Community

Lakukan 7 Hal Ini di Usiamu yang Menjelang 25-an

Waktu tak akan berhenti berjalan hanya untuk menunggumu menjadi pribadi yang dewasa. Ingatlah seiring berjalannya waktu, kamu dituntut untuk bisa berpikir lebih kritis dan bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan yang akan ada.

Apalagi di usiamu yang sudah menjelang 25-an ini, kamu harus mampu mempertanggungjawabkan segala yang kamu lakukan. Saat ini bukan lagi untuk bermanja-manja ria, pada orangtua. Maka cobalah pahami 7 hal sederhana yang sudah saatnya kamu lakukan ini.

1. Sadar Diri

Sadarlah, kini sudah waktunya kamu berlaku lebih bijaksana dan dewasa. Kamu bukan lagi anak kecil yang bisa bersembunyi di balik kekuasaan yang orangtuamu miliki.

2. Mantapkan Visi dan Misi Hidupmu

Kamu harus tahu apa yang menjadi visi dan misimu sendiri. Jika kamu sudah berpikir kamu memilikinya, cobalah untuk lebih memantapkannya lagi. Karena ke depannya kamu tak lagi punya waktu untuk bergonta-ganti visi dan misi kehidupanmu. Kamu harus fokus menjalani kehidupanmu ke depan. Karena waktu tak bisa kembali diputar ke belakang.

3. Tak Ada Salahnya Mencoba Bisnis Baru

Jika kamu merasa punya jiwa pebisnis dalam dirimu, tak ada salahnya untuk mencoba merintis sebuah usaha atau bisnis baru yang kamu bangun sendiri. Cobalah untuk hidup mandiri dan melepaskan diri dari sokongan materi yang diberikan oleh kedua orangtuamu.

4. Menabung Untuk Masa Depan

Jangan hanya memikirkan hari ini saja. Kamu harus menatap hidupmu jauh ke depan dan mempersiapkan segala peluang yang mungkin akan terjadi dalam kehidupanmu di masa mendatang. Jadi mulailah untuk menabung untuk jaminan di masa depanmu nanti.

5. Memperluas Jaringan Relasi

Perbanyaklah teman dan kenalan. Mungkin lewat mereka kamu bisa membangun masa depan yang lebih baik. Punya banyak teman dan relasi bisa membuatmu lebih mudah saat menghadapi dunia kerja kelak.

6. Jaga Pola Hidup Sehat

Perbanyaklah makan makanan yang sehat. Atur juga pola tidurmu. Jangan lupakan olahraga. Kamu harus tetap sehat untuk bisa melakukan segala hal dengan lebih optimal. Tinggalkan hal yang tidak ada untungnya bagimu seperti begadang dan nongkrong nggak jelas di pinggir jalan.

7. Jangan Bosan Untuk Terus Belajar

Kunci dari sebuah keberhasilan adalah sikap tak puas untuk terus belajar. Karena itulah jangan berhenti untuk belajar. Semakin banyak hal yang kamu pelajari, akan semakin banyak pula pengetahuan yang akan kamu kuasai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dari Segala Kesibukan yang Membosankan, Kita Butuh “Me Time” Demi Menjaga Kewarasan

Berdasarkan beberapa hasil temuan, manusia sekarang mengalami gangguan kejiwaan yang cukup signifikan. Dan salah satu hal yang mempengaruhinya adalah banyaknya tekanan atas gaya hidup manusiamo modern era sekarang.

Selanjutnya menjalani hidup dengan monoton serta terjebak dalam padatnya rutinitas harian, juga dipercaya mampu memburuknya kondisi psikis dan fisik seseorang. Kalau sudah begini, menyisihkan waktu untuk diri sendiri, jadi sesuatu yang amat kita butuhkan. Cobalah keluar dari segudang pekerjaan, dengan bersantai sejenak tanpa beban.

Sebab, menurut sebuah penelitian yang dilakukan Annals of Behavioral Medicine menyatakan, ketika kita meluangkan waktu minimal 15 menit sehari untuk menghibur diri. Hal tersebut mampu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, mengurangi resiko serangan jantung, serta mampu membuat pikiran terasa lebih tenang. Selain itu, ini juga membuktikan dapat membuat kita tetap waras. Baik kondisi psikis maupun fisik akibat berbagai tekanan pekerjaan.

Selain itu, ada beberapa manfaaat baik lagi yang juga bisa kamu dapatkan ketika menyisihkan sedikit waktu untuk “Me Time” dari aktivitasmu.

