Feature

Karena Situasi Darurat Datangnya Tak Terduga, Itulah Mengapa Pengetahuan Soal CPR Sangat Berguna

Situasi darurat sering datang tanpa diduga-duga. Bisa saja saat kamu berjalan, tiba-tiba di sampingmu ada orang yang jatuh tak sadarkan diri. Kamu pun merespon dengan memanggil nama, tapi yang kamu temukan malahan sepertinya orang yang pingsan itu terlihat tak bernapas. Jika situasinya demikian, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?

Kebanyakan orang cenderung panik, tapi ada juga yang diam saja dan akhirnya hanya menonton tanpa berbuat apa-apa. Ada juga yang memilih memanggil orang lain dibanding refleks mengecek kondisi korban. Padahal, pemberian pertolongan pertama sangat dianjurkan dalam situasi tak terduga semacam itu.

Terlebih kamu yang berada di lokasi dan melihat kejadian secara langsung, saat itulah sejatinya kamu yang dianggap tepat untuk memberikan pertolongan pertama sebelum tim medis datang. Hanya saja, masih banyak yang awam dalam memberikan pertolongan pertama. Jika korban saat itu terlihat tak mengeluarkan napas, melakukan CPR sangat dianjurkan. Nah kamu sendiri pernah mendengar apa itu CPR?

Belum lama ini, menyambut Hari Jantung Sedunia, Philips Indonesia pun menghelat forum diskusi dan pelatihan CPR yang bertema “Semua Orang Bisa Bantu Selamatkan Nyawa”. Lewat acara tersebut, sejumlah awak media dan blogger diajak untuk menyadari betapa pentingnya peran CPR dalam meningkatkan harapan hidup seseorang yang terjebak situasi darurat.

Di Indonesia, CPR Masih Terdengar Asing Untuk Masyarakat Awam, Karena Itu Kamu Perlu Tahu Agar Menambah Wawasanmu Mengenai Pertolongan Pertama

Cardio Pulmonary Resucitation (CPR) atau dalam bahasa Indonesia biasanya disebut Resusitasi Jantung Paru adalah bentuk pertolongan pertama yang sejatinya bisa dilakukan semua orang demi menyelamatkan nyawa seseorang.

CPR sendiri merupakan teknik penyelamatan hidup yang berguna untuk banyak keadaan darurat termasuk serangan jantung dan situasi dimana seseorang hampir tenggelam. Untukmu yang masih awam, jika ada pelatihan khusus CPR, sangat dianjurkan agar kamu ikut kegiatan tersebut. Bukankah memiliki pengetahuan jauh lebih bermanfaat daripada tidak melakukan tindakan apa pun?

CPR Tidak Bisa Sembarangan Dilakukan, Hanya Mereka yang Sudah Terlatih dan Bersertifikat yang Mendapat Perlindungan Hukum Saat Melakukan CPR

Nyatanya mempraktikkan CPR memang dianjurkan untuk mereka yang sudah terlatih dan bersertifikat. Mengapa demikian, hal ini lantaran jika dilakukan oleh orang yang belum terlatih justru akan meningkatkan risiko cedera pada korban dan memperparah keadaan korban. Hal ini disampaikan langsung oleh Vani Purbayu, seorang tenaga ahli dari kelompok medis Medic One Indonesia. “Kalau seseorang sudah mengikuti pelatihan dan mendapat sertifikasi maka ia dapat melakukan CPR dengan teknik yang benar serta mendapat perlindungan hukum yang kuat,” katanya.

Meski demikian, jika dalam situasi darurat tersebut tak ada orang yang bersertifikasi CPR, bukan berarti masyarakat umum tidak boleh menolong, kalau ada salah satu yang pernah belajar CPR dan mengerti tekniknya, mereka tetap boleh melakukan CPR tapi perlindungan hukumnya tidak ada. Nah untukmu yang masih awam, mungkin kamu perlu membaca tahapan-tahapan umum yang perlu dilakukan saat hendak memberikan bantuan CPR.

