Feature

Kunci Pernikahan Awet Versi Michelle Obama

Ungkapan ‘pasangan serasi’ rasanya tepat dilekatkan pada pasangan Barack-Michelle Obama. Eks Presiden dan Ibu Negara Amerika Serikat ini memang tak ragu menunjukkan bentuk dukungan mereka terhadap satu sama lain saat tampil di depan publik. Menikah pada 1992, usia pernikahan keduanya sudah melampaui pernikahan perak.

Di lain sisi, kita bisa melihat bagaimana kesetiaan Michelle  yang selalu ada disamping sang suami. Hadir sebagai pendamping sekaligus supporter terbaik bagi Barack. Mereka tak ambil pusing dengan sejumlah isu miring yang pernah menerpa keduanya. Saat ditanya apa ‘resep rahasia’ menjaga ikatan pernikahannya dengan Barack, Michelle punya jawabannya.

Michelle Tahu Bagaimana Menempatkan diri Sebagai Perempuan

Kehadiran pasangan sering membuat perempuan di luar sana suka lupa menempatkan diri sebagai seseorang yang apa adanya. Namun hal itu tak berlaku bagi seorang Michelle. Sebelum memberi diri untuk hubungan dan kehidupan bersama partner, ia mengatakan, tugas utama perempuan adalah jadi dirinya sendiri dan berlakulah apa adanya. Sebab kunci utama sebuah hubungan adalah tidak adanya kepura-puraan.

Jangan sungkan untuk mendengarkan setiap masukan atau nasehat dari mereka yang peduli pada kita, namun tidak pula membatasi diri untuk berani melakukan hal baru. Justru kalau hal itu terjadi padamu, kamu akan banyak kehilangan momen penting untuk mengenali siapa dirimu.

Jangan Mudah Overthinking dan Terhasut Oleh Keberadaan Orang Lain

Pada dasarnya, perempuan mudah sekali overthinking, entah itu terhadap situasi atau keberadaan orang lain yang ada di dekat pasangannya. Michelle menyarankan agar sebisa mungkin kamu mengatasi hal tersebut. Perasaan curiga, overthinking, hanya akan membuatmu frustasi dan pusing sendiri. Apalagi kalau kamu hanya termakan cemburu buta.

Bagi Michelle, lupakan tentang kecemburuan dengan perempuan lain yang berusaha mendekati pasanganmu, tapi konsentrasilah untuk berusaha memberikan apa yang kita bisa pada pasangan.

Utamakan Kejujuran, Kompromi, dan Buang Jauh Keegoisan

Michelle berpendapat, kekayaan dan materi tak akan cukup untuk membangun relasi dengan pondasi yang kuat. Tak ada satu pun hal yang bisa menjamin ketahanan afeksi dan cinta dari pasanganmu kecuali kamu dan dia selalu mengutamakan kejujuran serta bisa menerima satu sama lain. Membuang jauh-jauh keegoisan akan jadi kunci utama pernikahan yang berhasil. 

Dunia Ini Bukan Milik Kamu Berdua, Lingkungan Tempatmu Berada pun Bisa Memberi Dampak Tersendiri untuk Hubunganmu

Saat bersama orang yang kita kasihi, kita kerap lupa kalau dunia ini bukan milik berdua saja. Padahal, pasti ada orang lain juga, terlebih kita tinggal di lingkungan dimana banyak sekali orang yang bisa memberi dampak tersendiri baik untuk kehidupan personal maupun relasi yang sedang kita jalani.

Karenanya, tetaplah fokus pada pernikahan atau hubunganmu yang memang ke arah serius, namun jangan lupakan untuk tetap menjalin keakraban dengan teman, keluarga, kolega, bahkan tetanggamu sekalipun. Kalaupun ada yang menilai kamu dan pasanganmu macam-macam, jangan diambil pusing. Sebab kamu yang memutuskan siapa saja yang berhak menjadi saksi perjalanan relasimu sampai maut memisahkan.

