisa Menemukan yang Sepadan

Tak usah menghakimi diri sendiri dan takut tak akan dapat pasangan, yang perlu kamu pikirkan sekarang ini adalah bisakah kamu keluar dari hubunganmu yang hambar? Kalau kamu berani mendobrak hal ini, percayalah, akan ada seseorang yang tidak akan membuatmu merasa bosan walau setiap hari bersamanya. Kalau kamu belum merasakannya sekarang, tandanya dia memang bukan orang yang dipersiapkan untukmu, jangan takut putus dengannya.

Kamu Memilih Bertahan Karena Pertimbangan Usiamu yang Dicap Pantas Menikah

Dulu aku begitu, aku memilih bertahan karena usia jadi pertimbangannya. Usiaku seakan mengejarku untuk segera berumahtangga dengan pasanganku kala itu. Bertahun-tahun aku memegang prinsip “selagi ada pasangan” aku pun jadi ‘mau-tidak-mau’ tetap bertahan. Untukmu, jangan sampai terjebak situasi yang sama sepertiku. Selalu ada kesempatan asal kamu mau mengusahakannya. Lagipula, untuk apa kamu fokus pada usia menikah padahal kamu sendiri tidak yakin bisa hidup bahagia dengannya?

Kamu Merasa Dirimu Pantas Menerima dan Berada di Situasi Tersebut

Jangan sekali-kali berpikir kamu pantas berada di situasi yang sulit hanya karena kamu berlaku buruk di masa lalu. Bangunlah kepercayaan diri dan tunjukkan bahwa semua orang patut bahagia. Jangan pernah beranggapan kamu pantas menderita dengan bertahan pada cinta yang hambar. Kamu selalu pantas bahagia, asal kamu sendiri mau memperjuangkannya.

Kamu Tak Percaya Diri Karena Takut Mendapatkan Pasangan yang Lebih Buruk dari yang Sekarang

Padahal tak ada jaminan hal itu bisa terjadi. Begini, tak ada salahnya kamu juga peduli dan memikirkan dirimu sendiri untuk urusan relasi seperti ini. Jangan sampai bertahan membuatmu stres setiap harinya. Bahkan sekalipun kamu sudah sendiri, itu lebih membahagiakan dibanding jadi pasangan orang yang tidak lagi kamu cintai.

Hindari menyiksa dirimu sendiri. Kalau memang kamu tidak merasa nyaman, jangan takut untuk segera pergi dan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Cinta tak bisa dipaksakan, kawan. jangan salahkan dirimu atau dia yang tidak bisa membuat cinta kalian seindah dulu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Tunggu Inspirasi, Tapi Teruslah Motivasi Diri Agar Karir Sukses Tanpa Tunggu Nanti

Siapa sih yang tidak ingin sukses dalam berkarir? sepertinya itu sudah absolut, karena kesuksesan akan berimbas kepada kehidupan yang sejahtera. Tetapi kalau berbicara soal sukses, banyak orang yang mengatakan dan menginginkan tapi tak ada satu tindakan yang benar-benar mengisyrakatkan mereka sedang berjuang meraih kesuksesan. Dengan alasan mereka sedang menunggu inspirasi datang, apakah benar inspirasi salah satu upaya menuju kesuksesan?

Kesuksesan yang kamu bangun sebenarnya tidak butuh datangnya inspirasi, tetapi bagaimana caranya kamu dapat memotivasi diri. Motivasi untuk menggapai sesuatu pastinya akan memunculkan ide-ide kreatif dalam merangkai kesuksesan. Ingat tak ada kesuksesan tanpa tindakan, dan kesuksesan dibangun dari proses panjang bukan bermodalkan keberuntungan. Menurut John C Maxwell dalam bukunya Success One Day At A Time ada beberapa fakta tentang orang sukses dalam berkarir.

Tetapkan Sasaran yang Tepat dalam Mencapai Kesuksesan, Mulailah Sebelum Terlambat

Untuk melihat hasil positif dari apa yang kamu lakukan adalah tumbuhkan komitmen di setiap hari. Agar kamu tidak kendur dan tetap bersemangat. John C Maxwell mengingatkan bahwa ada kekeliruan kenapa orang tak kunjung sukses karena fokusnya yang terpecah dan salah. Jika kamu menetapkan sasaran untuk tumbuh setiap hari, maka hasil positif itu akan terlihat terutama dengan membuat sasaran tepat jangka pendek dan jangka panjang yang tepat.

Gali Potensi Dalam Diri, Teruslah Berpacu Dengan Kemampuan yang Tak Kamu Sadari

Banyak orang yang merasa kalau ia sudah mengeluarkan semua kemampuan yang ia miliki, padahal ada kemampuannya yang masih belum digali. Kenapa ini bisa terjadi? karena rasa puas yang mengandrungi diri sendiri. Agar kamu dapat naik ke tingkat karir yang lebih tinggi, bulatkan tekad untuk terus memperbaiki diri sendiri dengan mengeluarkan seluruh potensi. Karena proses perubahan dan pertumbuhan memiliki nilai yang baik terhadap pembelajaran dalam diri.

Kesempatan Biasanya Akan Kalah Dengan Kesenangan yang Kamu Utamakan

Di usia muda belia, banyak hal yang mendistraksi otak kalian untuk melakukan hal yang sifatnya bersenang-senang.  Seperti pepatah mengatakan, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu tuai, sehingga kalau masa muda kamu hanya dihabiskan dengan bersenang-senang, jangan harap kesuksesan akan datang. Justru orang yang berusah payah di masa sekarang pasti ada ganjaran besar yang sepadan dengan apa yang mereka perjuangkan.

Jangan Takut Untuk Bermimpi, Selain Gratis Mimpi Adalah Refleksi Besar Bagi Perubahan Mencapai Kesuksesan

Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit begitu kata orang-orang di luar sana ketika kamu sedang berandai-andai. Ingat bahwa tidak ada batasan seseorang dalam bermimpi, jadi bermimpilah setinggi-tingginya. Karena apabila mimpi itu kamu kejar pasti mereka akan mengejarnya dan melampaui keterbatasan. Potensi manusia seyogyanya tidak terbatasan dan masih banyak hal yang dapat dieksplore dan dijelajahi. Tetapi kalau kamu memiliki anggapan ini sudah melampaui batas, itu kamu sendiri yang menciptakan batasan itu, ya kan?

Prioritaskan Hal yang Ingin Kamu Kerjakan, Aturlah Waktu Sesuai Kemauan

Mengatur waktu sesuai kemauanmu bukan berarti kamu dapat meremehkan waktu. Waktu itu ibarat pedang yang dipakai terus menerus, pasti akan tumpul dan tidak bisa kembali tajam. Kalau kamu kerap menyia-nyiakan waktu tentu akan sangat rugi, sukses dalam berkarir adalah memiliki kemampuan dalam mengatur waktu. Henry Kaiser, salah seorang pendiri perusahaan sukses pernah bertaka. “Setiap menit yang diinvestasikan dalam perencanaan akan menghemat dua menit waktu pelaksanaan.”

Bagaimana apakah kamu masih menunggu inspirasi menjadi sukses? atau sudah mulai membangunkan motivasi dalam diri?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top