Feature

Memangnya, Apa Susahnya Sih Bertoleransi?

Memasuki tahun pesta demokrasi yang akan kita gelar bersama pada 2019 mendatang. Kata “Toleransi” mungkin akan jadi santapan yang akan sering kita dengar. Bukan apa-apa, demokrasi yang tadinya bisa jadi selebrasi. Agaknya lebih mirip jadi ajang tonjokan-tonjokan tanpa ampunan. Tedeng, “Usungankulah yang paling benar” pun jadi acuan. Menilai rendah mereka yang tak sepikiran, hingga lupa kalau setiap orang berhak menentukan pilihan.

Agak mengerikan memang, kita yang dikenal sebagai bangsa ramah nan sopan. Sepertinya selalu diuji pada momen politik yang sebenarnya bisa dirayakan bersama-sama. Bayang-bayang demokrasi damai, terlihat kian jauh. Toleransi yang harusnya dipelihara justru berubah jadi fanatisme sempit yang sering berujung pada konflik.

Nah, Kalian tahu nggak, kalau hari ini 16 November, diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional. Ditetapkan sejak tahun 1995 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), dengan tujuan akan mengeratkan hubungan antar sesama. Tapi, ngomong-ngomong soal toleransi nih.

Pernah nggak sih kalian mikir “Kenapa (beberapa) orang sulit untuk bertoleransi?”. Membuat batasan pada kawan lain, getol untuk berkata pilihannya lah yang paling benar, sampai memutus pertemanan hanya karena beda usungan calon presiden, padahal sudah lama saling kenal.

Tapi Tunggu Dulu, Kita Bukan Tak Bisa Bertoleransi!

Mengingat kita adalah masyarakat penganut budaya gotong royong yang sudah jadi ciri khas. Jelas terasa aneh, kalau akhirnya kita bilang sudah tak ada toleransi. Yap, kuralat mungkin sebagian lupa bagaimana caranya bertoleransi. Kita yang dulu bisa merasa biasa duduk bersama dengan kawan yang berbeda agama, mendadak merasa ketakutan hanya karena penampilan mereka.

Buru-buru berpikiran negatif, tanpa mau mengenal mereka lebih dalam lagi. Kadang kala, keputusan seperti inilah, yang akhirnya menghilangkan toleransi dari diri kita. Perbedaan yang seharusnya bisa diterima sebagai keberegaman, berubah jadi aktivitas mengkotakkan diri dari lingkungan. Dengan kata lain, tanpa disadari keputusan kita yang seperti ini sudah membuat kita masuk dalam jejeran orang anti sosial.

Tak Punya Ruang untuk Melatih Toleransi, Mungkin Jadi Salah Satu Pemicunya

Selanjutnya, mari kita berpindah sebentar ke beberapa negara tetangga yang bisa kita ketahui aktvitas masyarakatnya. Katakanlah Jepang, sebuah negara yang terkenal dengan disiplin dan ketertiban yang aduhai ketat. Disana, bisa dipastikan kita hampir tak akan menemukan orang-orang yang suka ngerobot antrian di tempat umum dengan dalih buru-buru.

Selain didikan dari dalam rumah, beberapa negara yang terkenal dengan toleransi yang tinggi. Diketahui juga mempunya ruang dan wadah yang dipercaya bisa melahirkan toleransi yang tinggi. Mulai tempat bermain gratis yang memadai untuk anak-anak, fasilitas umum yang bisa membuat kita berbaur, sampai banyaknya ruang lain yang juga membuat setiap orang bertemu dan bercengkrama tanpa batas atas nama perbedaan.

Dan mari bayangkan dengan kita yang ada di Indonesia, Jelas jauh bedanya. Saya tak akan bilang bahwa belum banyak ruang-ruang terbuka yang dibangun untuk berkegiatan bersama. Karena sepertinya hal itu sedang dikerjakan pemerintah, walau beberapa tempat yang harusnya bisa dinikmati secara cuma-cuma masih dipungut biaya.

Tidak Adanya Aktivitas yang Mampu Melahirkan Ketoleran

Masih sejalan dengan beberapa hal yang bisa menumbuhkan sikap Toleran. Kalau kita coba ingat-ingat lagi, nampaknya beberapa kegiatan yang mungkin kita ikuti selama ini. Bisa dibilang tak selalu mampu melahirkan toleransi dalam diri. Atau jangan-jangan, beberapa dari kita malah tak pernah ikut berkegiatan?

Bertemu dengan bermacam-macam orang dari latar belakang yang berbeda, akan membantu kita membuka mata. Tentang bagaimana kehidupan orang lain yang tak se-suku dengan kita, bagaimana orang-orang berbeda agama beribadah, hingga akhirnya kita bisa menilai dan menganggap bahwa semua perbedaan ini bukanlah masalah.

Bukan sedang ingin memojokkkan pihak manapun, dia yang berteman dengan orang yang serupa dengannya, misalnya sesuku, seagama, sekompleks tempat tinggal, satu sekolah, satu tempat kerja, biasanya tidak lebih beruntung daripada mereka yang melebarkan sayap perteman pada siapa saja tanpa mengenal perbedaan.

Ya, walau pada beberapa kasus, ungkapan ini belum tentu benar.

Bahkan Sosial Media Pun Tak Selalu Jadi Jawaban

Konon platform yang lahir di ranah digital ini, diciptakan demi menjangkau lebih banyak orang. Membuat kita berteman, belajar tanpa ada batas, bertukar pendapat, hingga tak lupa juga bisa bertengkar. Memang sih, sosial media jadi sesuatu yang membuat kita merasa lebih dekat dengan mereka yang jauh dimata.

Tapi jangan lupa juga, alasan yang sama juga banyak memicu orang-orang memberi komentar seenak udelnya. Tak tahu orang itu siapa, asal statusnya menyinggung perasaan dan hal yang diyakini, kita bisa marah tanpa terlebih dahulu memastikan apa yang sedang ia sampaikan.

Maka dengan demikian, wadah yang diharapkan mampu membuat kita terhubung dengan banyak orang. Belum tentu mampu membuat kita menjadi manusia yang toleran.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sebenarnya, sebagai manusia dewasa yang sudah paham mana yang salah dan benar. Kita semua harusnya sudah paham, bagaimana harus merayakan perbedaan dalam toleransi. Peringatan ini dikampanyekan, bukan hanya untuk toleran terhadap ketidakadilan semata.

Untuk itu, saya mendadak teringat satu ucapan dari salah satu Mantan Prisiden kita Gus Dur, “Perbedaan Tanpa Keadilan adalah Ilusi”. Dengan kata lain, toleransi tak hanya menerima dan mengakui kenyataan bahwa ada perbedaan yang hidup diantara kita. Tapi juga memahami bahwa setiap manusia berhak untuk hidup sebagaimana pilihan mereka, tanpa penindasan, paksaan, diskriminasi, dan ketidakadilan.

Jika hal-hal demikian bisa kita pahami dengan benar, saya pikir Toleransi bukanlah sesuatu susah untuk kita wujudkan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top