Hubungan yang Baik Akan Membuatmu Bisa Saling Menghargai, Termasuk Kehidupan Pribadi Pasanganmu Sehari-hari

Dalam sebuah relasi, seringkali kita tak menyadari kalau pasanganmu pun butuh kebebasan. Ini bukan berarti dia selama ini terkungkung selama bersamamu. Tapi coba refleksikan kembali, sejauh mana kita memberikan ruang untuk dirinya? Seberapa rela kita membiarkannya mengembangkan potensi yang ada di dirinya? Relasi bukan hanya tentang saling memiliki, tapi juga saling menghargai dan berdedikasi.

Berkaca dari hubungan Michelle dan Obama, keduanya sepakat kalau dedikasi dan kompromi harus ada dalam hubungan mereka. Sebab dengan begitu keduanya bisa saling mengerti apa yang diinginkan masing-masing dalam hidupnya dan tak merasa terkungkung dengan relasi yang mereka jalani selama ini.

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Menurut Otomotif Award, Motor Ini Merupakan Motor Bebek Terbaik

Otomotif Award tahun 2018 ini jadi gelaran ke 11 penghargaan untuk industri otomotif tanah air. Kali ini tema yang diusung adalah “the right choice”. Tema ini mencerminkan bahwa setiap pemenang merupakan rekomendasi terbaik untuk satu tahun 2018.

Ada dua kategori yang menarik yaitu best of the best cub alias motor kategori bebek terbaik dan kategori best of hypercub. Menjadi menarik karena kedua kategori ini dimenangkan oleh motor yang sama, yaitu All New Satria F150.

Hal ini seolah mempertegas All New Satria F150 sebagai produk yang superior, karena berhasil menang di berbagai sektor penilaian. Dengan perolehan poin penilaian yang tinggi, alhasil All New Satria F150 dinobatkan menjadi yang terbaik di kelas cub/bebek 150cc dan sekaligus mengalahkan perolehan poin motor cub/bebek di kelas lainnya.

Meski produk baru namun Suzuki tak mau penggemar setia Satria kecewa. Karena itu All New Satria 150 ini tetap setia mengusung tema Hyperunderbone. Dapur pacu tetap bertenaga ekstra lewat pemilihan 1150 cc DOHC 4 valve.

Semburan tenaganya bisa mencapai 13,6 KW pada 10 ribu RPM. Sementara torsinya mencapai 13,8 KW pada 8500 RPM. Sistem bahan bakarnya menganut injeksi dengan pengapian standar euro 3. Dengan mesin macam ini jelas dapat penilaian sangat baik pada ajang kali ini.

Apalagi dari segi tampilan, Suzuki melakukan gebrakan baru untuk warna standar yang selama ini mungkin sudah kita kenal. Kali ini pilihannya mulai dari Brillian White, Stronger Red dan Titan Black. Suzuki menyebut, variasi warna-warna ini lahir dari tren dasar otomotif yang digemari pada masa kini.

 

Suzuki sengaja memilih dominasi warna tunggal pada varian standar ini. Hal itu bertujuan untuk memudahkan para pemiliknya yang ingin berkreasi sepuasanya pada si kuda besi kesayangan. Sebab penggemar setia Satria memang dikenal gemar memodifikasi tunggangannya.

Untuk kamu yang mungkin senang terlihat berkelas dan bersih, Brillian White yang tampilan warna putihnya kini lebih mendominasi dari seri sebelumnya, mungkin bisa kamu jadikan pilihan. Sedangkan yang senang menjadi pusat perhatian Stronger Red dengan warnanya yang lebih menyala mungkin tentu layak jadi tunggangan. Mereka yang gemar elegan bisa memilih Titan Black.

Jika 3 warna lain dari wajah baru Satria F150 hadir untuk memenuhi gaya hidup anak muda masa kini. Daya pikat dari 2 warna yang spesial berikutnya ini juga tak kalah hebatnya. Bagaimana tidak, Titan Black Red dan Metallic Triton Blue, identik dengan tampilan Suzuki GSX-RR milik Team Suzuki Ecstar di MotoGP 2017. Sehingga membantumu menunjukkan sisi kejantanan yang ingin kamu tunjukkan.

Maka tak heran jika warna biru pada Metallic Triton Blue, untuk seri ini membuat tampilan motor lebih tajam dipadu striping ala Suzuki MotoGP 2017 yang cerah, memberikan kesan pengendara yang antusias dan serius.

