Feature

Keinginan Besar Orangtua yang Diam-diam Mereka Harapkan Dari Kita

Bisa memiliki anak yang berbakti dan sukses dalam hidup, sudah jelas jadi harapan setiap orangtua. Kemudian kita kerap berpikir bahwa dua hal ini sudah menjadi point utama yang pasti membuat orangtua bahagia. Padahal tak hanya itu saja, setiap orangtua biasanya memiliki keinginan lain untuk anaknya.

Jarang diucapkan tapi kerap jadi sesuatu yang diharapkan, tapi ini bukan soal materi berlimpah. Lebih pada bagaimana kita bisa menyenangkan mereka dengan hal-hal yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan untuk lebih memahami isi hati orangtua, mari kita mencoba untuk menilik lagi apa saja hal yang menjadi keinginan mereka.

Saat Beranjak Dewasa, Semua Orangtua Berharap Anaknya Selalu Diterima Di Lingkungan Tempatnya Berada

Tak perlu ditanya lagi, setiap orangtua pasti senang ketika melihat anaknya memiliki banyak teman. Sebab itu jadi gambaran bahwa anak yang selama ini ia rawat dan didik telah tumbuh jadi pribadi yang menyenangkan, serta disukai banyak orang.

Pencapaian ini sekaligus jadi bukti keberhasilan mereka dalam hal mendidik kita, yang bisa terlihat dari cara kita untuk beradaptasi dengan lingkungan hingga menjalin hubungan dengan banyak orang.

Hal ini mungkin tak sering diceritakannya secara terang-terangan. Tapi percayalah, dalam obrolan orangtua dengan orang-orang yang seusia dengannya, situasi ini sering jadi bahan pembicaraan. Sebab ada rasa bangga yang dirasa tatkala anaknya terlihat bisa berteman dengan siapa saja dan memiliki banyak kolega.

Setelah Mengenyam Pendidikan di Perguruan Tinggi, Ayah dan Ibu Berharap Kita Akan Mengamalkan Ilmu yang Telah Didapat

“Lulus dari jurusan kependidikan orangtua berharap kelak kamu akan menjadi guru, untuk menciptakan generasi yang lebih unggul”

Yap, pendidikan jelas bukan sekedar perkara merubah status dengan segudang prestasi. Setiap orang yang telah menjadi orangtua, selalu berharap jika pendidikan yang telah didapatkan anaknya bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Sebab embel-embel di belakang nama yang mungkin kita pikir jadi kebanggaan, tak melulu jadi sesuatu yang mereka harapkan. Tapi bagaimana kita bisa mempertanggung jawabkan apa yang selama ini didapatkan, untuk bisa dibagikan ke banyak orang.

Tak Melulu Berharap Kita Akan Menjadi Orang Kaya yang Arogan, Mereka Akan Selalu Bahagia Ketika Kita Tetap Jadi Pribadi yang Rendah Hati

Kita mungkin pernah mendengar, “Ibu dan bapak tidak memintamu harus menjadi orang kaya, tapi bagaimana kamu akan tetap mawas diri atas segala yang kamu punya”.

Meski tak harus menutup mata untuk keinginan akan hidup yang lebih sejahtera, hal lain yang perlu kita ingat orangtua jauh lebih bahagia jika punya anak yang selalu rendah hati. Sebab materi yang kita pikir bisa memberi kebahagiaan, tak selalu jadi jawaban yang mereka butuhkan.

Karena dari banyaknya doa yang setiap hari mereka panjatkan, memiliki anak yang rendah diri jadi sesuatu yang selalu dijadikan doa. Lalu, sudahkah kita berbuat sesuai yang mereka minta?

Melepas Anaknya Menikah, Tentu Ada Haru dan Rasa Kehilangan Dihatinya Sehingga Mereka Berharap Jika Kita Tak Akan Melupakannya

Perasaan sedih dan bahagia jadi sesuatu yang mungkin akan dirasa, baik oleh kita sebagai anak dan juga mereka sebagai orangtua. Raut wajah bahagia yang mereka tunjukkan memang menggambarkan arti dari sebuah kebahagiaan. Namun bersamaan dengan itu, ada kekhawatiran yang juga mungkin dirasakan. Ya, orangtua takut jika kelak kita tak lagi memikirkan mereka.

Bibirnya boleh saja berucap jika pernikahan kita jadi momen yang membuatnya bahagia, tapi lebih dari itu. Ada rasa khawatir dan tak rela, karena sebentar lagi mereka akan kehilangan anaknya.