Saat Kamu Hendak Menolong Seseorang, Terpenting Adalah Mengecek Keadaan Sekitar

Mengecek keadaan sekitar korban itu penting dan vital. Hal ini mengantisipasi adanya sesuatu yang mengancam keselamatan penolong, korban, dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Karenanya, jika kamu menemukan ada korban yang tiba-tiba tergeletak, pastikan dulu kondisi di sekitarnya aman atau tidak. Karena kalau kamu memaksa ingin menolong korban tanpa memastikan situasi aman, dikhawatirkan justru kamu ikut jadi korban.

Coba Untuk Bangunkan Korban dan Mengecek Hembusan Nabas Adalah Langkah Selanjutnya

Orang jatuh tergeletak tak melulu ia langsung pingsan. Bisa saja kondisinya melemah tapi dia masih kondisi setengah sadar. Itulah mengapa penting sekali kamu sebisa mungkin mencari responnya dengan memanggil, menepuk pundak, atau mencubit lengan.

Satu hal yang penting yaitu jika korban masih bisa merespon panggilanmu, maka CPR tidak perlu dilakukan. Karena sudah jelas, dia masih bisa bernapas. Namun jika dia tidak merespon tapi masih bernapas, maka hal yang perlu dilakukan adalah memberi CPR.

CPR Tak Berarti Asal Menekan Dada Korban, Cek Napas Adalah Fase Dasar yang Wajib Dilakukan  

Pentingnya mengecek kondisi korban bisa dilihat dengan mengecek hembusan napasnya. Penolong harus melakukan dengan menghitung selama 10 detik dengan jeda waktu yang tepat. Jika kamu yang bertindak sebagai penolong, usahakan untuk tidak panik. Karena biasanya orang panik akan membuat hitungan yang meleset.

Sebelum Melakukan CPR, Sebaiknya Kamu Meminta Pertolongan Pada Orang-orang Di Sekitarmu Untuk Menelpon Tim Medis

 Jika korban tak bernapas dan kamu mengerti soal CPR, jangan terburu-buru melakukan CPR. Tapi sebaiknya adalah meminta bantuan orang lain untuk menelpon ambulans dan mencarikan alat AED (Automated External Defibrillator) jika ada.

Untukmu yang Merasa Telah Tersertifikasi, Maka Tak Perlu Ragu untuk Melakukan CPR Saat Situasi Darurat

Sambil menunggu petugas medis dan alat AED datang, maka bagi kamu yang sudah bersertifikat telah mengikut pelatihan CPR bisa langusung mempraktikkan CPR kepada korban. Pertama, kamu harus membuka baju korban terlebih dahulu. Hal ini agar memudahkan penolong untuk melakukan kompresi dada. Kompresi tersebut dilakukan di bagian tengah dada. Caranya:

  1. Gunakan empat jari (dua jari kanan dan dua jari kiri; telunjuk dan jari tengah) untuk menentukan posisi tulang lunak yang ada di bagian tengah dada. Pengukuran dimulai dari bagian bawah leher hingga ke bagian tengah dada yang selanjutnya letak perlakuan kompresi bisa langsung ditemukan.
  2. Kemudian lakukan kompresi sebanyak 30 tekanan dengan total 5 siklus (150 tekanan) dengan diselingi dua kali nafas buatan per siklus. Saat memberikan nafas buatan, dagu korban harus dinaikkan agar membuka jalur saluran nafas.
  3.  Penolong tak boleh lalai untuk rutin mengecek dada korban saat sedang memberikan nafas buatan untuk mengetahui apakah korban sudah bernafas atau belum. Bahkan ketika bantuan AED datang, penolong harus tetap melakukan CPR tanpa berhenti meskipun ada orang lain yang memasangkan alat AED ke tubuh korban. Alat AED harus terpasang dengan tepat agar aliran listrik yang disalurkan oleh alat ini bisa sampai langsung ke jantung korban.
  4. Sesudah pads AED terpasang, maka jauhkan kontak fisik antara korban dan penolong karena AED akan melakukan analisa irama jantung. Dengarkan baik-baik setiap AED memberikan instruksi.
  5. Pertolongan dengan alat AED bisa dilakukan oleh dua orang. Satu orang bertugas untuk melakukan kompresi dan sisanya bertugas untuk memberikan bantuan pernafasan. Ikuti setiap instruksi dari AED sambil menunggu petugas medis datang.
  6. Selanjutnya, ketika korban sudah sadar sebelum petugas medis datang, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan membalikkan tubuh korban ke arah kanan penolong dengan mengunci kaki bagian kanan dan tangan bagian kanan. Lalu, tanyakan pada korban mengenai identitas, kondisi korban dan jelaskan tindakan awal apa saja yang telah dilakukan sebelum tim medis tiba.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sering Mengigau Saat Tidur, Bahaya Nggak Sih?

