Community

Kenali Penyebab Susah Buang Air Besar dan Begini Cara Mengatasinya

Penyebab susah buang air besar kerap kali sulit diprediksi, sehingga sulit untuk diketahui secara pasti. Namun secara umum penyebab susah buang air besar ada beberapa faktor, seperti pengaruh obat-obatan, menunda BAB, kehamilan, mengonsumsi makanan tak bernutrisi baik dan kondisi kesehatan tertentu.

Dalam bahasa medis, susah buang besar dinamakan dengan istilah konstipasi. Frekuensi buang air besar pada tiap-tiap orang berbeda, sehingga tidak ada patokan baku dalam hal ini seperti berapa kali normal untuk buang air besar per harinya atau dalam seminggu.

Sebagian besar orang buang air besar sekitar 1 sampai 2 kali seminggu, sebagiannya lagi bisa 3 kali dalam sehari. Namun umumnya tidak BAB selama 3 hari atau lebih bisa dikatakan terlalu lama, ini dikarenakan struktur tinja dalam usus akan berubah menjadi lebih keras sehingga akan lebih sulit dikeluarkan.

Lalu apa sajakah kondisi yang biasanya menjadi pemicu penyebab susah buang air besar? Berikut ulasannya!

Jika Tidak Ingin Mengalami Sembelit atau Konstipasi, Jaga Pola Makan Anda

Penyebab susah buang air besar yang pertama adalah pola makan yang terlalu buruk. Kekurangan serat seperti sayuran, buah-buahan dan sereal ternyata bisa menjadi salah satu pemicu konstipasi.

Tidak hanya itu, perubahan pola makan dan terlalu sering mengonsumsi produk olahan susu juga bisa mengakibatkan terjadinya sembelit atau konstipasi. Selain itu, untuk seseorang yang memiliki berat tubuh terlalu kurus atau bahkan terlalu gemuk juga besar kemungkinan dapat mengalami konstipasi.

Tidak Hanya Karena Pola Makan Buruk, Menunda BAB Juga Bisa Menyebabkan Konstipasi

Sering kali para anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun enggan pergi ke toilet meskipun sudah merasa akan buang air besar. Entah karena malu, takut, atau tidak memilhi privasi dalam menggunakan toilet, atau karena alasan lain.

Namun hal semacam ini justru akan berdampak buruk bagi kesehatan dan yang menjadi penyebab susah buang air besar. Dengan kata lain, sesegera mungkin ke toilet ketika kita sudah merasa akan buang air besar untuk terhindar dari masalah konstipasi.

Memiliki Kondisi Medis Tertentu Juga Bisa Menjadi Penyebabnya

Pada kasus tertentu yang jarang terjadi, kesulitan dalam buang air besar juga bisa diindikasikan sebagai pertanda adanya masalah kesehatan seperti gejala diabetes, sindrom iritasi pada usus besar, fisura anal, peradangan usus, kanker dubur atau usus besar, cedera saraf pada tulang belakang.

Nah jika sudah mengalami gejala diabetes yang bisa menyebabkan susah buang air besar, kamu bisa mengatasinya dengan rutin berolahraga. Salah satu jenis olahraga yang bisa menurunkan risiko gejala diabetes adalah bersepeda.

Mungkin belum banyak orang yang tahu jika manfaat bersepeda bagi kesehatan salah satunya bisa menurunkan risiko penyakit diabetes. Untuk itu sesering mungkin melakukan olahraga sepeda ini untuk mendapatkan berbagai manfaat kesehatan.

Susah Buang Air Besar Juga Bisa Disebabkan Karena Faktor Psikologis

Jika Anda mengalami susah buang air besar, itu bisa terjadi karena adanya gangguan psikologis. Gangguan psikologis umum yang bisa menjadi penyebab susah buang air besar adalah trauma kekerasan, depresi, stress, cemas, atau pelecehan seksual.

Untuk itu, hindari melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan beberapa masalah psikologis tersebut. Kondisi seperti itu dapat disembuhkan diatasi dengan berenang, bersepeda, dan olahraga lainnya.

