Feature

Mau Sampai Kapan Habiskan Waktu untuk Media Sosial? Cobalah Rehat Sebentar!

Kami bisa menebak, saat terjaga atau terbangun di pagi hari nan cerah, pasti yang kamu cari adalah smartphone dan langsung membuka instagram. Setiap orang di era sekarang termasuk kami tentunya, menjadikan instagram salah satu sosial media andalan, bahkan kehidupan mereka dapat terekam secara esklusif lewat instagram stories. Moment berangkat kerja, peliknya kerjaan sampai macetnya jam pulang kantor menjadi beberapa konten langganan setiap user.

Tapi dibalik kebiasaan yang sudah menjelma menjadi rutinitas, tentu kamu mulai memikirkan bahwa efek dari sosial media tersebut sudah ke arah kecanduan. Pasalnya kecanduan media sosial dapat mengakibatkan perubahan karakter, pribadi sampai moodFacebook envy atau kecemburuan gara-gara facebook mulai dikenal sebagai istilah di mana seseorang mulai merasa iri dengan unggahan temannya di sosial media. Tentu ini kabar buruk yang harus kamu terima sebagai social media enthusiast.

Kalau kamu merasa tidak kecanduan dan hanya menjadi pengguna yang biasa-biasa aja, kamu patut bersyukur. Tetapi sebuah riset mengatakan bahwa ada jumlah kenaikan penggunaan sosial media. Riset pun menjelaskan kalau rata-rata lama pengguna memakai ketiga platform media sosial Facebook, Instagram dan Messengger adalah 55 menit, seperti dilaporkan The New York Times di tahun 2016. Ternyata ada kenaikan penggunaan rata-rata lama penggunaan sosial media loh, karena di tahun 2014 setiap pengguna hanya menghabiskan waktu 44 menit. Kemungkinan kenapa terjadi kenaikan karena fitur atau pengembangan sosial media yang semakin lama, semakin menarik.

Melihat peningkatkan waktu penggunaan tersebut semakin membuat kita tersadar, bahwa kenapa seseorang kerap mengalami candu di sosial media. Sebuah label buruk pun sudah disematkan lewat beberapa jargon, seperti generasi nunduk, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat adalah dua istilah yang menggambarkan betapa buruknya sosial media dan smartphone itu sendiri. Situs dalam negri macam Tirto juga menjabarkan tiga hal apabila seseorang menjadi penyandu medsos seperti membawa pengaruh buruk ke pekerjaan dan pendidikan, mampu melukan persoalan pribadi karena medsos dan membuat kamu menjadi frutasi.

Sampai akun gosip tersohor sejagad lambe turah pernah mengunggah seorang anak merengek minta kuota kepada ibunya demi membuka instagram. Itu pun jelas, bahwa kecanduan medsos dapat membuat orang frustasi apabila tidak mengaksesnya. Apakah kamu sudah melihat gejala tersebut ada di dalam diri kamu? Lantas apakah libur sejenak dari sosial media dapat menjadi solusi atau menyadarkan bahwanya hidup itu lebih bermakna kalau bersosialisasi secara asli tanpa lewat perantara digital?

Kerap Menjadi Pembanding, Salah Satu Alasan Seseorang Rehat Dari Sosial Media Dari Pada Kepala Pening!

Dilansir dari lifehacks, para ilmuwan menyatakan bahwa kebanyakan orang pengguna sosial media mereka cenderung mengalami komparasi diri. Membandingkan diri mereka dengan kehidupan semua orang yang ada di daftar pertemanan diri mereka, hal ini pun dapat berdampak serius terutama bagi harga diri.

Salah satu contoh yang dijelaskan adalah ketika semua teman kamu sudah menikah sedangkan kamu, masih sendiri. Di saat seperti itu mungkin kamu merasa terisolasi dan kesepian. Lepaskan dari siklus semacam ini dengan berhenti bersosial media dapat membuat hidup kamu tak merasa kesepian.

Timbul Persaingan yang Tidak Sehat, Dari Pada Hal Ini Berlanjut Lebih Baik Rehat

Kamu merasa tidak ada persaingan dalam bersosial media? apabila kamu merasa seperti itu, apakah kamu kerap menghitung berapa jumlah likes atau comment di setiap posting yang kamu unggah? atau pernah merasa berfikiran, “padahal dia post begitu doang, kok like commentnya banyak ya?” saat kamu memperhatikan salah satu postingan temanmu.

