Feature

Kawan, Bersahabat Denganmu Jauh Lebih Manis Ketimbang Mengajakmu Berbisnis. Biar Ku Jelaskan Alasannya

Punya sahabat sepertimu sungguh harta yang tak ternilai. Kehadiranmu sekian lama telah memberikan warna indah serta pengalaman baru untukku. Seperti keluarga, mungkin itulah gambaran yang tepat untuk sosok sahabat baik sepertimu.

Disamping berbagi suka duka, kita seringkali berbagi angan dan harapan. Tak terkecuali angan untuk membuka bisnis bersama bukan? Hingga kadang terlintas di benak, “sepertinya mengasyikan membangun mimpi bersama lewat bisnis dengan sahabatku,”. Membayangkan hal itu, kamu pun tak sabar untuk lekas berbisnis bersama sahabatmu.

Sebentar, jika kamu berpikir demikian, sebaiknya kamu pertimbangkan kembali rencanamu. Aku memilihmu untuk menjadi sahabat terbaikku, bukan semata-mata kolega bisnis. Baiklah, sebelum kamu salah paham, izinkan aku menjelaskan alasanku enggan berbisnis bersamamu.

Meski Sudah Bersahabat Sekian Lamanya, Hal itu Tak Cukup Mempan untuk Menjamin Bisnis Kita Nantinya Berjalan Lancar

Membuka usaha nyatanya tak cukup bermodalkan uang dan jalinan pertemanan yang erat. Melainkan dukungan tenaga ahli yang dapat menuai progress pada bisnis kita setiap harinya. Sementara apabila membangun bisnis bersama sahabat dekat, alih-alih mencari tenaga ahli, kita hanya mengedepankan kebersamaan sebagai modal utamanya.

Padahal dunia usaha jelas butuh inovasi dan kreativitas. Situasi bisnis yang penuh kejutan dan kompetisi yang ketat tentu jadi konsekuensinya. Kalau pada akhirnya kita menjalankan bisnis hanya karena rasa tidak enak satu dengan yang lain, bukankah hanya mengganggu stabilitas bisnis itu sendiri? Bahkan orang-orang dengan filosopi dan nilai serupa belum tentu memiliki pendekatan yang sama dalam memutar roda bisnisnya. Aku hanya tak ingin menciptakan konflik denganmu Kawan!

Aku Takut Usaha Kita Hanya Didasari Konsep Let It Flow. Semua Berjalan Mengalir Begitu Saja Tanpa Memikirkan Rencana Kedua

Saat memutuskan untuk merintis bisnis bersamamu, bukan berarti semuanya akan berjalan lancar. Hanya saja, aku takut justru komunikasi mengenai bisnis diantara kita justru jarang terjalin. Mungkin saja, karena sudah saling menganggap telah tahu gagasan masing-masing, kita jadi membuat bisnis itu berjalan begitu saja tanpa berdiskusi banyak hal. Alhasil, seringkali tak ada plan B saat berbisnis.

Bukannya Aku Takut dengan Konflik, Tapi Bukankah Lebih Damai Jika Persahabatan Kita Tetap Seperti yang Telah Kita Lalui Selama Ini?

Sudahkah kamu memikirkan jika sikap emosional dapat mengganggu jalannya bisnis? Kita yang mungkin jarang berkonflik, biarkanlah begini adanya. Aku hanya tak siap jika harus berselisih paham dengan sahabatku hanya karena bisnis. Apalagi jika hal itu hingga membuat aku kehilangan kamu.

Aku Tak Mau Merusak Persahabatan Hanya Karena Bisnis Kita yang Sedang Diuji

Setengah dari bisnis kecil biasanya akan mengalami kegagalan dalam 2 tahun pertamanya. Hal itu sangat mungkin terjadi jika kita berniat membuka bisnis bersama, Kawan. Hanya saja, aku tak mau gagalnya bisnis dapat merusak persahabatan yang telah kita jalin dalam waktu lama.