Dengan kombinasi macam itu tak heran jika All New Satria F150 berhasil menggaget dua penghargaan bergensi tersebut. Menyambut penghargaan yang baik ini, Yohan Yahya – Department Head of Sales & Marketing 2W SIS berkomentar, “Terima kasih kami ucapkan kepada tim Tabloid Otomotif yang telah memberikan penghargaan dan kepercayaan Best of The Best Cub kepada Suzuki All New Satria F150. Dengan hal ini berarti Suzuki telah berhasil memberikan produk sesuai kebutuhan publik masa kini. Selain itu dengan penghargaan spesial sebagai public relations terbaik tahun ini, meyakinkan kami bahwa apa yang sudah kami berikan dan lakukan dengan teman-teman Jurnalis sudah memenuhi kebutuhan mereka terhadap informasi yang berkualitas.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Tampilan Memang Penting, Tapi Beli Motor Harus Perhatikan Mesinnya

Tak salah memang memilih motor karena tampilannya. Tapi sejatinya motor juga adalah tentang mesinnya. Tampilannya oke tapi kalau mesinnya payah untuk apa.

Karena mesin itu ibarat jantung bagi motor. Vital dan jadi penentu keseluruhan kinerja. Karena itu penting untuk memahami urusan satu ini sebelum memutuskan membeli motor. Setidaknya pilihlah yang sesuai dengan karakter berkendara kamu

Di Indonesia sendiri terdapat tiga tipe mesin yang umum diaplikasikan pada kendaraan roda dua. Tak cuma soal dimensi namun karakteristiknya pun berbeda.

Pertama adalah tipe Overstroke. Mesin ini memiliki langkah piston (stroke) lebih besar dari diameter piston (bore). Mesin dengan tipe ini punya karakteristik mampu mengeluarkan tenaga dan torsi yang besar pada RPM rendah dan menengah.

Tenaga puncaknya bisa diraih di rpm yang rendah. Hal ini membuat motor dengan mesin overstroke bisa lincah dalam mengarungi kemacetan kota atau medan berat. Kekurangannya, putaran mesin tak bisa terlalu tinggi dan jika dipaksakan bisa beresiko mesin jebol.

Kedua adalah mesin Square. Mesin disebut square jika angka diameter dan langkah pistonnya sama atau hanya berselisih sedikit. Mesin berjenis square ini memiliki tenaga yang hampir merata di semua tingkatan rpm, baik pada rpm rendah maupun pada rpm tinggi.

Mesin dengan tipe ini biasanya diaplikasikan pada motor-motor harian yang memiliki kemampuan universal untuk melahap semua medan baik dalam kota maupun luar kota. Meski merata, namun konsekuensinya mesin ini tidak memiliki tenaga yang terlalu menonjol.

Jenis terakhir adalah Overbore yang memiliki diamter piston lebih besar dari langkahnya. Jenis mesin overbore ini sangat cocok pada motor berkarakter sport . Karena mesin ini terkesan jinak diputaran bawah namun menjadi ganas diputaran menengah dan tinggi.

Nah biasanya pada motor sport pengendara akan memacu motornya dengan mempertahankan putaran mesin pada RPM yang tinggi agar dapat mengeluarkan kemampuan maksimum motor tersebut.

Contoh dari mesih overbore adalah mesin yang digunakan Suzuki GSX-S150 dan Suzuki GSX-R150. Suzuki mengambil langkah berbeda dengan para kompetitornya yang memilih mesin over stroke atau Square. Karena dapur pacu yang disematkan pada GSX-R150 ini justru mengadopsi tipe ukuran over bore alias diameter pistonnya (62,0 mm) lebih lebar bahkan berselisih jauh dibanding langkahnya (48,8 mm).

Mesin overbore Suzuki GSX-S150 dan Suzuki GSX-R150, mengadopsi DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, motor ini menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

Layaknya mesin over bore, tenaga yang dihasilkan pada putaran bawah cenderung lebih jinak dan kalem. Karena itu motor ini cukup ramah digunakan di tengah kemacetan tanpa kerepotan mengatasi tenaga dan torsi berlebihan pada putaran bawah.

