Feature

Kebodohan yang Sering Kita Lakukan, Hanya Karena Kepalang Cinta pada Pasangan

Tak hanya membuat bahagia, mencintai seseorang juga turut serta merubah kepribadian yang kamu punya. Mulai dari sikap, pola pikir, sampai cara kita menilai sesuatu. Kalau semua itu adalah sesuatu yang baik sih, mungkin tidak apa-apa. Tapi bagaimana jika ternyata cintamu itu justru merusak dirimu. Iya, merusak kamu, menjadikanmu pribadi yang bukan seperti dirimu.

Begini, sejatinya cinta memang jadi sebuah sumber bahagia yang bisa tak terkira. Tapi salah dalam mengartikan rasa, kamu juga bisa menjadi sosok bodoh yang tak bisa membedakan apa-apa. Kamu mungkin bisa mengelak, dengan berkata tidaklah begitu. Namun setidaknya, ada beberapa kebodohan yang barangkali pernah kita lakukan, hanya karena terlalu cinta pada pasangan.

Berpikir Bahwa Dirinya Adalah Sumber Kebahagianmu

Benar memang, ada banyak bahagia yang kita dapatkan setelah ia hadir dalam kehidupan. Tapi, yang namanya bahagia tak melulu bergantung pada orang, ‘kan? Anehnya, justru hal itulah yang kita lakukan. Seolah tak ada hal lain yang bisa jadi sumber bahagia, kita selalu berpikir bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu membuat kita tertawa.

Cinta yang benar bukanlah begitu, ia hadir untuk membuatmu bahagia dengan porsi yang pas. Tak kurang, tapi juga tak berlebihan. Lalu coba bayangkan, jika dia yang katamu jadi satu-satunya sumber bahagia, mendadak pergi. Barangkali, setengah jiwamu pun ikut pergi bersamanya. Ini jelas bahaya!

Berbohong dan Menjauhi Keluarga, Hanya Karena Selalu Ingin Didekatnya

Kubilang juga apa, mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan pastilah membawa kita pada banyak kebohongan. Mulai dari berbohong pada teman, rekan kerja, sampai kepada keluarga. Berpikir bahwa saran yang kita terima dari mereka, tak sesuai dengan isi kepala.

Pelan-pelan kita pun mulai menjauhi mereka. Ya, sebab satu-satunya hal yang saat ini mungkin kita percaya adalah kita memang mencintai si dia, dan akan melakukan apa saja untuk tetap bisa bersama. Padahal, seringnya si dia tak pernah melakukan itu untuk kita.

Demi Menarik Perhatian, Kita Pun Memaksa Diri untuk Merubah Penampilan

“Aku suka perempuan, dengan pakaian begini!” katanya sembari menunjukkan satu buah dress dengan model terbuka. Bermodalkan pernyataannya yang barusan kamu dengar, selanjutnya kamu berpikir bahwa ia akan sangat senang jika kamu mengenakan pakaian yang ia tunjuk. Hingga akhirnya, memaksa diri untuk tampil sesuai dengan yang ia ingini. Walau kamu sendiri, sebenarnya tak nyaman berpakaian seperti ini.

Jati diri yang selama ini kita tampilkan, hilang karena satu sosok yang katanya kita sayang. Padahal, jika memang benar-benar cinta. Ia tak akan memaksa kita untuk melakoni hal-hal yang tak kita suka.

Untuk Segala Perdebatan dalam Hubungan, Kita Merasa Bahwa Diri Sendirilah yang Selalu Bersalah

Dua orang manusia yang membangun relasi, tentulah akan dihadapkan dengan hal-hal yang menjadi pertentangan. Namun karena terlalu merasa takut kehilangan dirinya, kita selalu meminta maaf lebih dulu sebelum ia marah. Mata hati dan logika kita tak lagi terpakai dengan baik, sebab yang kita pikirkan hanyalah rasa takut kehilangan.

Maka tak perduli siapa yang salah, kita akan jadi pihak yang selalu mengalah dan meminta maaf dari dirinya. Ya, kita kehilangan akal sehat hanya karena cinta.