Dari pembahasan di atas, selain beberapa penyebab susah buang air yang umum tersebut, susah buang air besar juga bisa diakibatkan karena jarang berolahraga. Nah olahraga yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi susah buang air besar bahkan mengurangi gejala diabetes adalah dengan bersepeda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sering Mengigau Saat Tidur, Bahaya Nggak Sih?

Disadari atau tidak, ada beberapa orang yang memang kerap mengingau setiap tidur. Fenomena ini memang adalah sesuatu yang lumrah terjadi saat kita sedang tidur. Hasil sebuah riset di Norwegia, pada 2010, hampir 66% dari populasi manusia berbicara dalam tidur mereka dalam berbagai bentuk, yang lain menyampaikan monolog yang menawan atau bahkan melakukan percakapan yang kompleks.

Meski begitu, dari beberapa penjelasan para ahli, kebiasaan ini bukanlah termaksud masalah kesehatan yang berarti. Akan tetapi, jika hal tersebut terjadi secara terus menerus sudah tentu kamu perlu ke dokter. Selain itu, inilah yang perlu kita ketahui dari kebiasaan mengingau yang sering terjadi. 

Sebenarnya Belum Banyak Penelitian tentang Bicara Saat Sedang Tidur

 

Sebelumnya fenomena ini dikenal sebagai parasomnia (sejenis gangguan tidur) dalam Klasifikasi Internasional tentang gangguan tidur. Akan tetapi, dari temuan terbaru gejala ini direklasifikasi dari gangguan menjadi hanya kejadian normal yang dapat terjadi selama tidur. 

Nah, menurut Rafael Pelayo, spesialis tidur dengan Sleep Medicine Center di Stanford Health. karena hal tersebut bukan gangguan yang dianggap serius, jadi tak ada permintaan untuk penelitian tentang tidur. Dengan kata lain berbicara saat sedang tidur merupakan perilaku yang sebagian besar tidak dipelajari dan tidak dipahami dengan baik. 

Lagipula, Apa yang Kita Ucapkan Saat Ngigau Sebagian Besar Adalah omong Kosong

Dari hasil klasifikasi temuan yang sama, kalimat atau kata-kata yang kita ucapkan selama mengigau bukan termaksud cerminan perilaku atau kenangan pada situasi sebelumnya. Jadi semua pertengkaran dengan pasangan atau drama pekerjaan yang baru saja kamu alami, kemungkinan besar tak akan kamu bicarakan selama tidur. 

Ini penting dipahami, karena mereka yang sering ngigau memang kadang mengatakan hal-hal yang sulit dipahami sepanjang liar. Bahkan beberapa katanya tergolong liar. Selain membuat orang yang mendengar menjadi kelabakan menebak maksud, kadang kala kita juga bertanya-tanya. 

Intinya, tidak ada arti nyata dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang yang sedang ngigau saat tidur. 

Dan Tak Ada Rentang Usia Tertentu, Semua Orang Bisa Mengalami Gejala Ini 

Beberapa orang berpikir, berbicara saat sedang tertidur hanya akan dialami oleh mereka yang sudah dewasa dan lansia. Padahal hal tersebut tak selalu benar. Masih dari kata Pelayo, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika kamu sudah berbicara saat tidur sejak kecil. Karena faktanya, berbicara saat tidur cenderung sangat umum terjadi pada anak-anak dan remaja – sekitar 50%, bahkan anak-anak antara usia 3 dan 10 mengoceh dalam tidur mereka.

“Jika Anda tidur sambil berbicara saat masih muda, jangan anggap penting,” kata Pelayo. Tidak perlu takut atau bergegas ke dokter.

Untuk orang dewasa, biasanya akan mulai menyadari jika ia sering mengingau saat tidur ketika memasuki usia 20 hingga 30-an. Dimana mereka sudah mulai berbagi kamar atau tempat tidur dengan orang lain. Sehingga orang lain atau pasangan yang tidur bersama merekalah yang kemudian tahu, jika mereka adalah seorang talk sleep.

Namun jika banyak bicara saat tidur terjadi pada mereka yang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, hal tersebut bisa dikatakan sebagai penanda penyakit, seperti seperti penyakit Parkinson atau demensia.