Disadari atau tidak, ada beberapa orang yang memang kerap mengingau setiap tidur. Fenomena ini memang adalah sesuatu yang lumrah terjadi saat kita sedang tidur. Hasil sebuah riset di Norwegia, pada 2010, hampir 66% dari populasi manusia berbicara dalam tidur mereka dalam berbagai bentuk, yang lain menyampaikan monolog yang menawan atau bahkan melakukan percakapan yang kompleks.

Meski begitu, dari beberapa penjelasan para ahli, kebiasaan ini bukanlah termaksud masalah kesehatan yang berarti. Akan tetapi, jika hal tersebut terjadi secara terus menerus sudah tentu kamu perlu ke dokter. Selain itu, inilah yang perlu kita ketahui dari kebiasaan mengingau yang sering terjadi. 

Sebenarnya Belum Banyak Penelitian tentang Bicara Saat Sedang Tidur

 

Sebelumnya fenomena ini dikenal sebagai parasomnia (sejenis gangguan tidur) dalam Klasifikasi Internasional tentang gangguan tidur. Akan tetapi, dari temuan terbaru gejala ini direklasifikasi dari gangguan menjadi hanya kejadian normal yang dapat terjadi selama tidur. 

Nah, menurut Rafael Pelayo, spesialis tidur dengan Sleep Medicine Center di Stanford Health. karena hal tersebut bukan gangguan yang dianggap serius, jadi tak ada permintaan untuk penelitian tentang tidur. Dengan kata lain berbicara saat sedang tidur merupakan perilaku yang sebagian besar tidak dipelajari dan tidak dipahami dengan baik. 

Lagipula, Apa yang Kita Ucapkan Saat Ngigau Sebagian Besar Adalah omong Kosong

Dari hasil klasifikasi temuan yang sama, kalimat atau kata-kata yang kita ucapkan selama mengigau bukan termaksud cerminan perilaku atau kenangan pada situasi sebelumnya. Jadi semua pertengkaran dengan pasangan atau drama pekerjaan yang baru saja kamu alami, kemungkinan besar tak akan kamu bicarakan selama tidur. 

Ini penting dipahami, karena mereka yang sering ngigau memang kadang mengatakan hal-hal yang sulit dipahami sepanjang liar. Bahkan beberapa katanya tergolong liar. Selain membuat orang yang mendengar menjadi kelabakan menebak maksud, kadang kala kita juga bertanya-tanya. 

Intinya, tidak ada arti nyata dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang yang sedang ngigau saat tidur. 

Dan Tak Ada Rentang Usia Tertentu, Semua Orang Bisa Mengalami Gejala Ini 

Beberapa orang berpikir, berbicara saat sedang tertidur hanya akan dialami oleh mereka yang sudah dewasa dan lansia. Padahal hal tersebut tak selalu benar. Masih dari kata Pelayo, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika kamu sudah berbicara saat tidur sejak kecil. Karena faktanya, berbicara saat tidur cenderung sangat umum terjadi pada anak-anak dan remaja – sekitar 50%, bahkan anak-anak antara usia 3 dan 10 mengoceh dalam tidur mereka.

“Jika Anda tidur sambil berbicara saat masih muda, jangan anggap penting,” kata Pelayo. Tidak perlu takut atau bergegas ke dokter.

Untuk orang dewasa, biasanya akan mulai menyadari jika ia sering mengingau saat tidur ketika memasuki usia 20 hingga 30-an. Dimana mereka sudah mulai berbagi kamar atau tempat tidur dengan orang lain. Sehingga orang lain atau pasangan yang tidur bersama merekalah yang kemudian tahu, jika mereka adalah seorang talk sleep.