Terlalu Berharap dengan Mencintainya Lebih dari Cara Kita Mencintai Diri Sendiri

Coba ingat-ingat lagi, berapa banyak perbuatan baik darinya yang layak dijadikan acuan untuk bertahan. Lalu bandingkan, dengan banyaknya perbuatan yang sudah kita lakukan untuk dia yang selama ini kita sayang. Kebahagiaan dan hal-hal baik dalam hidupnya selalu jadi hal yang kamu prioritaskan. Sampai-sampai kamu lupa, bahwa diri sendiri juga butuh dicintai.

Ingat, hal seperti ini bukanlah cinta yang benar. Sebab cinta yang baik, hanya akan bisa terasa ketika kita bisa lebih dulu mencintai diri sendiri dengan benar. Untuk kemudian bisa membagi cinta kita dengan yang lainnya.

Pelan-pelan Mimpi yang Sudah Kita Susun Lama Pun Mulai Dikorbankan, Lalu Hilang Begitu Saja Demi Dirinya

Tadinya kamu ingin melanjutkan study sampai S2, tadinya kamu masih ingin serius dan fokus pada pekerjaan sampai posisi yang kamu mimpikan bisa tercapai dalam waktu yang ditentukan. Tapi, hanya karena dia yang kamu panggil pacar. Kamu merubah semua rencana dengan mudah. Hanya karena pertimbangan untuk bisa terus bersamanya.

Hey, itu bukan cinta yang baik, Kawan. Sebab dia yang sungguh-sungguh ingin menikmati hari-hari indah bersamamu, tentu tak akan menghalangimu untuk mencapai semua mimpimu. Harusnya ia jadi penyokong semangat yang kuat untukmu agar terus berjalan ke depan. Bukan malah memintamu berhenti, lantas melupakan semua impian.

Dan Mengorbankan Diri Untuk Terus-menerus Disakiti maupun Dibohongi

Cinta dengan kadar yang berlebihan, membuatmu berdamai pada banyaknya kesalahan yang sudah dilakukan. Berpikir apa yang dilakukan adalah hal baik untuk hubungan. Padahal sejatinya, tidaklah demikian.

Banyaknya kesalahan yang ia lakukan, tak pernah kamu hiraukan namun beribu kebaikan yang sudah kamu berikan masih saja dinilai kurang. Anehnya, diri ini selalu jadi sosok yang legowo untuk terus disakiti. Percayalah, sosok yang memang benar-benar mencintaimu tak akan pernah menyakiti hatimu, bahkan dengan hal-hal yang remeh sekalipun.

Artikel ini tidak dibuat untuk menghakimimu, bukan pula untuk menyalahkanmu. Hanya saja kamu perlu sadar, bahwa mencintai seseorang dengan beerlebihan kadang membuatmu menutup mata. Maka untuk itu, cobalah cintai dirinya dengan porsi yang pas saja. Tak kurang, tidak juga berlebihan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Apakah Kamu Juga Tambah Usia Makin Malas Update di Sosial Media?

Kehidupan kita di sosial media, memang terasa begitu nyata. Bagaimana tidak? Bersamanya kita tumbuh jadi manusia yang kini sudah (lebih) berbeda. Dari yang dulu suka ‘ngalay’ sampai yang sekarang hanya jadi pembaca saja.

Dulu, curhat panjang lebar di timeline facebook terasa jadi jalan keluar setiap kali kita butuh saran. Dan benar saja, beberapa kawan kerap berbaik hati untuk memberikan dukungan atau jawaban. Selain itu, sosial media punya semua hal yang kita butuhkan. Video-video lucu di instagram bisa jadi obat pelepas lelah, bertemu teman baru yang memberikan ilmunya. Hingga pacar pertama yang juga ditemukan lewat sosial media. Tapi kini, hal seperti ini terasa jadi sesuatu yang janggal kan?

Hidup terus berjalan, sosial media masih tetap jadi kawan. Bedanya kini kita tak lagi mau update sembarangan. Tapi kamu tahu tidak? Apa yang merubah kita jadi begitu?

Pandanganmu Berubah, Tahu Mana yang Layak Dibagikan dengan yang Harus Disimpan

Mari berbalik sebentar tentang aktivitas kita sebelum sedewasa sekarang. Berapa banyak cerita cinta-cintaan yang kita bagikan, hingga kekesalan lain yang sebenarnya tak berarti apa-apa meski sudah dijadikan status di sosia media. Kini, hal tersebut mungkin terasa menggelikan. Tapi tak apa, itu adalah bagian dari proses atas perubahan.