Setelah Itu Harapannya Pun Berubah, Mereka Berharap Kita Akan Jadi Orangtua yang Baik Untuk Para Cucunya

Hidup berjalan, semuanya perlahan berubah. Setelah melepas kita menikah, hal lain yang selanjutnya akan menjadi beban pikiran dan keinginan orangtua adalah bagaimana kita akan bertranformasi menjadi seseorang yang akan sama seperti mereka. Mengurus anak dan rumah tangga, hingga menjadi kepala keluarga untuk istri dan anak kita.

Barangkali mereka merasa apa yang selama ini mereka sampaikan masih kurang cukup untuk membekali kita menjadi orangtua, hingga kemampuan lain yang mungkin mereka pikir belum kita kuasai sebelumnya. Bukan tak percaya, mereka hanya ingin kita bisa jadi lebih baik dari mereka yang dahulu menjadi orangtua kita.

Mereka Paham Jika Kita Sudah Punya Kehidupan Sendiri, Tapi Memberi Mereka Kabar Adalah Sesuatu yang Diinginkannya

Suau hari nanti, kehidupan baru kita memang akan menyita banyak waktu dan perhatian yang kita punya. Hingga disadari atau tidak kelak bisa saja lalai dan lupa untuk memberi mereka kabar akan situasi kita sekarang. Dan ini jelas jadi sesuatu yang membuat resah hati orangtua.

Ingatlah selalu untuk memberi kabar, meski hanya lewat telepon genggam dan bicara sebentar. Walau dimata kita terkesan remeh, tapi untuk orangtua bisa jadi sesuatu yang mengundang tawa dan bahagia. Mereka senang bahwa meski sudah berkeluarga anaknya tak pernah lupa pada orangtua.

Sebab Hari-hari Mereka Akan Lebih Terasa Membahagiakan, Setelah Mendengar Anaknya Bercerita

Seorang anak perempuan mungkin akan bercerita tentang bagaimana hari-harinya menghadapi cucu mereka yang kini tumbuh besar. Sedang anak laki-laki mungkin akan berbagi cerita tentang perannya menjadi imam dalam keluarga. Ini bukan sesuatu yang besar, bahkan mungkin hanya akan berisi cerita-cerita yang mereka juga pernah rasakan.

Namun percaya atau tidak, semua ini jadi sumber energi baru untuk mereka di sisa usianya. Bahwa meski tak lagi tinggal bersama, mereka tahu bahwa anaknya juga masih ingin melibatkan mereka dalam kehidupan kita yang sekarang. Walau hanya sekedar berbagai cerita, jangan sekalipun lupa untuk mengingat mereka.

Benak kita sebagai anak, ada banyak yang selalu jadi harap tapi lupa akan keinginan orangtua yang biasanya hanya bagian kecil dari mimpi kita. Sederhana, namun memiliki arti yang besar untuk kehidupan mereka. Lantas, sudahkah kita menyadarinya?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Seintens Apa Pun Kita Berkirim Pesan Singkat, Tak Akan Bisa Menggantikan Kehadiranmu yang Senyatanya

Kata Mama, aku boleh bersyukur karena yang namanya komunikasi sekarang ini semakin dimudahkan. Dulu saat Mama dan Papa masih pacaran, tak ada yang namanya komunikasi intens setiap hari. Kalau tidak lewat telepon, ya terpaksa surat-menyurat sembari menabung rindu. Memang benar adanya, keberadaan teknologi seakan memangkas jarak yang mungkin terbentang jauh antara dua orang yang sedang menjalin relasi.

Durasi berkirim pesan pun tak lagi jadi masalah yang berarti. Tinggal ketik, kirim, ceklis dua, penerima pesan pun bisa langsung membacanya. Begitulah kira-kira. Meski dua orang yang menjalin relasi tetap berjarak, setidaknya bisa saling tahu kabar masing-masing tanpa perlu lelah menunggu.

Hanya saja, benarkah relasi yang semacam ini akan seterusnya membawa dampak yang baik? Sekalipun bisa terus  terhubung sepanjang hari dan saling tahu kabar masing-masing kapanpun kita mau…

Hingga Hari Ini Tiada yang Bisa Menggantikan Makna Kehadiran yang Sesungguhnya

Apalah arti relasi tanpa sebuah kehadiran yang nyata adanya. Kalau ada orang bilang dalam relasi penting sekali yang namanya perhatian dan afeksi, mungkin itu bisa kita rasakan dengan saling terhubung setiap hari lewat telepon dan bertukar pesan singkat. Tapi soal kehadiran yang nyata, teknologi belum sanggup menjawab kegamangan ini.

Padahal, ketika menjalin relasi, yang paling didambakan adalah kehadiran kekasih hati di setiap momen penting hidup kita, bukan? Lantas kalau kita berdua justru sama-sama nyaman via suara dan menabung rindu di udara, benarkah relasi ini sedang baik-baik saja?

