Feature

Kekerasan dan Hal-hal Lain yang Tak Seharusnya Dilakukan Dalam Hubungan Pacaran

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Interpersonal Violence, melakukan penelitian pada 350 mahasiswa tentang konflik yang pernah terjadi dalam hubungan mereka. Khususnya tindakan kekerasan dalam pacaran, baik secara fisik maupun emosional.

Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 95 persen peserta mengalami kekerasan emosional, sementara 30 persen diantaranya mendapatkan kekerasan secara fisik. Bagaimana? Mengerikan bukan? Iya, benar memang kalau pada kenyataannya tak semua hubungan bisa berjalan mulus tanpa adanya cekcok dan pertengkaran. Bahkan beberapa kali kamu mungkin akan kecewa pada si dia. Tapi selama ini masih dalam batas wajar, jelas tak akan berdampak buruk pada hubungan.

Namun, kali ini selain mencoba melihat adakah kekerasan dalam hubunganmu dengan si dia. Ada hal lain yang juga perlu dievaluasi. Tentang apa saja hal yang sebenarnya tak boleh terjadi dalam hubungan pacaran.

Menyakitimu dari Segi Fisik

Beberapa perempuan, kerap merasa beberapa hal dalam hubungan adalah sesuatu yang wajar. Dan salah satunya adalah perlakuan kasar. Durasi hubungan yang berjalan sudah sekian lama, akan membawa kamu pada pertengkaran dan beberapa perdebatan. Tapi apapun alasannya, dia yang berani main fisik saat bertengkar, bukanlah pasangan yang pantas untuk diperjuangkan.

Maka jika pacarmu sudah bersikap seenaknya, untuk menampar, memukul, dan menjambak. Itu artinya, ia sudah melakukan kesalahan fatal yang juga perlu kamu pertimbangkan. Dan kalau sudah begini, jangan ragu untuk mengakhiri hubungan. Sekalipun ia sudah meminta maaf, hal serupa bisa jadi terjadi lagi.

Pada Beberapa Perdebatan Dirinya Kerap Memakimu dengan Kata yang Tak Pantas Didengar

Hal lain yang selanjutnya, tak seharusnya kau alami dalam hubungan pacaran adalah mendapat perlakuan tak baik secara verbal. Mulai dari hardikan, cacaian dan beberapa umpatan lain yang sebenarnya tak pantas diberikan pada pasangan, apalagi perempuan. Ada yang tak sehat dalam hubunganmu, yang juga berpotensi membuatmu tertekan dan depresi karena tak merasa dihargai.

Lagipula, Catia Harrington, PsyD, seorang psikolog klinis di New York, berkata bahwa hubungan yang sehat seharusnya menuntun Anda untuk melakukan hal-hal positif; serta membuat Anda merasa percaya diri, dihargai, dan dicintai – bukan sebaliknya. Tapi jika yang kau terima adalah cacian, itu artinya ia sedang memberikan pengaruh negatif dalam hidupmu.

Menjadikanmu Sebagai Pelampiasan Emosi yang Ia Dapat dari Luar

Pada beberapa situasi, kamu kerap menemukan ia sedang dalam emosi. Tak merasa berbuat salah apa-apa, dirinya justru menumpahkan semua kekesalannya padamu. Benar memang, ia tak memukulmu atau menghujatmu. Namun perilaku yang ia tunjukkan, seolah ingin menunjukkan bahwa kamulah yang salah.

Mulai dari melemparkan barang-barang, memukul meja, menghentakkan kursi, dan perilaku lain yang juga membuatmu merasa jadi target kekesalan. Ingat, kekerasan dalam pacaran tak selalu disampaikan dalam fisik atau emosional. Sebab ketika ia sudah berani melemparkan barang-barang di depannmu, jangan pernah anggap itu adalah perbuatan biasa.

Posesif Berlebihan, Ia Jadi Penentu Tentang Apa Saja yang Akan Kamu Lakukan

Atas nama cinta dan hubungan yang sedang kalian jalani, kepercayaan harusnya jadi sesuatu yang perlu dipegang kuat. Tapi apa yang terjadi dalam hubunganmu justru sebaliknya. Tak memberimu kebebasan, ia malah terlihat bak seorang mata-mata yang siap mengawasi semua gerak-gerikmu hingga ke media sosial.

Tak ada lagi privasi, kamu dipaksa untuk menuturkan semua hal yang kamu lakukan. Mulai dari bangun pagi, hingga nanti tidur lagi. Ingat, cinta yang baik seharusnya tak mengurungmu dengan ketat. Karena biar bagaimana pun, kamu berhak untuk menikmatimu waktumu sendiri tanpa harus terdistraksi oleh dia yang kau cintai.

Emosinya Tak Pernah Stabil dan Sangat Mudah Terpancing

Setiap pasangan harusnya bisa meredam amarah, memperkecil masalah sepele dan mencari solusi dari masalah besar. Sialnya, ia justru bersikap berlebihan untuk semua persoalan. Terlihat menggebu-gebu untuk hal yang tak seharusnya diperdebatkan dan tak pernah bisa menahan emosi tiap kali ada masalah.

Memang tak semua orang bisa mengelola emosi dengan benar. Tapi setidaknya ia paham, bagaimana caranya bersikap. Kapan harus diam dan kapan harus marah. Jika ternyata semua hal selalu dipecahkan dengan memarahimu, rasanya ia memang tak sungguh-sungguh untuk mencintaimu.

Dan Menjauhkanmu dari Keluarga Serta Teman-teman

Jadi salah satu cabang lain dari sikap posesif yang berlebihan. Pacarmu tak seharusnya membuat hidupnya hanya tentang dirinya saja. Maka jika saat ini ia kerap mencoba untuk menjauhkanmu dari lingkungan, berarti ada sesuatu yang memang salah di pikirannya.

Kamu pun harusnya paham, ia harusnya bisa bijak dalam bersikap, sadar bahwa dirimu adalah pihak yang paling berhak untuk menentukan kepada siapa kamu akan bercerita. Entah itu saudara atau sehabat yang kamu punya. Selama itu masih dalam ranah positif, seharusnya ia tak perlu melarang-larangmu begitu.

Jika hal-hal yang sedari tadi dijelaskan memang sedang kamu rasakan dalam hubungan. Ada baiknya, kamu kembali mempertimbangkan hubungan. Karena seseorang yang melakukan hal tersebut, tak pantas untuk dijadikan pacar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top