Bahkan Sekalipun Kita Berada Di Titik Tertinggi Bisnis yang Kita Rintis, Justru Disitulah Ujian Persahabatan Kembali Kita Rasakan

Kamu perlu tahu, sejumlah pengusaha ternama mengklaim, salah satu bahaya berbisnis dengan teman adalah saat hubungan persahabatan bisa terganggu bahkan saat usaha berjalan lancar. Selisih paham biasanya terjadi karena persoalan pembagian keuntungan. Lebih buruknya, ada juga teman yang tiba-tiba menjatuhkan nama sahabatnya sendiri demi meraup untung besar.

Dibanding harus kehilangan sahabat sepertimu hanya karena intrik bisnis, lebih baik aku dan kamu jalani hidup kita apa adanya seperti sekarang ini. Marilah saling mendorong untuk tetap bersyukur dengan apa yang kita punya. Kamu punya mimpi, begitu pun aku.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Punya Catatan Perencanaan Keuangan Membuatmu Masuk Golongan Orang Boros Lho, Kawan

Salah satu hal yang paling sulit terutama dalam mengelola keuangan pribadi yaitu membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Sebab seringkali keinginan justru seperti kebutuhan, begitupun sebaliknya. Nah, kalau kamu termasuk golongan yang justru lebih sering mewujudkan keinginan dibanding mengutamakan kebutuhan, maka hati-hati, berarti gaya hidupmu selama ini termasuk golongan orang boros lho, Kawan.

Pertama, Kamu Merasa Gajimu Selalu Habis tapi Tak Jelas Pengeluarannya untuk Apa Saja

Menurut perencana keuangan independen Pandji Harsanto, seperti dikutip dari beritagar.id, batas pengeluaran demi cicilan adalah sebesar 30 persen. Sementara untuk pengeluaran rutin adalah berkisar 30-40 persen dari penghasilan. Tapi kalau tiap bulan kamu justru kebingungan kemana perginya gajimu, secara tak langsung sebenarnya kamu punya gaya hidup yang boros. Karenanya, sebelum membawa dampak yang lebih buruk pada finansialmu di masa mendatang, segeralah buat perencanaan belanja yang jelas yaitu dengan mencatat tiap pengeluaran dan mengevaluasi setiap bulannya.

Sering Sekali Pakai Kartu Kredit buat Transaksi Sehari-hari

Kartu kredit bukan uang tambahan ya, Kawan. Fungsinya justru sebagai alat penunda pembayaran. Makin sering kamu memakai kartu kredit, maka hutangmu pun semakin bertambah. Nah, kebiasaan ini mungkin tampak sepele, tapi hati-hati, kalau kamu tak piawai mengatur keuangan, justru bisa mengganggu kesehatan keuanganmu. Karenanya supaya hutang tak menumpuk, gunakanlah kartu kredit dengan bijak. Atau cukup pakai kartu debet saja, Kawan.

Kamu Belum Bisa Melepaskan Kebiasaan untuk Beli Dua Barang yang Sama

Kadang, ketika menyukai suatu barang, ada orang yang rela membelinya hingga dua barang. Padahal, ini juga bentuk pemborosan. Setengah uang yang keluar bisa kamu gunakan untuk menabung. Atasi kebiasaan ini dengan tabungan rencana. Jadi, uang otomatis kamu tabung sehingga kamu tak bisa menggunakannya untuk belanja hal yang tidak dibutuhkan.

Kamu pun Tak Punya Rencana Pengeluaran Bulanan yang Jelas Saat Gajian Tiba

Bila kamu tak terbiasa membuat rencana belanja, maka hati-hatilah dengan pengeluaran yang sebenarnya tak perlu, tapi kamu asal main belanja. Demi mengatasi agar hal ini tak sering terjadi, biasakan jatah diri sendiri dengan sistem amplop. Yup! Anggarkan pengeluaranmu sesuai dengan kebutuhan secara rinci yuk, Kawan! 