Membangun Chemistry Tak Cukup dengan Tertawa Online dan Tersenyum Via Emoji

Aku tertawa dengan lelucon yang kita bicarakan. Pun dengan kamu di seberang sana. Tapi rasanya ada yang kurang, aku tetap tak bisa melihat tawamu. Kalaupun via videocall, aku tetap tak merasakan suasana nyata bahwa kamu benar-benar tertawa di samping atau di depanku. Gelak tawa kita memang tidak palsu, hanya saja aku tak cukup puas kalau belum merasakan sendiri perihal tawamu benar-benar nyata di depanku.

Chemistry mungkin bisa muncul lewat percakapan. Tapi seberapa kuat hal itu akan bertahan? Aku bertanya, saat kamu menyematkan emoji tawa, benarkah kamu memang sedang tertawa? Atau saat kamu mengirim emoji senyum, benarkah wajahmu memang sedang memulas senyum? Namun diatas semua itu, aku hanya rindu kita saling bertatap muka saat kamu atau aku sedang bicara.

Jangan Kira Situasi Semacam Ini Tak Menarik Perhatian Para Peneliti, Justru Ternyata Ada Juga Penelitiannya

Apa yang kukatakan di atas sejatinya tak hanya kurasakan seorang diri. Ketidakyakinan kalau pasangan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sama ternyata jadi sekelumit kekhawatiran bagi mereka yang terbiasa berkirim pesan singkat. Journal of Couple and Relationship Therapy pernah melakukan penelitian pada 276 orang tentang kebiasaan mereka mengirim pesan dan kepuasan dalam suatu hubungan.

Orang-orang tersebut berusia sekitar 18 – 25 tahun, kemudian mereka diminta melaporkan kebiasaan komunikasi dan perasaan tentang hubungan mereka. Peserta juga diminta menjawab pertanyaan seperti berapa kali mereka telah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka dan sejauh mana mereka merasa seolah-olah pasangannya memperhatikan mereka. Kalau begini, benar-benar memprihatinkan, bukan? Aku tak ingin sampai seperti mereka…

Tapi Bukan Berarti Aku Tak Suka Berkirim Pesan Singkat denganmu, Aku pun Sadar Ini Satu-satunya Cara Agar Kita Tetap Terhubung…

Untuk beberapa situasi seperti mendamaikan hati setelah bertengkar, mengutarakan sesuatu yang sungkan dikatakan, rasanya lebih nyaman diketik lewat pesan singkat. Bagaimanapun, aku menyadari intensitas paling nyata bisa diwujudkan dengan berkirim pesan singkat. Tapi kumohon, janganlah kita sampai terlalu nyaman berkirim pesan singkat sehingga menyepelekan pertemuan bahkan mengurangi intensitas bertemu. Jangan juga jadikan hal ini sebagai cara mempertahankan jarak dariku sebagai pasanganmu. Kalaupun kamu ingin punya waktu sendiri, bukankah lebih baik kita bicarakan baik-baik?

Pada Akhirnya, Kuakui Seintens Apa Pun Kita Mengobrol Lewat Pesan Singkat, Tak Ada yang Bisa Mengalahkan Kualitas Obrolan saat Kita Sedang Bertatap Muka

Selama denganmu, tak akan pernah bisa cukup. Baik dalam hal komunikasi maupun intensitas pertemuan. Itulah mengapa rasanya akan tetap kurang sekalipun kita terus-menerus berkirim pesan singkat hanya demi tahu kabar masing-masing.

Tapi di lain sisi, bertukar pesan terlalu sering pun tak terlalu baik untuk kita. Kamu pasti akan menemukan titik penat, kamu tak bisa menebak intonasiku, mimik wajahku, atau emosiku saat mengutarakan sesuatu. Untuk itulah meski berkirim pesan singkat akan menolong kita, di lain sisi justru jadi tantangan kita.

Ke depannya, mungkin ada baiknya kita berjanji untuk lebih menjaga kata-kata yang kita utarakan lewat pesan singkat. Semaju apa pun teknologi, tetap ada kelemahannya, bukan? Kalaupun ada percakapan yang cenderung berpotensi menghasilkan perasaan sakit hati, mungkin lebih baik disimpan dan tak diutarakan sampai suasana benar-benar kondusif. Sebab saat sedang sendiri-sendiri di tempat masing-masing, seseorang akan lebih punya waktu lebih untuk memikirkan perkara omongan pasangannya, bukan?

Karenanya aku ingin kamu tahu, sesukar apa pun jalan di depan, aku hanya ingin membuat pasanganku tidak hanya merasa dicintai, tapi juga membuatnya merasa dihargai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

“Seleb English” Konten Edukasi dari Sacha Stevenson, Bagaimana Berbahasa Inggris yang Baik dan Benar

Tak lama setelah membuat video berjudul “How To Act Indonesian”, nama Sacha Stevenson mulai banyak dikenal oleh sebagian besar pegiat media sosial. Dalam seri video tersebut, Sacha menampilan beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana masyarakat kita melakoni hidupnya sehari-hari. Mulai dari kebiasaan, kekonyolan, sikap, bahkan pada keramahan setiap masyarakat kita. Jadi jangan heran, jika selama menyaksikan videonya. Barangkali kita akan berkata “Wah ini gue banget”.

