Feature

Kawan, Tak Usah Dibawa Gusar Kalau Pasangan punya Banyak Penggemar

Punya pasangan yang berparas rupawan atau cantik menawan ya memang menyenangkan. Tapi, perlu disadari hal semacam ini pun jadi tantangan tersendiri lho karena faktanya, bukan kamu satu-satunya yang tertarik pada pasanganmu. Jalan sebentar, ada saja yang suka curi-curi perhatian bahkan memujinya terang-terangan. Hmm, dibalik perasaan yang bangga lantaran kamu satu-satunya yang mengambil hatinya, kira-kira pernahkah dihatimu tebersit kekhawatiran?

Begini, padahal kamu sejatinya tak perlu khawatir berlebihan. Alih-alih menunjukkan sikap yang berlebihan dan menyerah dengan keadaan, justru momen ini jadi peluangmu untuk menunjukkan sikap elegan ke pasangan dan orang lain yang mengidolakannya.

Jangan Pernah Minder Apalagai Merasa Tersaingi, Justru Kamu Harus Memperkuat Rasa Percaya Diri

Pasti ada waktu dimana saat tahu pasanganmu ada yang menyukai, rasa minder dan khawatir langsung menghampiri. Padahal, harusnya kamu jauh-jauh dari perasaan semacam ini. Sebab yang ada kamu justru merasa gagal jadi diri sendiri dan di lain waktu jadi bumerang untukmu.

Begini, tak perlu mencari-cari kelebihan orang lain dan pesimis dengan apa yang kamu miliki karena justru akan membuatmu kehilangan elektabilitas di mata kekasihmu. Justru bangkitkan percaya dirimu ya kawan, dan ingatlah selalu bahwa kamu punya kualitas tersendiri yang akan membuat pasanganmu akan selalu memilihmu sebagai tambatan hatinya.

Tak Usah Menyudutkan atau Menuduh Pasanganmu Berbuat Macam

Karena wajah pasanganmu sering dinilai rupawan oleh banyak orang, mungkin wajar kalau ada orang lain yang suka bahkan mengaku jadi fansnya. Kamu pun berhak cemburu. Namun, baiknya jangan berlebihan hingga ke tahap menginterogasi, menyudutkan hingga menuduh pasangan berbuat macam-macam.

Sikapmu yang meledak-ledak ini justru bakal dianggap kekanakan dan memicu pertengkaran. Pasanganmu yang tadinya nggak peduli dengan orang lain yang mengidolakannya malah bisa berbalik melawanmu jika kamu terus keras kepala, kawan.

Selagi Pasanganmu Tak Berbuat Apa-apa, Tak Usah Cemburu Buta ya Kawan

Percayalah, cemburu pada orang lain yang diam-diam menyukai pasanganmu hanya akan membuang waktu dan tenaga. Mulai takut dia direbut, takut pasanganmu kepincut, takut kalah pesona, dan segala ketakutan lainnya. Pada akhirnya, cemburu buta semacam ini jadi membuatmu lupa pada kualitas dirimu dan terjebak dengan performa orang lain yang dianggap lebih menarik dibanding apa yang kamu punya. Cemburu itu memang baik, tapi jangan sampai kamu menyemburui hal-hal yang belum tahu kebenarannya.

Jangan Berkecil Hati, Lebih Baik Utamakan untuk Selalu Berikan Perhatian ke Pasangan demi Menguatkan Hubungan

Saat pasanganmu berinteraksi dengan orang yang menyukainya, bisa jadi ia akan mendapatkan hal-hal menyenangkan dari pengagumnya. Jika saat ia bertemu denganmu dan yang kamu sajikan adalah semua gejolak rasa cemburumu, amarahmu, dan tangisanmu, coba bandingkan mana yang lebih berkesan?

Untuk itu, supaya ia tak tergoda dengan yang lain, maka beri perhatian dengan porsi yang lebih padanya. Kata kuncinya, ketertarikan tak akan menyenangkan kenyamanan, kawan.