Tapi sifat asli over bore mulai kelihatan pada putaran menengah dan atas dimulai dari 7000 RPM. Apalagi putaran mesinnya bisa berteriak hingga 13.000 RPM. Tenaga maksimalnya berada di 18,9 dk dengan torsi 14NM. Jangan heran seandainya kamu menggunakan motor ini untuk beradu kecepatan, di putaran tengah dan atas cepat mengasapi motor lain.

Setelah paham ketiga tipe mesin di atas, kamu sudah punya pilihan yang ingin dibawa pulang?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Rasanya Jadi Panitia Bukber yang Sering Diberi Harapan Palsu Oleh Kawan-kawan Alumni

Sudah jadi ritual tahunan, bulan Ramadhan selalu datang sebagai ajang kumpul-kumpul bersama teman. Mulai dari alumni, SD-SMP-SMA-KULIAH, hingga teman kantor lama, kawan komunitas, hingga banyak grup-grup pertemanan lainnya.

Jika selama ini, banyak yang akan bilang jika datang ke acara buka bersama adalah perbuatan yang sia-sia. Maka kali ini, mari kita coba mengerti bagaimana rasanya jadi panitia buka bersamanya.

Tak Direspon Berhari-hari, Tapi Ketika yang Lain Sudah Buka Bersama yang Dikomplen Pastilah Panitia

“Eh sist, kita mau bukber. Temen lain bisanya kamis depan, kamu bisanya kapan?” dan tak berbalas sampai purnama selanjutnya datang.

Ya, kita semua memang pastilah punya kesibukan. Punya prioritas lain yang harus didahulukan, daripada sekedar membuka chat dari panitia bukber yang barangkali memang tak begitu penting. Tapi, atas nama pertemanan alangkah baiknya jika diberi respon, sebagaimana mestinya. Toh, kalaupun kamu tidak bisa hadir, panitia tak akan memaksanya.

Sialnya lagi, walau tak merespon kabar dan pertanyaan yang sudah kita kirimkan padanya. Saat hari H buka bersama tiba, beberapa teman pastilang berbagai foto di sosial media. Lalu dengan entengnya berkata “Kok, aku nggak diajak? Panitianya gimana sih?”  Seketika itu juga, sang panitia mungkin ingin segera pindah ke merkurius saja.

Walau Tak Selalu Dilihat, Berbagai Usaha Dilakukan Agar yang Ikut Bukber Itu Banyak

Setelah pesan ajakan buka bersama dikirimkan, selanjutnya kita jadi penunggu kabar untuk siapa saja yang akan bisa ikut buka puasa bersama. Momen ini akan terasa kurang, jika yang ikut hanyalah segelitir orang. Maka untuk meramaikan acara, biasanya sang panitia akan memutar otak untuk mencari cara. Ya, mencari cara bagaiamana biar semuanya bisa ikut dijadwal yang tepat.

Pada titik ini, biasanya kemampuan untuk melobby orang diuji. Target kita jelas adalah kawan yang bisa kumpul bersama, jadi jangan bosen ya kalau ditanya tiap hari kapan bisanya?

Sabar Menunggu Hasil Diskusi, Walau Ujung-ujungnya Kitalah yang Memilih Sendiri

“Kamis saja” – Ani

“Ya, boleh” – Citra

“Eh, aku kamis meeting sampai malam” – Dedi

“Jadi kapan dan dimana?” – Budi

“Sabtu aja di resto daerah…” – Parman

“Eh jangan, manager resto itu mantanku” – Lisa

…. Dan masih saja belum menemukan titik temu.

Demi menegakkan demokrasi dalam hubungan pertemanan, satu sampai dua hari perbincangan di group whatsapp masih sampai pada topik pemilihan hari dan tempat yang dirasa mumpuni. Dan pada beberapa kasus yang lain, perbincangan ini kerap terjadi dan tak akan menemukan titik temu sampai lebaran tiba.

Agar tak berlarut-larut hanya karena menentukan kapan dan dimana tempat berbukanya, para peserta baiknya meminta panitia yang menentukan saja. Ini lebih membantu.

