Feature

Cita-Cita Anak Sudah berbeda, Mereka Lebih Memilih Jadi Youtuber Terkenal

Semula, karier seperti dokter, tentara, polisi, hingga presiden menjadi cita-cita yang banyak dilontarkan oleh anak-anak. Tapi belakangan ada pergeseran pola pikir khususnya pada anak-anak masa sekarang. Pekerjaan keren di mata generasi sekarang ternyata sudah berbeda.

Belum lama terdengar seorang bocah yang justru tertarik berprofesi sebagai Youtuber. Menariknya, hal itu diungkapkan sang bocah saat ditanya langsung oleh Presiden Joko Widodo. Disadari atau tidak, telah terjadi pergeseran pola pikir dalam hal cita-cita ideal di mata anak. Lalu, kenapa hal itu bisa terjadi?

Nyatanya Perubahan “Mimpi” dan Karier Idaman Generasi Sekarang Memang Sudah Mulai Terlihat. Hal Ini Tak Lepas dari Pengaruh Majunya Teknologi

Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan LinkedIn yang melibatkan 1.000 pelajar Indonesia serta profesional muda dengan rentang usia 16-23, menunjukkan jika pekerjaan impian yang populer di kalangan pelajar masa kini adalah pengusaha, ahli IT, akuntan, ilmuwan, hingga insinyur.

Dalam survei tersebut, karier sebagai pengusaha menempati posisi teratas yang paling diidamkan karena lingkup profesi ini tergolong luas. Seiring berjalannya waktu,  rasanya semua orang kini bisa membangun usaha. Kemajuan teknologi dan keberadaan media sosial memudahkan para pengusaha muda untuk berkompetisi di era digital saat ini. Karenanya, tak heran profesi sebagai digital-preneur atau pengusaha digital semacam YouTuber, selebgram, bintang endorsement sangat diincar.

Pun Halnya di Jepang, Karier Sebagai Youtuber Ternyata Menempati Polling Ketiga dalam Survei Lokal di Negara Tersebut

Dari sebuah survei yang dilakukan sebuah situs berita terhadap sekelompok anak-anak usia sekolah dasar di Negeri Matahari Terbit, ternyata didapatkan sebuah fakta menarik. Karier sebagai YouTuber menempati tempat ketiga sebagai cita-cita yang paling diminati setelah pemain bola dan dokter.

Mengapa? Ketika ditanya oleh para guru, anak-anak tersebut menjelaskan jika seorang YouTuber dapat menghasilkan 100 juta yen dengan mudah. Mereka tak perlu giat belajar dan bisa mendapatkan banyak yang lewat banyaknya jumlah view dari video yang mereka buat. See? Di usia anak-anak pun mereka sudah bisa tergiur oleh iming-iming materi yang dihasilkan oleh para YouTuber.

Lantas, Akankah Semua Anak Harus Menjadi YouTuber? Bagaimana Dengan Profesi Lainnya?

Jawabannya tentu tidak. Menjadi YouTuber pun perlu proses yang tak instan. Meski lewat survei, anak-anak tersebut mengaku tertarik dengan karier sebagai YouTuber, namun mereka tetaplah anak-anak yang masih perlu arahan dari orang dewasa. Bukan lantas menilai tak bagus jika seorang anak berkeinginan menjadi YouTuber, toh sudah mulai banyak YouTuber muda yang mulai menunjukkan eksistensinya dan prestasinya.

Hanya saja, mengarahkan anak-anak berdasarkan minat dan bakat mereka sangatlah penting dilakukan. Jika sang anak memang menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk menekuni profesi tersebut, tunjukkan jika kreativitas adalah modal utama seorang digitalpreneur. Profesi favorit anak-anak biasanya berubah, seiring perkembangan dan tren. Sepuluh tahun lalu, misalnya, pasti tak ada anak yang bercita-cita jadi Youtuber karena istilah ini pun belum eksis.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Ternyata Ini 5 Hal yang Paling Dibenci Perempuan Hebat

Di era milenial ini, perempuan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri. Iya, keberadaannya memang disetarakan dengan posisi laki-laki. Banyak perempuan yang dituntut untuk menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Nah, inilah 5 hal yang ternyata menjadi hal paling dibenci oleh para perempuan hebat.

1. Tidak Dihargai

Perempuan juga tak suka saat dirinya tidak dihargai dengan baik. Jika ada orang yang mengkritik atau memberi saran terhadap ide yang dimilikinya mungkin mereka akan berusaha menerimanya sebagai perbaikan diri. Namun jangan salah, jika ada yang menganggapnya remeh, mereka tak akan tinggal diam.

2. Tidak Diberi Ruang Bebas

Tentu saja semua perempuan butuh yang namanya ruang bebas untuk bisa mengekspresikan diri mereka. Mereka pun punya keinginan untuk berkembang dan tumbuh menjadi apa yang mereka cita-citakan. Mereka tak suka jika diri mereka dibatasi dengan alasan title “perempuan” yang melekat pada dirinya.