Namun jika banyak bicara saat tidur terjadi pada mereka yang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, hal tersebut bisa dikatakan sebagai penanda penyakit, seperti seperti penyakit Parkinson atau demensia.

Sialnya, Fenomena Ini Biasanya Sering Bercampur dengan Masalah Tidur Lainnya 

Bicara saat sedang tidur memang jelas berbeda dengan beberapa gangguan tidur yang lain. Mengigau hanyalah menceracau dengan kalimat-kalimat yang biasanya tak bermakna. Tak ada artinya dan tak jelas ke mana arahnya. Namun, jika bicaramu sudah lebih dari sekedar obrolan biasa, bisa jadi kamu sedang mengalami kondisi lain yang terkait dengan sleep apnea

Selain itu, James Rowley, kepala divisi pengobatan paru-paru, perawatan kritis dan tidur dengan Detroit Medical Center, berbicara melalui tidur juga dapat disebabkan oleh stres, kecemasan, dan depresi. Jika hal tersebut sudah terjadi berulang kali, cobalah bicarakan pada dokter ahli spesial tidur, karena sepertinya anda butuh perawatan. 

Demi Mengatasinya, Cobalah Lakukan Kebiasaan Baik dengan Tidur Terjadwal dan Dalam Waktu yang Cukup 

Kalau harus dilihat dari keseluruhan kebiasaan ini, momen mengigau kerap terjadi akibat kita terlalu lelah. Atau masih memikirkan sesuatu sesaat sebelum tidur. Untuk menguranginya, cobalah untuk tidur dengan terjadwal. Selain itu penuhilah kebutuhan tidurmu, jangan terlalu singkat atau terlalu lama. Hindari juga makan makanan yang mengganggu kualitas tidurmu, seperti makan makanan berat atau minuman beralkohol.

Walau tak disebut sebagai gejala yang berarti, kita perlu untuk tetap menjaga diri. Jangan terlalu dianggap sepele, apalagi jika  itu sudah menganggu tidurmu dan pasanganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Tak Perlu Ikut-ikutan, Penderita Gejala Ini Dilarang Plester Mulut Saat Tidur

Penyanyi Andien baru-baru ini memperkenalakan kebiasaan tidur dengan mulut diplester yang sudah beberapa bulan belakangan dilakukannya. Dibagikan pada fitur Instastory, Andien mengaku jka ada banyak manfaat yang sudah dirasakan oleh ia dan suami serta anaknya Kawa, sejak melakukan kebiasaan ini. 

Mengutip dari laman CNN Indonesia, Profesor Faisal Yunus, pengajar bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respiratori FKUI mengatakan bernapas memang harus melalui hidung, bukan napas mulut.

“Diusahakan membiasakan bernapas lewat hidung. Kalau dengan hidung, udara akan disaring, diproteksi dari bahan berbahaya,” kata Faisal melalui sambungan telepon, Kamis (11/7). 

Memang sih, praktik plester mulut saat tidur baik untuk dipraktikkan tetapi dengan catatan khusus. Sebagaimana saran dari Faisal, hal ini sebaiknya tidak dilakukan oleh mereka yang sulit bernapas karena penyakit tertentu, yakni Influenza, Polip hidung, Sinusitis, Rinitis alergi, Deviasi septum nasal.

Dimana jenis gejala atau kondisi kesehatan tersebut adalah sesuatu yang berhubungan dengan gangguan pernafasan. Maka, jika sedang mengalami kondisi tersebut, sebaiknya urungkan niatmu untuk ikut-ikutan seperti Andien yang memplester mulutnya setiap malam. 

“[Plester mulut] boleh saja, tapi yang belum terbiasa mungkin agak kesulitan. Kecuali orang yang agak susah bernapas lewat hidung sebaiknya enggak dulu,” katanya.  

Lebih lanjut, Faisal mengatakan jika cara atau kebiasaan ini terbilang cukup ekstrem untuk melatih pernapasan hidung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Memeluk adalah Cara Terbaik untuk Menenangkan Hati Seseorang

Memberi sebuah pelukan pada seseorang adalah salah satu hal mudah yang memiliki manfaat segudang. Jadi sebuah bentuk terapi, dia yang menerima pelukan akan lebih merasa nyaman, merasa diperhatikan, dicintai, dan berbagai macam energi positif lain yang sulit untuk digambarkan. 