Media sosial secara tidak sadar telah memunculkan sisi kompetitif, wajar kok apabila kamu seperti itu lantaran kata lifehacks dasar utama jejaring media sosial seperti Facebook untuk menarik perhatian ke posting yang kamu unggah. Jadi ada perasaan untuk mengalahkan postingan orang lain. Jelas saja ini tidak sehat, dapat menyebabkan kecemasan dan depresi.

Sosial Media Bisa Membawa Kamu Stres dan Bahagia

Berapa lama waktu yang kamu butuhkan dalam bersosial media? ketahuilah bahwa sebuah studi yang dilansir dari laman yang sama mengatakan, bahwa semakin besar kemungkingan seseorang untuk mengembangkan depresi disebabkan semakin banyak waktu yang dihabiskan di sosial media.

Di sisi lain jumlah waktu yang kamu habiskan secara langsung sangat berkaitan apakah kamu merasa stres atau bahagia. Itu saat tepat untuk detox media sosial. Awalnya akan berasa aneh, karena ini terkait perubahan besar lantaran mengakses medsos yang kamu lakukan setiap hari.

Ada Beberapa Bentuk Kepribadian Para Pecandu Medsos Terutama Instagram

Dibalik hegemoni sosial media yang menyerang sanubari orang dewasa sampai anak kecil, ternyata ada fakta unik yang diteliti oleh Kagan Kircaburun dan Mark D. Griffiths. Dilansir dari Tirto, penelitian yang dilakukan kedua orang ini menjelaskan apabila kepribadian dan karakter berpengaruh seberapa besar kemungkinan pengguna tersebut mengalami kecanduan terhadap instagram.

Lebih lanjut ia menjelaskan kalau orang dengan kepribadian extraversion (suka berbicara dan pandai bersosialisasi) dan neuroticism (tak stabil dan gampang marah) mereka tidak memiliki ketergantungan terhadap instagram. Tetapi mereka yang memiliki kepribadian hati yang lembut atau sopan yang disebut  agreeableness cenderung mengalami candu kepada Instagram sampai-sampai mereka memperhatikan, memberi like sampai berkomentar unggahan foto diri pengguna lain.

Apakah ini relate dengan kepribadianmu?

Bersosialisasi di Dunia Nyata Lebih Indah dari Dunia Maya

Terhubung dengan orang secara langsung lebih baik dari pada secara onlineKarena itu jauh lebih baik, kamu harus membangun kontak dengan manusia secara langsung lantaran itu jauh lebih menarik dan berharga. Bagaimana dengan orang yang introvert yang kerap merasa tidak nyaman dengan berinteraksi secara langsung? Kamu dapat meningkatkan mood dengan keluar di depan umum!

Pergila ke taman, konser, bioskop apabila kamu lebih suka sendirian, itu lebih baik dari pada hanya mematung di depan gadget saja. Jika kamu juga ingin mendapatkan teman baru kamu bisa mencoba dengan berkenalan.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Selamat, Ilustrator Indonesia Menang Kontes Fan Art ‘Spider-Man: Far From Home’

Dalam rangka menyambut penayangan serempak untuk film ‘Spider-Man: Far From Home’, menggandeng Talenthouse, mereka  mengadakan kontes fan art yang diadakan di media sosial. Dan menariknya nama Adhitya Zulkarnaen, ilustrator asal Indonesia berhasil memenangkan kontes tersebut bersama dengan sembilan kompetitor lainnya yang berasal dari seluruh penjuru dunia.

Buah karya dari Adhitya, konon juga pernah menarik perhatian Jake Gyllenhaal, pemeran Mysterio dalam ‘Spider-Man: Far From Home’. Dan tak ketinggalan, deretan fans Spider-Man lainnya juga sangat mengapresiasi karya dari ilustrator Indonesia ini.

Dan tak hanya Adhitya yang berucap syukur atas kemenangannya, Sony Picture Indonesia melalu akun twitter @SonyPictureID juga memberikan ucapakan selamat kepada sang ilustrator dengan turut serta mengunggah hasil karya buatan Adhitya.