3. Membohongi Diri Sendiri

Perempuan hebat paham tentang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Mereka tahu caranya mengontrol diri sendiri tapi tetap menjadi dirinya. Mereka bukan orang yang suka menipu dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekelilingnya.

4. Mengeluh

Selanjutnya, perempuan hebat tidak suka mengeluh. Mereka punya jiwa yang kuat untuk menghadapi masalah sebesar apapun. Pantang untuknya mengeluh pada hal yang bisa dicari solusinya.

5. Dihantui Kegagalan

Perempuan hebat tak suka hidup dengan bayang-bayang kegagalan. Mereka mengerti bahwa gagal adalah suatu hal yang lumrah. Dari kegagalan pulalah mereka bisa belajar menjadi seorang yang lebih baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Bukan Tidak Betah, 7 Tanda Ini Menunjukan Kamu Sedang Bekerja Di Tempat Yang Salah.

Bekerja memang tidak selalu harus sesuai dengan passionmu, yang terpenting adalah kamu merasa nyaman dengan pekerjaanmu itu. Namun, jika kamu sudah merasa berusaha sebaik mungkin tapi tetap saja hasilnya tidak memuaskan hatimu, bisa jadi kamu berada di lingkungan tempat kerja yang salah.

Saat loyalitas dan komitmen sudah kamu berikan sepenuhnya, namun yang kamu terima tidak sesuai dengan perjuangannya. Nah, ada 7 tanda yang menandakan bahwa kamu sedang berada di tempat kerja yang salah. Jika kamu merasakan semuanya maka bersiaplah untuk pindah, ini untuk kebaikanmu juga ya.

1. Kamu Tidak Menyukai Hari Senin

Hari sabtu dan minggu adalah surga untukmu. Namun, ketika hari senin tiba semangatmu menurun seketika. Seperti kamu tidak merasa nyaman dengan pekerjaanmu dan merasa tersiksa harus melanjutkannya. Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang bisa membuatmu semangat, bukan malah membuatmu stres. Jika di hari pertama dalam seminggu saja kamu sudah tidak bersemangat, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?

2. Kamu Merasa Bekerja Karena Terpaksa

Selain tidak bersemangat, kamu juga merasa apapun yang kamu kerjakan adalah karena keterpaksaan. Semuanya kamu lakukan karena tidak ada lagi pilihan. Jika hal ini sudah kamu rasakan maka jangan dilanjutkan, itu tandanya kamu harus segera berhenti dari kantormu atau kamu akan menyesal sudah membuang banyak waktumu di sana.

3. Kamu Tidak Tahu Jelas Peranmu Di Tempat Kerja

Selama ini kamu bekerja hanya karena perintah atasan saja. Kamu tidak pernah tahu jelas apa fungsimu disana. Padahal pekerjaan yang baik adalah yang memposisikan kita sebagai seseorang yang sangat di butuhkan, bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Kamu harus segera mencari kantor yang lebih cocok untukmu.

4. Seringkali Kamu Merasa Tidak Dihargai

Seringkali usahamu tidak mendapat apresiasi, dan saat itulah kamu merasa tidak dihargai. Meskipun kamu sudah berprestasi, datang paling pagi dan pulang paling akhir, namun tetap saja usahamu terlihat sia-sia. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa kamu pertahankan. Jangan bertahan dengan tempat yang tidak menghargaimu.

5. Kamu Masih Memimpikan Perusahaan Lain

Jika kamu masih menginginkan bekerja di tempat lain, itu artinya kamu tidak nyaman dengan tempat kerjamu sekarang. Cobalah untuk bekerja di tempat yang kamu impikan, agar kamu bisa merasa nyaman dan tidak mempunyai beban.

6. Kamu Merasa Asing Di Kantormu Sendiri

Kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah, harusnya kamu bisa menjadi diri sendiri saat bekerja, namun yang terjadi malah sebaliknya. Itu tandanya kamu mulai menyadari bahwa kantormu memiliki lingkungan yang tidak sehat sehingga kamu enggan berbaur. Mungkin kamu memang tidak cocok berada disana.

7. Tempat Kerjamu Menghentikan Potensimu

Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik, termasuk kamu. Jika di tempat kerjamu kamu berhenti belajar, maka itu sama saja dengan mematikan potensi yang ada dalam dirimu. Kita bekerja untuk berkembang, bukan hanya stuck di satu bidang. Segeralah pindah dan cari tempat kerja yang lebih memberimu ruang untuk berkembang.

Jika salah satu atau bahkan semua hal di atas kamu rasakan, maka segeralah untuk pindah. Bekerja untuk jangka panjang, maka kenyamanan harus kamu dapatkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Fresh Graduate UI Tolak Gaji Rp 8 Juta Sah-sah Saja, Asal…

Sebuah postingan dalam fitur instastories dari seseorang yang mengaku lulusan baru dari Universitas Indonesia sedang jadi bahan perbincangan. Stories instagram tersebut awalnya dicapture oleh salah seorang temanya, lalu dibagikan di sebuah akun base pada platform twtitter yang sampai sekarang masih menjadi trending topik. 