Jadi Ajang Kontemplasi untuk Bisa Berpikir Jernih

Coba bayangkan, setiap hari milikmu selalu digunakan untuk memikirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. Tak hanya, menyita perhatian saja hal ini juga selalu menguras fokus pikiran kita. Nah, dengan menyisihkan waktu untuk diri sendiri. Kamu bisa berpikir tentang banyak hal diluar pekerjaan.

Dan tak hanya menenangkan dan melahirkan ide-ide baru yang lebih cemerlang. Ajang kontemplasi juga bisa membantu kita menemukan produktivitas yang selama ini telah lama hilang. Bagaimana, menarik kan?

Lepaskan Semua Beban Pikiran Agar Terhindar dari Stres yang Menakutkan

Memilih untuk melakukan “Me Time”, serupa dengan menekan tombol “restart” pada komputer milikmu. Sebab sekuat dan sesibuk apapun kamu, tubuhmu selalu butuh waktu untuk berhenti sejenak untuk kemudian mengumpulkan tenaga lagi. Tak harus dilakukan dengan sesuatu yang terlihat besar, bepergian menghirup udara segar di akhir pekan boleh jadi pilihan.

Pastikan jika apa yang kamu lakukan, membuatmu lupa sebentar atas tumpukan laporan mingguan. Tugas yang belum diselesaikan, hingga rapat besar yang sudah menunggu di minggu depan. Mengistirahatkan diri sebentar untuk memperoleh amunisi yang kuat di hari mendatang.

Berguna Juga dalam Mempererat Hubungan Kita

Untuk kamu yang punya pasangan, tapi juga selalu sibuk dalam urusan pekerjaan. Tanpa harus merasa bersalah pada pasangan, cobalah beri ia pengertian jika kamu sedang butuh waktu untuk sendiri. Apalagi jika memang, sedang ada perdebatan yang belum menemukan titik terang.

Ambilah waktu untuk menepi sebentar, pikirkan semua hal yang sudah kamu dan si dia lakukan dengan tenang. Tak hanya menghantarmu pada rasa nyaman yang baru, “Me Time” juga akhir melahirkan pemikiran lain yang bisa jadi jawaban atas hubungan. Maka, bukan tak mungkin pula jika selepas ini. Hubunganmu dan pasangan, akan lebih erat dari waktu yang sebelumnya.

Sebagai Jalan untuk Menemukan Sesuatu yang Selama Ini Diinginkan

Merasa buntu atas semua hal yang selama ini sedang dijalani. Ada titik yang akan menghantarmu pada fase jemu. Tak tahu apa yang akan dipilih, tapi juga bingung akan hal yang sedang dijalani. Namun setelah “Me Time”, kamu bisa meyakinkan diri tentang apa yang selama ini diingini.

Sendirian, memberimu keleluasaan untuk menemukan hal-hal tanpa harus terdistraksi oleh pendapat dari luar. Kamu tak perlu merasa butuh mendengar apa pendapat orang. Semua hal yang kamu inginkan, bisa dengan mudah kamu lakukan. Lupakan semua yang ada pada luar diri, karena inilah saatnya kamu lebih tahu tentang apa yang kamu ingini.

Merasa Bisa Menikmati Hidup, Setelahnya Kita Bisa Lebih Produktif Lagi untuk Bekerja

Atas nama kesibukan dan segudang pekerjaan, kadang kala memaksa diri untuk tetap bekerja justru malah meciptakan beban baru dalam pikiran. Kamu mungkin mendadak akan merasa tak lagi bisa sproduktif dulu, pikiran terganggu, hingga beban lain yang menganggu konsentrasimu.

Memaksakan diri, mungkin boleh-boleh saja. Tapi hasilnya? Tentu saja tak akan maksimal. Istirahatlah sebentar. Cari kegiatan lain yang bisa membuatmu lupa pada pekerjaan. Pergi mencicipi beberapa kuliner di pinggir jalan, menginap sebentar ke luar kota di akhir pekan, atau sekedar bersantai membaca buku di rumah.

Sebab setiap kali kita berhasil mendapatkan waktu berkualitas untuk menenangkan diri sendiri. Kita akan lebih mudah berkonsentrasi lagi. Hasilnya, kita bisa kembali bekerja dengan produktivitas yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, kapan mau “Me Time?”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pedihnya LDR Tak Seberapa dibanding Kami yang Beda Ritme Kerja

Kata orang, tiap kisah cinta punya lika-likunya. Ada yang harus melakoni LDR, ada juga yang setiap hari dimudahkan untuk bertemu, atau ada lagi yang hanya bisa bertemu beberapa jam lantaran bentrok dengan kerjaan. Diantara sekian banyak dinamika, adakah yang mengalami pacaran tapi harus berbeda ritme kerja? Percayalah, situasi pacaran semacam ini tak kalah pedihnya dibanding mereka para pelaku LDR.