Punya Mimpi Bepergian, namun Kamu Tak Punya Tabungan

Ini sering terjadi pada milenials. Mimpi ingin bepergian kesana kemari, membuat daftar tempat yang hendak dikunjungi, hanya saja tak punya uang tabungan yang memang dialokasikan untuk liburan. Pantas saja, banyak yang merasa gajinya tak cukup untuk sebulan. Padahal, kembali lagi ke paradigma yang kamu tanamkan yaitu biasakan untuk menyisihkan uang untuk menabung tiap bulannya. Anggaran sisanya, usahakan mengikuti sisa uang yang ada.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Penolakan Bukan Akhir dari Segalanya, Tergantung Bagaimana Caramu Menanggapinya

“Pengalamanmu bagus, hanya saja…”

Pernah mendapatkan reaksi yang demikian? Mungkin saat kamu sudah melakukan serangkaian persiapan untuk mengikuti tes, bahkan sukses dalam beberapa seleksi, tapi pada akhirnya langkahmu harus terhenti di seleksi terakhir. Mereka menolak untuk memberimu kesempatan lagi. Yap, kamu dinyatakan gagal!

Terdengar mengecewakan memang. Dan tidak hanya satu orang yang pernah merasakan hal semacam ini. Bahkan yang namanya penolakan pun terjadi bukan hanya dalam lingkup pekerjaan, tapi juga dalam urusan bisnis, asmara, bahkan pertemanan. Ada lho orang yang mungkin harus bergulat dengan hal-hal seperti itu setiap waktunya. Dampaknya? Tentunya orang tersebut stress bukan main.

Merasa ditolak bukanlah hal yang menyenangkan, yang ada justru sangat mengganggu ketenangan batinmu. Kamu jadi bergumul dan mempertanyakan kenapa nasibmu sampai semalang itu. Untuk itu, setidaknya belajarlah berdamai dengan penolakan yang kamu terima. Memang sukar, tapi bukan berarti tak mungkin, kan?

Sudahkah Kamu Punya Definisi Tersendiri Mengenai Penolakan

Coba sebentar saja, pikirkan kembali kapan terakhir kali kamu mendapatkan penolakan atau merasa ditolak. Saat itu, bagaimana kamu meresponinya? Yang paling lazim terjadi mungkin sedih atau frustasi. Kamu jadi terlalu jauh memikirkan kekuranganmu dan ragu pada kemampuan diri sendiri. Ini yang perlu diperbaiki. Penolakan atau kegagalan tak selalu disikapi dengan cara yang seperti itu. Justru benar kata orang, belajarlah dari kegagalan. Saat gagal, cobalah untuk tetap berpikir positif, dengan begitu sebenarnya kamu juga sedang berperang melawan sisi buruk dirimu sendiri.

Penolakan Bisa Saja Terjadi Karena Kamu dan Orang Itu Mungkin Punya Cara Pandang yang Berbeda Terhadap Sesuatu

Memaknai sebuah penolakan itu harus dari dua sisi. Jangan terus-terusan berpikir kalau dirimu yang lemah atau semacamnya. Tapi pahamilah situasinya secara menyeluruh. Kalau konteksnya kamu sedang melamar pekerjaan, mungkin kamu dan orang itu punya visi yang berbeda, jadi mereka enggan untuk merekrutmu. Atau kalau soal asmara, kamu dan dia mungkin memang sama-sama jatuh cinta, tapi ada hal-hal seperti karakter yang bertolak belakang sehingga kamu dan dia jadi sulit menyatu.

Penolakan pun Bisa Juga Terjadi Karena Pihak Lain Kurang Mengenal Dirimu dengan Baik

Butuh waktu untuk mengenal seseorang lebih jauh lagi. Termasuk dalam hal mengenal dirimu. Tapi dalam sebuah wawancara, kamu hanya punya waktu yang terbatas dan tak banyak yang bisa digali berdasarkan pengalaman wawancara tersebut. Mungkin mereka hanya akan tahu tentang dirimu secara permukaan saja. Kalau saat momen tersebut kamu sedang dalam kondisi yang tidak fit atau bahkan nerveous, akhirnya, mereka jadi menilaimu tak sesuai ekspetasi kan? Tapi jangan juga menyalahkan keadaan. Berusahalah bijak dalam menyikapi sesuatu.