Sadar atau tidak, ada paradigma baru yang lahir pada dirimu. Kamu lebih paham, mana yang layak yang dibagikan dengan sesuatu yang memang seharusnya disimpan. Untuk itulah, sekarang hal-hal yang kamu bagikan sifatnya lebih umum, dan semua orang bisa menikmatinya tanpa merasa terganggu atas aktivitas sosial mediamu.

Bukan Keluh Kesah, Membagikan yang Mengundang Tawa Kini Lebih Terasa Indah

Harus diakui memang, dari semua keresahan yang sedang dirasakan, sosial media bisa jadi jalan keluar untuk menenangkan pikiran. Bisa jadi orang yang berbeda dari kehidupan nyata, meski sedang gundah gulana. Kita bisa saja jadi orang paling berbahagia di sosia media. Dan salah satunya dengan membagikan hal-hal lucu yang bisa mengundang tawa.

Aktivitas update status mungkin dikurangi, diganti dengan berbagi hal-hal lucu yang bisa menyenangkan hati. Tak hanya membuat kita lupa pada kesusahan yang sedang dialami, kegiatan macam ini bisa jadi obat penenang diri.

Lagipula, Kalau Dipikir-pikir Toh Tak Ada Orang yang Akan Peduli dengan Masalahmu

Pada masa lampau, kamu mungkin senang mendapat banyak komentar atas curhat yang kamu bagikan. Padahal faktanya mereka bisa jadi hanya sedang ingin tahu saja, bukan ingin membantumu mencari solusinya. Bahkan bisa jadi, mereka malah menjadikanmu sebagai bahan tertawaan karena terlihat kurang kerjaan.

Seiring dengan bertambahnya usia, kita pun sadar bahwa hanya segelintir orang yang bisa benar-benar peduli atas apa yang kita bagikan. Karena kini, mereka punya hidup yan juga perlu dipikirkan.

Tak Lagi Punya Waktu Luang, Jangankan untuk Buka Instagram Pulang Kerja Saja Sudah Larut Malam

Sudah punya kesibukan menyelesaikan skripsi atau bekerja, hampir seluruh waktu yang kita punya, dipakai untuk melakukan hal lain yang jadi tanggung jawab harian. Mulai dari harus bertemu dosen untuk bimbingan, menyelesaikan pekerjaan agar tak selalu pulang larut malam, hingga pada kegiatan lain yang selalu kamu lakukan di akhir pekan. Bahkan jika harus membagikan cerita kehidupan, sepertinya tak ada hal yang menarik untuk dibagikan. Untuk itu, kamu lebih menikmati semuanya secara nyata. Bukan untuk dibagikan pada kawan-kawan dunia maya.

Bahkan Kalaupun Ada Waktu Luang Kosong di Akhir Pekan, Tidur Siang Lebih Terasa Menyenangkan

Hayo, kamu pasti setuju kan? Kalau memanfaatkan waktu untuk tidur siang, jauh lebih menyenangkan dibanding stalking instagram sampai berjam-jam. Kamu semakin sadar jika ada hal-hal yang memang sebaiknya dikurangi, dengan sesuatu yang lebih berarti. Dan mengistirahatkan diri dengan tidur siang jadi sesuatu yang lebih penting.

Secara tidak langsung, kamu pun kian sadar jika menikmati setiap momen dalam hidup secara langsung. Lebih terasa menyenangkan daripada membagi fokus pikiran untuk membagikannya kepada orang-orang, wlaau hanya lewat fiturs stories di instagram.

Karena Pada Akhirnya Kamu Sadar, Kehidupan Nyata Jauh Lebih Dibutuhkan

Setiap kali ada masalah, sahabat dekat yang menjadi kawan di kehidupan nyata datang jadi penolong yang setia. Sedangkan mereka yang kau kenal di sosial media, barangkali hanya akan mengirimkan emoji ‘sedih’ yang tak berdampak apa-apa. Ya, semakin dewasa kamu makin sadar, bahwa 2 orang kawan yang berada di kehidupan yang nyata ternyata lebih berarti dari ribuan manusia yang menjadi temanmu di facebook.

Dan di Usia Sekarang, Media Sosial Bukan Lagi Jadi Sesuatu yang Harus Diprioritaskan

Lebih penting dari segala aktivitas di sosial media, ada ratusan hal penting lain yang perlu untuk dikerjakan dalam kehidupan. Mendalami hobi yang sempat tertunda, belajar hal-hal baru demi pekerjaan yang kita punya, dan kegiatan lain yang bisa menyokong kehidupan agar lebih baik ke depannya.