Tuntutan pekerjaan dengan istilah shift-shift-an membuatku tak punya jadwal pasti untuk urusan kencan. Ya mau bagaimana, saat aku dapat tugas shift pagi, bisa saja kekasihku harus bekerja di malam hari sehingga waktu aku bekerja, ia pun harus istirahat untuk menjaga staminanya. Begitu pun sebaliknya. Belum lagi di akhir pekan, belum tentu kami bisa bertemu. Hari libur yang berbeda membuat kami bisa saja tetap masuk sekalipun di akhir pekan. Yup, inilah sekelumit dinamika yang rutin kami hadapi…

Sulitnya Mengatur Waktu untuk Bertemu Sudah Jadi Hal Biasa yang Selalu Kami Hadapi

Karena bentuk jadwalnya shift, saat aku libur, pasangan justru masuk kerja. Pun saat dia masuk kerja, aku justru libur. Yup, perbedaan waktu libur kerja ini membuat pertemuan kami sama sulitnya seperti pasangan LDR sekalipun kami tak terlalu dipisahkan jarak layaknya pasangan LDR.

Pelan-pelan, Intensitas Komunikasi Jadi Berkurang

Sekali lagi, lantaran sistem kerja shift, libur yang kami terima pun tak selalu di akhir pekan. Jangan bilang tak ada dampak yang muncul, justru hal itu berpengaruh terhadap intensitas komunikasi kami. Bisa saja yang seharusnya siang untuk bekerja dan malam untuk istirahat menjadi kebalikannya.

Pun saat jadwal kami tak sama, akhirnya obrolan yang bergulir diantara kami pun semakin jarang. Yang penting berkabar. Bisa jadi saat aku bertanya bagaimana kabar hari ini selepas kerja, dia justru baru mulai bekerja. Berat memang, tapi tetap kami hadapi sebab kami yakin kami bisa mengatasi dinamika semacam ini.

Bersyukurlah Untukmu yang Bisa Menikmati Malam Minggu Tanpa Hambatan dan Pergi Ke Kondangan Bawa Pasangan

Bersyukurlah kalau kamu sempat merasakan lancarnya malam Mingguan tanpa hambatan bahkan bisa pergi kondangan bareng pasangan. Justru momen semacam itu yang sukar sekali kami temukan. Sepertinya tak ada lagi istilah malam mingguan dalam kamus kami berdua.

Setiap ada kesempatan seperti cuti atau hari libur nasional merupakan momen yang dirasa sangat tepat untuk kami melakukan quality time. Sementara urusan kondangan, seringkali akhirnya aku pergi kondangan tanpa pasangan dan jadi lebih sering bareng teman-teman.

Bahkan di Hari Spesial, Seringkali Kulewatkan dengan Kesendirian

Bahkan, perbedaan ritme libur dan jam kerja pun membuatku dan pasangan tidak bisa menikmati hari spesial bersama-sama karena tuntutan pekerjaan pasangan yang membuatnya tidak bisa cuti di hari spesialku. Atau bahkan saat ulangtahunnya, aku pun belum tentu bisa merayakan secara langsung karena bisa saja di tanggal itu aku sibuk bekerja.

Pedih sih, tapi pada akhirnya kami harus tetap saling mengerti kesibukan satu sama lain, bukan? Dan dibalik duka yang dirasakan di atas, kami tetap memaknai relasi kami sebagai sesuatu yang menyenangkan lho. Hingga hari ini, kami tetap ingin membuat hubungan ini tetap kuat dan terus bertahan meskipun berbeda ritme kerja.

Kami Akhirnya Belajar untuk Jadi Pribadi yang Tak Tergantung pada Pasangan

Dalam hal apapun, kami memang saling mengabari. Tapi tak keberatan kalau salah satunya tak  bisa datang menemani. Hal ini yang akhirnya membuat kami jadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah tergantung dengan pasangan. Ini jadi nilai tambah tersendiri untukku. Di lain sisi, kami pun bisa belajar arti pentingnya kebersamaaan. Yup, saat sedang bersama, tidak ada namanya sibuk sendiri dengan bermain game atau sosial media. Menyenangkan, bukan?.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Butuh Waktu untuk Mengerti, Tentang Semua Mimpi yang Belum Terpenuhi

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba berpikir “Apasih tujuan hidupku?” atau “Kok aku begini-gini aja ya?”. Segudang pertanyaan kadang bisa membanjiri pikiran, lalu disusul dengan segala hal lain yang semakin membuat hidup terlihat kian menyedihkan. Ketakutan berubah jadi tekanan, kita merasa kecewa. Karena, walau sudah merasa berusaha sekuat tenaga, apa yang kita inginkan masih belum tercapai juga.