Talenthouse adalah sebuah platform yang menghubungkan antara kreator dengan brand atau artis yang related dengan karyanya. Nah, melihat momentum ini, tak menutup kemungkinan jika Adhitya bisa saja dipanggil oleh Talenthouse atau mungkin dari pihak studio resmi lainnya untuk membantu membuat sebuah karya ilustrasi resmi lainnya. Seperti Bosslogic yang dipanggil Disney untuk membuat poster alternatif resmi bagi penonton.

Karya lain dari Adhitya bisa juga kamu lihat dengan mengunjungi laman Instagram pribadinya di @adhityazul.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perbedaan Lelaki yang Ingin Sekedar Jadi Pacar dengan Dia yang Siap untuk Meminang

Buru-buru dalam memaknai kehadiran seorang lelaki, beberapa perempuan kerap menelan luka. Menaruh harap pada pacarnya, padahal si lelaki datang hanya sekedar singgah. Dengar, tak semua lelaki yang ada dalam hidupmu punya ketulusan untuk mencintaimu. Beberapa dari mereka datang hanya untuk sekedar saling suka, lalu kemudian pergi membuatmu terluka.

Memilih lelaki untuk dinikahi bukanlah perkara kisah cinta yang bisa putus kapan saja. Lebih dari itu, kamu perlu memilah-milah sosok mana yang memang benar-benar mencintaimu. Memiliki komitmen untuk jangka panjang dan bersedia tetap saling menggenggam dalam segala hal.

Nah, agar tak salah kaprah dalam menilai mereka. Ada beberapa hal yang bisa membantumu membedakan. Manakah lelaki yang hanya ingin jadi sekedar pacar, dengan dia yang sungguh-sungguh siap meminang.

Yang Hanya Ingin Jadi Pacar Akan Banyak Berjanji, Tapi yang Ingin Menikah Akan Memberimu Bukti

Demi membuatmu merasa nyaman, si lelaki yang ingin jadi pacar ini akan memberimu banyak janji. Tapi sebagian besar dari janjinya itu, tak pernah ada yang dipenuhi. Bukannya membuatmu kian percaya, ia hanya bisa bercerita tentang semua angan-angannya untukmu tanpa berusa menjadikannya nyata. Obrolan yang ia selalu pakai pun tak jauh-jauh dari angan-angan, dan kalimat manis lain yang rasanya tak mungkin dilakukan.

Lain dengan lelaki tadi, yang serius untuk menjadikanmu istri akan hadir dengan pembuktian, bukan hanya sekedar omongan. Membuatmu bahagia dengan hal-hal yang kamu memang suka, hingga berbuat sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Tanpa diminta, ia bergerak untuk memberimu bukti nyata.

Dengan Lelaki yang Serius Kamu Punya Temat Berdebat, Berbeda dengan si Pacar yang Hanya Mendengarmu Bercerita

Pacarmu itu mungkin aja jadi teman cerita yang selalu bersedia memberi telingannya. Mendengarmu berkata apa saja, tapi selalu diam dan tak memberi masukan apa-apa. Yang ia tunjukkan hanyalah kehadiran, bukan jadi pihak yang membantumu kian paham tentang sesuatu yang kalian bicarakan.

Lalu sebaliknya, si lelaki yang serius untuk menikah akan jadi teman debat yang bisa membawamu kian dewasa. Memberimu pemahamanan yang berbeda, hingga jawaban-jawaban menakjubkan yang selama ini tak ada dalam kepala. Ya, bersamanya kamu berkembang tak hanya jadi percerita yang handal. Tapi juga punya pengalaman yang lebih lebar.

Dia yang Hanya Sekedar Ingin Jadi Pacar, Menganggap Kencan Hanya Ajang Jalan-jalan, Tapi yang Serius Akan Membuat Kalian Saling Mengenal Lebih Dalam

Lebih dari acara makan–nonton– lalu pulang, laki-laki yang serius akan selalau menikmati waktu berdua dengan cara yang tak biasa. Mencipatakan obrolan-obrolan menarik untuk kalian berdua, hingga kalian mengerti kalau ada hal lain yang bisa dilakukan lebih dari sekedar kencan jika sedang berduaan. Untuk itu, kamu bisa membedakan hal apa saja yang sering pacarmu tunjukkan setiap kali kalian menghabiskan waktu di akhir pekan. Membawamu untuk sekedar makan malam atau mengajakmu menikmati sesuatu yang bertujuan membuat kalian saling mengenal lebih dalam.

