Trending

Ketika Kamu Teriak Benci Korupsi, Padahal Tanpa Sadar Kamu Juga Korupsi

Ketika melihat judul artikelnya, kamu mungkin sedang membayangkan seorang laki-laki paruh baya yang katanya kemarin kepalanya benjol bak bakpao. Ini bukan tentang satu dua orang yang memang sudah tertangkap basah, tapi tentang kita semua yang mungkin adalah manusia yang harusnya diberi sebutan sama sebagai Koruptor.

Tanpa bermaksud berpikiran buruk pada mereka yang selalu berada gardu terdepan pemberantasan korupsi, percaya atau tidak, nampaknya kita masih terlalu fokus pada korupsi dalam hal materiil. Dan lupa jika sebenarnya, disaat yang sama ada banyak aspek lain yang juga telah kita korupsi tanpa sadar.

Bukan hanya kamu yang sedang merasa tersinggung sehabis membacanya, hal yang sama barangkali juga sedang saya lakukan sekarang. Ya, mengorupsi waktu orang untuk membaca tulisan ini. 

Saat Kita Kecil Dulu, Uang Kembalian Sehabis Membeli Keperluan Ibu, Sering Masuk Ke Saku Celana

Bohong jika kamu akan bilang tak pernah melakukannya. Entah itu atas persetujuan orangtua, atau inisiatif dari sendiri saja. Sekilas memang terlihat remeh, tapi lambat-laun akan membuat kita terbiasa memasukkan uang sisa ke dalam saku sendiri. Sekalipun orang tersebut mungkin bukanlah orangtua atau keluarga.

Alih-alih berpikir akan mendapat sikap sama seperti yang dilakukan orangtua, bisa jadi orang tersebut akan mencap kita sebagai seorang yang tak jujur. Padahal bisa jadi nominal yang kita ambil mungkin tak seberapa, tapi percaya atau tidak itu adalah bentuk sederhana dari korupsi yang kita bilang harus dihilangkan.

Memasuki Dunia Sekolah, Mencontek Jadi Kegiatan yang Sering Dilakukan Walau Tahu Itu Salah

Konon sistem pendidikan dijadikan tameng untuk kesalahan fatal ini. Beberapa tenaga pendidik nampaknya masih terfokus pada hasil tanpa mau menelisik proses dan upayanya. Jadi jangan heran, jika teman yang terkenal badung namun lihai dalam hal mencontek akan lebih dikenal daripada dia yang bernilai pas-pasan tapi benar-benar jujur.

Sikap ini memang masih jadi skandal kecil dari banyaknya tindakan korupsi yang sering kita temui. Akan tetapi ini jadi bukti nyata, betapa malasnya seseorang yang tak ingin belajar. Lalu menggunakan trik licik demi mendapatkan nilai maksimal. Bahkan kadang melebihi dia yang memang sungguh-sungguh belajar.

Pelan-pelan Mulai Berani Merekayasa Kuintansi Pada Beberapa Kegiatan yang Mungkin Kita Tangani

Terjadi di beberapa organisasi, baik di sekolah, kampus, tempat kerja hingga keorganisasian lainnya. Suatu kali kamu mungkin akan mengemban tugas yang berhubungan dengan uang. Bak sambil menyelam minum air, kamu malah menjadikan ajang tersebut untuk meraup keuntungan.

Entah itu merubah nominal angka pada setiap pembayaran, atau merekayasa beberapa pembelian keperluan yang sebenarnya tak ada menjadi ada. Bahkan tak merasa jika itu adalah sebuah perbuatan yang salah. Kadang kita akan berdalih jika hal itu sudah wajar, dengan alasan sebagai imbalan untuk rasa lelah mempersiapkan rangkaian kegiatan.

Yap, benar. Kita lupa akan janji yang mungkin telah dibuat sedari awal. Sebab jauh sebelum duduk pada posisi sekarang, kita telah tahu jika organisasi itu tak akan memberimu upah.

Memberi Uang Selipan Ketika Ditilang Petugas Kepolisian

Untuk kita yang kebetulan kerap malang melintang di jalan. Adakalanya nasib buruk datang mendekat. Kamu mungkin berjalan pada jalur yang salah atau tidak menyalakan lampu utama pada saat sedang berkendara. Hingga pelanggaran lain yang memang tak seharusnya.

Tak mau dibuat susah, merasa bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan rupiah. Kita kemudian mendekatkan diri pada polisi yang sedang bertugas, sembari menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dan jika memang disambut baik, kita tentu akan bisa lepas dari jagalannya.

“Loh, kan polisinya juga mau!”

Iya benar memang, beliau ini mungkin mau menerima uang yang sudah kita sodorkan. Tapi apakah kita tahu, jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang benar untuk dilakukan. Jika ternyata tahu, lantas mengapa masih saja diteruskan?

Hingga Pada Posisi yang Memungkinkan Kerap Dipakai Untuk Mempermudah Urusan

Untuk yang satu ini, mari kita beralih pada pejabat-pejabat bernama besar dalam negeri, atau pengusaha yang inginkan bisnisnya berjalan tanpa hambatan. Dan memang jika kamu cukup memperhatikan segala yang terjadi, kamu tentu tahu jika baru-baru ini Presiden Jokowi melaporkan piringan hitam Metallica dari Perdana Menteri Denmark, Lars Løkke Rasmussen dengan dalih sebagai kenang-kenangan.

Terlepas dari bagaimana niat yang mungkin sedang dipikirkan oleh Perdana Menteri Denmark tersebut. Pemberian semacam ini dinilai sebagai salah satu isyarat untuk mempermudah urusannya, yakni dengan memberi hadiah kepada orang lain yang kelak mungkin akan dimintai bantuan. Bahkan sebagian orang menilai, ini adalah salah satu bentuk suap yang marak terjadi di negara kita.

Tanpa Rasa Bersalah, Jadi Plagiator yang diam-diam Mencuri Karya Orang

Masih lekat diingatan, salah seorang perempuan remaja yang pertengahan tahun ini santer diberitakan. Bermodalkan tulisan-tulisannya yang menjadi viral, ia dielu-elukan banyak orang. Akan tetapi pelan-pelan beberapa fakta lain mulai terbongkar, bahwa sesungguhnya tulisan yang membesarkan namanya itu adalah milik orang lain. Bukan murni karyanya sendiri.

Tak hanya perempuan itu saja, kamu atau saya juga barangkali pernah melakukannya. Pada tugas pekerjaan atau kuliah, hingga pada hal sederhana seperti caption foto di Instagram.

Bukan sedang ingin membela nasib mereka yang kerap kita sebut sebagai koruptur. Karena sejatinya, tanpa kita sadari kadang kala kita sendiri telah korupsi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top