Sumber : Twitter

“Jadi tadi gue diundang interview kerja perusahaan lokal dan nawarin gaji kisaran 8 juta doang. Hello meskipun gue fresh graduate gue lulusan UI, Pak. Universitas Indonesia. Jangan disamain sama fresh graduate dengan kampus lain dong ah. Level UI mah udah perusahan luar negeri. Kalau lokal mah oke aja, asal harga cocok,” begitu ia menumpahkan kekesalan pada postingan instastory  yang viral itu.

Melihat itu, sebagian besar netizen di twitter menilai postingan itu bernada angkuh dan tak mencerminkan attitude yang baik. Membawa nama besar kampus untuk menyombongkan diri, begitu kira-kira netizen beropini. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, memangnya kenapa kalau Fresh Graduate UI tolak gaji 8 juta? Bukankah itu adalah hak pribadinya, sebagaimana perusahaan juga berhak mencari karyawan yang mau digaji sesuai angka yang ditawarkan. 

Begini, rasanya tak ada takaran yang bisa dijadikan acuan gaji dalam bekerja, untuk kita-kita yang baru saja mendapat gelar sarjana. Bahkan meski sama-sama lulus dari universitas yang sama, punya gelar serupa dan bekerja di perusahaan yang sama. Tetap ada kemungkinan jika gaji yang diterima oleh masing-masing orang berbeda. 

Di lain sisi, ini memang jadi dilema, menyebutkan angka diatas yang ditawarkan perusahaan disangkanya sok kepinteran, tapi menerima gaji yang disebutkan kadang kita juga enggan. Membuat tolok ukur standar gaji dari seorang lulusan baru yang tak punya pengalaman apa-apa memang agak abu-abu, tapi kita tak pernah tahu kan apa alasan si alumni UI tersebut membuat standar gaji yang ingin diterimanya.

Bisa jadi ia sudah tahu kapasitasnya, makanya ia berani menolak angka 8 Juta. Meski di luar sana, ada banyak orang dengan strata pendidikan serupa tetap bahagia menjalani pekerjaannya meski upah yang diterima masih sedikit diatas UMR kota. 

Di sisi lain, daripada ikut-ikutan nyinyir untuk mencemooh dirinya, ada baiknya kita belajar bagaimana cara ia membuat standar atas diri. Sebab pada kenyataannya, tak semua kita bisa percaya diri untuk menghargai diri seperti ia. Dan tak menutup kemungkinan pula, jika angka 8 juta baginya tak ada apa-apanya. Jadi wajar jika ia mau lebih.

Belum lagi gaya hidup yang ia miliki, terbiasa dengan segala sesuatu yang terpenuhi. Bisa jadi angka 8 juta hanya untuk jajan dua minggu saja. Maka dengan menghitung semua pengeluaran bulanan yang nantinya ia butuhkan, angka yang ditawarkanperusahaan tersebut bisa jadi masih jauh dari jumlah pengeluaran yang ia perlukan. Kalau ternyata faktanya begini, ya wajar sih ia menolak. 

Dia juga butuh menyisihkan untuk dana darurat, tabungan untuk kelak menikah, membeli rumah, mobil, dana pensiun, sampai ke biaya beli makan binatang peliraan. Padahal 8 juta yang ditawarkan perusahaan, hanya mampu menutupi kebutuhan dan gaya hidupnnya selama sebulan. Meski harus diakui pula, sebesar apapun gaji yang kita terima akan selalu terasa kurang jika harus mengikuti gaya hidup yang kita inginkan. Tapi anehnya, sekecil apapun gaji yang kita terima selalu terasa cukup, jika dipakai untuk hal-hal yang memang dibutuhkan.

Hal lain yang harus kita pahami sebagai orang yang ‘ngakunya’ berpendidikan, sebelum mematok harga atau angka untuk gaji yang diinginkan, ada baiknya kita berkaca terlebih dahulu. Ketahui sampai mana kemampuan dan keahlian, barulah bernegosiasi perihal gaji. Kalau memang kita merasa layak menerima angka yang kita inginkan, tak ada salahnya untuk disampaikan. Dengan catatan, jika ternyata perusahaan menolak dan tak menerima angka yang kita sebutkan. Tak perlulah mencak-mencak di instagram, apalagi sampai membawa-bawa nama kampus lain dengan nada yang ‘meremehkan’.

Dan sekedar informasi, mengutip dari hasil penelitian tentang situasi alumni UI di dunia kerja atau Tracer Study UI periode 2017-2018. Sebagian besar fresh graduate UI bergaji berkisar antara Rp 3-6 juta, dan hanya ada sekitar 5,7% yang bergaji di atas Rp 15 juta. Dengan kata lain, nama besar kampus mungkin meloloskan kita dari satu seleksi alam, tapi keahlian, kontribusi, etika dan sopan santun adalah nilai lain yang kadang jauh lebih dibutuhkan untuk melamar pekerjaan.

Untuk menutup ini, saya akan mengutip salah satu kalimat dari Bos kami di kantor yang selalu saya ingat sejak awal masuk bekerja sampai sekarang.

“Keahlian bisa dipelajari, ilmu bisa digali. Tapi attitude sulit dibenahi”. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top