Lelaki yang Hanya Berniat Memacari Tak Peduli pada Kebiasan Burukmu, Sedangkan yang Serius Akan Merubahmu Jadi Lebih Baik dengan Cara yang Benar

Jangan buru-buru senang jika sang pacar terlihat acuh dengan hal-hal buruk yang kamu lakukan. Bukan karena ingin memberimu kebebasan melakukan apa saja. Karena kelak jika kalian sedang berselisih, ia bisa saja memakai kebiasaanmu burukmu sebagai senjata. Ya, senjata untuk memojokkanmu hingga jadi seorang tersangka.

Namun sebaliknya, dia yang memang memiliki niat baik untuk menjadikanmu pasangan hidupnya. Pelan-pelan akan bersuara, memberimu pemahaman berbeda, hingga akhirnya memabantumu merubah kebiasaan buruk yang ada. Bukan untuk bersikap lebih benar, ia memilih kata dan kaliamat yang lebih pelan, halus dan tak membuatmu merasa ditekan.

Pacar Sering Menuntutmu Merubah Penampilan, Tapi yang Berniat Menikahimu Bersedia Menerimamu Bagaimana Adanya

Kalau yang tadi terlihat acuh pada kebiasaanmu, kini ia bisa jadi berubah getol untuk memerhatikan penampilanmu. Mulai dari pakaian yang kamu kenakan, sepatu yang kamu pilih, hingga warna lipstikmu kerap harus sesuai dengan yang ia ingini. Ia mendorongmu berubah, tapi untuk sesuatu yang menjadi keinginannya, bukan seperti yang kau ingini.

Padahal, sebagai lelaki harusnya ia tahu jika setiap orang berhak untuk menentukan apa yang ia inginkan. Itulah mengapa jika seseorang yang benar-benar sudah siap menikah, tak akan mempermalasahkan penampilan. Apalagi menuntutmu berubah sesuai yang ia inginkan. Karena ia tahu, setiap orang berhak menentukan apapun. Tak akan memaksa, ia akan menerima bagaimana kamu ada.

Si Pacar Tak Pernah Membawamu Ke Lingkup Pertemanannya, Tapi yang Serius denganmu Selalu Bangga untuk Mengakuimu Di Hadapan Semua Orang

Jangankan untuk dikenalkan ke keluarga besar, tiap kali bertemu temannya saja ia selalu pergi sendiri dengan dalih tak ingin ditemani. Sebaliknya, setiap kali kamu berusaha untuk mengajaknya bertemu dengan teman-temanmu ia selalu punya alasan untuk bisa menghindar dari ajakanmu. Baginya, hubungan kalian baiknya jadi rahasia. Tak perlu ada yang tahu.

Padahal lelaki yang siap menikahimu, selalu merasa perlu untuk membawamu ke lingkup pertemanannya. Membawamu ke acara keluarga, dan tak pernah malu untuk mengakuimu sebagai kekasihnya. Dari titik ini harusnya kamu bisa membedakan, siapa dia yang hanya ingin sekedar jadi pacar dengan dia yang memang serius siap untuk menikah dalam waktu dekat.

Tak Menghindar Setiap Kali Membicarakan Pernikahan Seperti Pacarmu, yang Serius Menikah Selalu bersemangat Jika Ingin Membicarakan Kelangsungan Hubungan

Yap, satu-satunya alasan mengapa ia selalu bersikap menunjukkan semua hal yang tadi sudah dijelaskan. Tentu saja karena belum merasa siap untuk menjadikanmu sebagai istrinya. Atau memang hanya ingin main-main saja, tanpa pernah berniat serius, sebagaimana kamu menganggapnya.

Ini jadi langkah paling menentukan. Bagaimana ia bersikap setiap kali kamu mengajaknya membicarakan pernikahan. Apakah dia pura-pura menghindar atau justru membuka obrolan dengan semangat yang berbeda dari biasanya.