Sialnya, Fenomena Ini Biasanya Sering Bercampur dengan Masalah Tidur Lainnya 

Bicara saat sedang tidur memang jelas berbeda dengan beberapa gangguan tidur yang lain. Mengigau hanyalah menceracau dengan kalimat-kalimat yang biasanya tak bermakna. Tak ada artinya dan tak jelas ke mana arahnya. Namun, jika bicaramu sudah lebih dari sekedar obrolan biasa, bisa jadi kamu sedang mengalami kondisi lain yang terkait dengan sleep apnea

Selain itu, James Rowley, kepala divisi pengobatan paru-paru, perawatan kritis dan tidur dengan Detroit Medical Center, berbicara melalui tidur juga dapat disebabkan oleh stres, kecemasan, dan depresi. Jika hal tersebut sudah terjadi berulang kali, cobalah bicarakan pada dokter ahli spesial tidur, karena sepertinya anda butuh perawatan. 

Demi Mengatasinya, Cobalah Lakukan Kebiasaan Baik dengan Tidur Terjadwal dan Dalam Waktu yang Cukup 

Kalau harus dilihat dari keseluruhan kebiasaan ini, momen mengigau kerap terjadi akibat kita terlalu lelah. Atau masih memikirkan sesuatu sesaat sebelum tidur. Untuk menguranginya, cobalah untuk tidur dengan terjadwal. Selain itu penuhilah kebutuhan tidurmu, jangan terlalu singkat atau terlalu lama. Hindari juga makan makanan yang mengganggu kualitas tidurmu, seperti makan makanan berat atau minuman beralkohol.

Walau tak disebut sebagai gejala yang berarti, kita perlu untuk tetap menjaga diri. Jangan terlalu dianggap sepele, apalagi jika  itu sudah menganggu tidurmu dan pasanganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Tak Perlu Ikut-ikutan, Penderita Gejala Ini Dilarang Plester Mulut Saat Tidur

Penyanyi Andien baru-baru ini memperkenalakan kebiasaan tidur dengan mulut diplester yang sudah beberapa bulan belakangan dilakukannya. Dibagikan pada fitur Instastory, Andien mengaku jka ada banyak manfaat yang sudah dirasakan oleh ia dan suami serta anaknya Kawa, sejak melakukan kebiasaan ini. 

Mengutip dari laman CNN Indonesia, Profesor Faisal Yunus, pengajar bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respiratori FKUI mengatakan bernapas memang harus melalui hidung, bukan napas mulut.

“Diusahakan membiasakan bernapas lewat hidung. Kalau dengan hidung, udara akan disaring, diproteksi dari bahan berbahaya,” kata Faisal melalui sambungan telepon, Kamis (11/7). 

Memang sih, praktik plester mulut saat tidur baik untuk dipraktikkan tetapi dengan catatan khusus. Sebagaimana saran dari Faisal, hal ini sebaiknya tidak dilakukan oleh mereka yang sulit bernapas karena penyakit tertentu, yakni Influenza, Polip hidung, Sinusitis, Rinitis alergi, Deviasi septum nasal.

Dimana jenis gejala atau kondisi kesehatan tersebut adalah sesuatu yang berhubungan dengan gangguan pernafasan. Maka, jika sedang mengalami kondisi tersebut, sebaiknya urungkan niatmu untuk ikut-ikutan seperti Andien yang memplester mulutnya setiap malam. 

“[Plester mulut] boleh saja, tapi yang belum terbiasa mungkin agak kesulitan. Kecuali orang yang agak susah bernapas lewat hidung sebaiknya enggak dulu,” katanya.  

Lebih lanjut, Faisal mengatakan jika cara atau kebiasaan ini terbilang cukup ekstrem untuk melatih pernapasan hidung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Memeluk adalah Cara Terbaik untuk Menenangkan Hati Seseorang

Memberi sebuah pelukan pada seseorang adalah salah satu hal mudah yang memiliki manfaat segudang. Jadi sebuah bentuk terapi, dia yang menerima pelukan akan lebih merasa nyaman, merasa diperhatikan, dicintai, dan berbagai macam energi positif lain yang sulit untuk digambarkan. 