Depresi bisa saja menggerogoti pikiran kita, berpikir bahwa kebaikan tak pernah menghampiri hidup yang dijalani. Sampai bertanya-tanya, apakah ada yang salah satu mimpi yang kita miliki? Yap, mendapati mimpi yang masih saja belum terpenuhi, sering susah untuk diterima dengan lapang dada. Maka yang kita butuhkan adalah, belajar untuk menerima segala situasinya.

Kecewa dan Merasa Tak Berguna, Hanya Membuat Kita Kian Lemah

Setiap orang lahir dengan kelemahan dan kelebihan yang berbeda. Dari sekian banyak mimpi yang pernah dibuat, mungkin hanya beberapa yang sudah terpenuhi. Menengok kawan lain berlari pesat dengan semua mimpi serupa, membuat kita kian merasa lemah dan tak berguna. Sedih memang, melihat orang lain menang dan kita sebagai pecundang.

Tak bisa berkata banyak, hal yang butuh kita lakukan hanyalah menerima dengan dada yang lapang. Memahami kegagalan sebagai pendewasaan untuk belajar. Jangan terus murung, masih ada hari esok yang menunggu untuk dimenangkan.

Itulah Kenapa Kita Butuh Waktu untuk Bisa Legowo Menerima Semuanya

Mengejar ketertinggalan, selalu digadang-gadang jadi jalan keluar untuk kekecewaan. Padahal yang kita butuhkan tak selalu demikian. Diamlah dulu sebentar, nikmati semua sedih yang kau rasakan. Titik ini akan membantu kita berpikir lebih jernih, memilih-milah hal yang memang bisa dilakoni. Pernah gagal dalam mencoba memang buat hati kecewa, tapi selalu ada kesempatan kedua untuk hal yang serupa.

Lagipula Tidak Ada Cerita Manusia yang Sama

Membandingkan segala pencapaian orang memang bukanlah sesuatu yang salah. Kadang kala keberhasilan mereka memang bisa jadi sumber semangat untuk diri sendiri. Hal lain yang kemudian kita salah pahami adalah bagaimana menempatkan keinginan dan kemampuan. Memahami sampai dimana batas kita bertahan, terus meneruskan perjuangan atau berhenti saja jika memang kaki sudah tak lagi kuat untuk menopang.

Kawanmu mungkin bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat sedangkan kamu butuh waktu yang sedikit lebih lambat. Seorang yang lain sudah punya penghasilan besar, padahal kamu yang seusia dengannya masih saja sibuk cari kerja yang sesuai keinginan. Semua orang punya masa yang berbeda. Kebahagian dan kesedihan pun juga diatur dengan serupa. Tak ada yang sama, jadi berhenti untuk berusaha menyamakan kehidupan dan mimpi yang kita punya dengan mereka yang kita anggap boleh jadi acuan untuk mendapatkan impian.

Berhasil Mungkin Jadi Tujuan Tapi Kalah Pun Bisa Jadi Pembelajaran

Selalu ingat bahwa hidup tak selalu jadi sebuah perlombaan. Kalah dan menang sudah jadi hal yang lumrah. Dari kebersilan kita mungkin bisa merasakan sesuatu yang membahagiakan. Tapi kadang kala, kesedihan pun bisa memberikan pelajaran yang sama. Yap, sama-sama membuat kita mencari. Apa arti semua mimpi yang selama ini kita ingini. Jika ternyata mimpi itu hanyalah jadi ajang pembuktian diri, cobalah dipikirkan lagi.

Jadikan Ini Sebagai Ajang Pendewasaan, Fokuskan Diri untuk Mengasah Kelemahan

Semua orang pernah gagal, namun bukan berarti kita harus mengubur mimpi dalam-dalam. Terus ulik apa yang mungkin jadi penyebab dari semua kesalahan kita. Cari tahu apa hal bisa membenahinya. Ini hanya perkara waktu dan niat ingin belajar, serta keberuntungan yang mungkin masih saja belum datang.

Maka sembari menunggu mimpi yang belum terpenuhi. Mari kuatkan semua sisi lemah yang kau miliki. Ganti dengan sesuatu yang baru. Belum terpenuhi bukan berarti tak bisa dijadikan nyata lagi. Kita hanya butuh bersabar menunggu waktu yang memang sudah ditentukan.

Kami tahu ini tak akan mudah, menerima kegagalan kita dengan merasa baik-baik saja tentulah susah. Tapi bukan berarti kita tak lagi mau mencoba? Kau tak tahu, seberapa dekat mutiara kepadamu sampai kau berhasil menemukannya diantara ribuan tumpukan rintangan yang menghalang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top