Tanggapi dengan Santai, Toh pasanganmu sudah menautkan hatinya padamu…

Ya, memang tak mudah bersikap santai saat mendapati ada perhatian lain yang ditujukan pada pasanganmu. Tapi kamu tak perlu bersikap overprotektif bahkan posesif saat hal semacam ini terjadi. Tak perlu membatasi pergaulannya, cukup bersikaplah sewajarnya.

Dengan mengekang apalagi menerapkan sederet aturan pada pasangan justru akan membuatnya jengah. Sudah jadi konsekuensimu jika ada orang lain yang menaruh ketertarikan pada pasanganmu yang rupawan itu kan? Jadi, hadapi saja dengan santai.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Kembali, Namamu Sudah Lama Kuhapus dari Hati

Akhir-akhir ini sedang ada satu perseteruan antara masa lalu dengan sesuatu yang sedang kujalani. Berusaha merawat luka dan semua dari sisa cerita kita, sebenarnya aku baik-baik saja dan tak berharap akan ada kata kita lagi untuk kita berdua. Tapi ini hanya perkiraanku saja, karena sejatinya semua hal bisa terjadi begitu saja. Ya, serupa kamu yang tiba-tiba datang lagi meski tanpa diminta.

Hampir berhasil lepas dari semua rasa kecewa, memandangku kembali dihadapanku. Mengusik upaya penyembuhan yang selama ini aku upayakan. Membawa rasa sesal dan sebuah harapan, tawaran untuk kembali mengulang kisah bukanlah sesuatu yang aku harapkan. Sampaikan apa isi kepalamu atas tolakanku, tapi sebelum itu aku ingin kamu tahu bagaimana aku merawat lukaku dulu.

Pergi Tanpa Aba-aba, Aku Sempat Berpikir Bahwa Dirikulah yang Salah

Jangankan mereka yang tahu cerita kita. Aku yang jadi kekasihmu saja masih kerap bertanya-tanya. Mengapa kita mendadak bisa berpisah tanpa alasan jelas yang bisa dipercaya. Bukan tentang orang ketiga, bukan pula tentang pandangan yang kian berbeda. Bahwa meski kata seorang kawan, kamu sudah berkencan dengan orang baru, selepas perpisahan itu. Aku masih sering bertanya “Dimana letak salahku?”.

Berbulan-bulan aku merasa tertekan, serasa disudutkan oleh banyaknya pertanyaan. Hingga sampai pada satu titik, dimana aku merasa bahwa sepertinya memang akulah yang bersalah. Walau akhirnya, aku justru lega. Karena deklrasi hubungan yang kamu sampaikan justru jadi jawaban, bahkan hubungan itulah yang jadi sebabnya.

Hingga Ribuan Pertanyaan Memadati Isi Kepala

Akhirnya aku mengerti, ini adalah satu sesi proses dari kedewasaan yang harus dipilih. Larut dalam sedih dengan semua kesedihan yang ada saat ini, bukanlah sesuatu yang harus kujalani. Tetap duduk sembari meratap semua yang terjadi atau bediri untuk melanjutkan hidup lagi.

Hampir kalah dan menyerah, kau pasti tahu bahwa aku selalu menang dari semua ketakutan. Dan saat itu, dengan mantap aku berkata pada diri sendiri. Bahwa semua pertanyaan yang ada di dalam kepalaku, kelak akan menemukan jawabannya sendiri.

Pelan-pelan Aku Belajar, Bahwa Kepergianmu Justru Mendewasakan

Perjalananku untuk sampai pada titik yang sekarang, jelas bukanlah sesuatu yang mudah. Beberapa kali saat berusaha menatap hal-hal yang harus aku lakukan di masa depan. Rayuan untuk kembali ke belakang jadi godaan besar yang menakutkan. Sempat tak percaya pada kemampuan diri sendiri, jalan yang kupilih akhirnya menunjukkan perubahan besar.