Kamu telah tumbuh menjadi manusia baru yang berbeda, yang sadar bahwa apapun yang terjadi di sosial media tak pernah bisa menggantikan kehidupan nyata yang kau punya. Kini, kamu kian sibuk membangun koneksi untuk hal baik demi kehidupan, sedangkan aktivitas media sosial dilakukan kalau sedang ingin saja. Tak lagi jadi sosok yang aktif untuk posting status, kini kamu hanya jadi pembaca status orang-orang yang lalu lalang di timeline.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Patung ‘Kelinci’ Jeff Koons Dilelang Rp 990 Miliar

Buah tangan dari Jeff Koons memang selalu berhasil menarik perhatian publik. Dan salah satunya, patung dari tahun 1986 yang baru-baru ini menarik perhatian adalah patung ‘kelinci’. Dan menariknya, patung tersebut akan dijadikan bahan lelang di Balai Lelang Christie’s New York dengan angka fantastis. Yakni sekitar Rp 707 miliar hingga Rp 990 miliar.

Diperkirakan, Karya Jeff Koons ini akan berpotens memecahkan rekor karya Koons sebelumnya di tahun 2013 dengan angka Rp 826 miliar. Angka tersebut untuk patung ‘Balloon Dog (Orange)’.

Alex Rotter mewakili Christie’s New York menagatakan jika, patung kelinci tersebut bakal mengguncang dunia seni.

“Bagi saya ‘kelinci’ adalah anti-Daud yang menandakan kematian patung tradisional. Serta menganggu media dengan cara yang sama dengan karya ‘Number 31’ ciptaan seniman Jackson Pollock dan kembali memikirkan apa itu gagasan melukis,” katanya.

Sebelumnya, patung tersebut dipamerkan untuk yang pertama kali pada tahun 1986. Selama tiga dekade belakangan, patungnya itu menjadi ikon seni kontemporer. Unutk jadwal pelelangannya sendiri, dijadwalkan pada 15 Mei di New York.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Respon Garin Nugroho Terhadap Petisi Tolak Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’

Sudah tayang sejak 18 April 2019 lalu, film “Kucumbu Tubuh Indahku” merupakan karya terbaru dari Garin Nugroho yang sebelum tayang secara reguler di Tanah Air. Film tersebut sudah dibawa melanggang buana ke beberapa festival film Internasional dan meraih banyak penghargaan.

Namun, rupanya “Kucumbu Tubuh Indahku” tak begitu bisa diterima di Indonesia. Terbukti dari munculnya petisi untuk menolak penayangan film tersebut di laman change.org. Rakhmi Mashita, sang pembuat petisi, menolak film “Kucumbu Tubuh Indahku” karena dianggap menyebarluaskan paham LGBT.

Sebuah film selain dibuat untuk menceritakan true story, seharusnya sebuah film bisa membawa efek positif bagi penontonnya, seperti menjadi inspirasi positif,kreatif,dan menambah wawasan yg bernilai positif jgJika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yg mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini.”  tulis Rakhmi di website change.org. Hingga ini dituliskan dari target 5 ribu orang, sudah 3 ribu lebih orang yang ikut menandatangi petisi tersebut.

Menanggapi hadirnya petisi tersebut, Garin Nugroho buka suara. Ia memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Petisi untuk tidak menonton film “Kucumbu Tubuh Indahku” lewat ajakan medsos, tanpa proses dan ruang dialog, bahkan tanpa menonton telah diviralkan di media sosial. Penghakiman massal lewat media sosial berkali terjadi pada karya seni dan pikiran atas keadilan. Gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme massal.

Bagi saya, anarkisme masa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja serta cipta yang penemuan warga bangsa, serta mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi.

Lewat keprihatinan ini, saya ingin menyatakan keprihatinan terbesar atas gejala menjamurnya penghakiman massal tanpa proses dialog dan penegakan hukum berkeadilan. Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apapun, baik senjata hingga anarkisme massal tanpa proses berkeadilan.” tutupnya.

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” sendiri menceritakan kisah penari Lengger bernama Juno. Film produksi Fourcolours Films ini diperankan oleh Muhammad Khan, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Randy Pangalila, dan sederet artis peran pendukung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top