Tak hanya sebatas gerakan, dekapan yang kita terima atau berikan, mengandung sebuah makna yang dalam. Dan dilansir dari mindbodygreen.com berikut ini adalah hal-hal baik yang bisa kita terima dan salurkan dari sebuah pelukan ke seseorang. 

Menyeimbangkan Sistem Saraf Karena Memberikan Rasa Aman

Hanya memberikan seseorang pelukan, kamu sudah membantunya menyeimbangkan sistem saraf mereka. Sensor tekanan berbentuk telur kecil yang ada di sel darah pada kulit saling terhubungan hingga memberikan sinyal baik kepada otak kita. Itulah mengapa seseorang akan merasa lebih aman jika sedang berada dalam pelukan. 

Hal ini dikarenakan sentuhan yang terjadi atas kulit si pemeluk dengan yang dipeluk. Tak hanya boleh dilakukan pada pasangan saja, pelukan bisa kamu berikan kepada siapa saja yang mungkin sedang membutuhkan rasa aman. Baik itu orangtua, anak, saudara, atau sahabat kita. Ini akan mendorongnya lebih terbuka untuk bercerita, karena merasa sedang berada dalam situasi yang aman. 

Lebih Percaya Diri Karena Merasa Kian Bahagia

Tumbuh besar dalam lingkungan yang menjadikan pelukan sebagai sebuah kebiasaan, adalah sesuatu yang menyenangkan. Ini menujukkan rasa cinta mereka, sikap menghargai, dan selalu menganggap kita spesial. Hal inilah yang kemudian melahirkan rasa percaya diri, merasa dihargai dan dicintai. Bahkan akan selalu berguna pada siapa saja. Karena kita jauh lebih bisa memilih dengan bijak bagaimana caranya menghargai dan mencintai diri sendiri, dan semakin percaya diri. 

Menurunkan Denyut Jantung, Sehingga Penerima Pelukan Merasa Lebih Sehat

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of North Carolina-Chapel Hill, mengemukakan dari hasil penelitian pada beberapa orang yang sehari-hari tidak bertatap mata dengan istri atau suaminya, mereka memiliki detak jantung yang bergerak lebih cepat yakni 10 kali berdetak setiap menit. Sedangkan mereka yang menerima pelukan, jantungnya hanya akan berdetak 5 kali dalam setiap menit. 

Padahal, pada dasarnya semakin rendah detak jantung kita, semakin sedikit pula masalah jantung yang akan menyerang kita. Itulah mengapa, kita perlu berpelukan setiap hari dan setiap saat demi kesehatan jantung kita. 

Pikiran Jauh Lebih Rileks, Karena Suasana Hati Berubah Jadi Lebih Baik

Tak hanya dia yang menerima pelukan, kita sebagai pemberi pelukan juga akan mengalami rileksasi terbaik pada bagian otot tubuh. Karena pelukan dapat menyeimbangkan sistem tubuh saat kita merasa tegang. Respon yang mengalir dari rangsangan antar kulit saat menerima dan memberikan pelukan dapat mengantarkan ketenangan dan suasa yang lebih santai. 

Reaksi ini akhirnya membuat kondisi mental menjadi lebih seimbang. Maka wajar jika akhirnya kamu juga akan merasa lebih rileks dan lebih tenang. Karena suasana hati yang mungkin sudah berubah. 

Dan Mengurangi Tingkat Stress dari Dalam Diri 

Coba ingat, sudahkah kamu mendapat pelukan atas segala beban yang seharian ini kamu pikirkan? Atau sudahkah kamu memeluk dia yang kini terlihat sedang butuh pelukanmu agar lebih tenang lagi? Jika belum, segera peluklah. 

Sebuah gerakan lambat yang akan berakhir dengan pose saling merapatkan tubuh ini akan merigankan beban stress dalam diri mereka dengan sangat efektif. Sebab ketika sedang dipeluk tingkat kortisol yang beredar di seluruh tubuh kita berkurang secara drastis. Dengan begitu, pikiran kita akan mampu tenang dan berpikir tanpa stres.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top