Penolakan Melibatkan Dua Pihak, Bukan Hanya Kamu Tapi Juga Dia yang Menolakmu

Sesi wawancara dalam melamar kerja sejatinya tak seperti ujian. Kalau kamu dinyatakan gagal, bukan berarti kamu tidak memenuhi kualifikasi. Bisa saja justru sebaliknya, kemampuanmu diatas yang lain sehingga perusahaan mungkin minder untuk merekrutmu. Kamu perlu tahu, perusahaan biasanya suka memilih karyawan dengan kapasitas yang biasa-biasa saja supaya bisa berkembang.

Sementara kamu adalah tipikal orang yang sudah bisa mengembangkan potensi dalam dirimu sejak lama, bukan? Untuk itu, ada kekhawatiran tertentu yang mungkin dipertimbangkan oleh perusahaan. Sekali lagi, ingatlah, penolakan bukan hanya tentang dirimu, tapi juga soal mereka yang memutuskan untuk tidak melibatkanmu.

Belajar dari Sebuah Penolakan, Pasti Ada Sisi Positif yang Bisa Kamu Petik Kok!

Orang-orang yang mengalami penolakan bukan berarti tak memenuhi standar ya. Saat menghadapi penolakan, sejatinya kamu sedang belajar tak hanya jadi orang yang lebih bijak lagi dalma menyikapi sesuatu, tapi juga melatih diri untuk selalu berpikiran positif terhadap apapun yang terjadi dalam hidupmu. Sekali lagi, penolakan bukanlah akhir dari segalany, bahkan bisa jadi awal dari sesuatu besar yang akan terjadi di hidupmu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Jurusan Kuliah yang Sebenarnya Banyak Dibutuhkan, Namun Belum Ada di Indonesia

Saat ini, duni kerja sudah semakin berkembang. Ada banyak profesi yang tersedia. Hal ini pun juga menjadi penyebab bertambahnya jumlah jurusan perkuliahan di semua universitas. Sayangnya, meski beberapa pekerjaan ini banyak membutuhkan pekerja, jurusannya belum tersedia di Indonesia.

1. Bisnis Online

Dunia bisnis digital kini juga berkembang cukup pesat. Rata-rata pelaku bisnis ini belajar sendiri tapa menempuh jalur akademis. Namun sebenarnya, untuk ke depannya sudah pasti pengalaman saja tak cukup untuk menganalisis jenis bisnis ini. Itulah kenapa kajian ilmiah tetap diperlukan dengan menempus jalur akademis.

2. Penulisan Kreatif

Saat ini hampir semua perusahaan memiliki situs untuk produk yang dimilikinya. Hal inilah yang membuat banyaknya kebutuhan konten melalui penulisan kreatif mengingat perkembangan digital yang cukup berpengaruh saat ini.

3. Komunikasi Digital atau Media Sosial

Di era saat ini tentu kamu pun sudah merasakan betapa besarnya pengaruh media sosial atau komunikasi dalam kehidupan. Bahkan permasalahan yang muncul dalam mesia sosial semakin sulit diatasi karena terlalu kompleks. Sebenarnya profesi yang menekuni dunia media sosial sudah banyak bermunculan. Namun sayangnya tak ada jurusan kuliah yang fokus pada bidang ilmu tersebut.

4. Resolusi Konflik SARA

Sebenarnya sejak dulu konflik SARA sudah rawan terjadi. Namun akhir-akhir ini permasalahan ini seringkali menjadi pembicaraan utama banyak orang. Tentu saja keberagaman masyarakat Indonesia menjadi hal yang menyebabkan persinggungan di dalamnya menjadi lebih mudah terjadi. Untuk menangani permasalahan ini tentu butuh seorang pakar yang bisa mengkajinya.

5. Perkembangan Remaja

Saat ini perkembangan remaja adalah sebuah hal penting ntuk dipelajari. Mengingat remaja di masa transisi memiliki risiko yang cukup tinggi untuk tersangkut masalah kenakalan remaja di Indonesia. Tak hanya dengan penalaran umum, pengkajian secara ilmiah juga perlu dilakukan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top