Lahir di Kanada, pada 21 Januari 1982 lalu. Sacha sudah tinggal dan menetap di Indonesia selama 17 tahun lamanya. Menikah dengan lelaki Indonesia, yang juga jadi teman duet untuk berkarya dalam melahirkan konten youtube di saluran pribadinya.

Memiliki pengikut kurang lebih 400 ribu orang, Sacha selalu melahirkan konten-konten menarik untuk disaksikan. Tapi, jika saya akan ditanya manakah konten miliknya yang paling saya sukai. Pilihan saya, jelas jatuh pada seri “Seleb English” yang selalu memberi banyak pelajaran baru seusai menontonnya.

Konon, Kata Sacha Video Seri Ini Adalah Sesuatu yang Baru

Jika kita coba melihat pada beberapa video karya miliknya, kurang lebih ada 20 jenis playlist video pada saluran youtube pribadinya. Dan benar saja, jika seri “Seleb English’ ini adalah sesuatu yang baru ia lahirkan pada pertengahan April 2018 lalu.

Dengan modal, pernah menjadi guru bahasa Inggris selama 7 tahun. Tak ada salahnya jika Sacha membuat video ini sebagai bahan pelajaran untuk para pengikutnya di Youtube. Hanya saja, objeknya mungkin berbeda dari tempat kursus atau sekolah. Ia tak menyampaikan pemahaman lewat materi dari buku-buku tebal atau kamus yang biasa kamu gunakan. Tapi, menggaet para selebriti sebagai bahan pembelajaran.

Tidak Menyebut Dirinya Benar dan yang Dikoreksi Salah, Ia Datang Hanya Untuk Membenarkan Apa yang Seharusnya

Pada video pertama seri “Seleb English” ia mencatut nama Rich Brian, Ayu Ting-ting, Agnezmo, Dian Sastro dan Sule. Hampir serupa dengan seorang guru yang sedang melakoni peran dalam hal menjelaskan sesuatu pada seorang murid. Sacha memberhentikan rekaman suara yang jadi subjek pembahasan, menjelaskan titik salahnya dan menuturkan bagaimana pengucapan yang benar yang seharusnya disampaikan. Mulai dari aksen yang harusnya ditekan, atau kata yang seharusnya diganti dengan kata lain. Sampai beberapa hal, yang mungkin sebelumnya belum kita ketahui sama sekali.

Bahkan tak sampai disitu saja, ia juga mengapresiasi setiap kemampuan berbahasa Inggris semua orang yang ia jadikan bahan koreksi. Mulai dari yang dinilai buruk, sedang, baik, hingga sangat baik.

Sacha Membuktikan, Jika Konten di Youtube Tak Selalu Buruk Seperti yang Banyak Digambarkan

Kita jelas sudah jengah dengan video-video sensasi dari akun-akun yang mengaku konten kreator, video sensasi dengan judul-judul klik bait yang hanya ingin mendulang pundi-pundi dolar dari satu klik para pengguna media sosial, hingga para aksi-aksi tak pantas yang seharusnya tak dijadikan tontonan.

Dan, lahirnya konten “Seleb English” dari Sacha ini. Mungkin bisa jadi sesuatu yang tak hanya menyengarkan tampilan timeline saja. Tapi juga memberikan pelajaran baru untuk siapa saja yang merasa butuh tahu lebih dalam, bagaimana berbahasa Inggris yang baik dan benar.

Disambut Baik Oleh Pengikutnya, Konten-konten Seperti Ini Memang Jadi Sesuatu yang Kita Butuhkan

Setidaknya, tak hanya membuang-buang kuota untuk menonton video-video youtube yang kadang tak ada juntrungannya. Mulai sekarang, ada satu hal baik yang sudah akan kita bayangkan tiap kali akan menonton deretan video miliknya, yakni pelajaran baru dalam berbahasa Inggris yang ia berikan. Karena biar bagaimanapun, ini jadi salah satu bahasa yang seharusnya kita kuasai.

Lebih dari itu, kedepan kita mungkin berharap, akan lebih banyak kreator yang menciptakan konten mendidik serupa yang juga sama baiknya. Memberi edukasi pada setiap orang yang menyaksikan, dan jadi bahan pelajaran baik untuk semua orang.

Dan untuk Sacha, tetap berkarya dan lahirkan lebih banyak konten mendidik lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top