Manusia yang kemarin kamu tinggalkan, kini berubah lebih tangguh dari masa lalunya yang kelam. Tak lagi sibuk untuk mempetanyakan keadilan atas putusnya hubungan, tapi sibuk mempebaiki segala kekurangan yang masih melekat di badan. Aku berubah, menjadi seseorang yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Kehilangan Adalah Luka, Tapi Bukan Berarti Aku Tak Lagi Percaya pada Cinta

Siapa yang tak sedih ditinggal pergi oleh kekasih. Merasa dilukai sampai dibohongi oleh dia yang dicintai, jelas tak enak. Menghilangkan nafsu makan dan memperlambat gairah hidup yang benar. Sempat tak percaya lagi pada cinta, kebaikan orang-oran yang menyembuhkanku dari luka. Justru mengajakku membuka mata.

Kini aku tahu, cinta tak hanya perkara dua orang laki-laki dan perempuan yang saling sayang. Tapi tentang bagaiamana seseorang diperlakukan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Cintamu memang pernah membuatku buta, tapi kasih sayang dari keluarga dan teman-teman ternyata lebih besar pengaruhnya.

Menata Hidup Agar Kembali Seperti Biasa,Ribuan Tanya yang Dulu Ada Kini Menemukan Jawabannya

Awalnya aku menjadi sosok yang ‘sebodo amat’, atas semua luka adalah bentuk lain dari kecewa yang tak menemukan jawab. Belajar untuk tak lagi menghiraukan pertanyaan atas alasan perpisahan, hingga pura-pura diam untuk semua masa lalu yang masih saja tergiang.

Tapi waktu menunjukkan kemampuannya. Membawaku pada jawaban-jawaban atas pertanyaan yang selama ini sering aku pikirkan. Beban berat atas segala bentuk kemungkinan dari perkiraan kini tersingkap dan bersanding dengan semua alasan. Menunjukkanku pada sesuatu hal yang memang tak bisa dipaksakan. “Segala sesuatu yang terjadi, pasti selalu datang dengan penghiburan besar”.

Sengaja Kuciptakan Jarak, Agar Rasa yang Dulu Tak Lagi Kembali Bergerak

Perkara hati memang tak bisa lupa dengan mudah, bahkan hingga kini aku masih sering berterimakasih atas segala hal baik yang dulu kau berikan. Walau belakangan aku suka kesal, kenapa dulu aku jadi pihak yang ditinggalkan. Padahal rasanya tak ada salah yang terlihat besar.

Tak bisa melarangku untuk duduk lagi disampingku, tapi aku selalu punya hak akan duduk dimanakah aku ketika kau memilih menghampiriku. Silahkan berlari sekuat yang kau mau, tapi jangan marah ketika aku pergi berlalu lebih cepat darimu.

Maka Jika Kini Kau Kembali Datang, Kupikir Rasa dan Sayang Telah Lama Hilang

Menuturkan semua kekeliruan di masa lalu, kau bungkus dalam ucapan maaf yang terlihat sendu. Memperlihatkan wajah sayu penuh harap atas pertemuan, mata dan garis bibirmu masih selalu jadi bagian tubuh yang berkesan. Tapi tidak dengan perasaan. Sebab, meski sudah membuatku hampir percaya bahwa kepergianmu di masa lalu hanyalah sebuah kekeliruan. Kupikir untuk kembali bersama, bukanlah sesuatu yang aku butuhkan sekarang.

Tak perlu susah payah berusaha, aku hanya ingin kau tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi begitu saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dia yang Membicarakan Orang Lain di Depanmu Adalah Orang yang Akan Membicarakanmu di Belakangmu

Pernah dengar saran, yang kira-kira intinya begini, “Jangan mau main sama orang yang suka ngomongin orang, karena kalau kamu nggak ikutan, kamulah yang akan jadi bahan omongan”.

Beruntung memang jika kita bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran. Tapi, kita juga tak bisa menghindari orang-orang yang suka merusak suasana. Berbicara tentang orang lain di hadapan kita, untuk kemudian menjadikan kita bahan cibiran ketika tak bersamanya.