Tak hanya sebatas gerakan, dekapan yang kita terima atau berikan, mengandung sebuah makna yang dalam. Dan dilansir dari mindbodygreen.com berikut ini adalah hal-hal baik yang bisa kita terima dan salurkan dari sebuah pelukan ke seseorang. 

Menyeimbangkan Sistem Saraf Karena Memberikan Rasa Aman

Hanya memberikan seseorang pelukan, kamu sudah membantunya menyeimbangkan sistem saraf mereka. Sensor tekanan berbentuk telur kecil yang ada di sel darah pada kulit saling terhubungan hingga memberikan sinyal baik kepada otak kita. Itulah mengapa seseorang akan merasa lebih aman jika sedang berada dalam pelukan. 

Hal ini dikarenakan sentuhan yang terjadi atas kulit si pemeluk dengan yang dipeluk. Tak hanya boleh dilakukan pada pasangan saja, pelukan bisa kamu berikan kepada siapa saja yang mungkin sedang membutuhkan rasa aman. Baik itu orangtua, anak, saudara, atau sahabat kita. Ini akan mendorongnya lebih terbuka untuk bercerita, karena merasa sedang berada dalam situasi yang aman. 

Lebih Percaya Diri Karena Merasa Kian Bahagia

Tumbuh besar dalam lingkungan yang menjadikan pelukan sebagai sebuah kebiasaan, adalah sesuatu yang menyenangkan. Ini menujukkan rasa cinta mereka, sikap menghargai, dan selalu menganggap kita spesial. Hal inilah yang kemudian melahirkan rasa percaya diri, merasa dihargai dan dicintai. Bahkan akan selalu berguna pada siapa saja. Karena kita jauh lebih bisa memilih dengan bijak bagaimana caranya menghargai dan mencintai diri sendiri, dan semakin percaya diri. 

Menurunkan Denyut Jantung, Sehingga Penerima Pelukan Merasa Lebih Sehat

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of North Carolina-Chapel Hill, mengemukakan dari hasil penelitian pada beberapa orang yang sehari-hari tidak bertatap mata dengan istri atau suaminya, mereka memiliki detak jantung yang bergerak lebih cepat yakni 10 kali berdetak setiap menit. Sedangkan mereka yang menerima pelukan, jantungnya hanya akan berdetak 5 kali dalam setiap menit. 

Padahal, pada dasarnya semakin rendah detak jantung kita, semakin sedikit pula masalah jantung yang akan menyerang kita. Itulah mengapa, kita perlu berpelukan setiap hari dan setiap saat demi kesehatan jantung kita. 

Pikiran Jauh Lebih Rileks, Karena Suasana Hati Berubah Jadi Lebih Baik

Tak hanya dia yang menerima pelukan, kita sebagai pemberi pelukan juga akan mengalami rileksasi terbaik pada bagian otot tubuh. Karena pelukan dapat menyeimbangkan sistem tubuh saat kita merasa tegang. Respon yang mengalir dari rangsangan antar kulit saat menerima dan memberikan pelukan dapat mengantarkan ketenangan dan suasa yang lebih santai. 

Reaksi ini akhirnya membuat kondisi mental menjadi lebih seimbang. Maka wajar jika akhirnya kamu juga akan merasa lebih rileks dan lebih tenang. Karena suasana hati yang mungkin sudah berubah. 

Dan Mengurangi Tingkat Stress dari Dalam Diri 

Coba ingat, sudahkah kamu mendapat pelukan atas segala beban yang seharian ini kamu pikirkan? Atau sudahkah kamu memeluk dia yang kini terlihat sedang butuh pelukanmu agar lebih tenang lagi? Jika belum, segera peluklah. 

Sebuah gerakan lambat yang akan berakhir dengan pose saling merapatkan tubuh ini akan merigankan beban stress dalam diri mereka dengan sangat efektif. Sebab ketika sedang dipeluk tingkat kortisol yang beredar di seluruh tubuh kita berkurang secara drastis. Dengan begitu, pikiran kita akan mampu tenang dan berpikir tanpa stres.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top