Feature

Kenapa Sih Perempuan Masih Tetap Bertahan Meski Sudah Disakiti?

Untuk kamu yang tak pernah diposisi ini, mungkin akan bertanya-tanya. Kenapa ada perempuan yang masih tetap bertahan, padahal pacarnya selalu kasar? Kekerasan dalam hubungan, memang jadi bagian dari tindak kriminal. Mencerminkan hubungan yang tak sehat dan memang seharusnya segera ditinggalkan.

Tapi untuk mereka yang menjalani, meninggalkan kekasihnya jelas tak semudah itu. Bahkan sebaliknya, walau sudah berkali-kali disakiti, beberapa perempuan tak mau pergi. Untuk bisa lebih memahami bagaimana kebimbangan mereka, ada beberapa hal yang biasa menjadi alasan mengapa perempuan enggan pergi dari hubungan yang sejatinya salah.

Takut Jika Nanti Tak Ada yang Bisa Menerima Dirinya

Dari beberapa kasus, perempuan kerap mengatakan jika ketakutan dalam dirinya, jadi alasan paling kuat mengapa mereka enggan untuk menyudahi hubungan. Dalam hubungan pacaran, mereka yang sudah terlanjur melakukan hubungan sex, berpikir  bahwa tak akan ada lelaki yang mau menerima. Sialnya, biasanya sang laki-laki justru memanfaatkan ketakutan ini sebagai senjata untuk semua hal yang dia inginkan.

Diberi bayang-bayang menakutkan, sehingga apa pun yang pasangannya katakan. Sering dituruti demi rasa aman, yang sejatinya adalah sebuah ilusi. Karena bahaya yang sesungguhnya adalah bertahan dengan dia.

Tak Ingin Jadi Buah Bibir Orang Lain

Tak perlu dijelaskan, kamu pasti tahu bagaimana para tetangga berperan pada pikiran kita. Yang sebenarnya tak seharusnya dipercaya juga. Perempuan kerap merasa enggan untuk jadi bahan perbincangan atas hubungan yang sedang ia jalankan. Digosipkan ‘perempuan tak benar’ hanya karen sering berganti pacar, atau dicap sebagai ‘perempuan murahan’ jika menjadi seorang janda.

Nah, tak mau jadi bahan gosip orang-orang di sekitar. Akhirnya perempuan pun memilih untuk bertahan. Sekalipun itu mempertaruhkan kebahagian, mereka berpikir itu adalah satu-satunya jalan yang harus dipilih. Meski jelas, ini adalah pemikiran yang keliru.

Terikat Karena Terlalu Cinta dan Berpikir Tak Bisa Hidup Tanpanya

Perempuan terlalu mudah percaya, sedangkan laki-laki mudah mengumbar janji tentang bahagia. Bagi perempuan, memberikan segalanya adalah pembuktian cinta. Tapi lelaki, selalu merasa butuh untuk menjajal hal baru. Merasa terikat atas apa yang sudah dilakukan berdua, perempuan akan berpikir bahwa inilah cinta yang sesungguhnya. Inilah yang kemudian dipakai oleh lelaki untuk terus menahannya. 

Dilain sisi, perempuan mungkin akan mencoba belajar melepas si dia. Namun bayang-bayang tentang tak siap kehilangan, justru jadi momok yang menakutkan. Terbiasa mendapat perhatian dan kasih sayang, ia merasa tak bisa hidup tanpa sang pacar. Maka walau harus mendapat beberapa pukulan, ia akan terus bertahan.

Terlalu Percaya Jika Pasangannya Akan Berubah

Selepas ia memukulmu, ia mungkin menangis tersendu-sendu dan berjanji untuk tak lagi mengulangi hal itu. Tapi kenyataannya, hal serupa masih saja terulang secara terus menerus. Menjadi pacarnya dan bertahan untuk menujukkan cinta, tak selalu berhasil membuat ia berubah.

Tak perlu berharap terlalu banyak, menunggu ia menjadi baik dan tak lagi kasar. Sebab jika bukan dirinya sendiri yang ingin berubah, sikap dan perilakunya akan tetap sama. Walau kamu terus menemaninya. Permintaan maaf dan janjinya hanya alibi, agar kamu tetap mau bersama dan dimanfaatkan olehnya.

Merasa Sudah Kenal Dekat dengan Keluarga, Jadi Sayang Jika Harus Berpisah

“Aku udah akrab sama Mama dan Adiknya, keluarga besar dia juga udah kenal sama aku. Buat kenal sama keluarganya nggak mudah,”

Benar memang, membangun sebuah kedekatan dengan keluarga pasangan butuh waktu dan jelas tak mudah. Tapi coba dipikir lagi, sampai kapan kamu akan mengorbankan perasaan hanya demi menjalani hari menyedihkan bersamanya?

Lagipula tak ada aturan yang memaksamu tetap bertahan dalam hubungan yang tak sehat, hanya karena sudah dekat dengan keluarganya. Kamu berhak memilih untuk mengakhiri hubungan kapan saja. Apalagi jika dirinya tak lagi bisa memperlakukanmu dengan baik.

Dan Berpikir Apa yang Dilakukan Oleh Pasangan Adalah Sesuatu yang Normal

Yap, sebagian perempuan membohongi dirinya sendiri. Berpikir bahwa tak ada yang salah dari hubungan yang sedang dijalani. Meski setiap hari ia terus dipukuli. Di dalam isi kepalamu, mungkin ia satu-satunya orang yang sayang padamu. Sehingga apapun yang ia lakukan, tak terlihat sebagai bentuk kekerasan dan selalu kau anggap wajar.

Hubungan yang baik adalah yang membuatmu berkembang, bukan yang mengekangmu agar tak bisa keluar. Membiarkanmu memilih apa saja yang kau inginkan, bukan memaksamu untuk mengikuti apa saja yang ia inginkan.

Padahal Apapun Alasannya, Dia yang Sudah Menyakiti Tak Pantas untuk Dicintai

Dimabuk asmara memang bisa membuat kita buta, tak bisa melihat mana cinta mana siksa. Menganggap semua perbuatan pasangan adalah sesuatu yang wajar, sampai beberapa pukulan yang mendarat di tubuh pun pura-pura di lupakan.

Jika hal-hal yang tadi dijelaskan sedang kamu rasakan, cobalah dengarkan apa yang ingin kami sampaikan. Berhenti untuk berpikir bahwa ia mencintaimu, karena jika benar ia cinta. Tentu kau tak akan disiksa. Berhenti berpikir bahwa dirinya menyanyangimu, karena jika benar sayang ia tak akan melayangkan tangannya pada tubuhmu.

Dirimu berharga dan pantas untuk bahagia. Dan atas nama logika dan arti cinta yang sesungguhnya, beranilah untuk membuka suara dan membuat pilihan. Tinggalkan ia yang tak selalu bersikap kasar, memukulmu dan mengecewakanmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top