Sekilas, urusan membicarakan orang memang terlihat menyenangkan. Dia mungkin merasa bahwa dirinya jauh lebih dari segalanya dibanding orang yang sedang ia bicarakan. Sehingga merasa berhak untuk bersikap sok benar. Sulit untuk dibuat sadar, mencoba memberinya pengertian sering tak berarti baginya. Lalu kita harus apa?

Bahagia Kita Akan Selalu Jadi Cibirannya

Begini, orang-orang yang suka bergosip ria, adalah tanda hidup yang tak bahagia. Sehingga orang yang dilihatnya tampak hidup tenang dan aman-aman saja. Seringkali dijadikan bahan obrolan murahan yang tak berdasar. Entah itu mengkritik kehidupan kita, pekerjaan, sampai ke hal pribadi yang lainnya.

Seolah-olah kita selalu ada di pihak yang salah, sedangkan ia adalah seseorang yang benar tanpa cela. Ini sudah jadi pola pikir yang ia pakai, jadi tak perlu kita jadikan beban. Semua hal tentang orang lain, akan selalu ia jadikan bahan kritikan.

Lagipula Waktu Kita Terlalu Berharga untuk Memikirkan Dia

Daripada memikirkan dia yang sibuk bikin cerita halu tak benar. Lebih baik kita berbahagia, dan menikmati hidup dengan cara yang kita bisa. Jalani hari dengan sesuatu yang bermakna, dan optimalkan waktu dengan mereka yang membuat kita bahagia juga. Kunci rapat semua sela untuk orang-orang beracun yang tahunya hanya ingin mencela.

Karena biar bagaimanapun kita tak bisa merubahnya. Tapi bagaimana cara kita menanggapinya adalah pilihan dan tanggung jawab kita. Waktu dan pikiranmu terlalu berharga hanya untuk memikirkan dirinya.

Bahkan Meski Tak Menyinggung Perasaannya, Ia Akan Tetap Berbicara Semaunya

Berhadapan dengan si mulut besar yang suka ngomongin orang, memang tak akan ada habisnya. Sekalipun yang kita perbuat tak bersinggungan dengan dirinya. Ada saja hal yang salah untuk dikritik dan dijadikan pembahasan.

Tak perlu susah payah membuatnya percaya pada kita, jangan pula merasa butuh membantunya untuk berubah. Karena manusia seperti itu, sudah kebal oleh berbagai macam petuah. Yang ia tahu, dirinya adalah satu-satunya orang yang paling benar.

Daripada Menjadi Beban untuk Diri Sendiri, Lebih Baik Kita Pergi

Yap, berhubungan atau berteman dengannya hanya akan jadi sesuatu yang sulit. Diam dipikir tak bisa melawan, tapi ketika dilawan ia pasti akan bersikap lebih garang. Maka, balasan terbaik adalah menjaga jarak dari dirinya.

Tak perlu merasa tak enak hati, sekalipun ia adalah teman yang konon sudah dekat. Kita berhak untuk memilah-milah, kepada siapa saja kita akan berteman. Kalau dirinya memang terlihat menyusahkan, sebaiknya tinggalkan.

Dan Kalau Masih Tetap Menjadikan Kita Bahan Gosip, Sebaiknya…

Untuk kemungkinan lain, jika memang kamu sudah kehabisan kesabaran atas semua tingkah dan cerita-cerita tak sedap yang ia ciptakan. Silahkan buat keputusan besar yang sekiranya wajar untuk dilakukan. Menegurnya ketika bersikap tak baik secara langsung, hingga memintanya berhenti menjadikan kita bahan obrolan murahan yang tak benar.

Namun, jika ternyata apa yang kita sampaikan masih tak berarti apa-apa untuknya. Itu artinya dirinya memang adalah seorang pengarang cerita bohong yang handal. Sudah, tak perlu dekat-dekat dengan dia!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top