Berusaha Untuk Membuat Acara Ini Jadi Berbeda, Tapi Ada Saja Kalimat Sumbang yang Sampai ke Telinga

Jadi ajang yang mengumpulkan kawan satu angkatan, tak jarang beberapa orang mungkin tak begitu kita kenal. Mereka yang suka, mungkin akan berterimakasih pada panitia. Karena sudah susah payah menyiapkan acar berbuka bersama.

Tapi, disisi lain ada pula kawan lama yang sering menyebalkan. Tak begitu kenal, atau memang tak suka pada panitianya. Hingga tak sedikit pula, ada obrolan-obrolan yang menyinggung dan tak enak untuk didengar oleh telinga. Berhubung ini adalah bulan penuh berkah, mari doakan saja.

Akan Tetapi, Meski Begitu, Selalu Ada Rasa Haru Ketika Tawa dan Canda Mengalir Begitu Saja Pada Semua Peserta Buka Bersama

Barangkali pemandangan akan berapa banyak jumlah kawan yang datang, jadi puncak rasa bahagia yang akan dirasakan oleh panitia. Siapa mereka yang datang dengan pasangan baru, anak kecil yang baru, hingga berbagai macam cerita menarik yang dibagikan oleh teman lama.

Berbaur bersama dalam satu meja untuk kembali mengenang beberapa romansa hidup yang sudah lampau. Bagaimana dulu kita semua saat SMP, siapa  yang dulu sering dihukum guru BP saat SMA, hingga mahasiswa abadi yang diraih oleh seorang kawan saat kuliah. Sederhana memang, tapi itulah titik keberhasilan yang hanya akan dirasakan oleh panitia.

Dan Tak Tahu Karena Dipercaya atau Memang Suka Dibuat Susah, Silanya Selepas Acara Sering Diminta Untuk Jadi Panitia Lagi di Tahun Berikutnya…

Disatu sisi kita yang bertugas sebagai panitia mungkin sudah jengah, atau bahkan sudah tak ingin lagi repot-repot di tahun berikutnya. Sialnya, beberapa kawan yang merasa puas untuk pertemuan yang sudah kita tangani ini sering kali dengan cepat berujar agar panitia tahun berikutnya, biar saja dipegang oleh panitia hari ini.

Pernyataan itu memang bisa jadi salah satu bentuk percaya, tapi kemarin-kemarin kenapa semuanya begitu menyebalkan ya?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Sebesar Apapun Cinta Kita, Jika Belum Jodoh Aku Bisa Apa?

Saat ini, detik ini juga, aku bertanya pada diriku sendiri. Tentang apakah aku masih bahagia tanpamu. Apakah aku masih tegar meski harus berjalan tanpa kamu di sisiku. Ini mungkin hanya tentang aku, atau tentang kamu, atau mungkin tentang aku dan kamu yang tak kunjung jadi kita.

Jika ada yang bertanya padaku apakah aku hancur? Jawabannya, mungkin bukan sepenuhnya hancur, namun serasa ada bagian dalam diriku sendiri yang hilang bersama dengan kepergianmu.

Masih kuyakini bahwa jodoh sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sebagai manusia, kita hanya patut berserah diri dan berusaha semaksimal yang kita bisa. Selebihnya, biar tangan Tuhan yang bekerja.

Masih berharapkah aku untuk bisa berjodoh denganmu? Jawabannya saat ini, tentu. Karena aku belum menemukan sosok yang mampu menggantikanmu. Tapi nanti, mungkin akan lain lagi. Tuhan mampu membolak-balikkan hati manusia dengan mudahnya, jadi tak menutup kemungkinan aku akan melupakanmu sepenuhnya saat dia yang memang tercipta untukku sudah menemui waktu untuk datang padaku.

Bukan berarti aku tak cinta lantas merelakanmu pergi dariku begitu saja. Jika memang tak jodoh, sebesar apapun cintaku padamu dan cintamu padaku, itu tak akan cukup untuk membuat kita bersatu.