Jangan mudah terlena hanya karena umbaran kata cinta yang membuatmu merasa istimewa. Lelaki yang memberimu kata-kata manis belum tentu berniat mengajakmu melangkah ke jenjang yang lebih intim dari sekedar pacaran.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hemat Bikin Kamu Kaya, Tapi Pelit Buat Hidupmu Tak Bahagia!

Walau tak banyak, kamu pasti punya teman yang pelitnya nggak ketulungan. Jangankan untuk mau memantu orang, berbagi hal-hal kecil saja selalu ogah-ogahan. Menyebalkan memang kalau orang-oran seperti ini adalah di lingkup kehidupan. Tak pernah mau memberi, tapi selalu berharap untuk diberi.

Ngakunya sih hemat, padahal itu hanyalah siasat agar tak mengeluarkan orang. Alih-alih ikut menyumbang, ia bisa santai dengan duduk tanpa mengeluarkan sepeserpun, jika sedang kumpul bersama teman. Uangnya mungkin tetap banyak, tapi percaya deh orang-orang pelit adalah mereka yang hidupnya selalu dirundung gelisah, stress dan tak bahagia.

Karena Kata Peneliti, Orang Pelit Biasanya Mudah Sekali Stress

Demi menjawab fenomena marahnya orang-orang pelit ini, baru-baru ini para ilmuan meneiliti tingkat kebahagia dari mereka yang terkenal kikir. Apakah ada kepuasan lain yang membuat mereka bahagia dengan menjadi pelit? Dengan menggunakan metode analisis fisiologis, dan menggunakan simulasi tawas menawar sebagai bahan penelitian.

Para ilmuan dari Queensland University of Technology (QUT) di Brisbane, Australia, ini menemukan mereka yang menawar terlalu rendah memiliki tingkat stres lebih tinggi dibandingkan mereka yang nawar sewajarnya, atau bahkan tidak menawar saat membeli produk finansial.

Lalu bagaimana peneliti mengetahui orang yang pelit itu lebih stres? Para ahli melihat dari kerja jantung responden saat melakukan tawar menawar. Mereka yang menawar sangat rendah terbukti memiliki pacu jantung yang tidak beraturan dan lebih cepat.

Kinerja jantung seperti ini juga terjadi pada orang yang sedang depresi, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, atau sedang menghadapi masalah besar hingga ia stres.

Sedangkan sebaliknya, orang yang menawar sewajarnya bahkan tidak melakukan penawaran, jantung mereka lebih stabil dan emosi mereka juga lebih tenang. Hal ini sama seperti seseorang sedang berada di tempat liburan yang menyenangkan. Jadi, kamu bisa membandingkan.

Dan Semakin Kita Sayang Kepada Uang dan Harta, Semakian Bertambah Pula Tingkat Stres Kita

Nah, akhirnya, hasil penelitian yang dipublikasi dalam jurnal Plus One ini menyimpulkan jika, saat melakukan penawaran, ada beberapa kondisi psikis seseorang yang bisa diamati. Mulai dari tingkat empati, emosional, sampai ke stres mental.

Menurut Markus Schaffner, salah seorang peneliti dan manajer Queensland Behavioral Economics Gropu Laboratory for Economic Experiments di QUT. Pada tahap penelitian, mereka menemukan dua hal penting pada responden. Yakni terjadinya stres mental saat berhubungan dengan uang dan keputusan.

Pertama, orang yang pelit merasa selalu khawatir uangnya akan berkurang, sehingga emosinya tidak stabil. Kedua, saat melakukan penawaran di bawah 40%, mereka ternyata juga mengalami penyesalan. Baik itu menyesal karena kenapa tidak lebih rendah, padahal mereka berfikiran itu bisa rendah, atau menyesal karena telah menawar dengan sangat rendah.

Maka dengan kata lain, semakin kita sayang terhadap uang yang kita miliki, semakin tinggi pula tingkat kegusaran yang kita hadapi. Jadi jika memang kamu ingin bahagia dan merasa berguna, mulailah untuk berbagi kepada siapa saja tanpa menghitung berapa banyak yang sudah kamu keluarkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top