Meski bahagiamu bukanlah denganku, begitu pun sebaliknya, namun aku tetap berharap yang terbaik untuk kita berdua. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali dengan kedamaian dan kebahagiaan yang sudah kita dapatkan masing-masing.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Kuat, Sekalipun Harus Melakoni Ibadah Puasa Jauh dari Keluarga

Melakoni puasa seorang diri terpisah jauh dari keluarga sudah jadi hal yang biasa. Bekerja sekian lama di perantauan membuatku harus bisa kompromi kalau akhirnya aku harus sahur dan berbuka puasa tanpa ditemani gelak tawa anggota keluarga.

Sedih jangan ditanya. Seperti tak ada kata yang mampu menggambarkan besarnya keinginanku untuk sekadar menjalani puasa bersama sanak saudara. Kamu mengalami hal serupa denganku, kuminta sejenak untuk menyimpan dulu rasa sedihmu. Sebab tanpa kamu sadari, sejatinya kita inilah pejuang yang sebenarnya.

Meski Terpisah Jarak dengan Orangtua, Namun Aku Semakin Belajar Soal Kemandirian di Tempatku Menetap

Masih teringat jelas kenangan saat masih kecil, saat ibu rutin menyiapkan sahur dan menu untuk buka. Rindu sekali rasanya membantu ibu menyiapkan semua itu. Setelah berbuka puasa, bergegas ke masjid untuk tarawih bersama pun jadi hal yang kemudian dilakukan. Begitu indah. Namun rasanya sekarang ini sukar sekali merasakan momen sedamai itu bisa terulang lagi. Tuntutan di perantauan membuatku sukar untuk pulang. Meski pilu, tak apa, yang terpenting keluargaku tetap sehat di rumah yang kami tinggali bersama. Di sini, aku belajar untuk terus hidup mandiri.

Jangan Sedih Seorang Diri, Pasti di Sekelilingmu pun Ada Teman yang Nasibnya Sepertimu

Kalau dipikir-pikir, pasti tak hanya aku saja yang mengalami nasib seperti ini. Karenanya, mungkin ini yang jadi alasan mengapa aku tak perlu bersedih berlama-lama. Aku perlu menengok sekelilingku, pasti kutemukan teman yang juga harus bertahan di perantauan dan tak bisa pulang. Untukmu, yang juga mengalami kondisi sepertiku, ingatlah, kamu tidak sendiri, Kawan!

Segala Keterbatasan yang Kamu Rasakan, Akhirnya Semua Itu Jadi Pengalaman Berharga yang Menyenangkan

Telat sahur jelas pernah aku alami. Berjuang melawan kantuk dan menyiapkan makanan sendiri. Berpuasa, lalu berbuka dengan menu seadanya. Belum lagi kalau tabungan kian menipis. Hal-hal semacam ini sudah biasa bagi para perantau, bukan? Sekalipun miris, tapi anggaplah setiap kondisi dan situasi semacam ini sebagai pengalaman berharga. Siapa tahu bisa menjadi bekalmu di masa depan dan bahan cerita lucu untuk anak cucu kelak. Tetap semangat berpuasa, ya!

Tak Perlu Bersedih Hati, Sebab Keluargamu pun Berdoa Agar Kamu Tetap Bisa Mandiri

Di perantauan ini, meski kutahu tak ada ayah dan ibu yang senantiasa mengingatkan soal ibadah, tapi aku tak boleh menyerah. Aku ingat betapa kedua orangtuaku percaya kalau aku bisa melewati fase hidup yang sedang kualami sekarang ini. Kamu pun harus begitu, Percayalah bahwa dirimu bisa kamu andalkan untuk merangkum semua peran baik saat hari-hari biasa maupun saat bulan Ramadhan. Kalau ada niat dan usaha, kamu bisa mengandalkan dirimu sendiri meski jauh dari keluarga. Percayalah, keluargamu pun akan tetap merapal doa untukmu.

Percayalah Pada Kemampuanmu Bertahan di Perantauan, Wahai Pejuang…

Terpenting, buanglah jauh-jauh pikiran kalau menjalani puasa di perantauan hanya berakhir menyedihkan. Faktanya, tidak sama sekali. Tak perlu sedih atau bahkan sampai ketakutan sendiri. Sebab di hari nan fitri nanti, kemenangan yang akan kamu dapatkan tak hanya atas puasamu selama sebulan saja, tapi juga kerena berhasil lulus dari perjuanganmu jalani puasa di perantauan.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top