Feature

Kamu Tak Perlu Pergi ke Luar Jakarta Hanya Demi Menikmati Senja…

Menikmati senja dan momen matahari terbenam bukan lagi hal yang mudah kita nikmati setiap harinya. Rutinitas pekerjaan yang menuntut kita untuk pulang melebihi jam 6 sore membuat kita hanya menikmati gelapnya petang hingga menuju malam tanpa menyisakan keindahan senja yang kadang kita rindukan. Padahal, saat hati dan pikiran terasa lelah, melihat horizon dan gradasi oranye-biru yang terukir di langit senja adalah obat terampuh untuk meluruhkan setiap kelelahan.

Mengabadikan senja ada kalanya terasa istimewa, tak heran banyak orang dari Jakarta yang akhirnya mengambil cuti dan pergi ke luar kota demi berburu senja nan indah. Padahal, meski Jakarta sudah semakin ruwet, tapi kamu perlu tahu kalau masih ada tempat-tempat terbaik yang bisa kamu kunjungi saat penat melanda dan ingin menyaksikan betapa dramatisnya momen matahari terbenam.

Perahu Pinisi, Matahari Terbenam, Serta Dermaga yang Dramatis, Sesekali Kunjungilah Pelabuhan Sunda Kelapa

Deretan kapal kayu bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, beberapa waktu lalu. Rencana pemerintah merevitalisasi pelabuhan ini diharapkan tidak mengubah ciri sebagai pelabuhan rakyat.Kompas/Wawan H Prabowo (WAK)07-09-2014

Sumber: wisatadiindonesia.com

Letaknya tak jauh dari Museum Fatahillah, Halte Transjakarta, atau sekalipun Stasiun Jakarta Kota. Selepas menikmati senja, kamu tak akan kesulitan mencari akses pulang kalau datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Dulunya, tempat ini memang jadi pelabuhan utama di Indonesia. Namun sekarang beralih jadi salah satu spot terbaik menikmati senja. Kamu akan ditemani jajaran perahu pinisi yang menepi di dermaga. Atau sebelum menunggu senja, kamu coba saja datangi kafe-kafe terdekat.

Area Monas Tak Selalu untuk Lari Pagi, Cobalah Berkunjung Ke Sana Menjelang Senja

sumber: pojokjendela.wordpress.com

Mungkin kamu pernah ke Monas pada siang hari. Tapi cobalah datang ke ikon Ibu Kota ini pada sore hari menjelang senja. Pada jam-jam itu pengunjung masih diperbolehkan naik ke puncak Monas dan melihat pemandangan sekeliling kota Jakarta. Namun untuk melihat senja yang indah, tak perlu sampai sana. Monas pada sore hari akan memberikan nuansa dramatis tersendiri. Senja di Monas akan selalu indah. Setelahnya, kamu bisa berkeliling Monas pada petang hari.

Mungkin Setelah Seharian Melepas Penat di Ancol, Cobalah Menikmati Hidangan di Beberapa Resto Tepi Pantai yang Berjajar Di sana. Percayalah, Kamu Tak Akan Menyesal

sumber: yeviarachman.wordpress.com

Restoran yang menghadap laut juga bisa jadi pilihan alternatif untukmu menikmati senja. Di sekitaran teluk Jakarta, kamu bisa bertandang ke beberapa resto semisal Seaside Suki atau Segarra. Untukmu yang memburu pengalaman bersantap ditemani momen matahari terbenam, coba saja untuk reservasi di salah satu resto yang ada di sana. Mau ajak teman atau pasangan pun sah-sah saja.

Atau Nikmati Sensasi Tersendiri Menikmati Senja dari Ketinggian di SKYE Bistro & Lounge

sumber: jakarta100bars.com

Dikenal sebagai restoran mewah di Jakarta, SKYE berada di rooftop Menara BCA yang terdiri dari 56 lantai. Ya, kalau kamu reservasi di tempat yang satu ini, kamu akan disuguhkan view yang indah dari atas gedung sehingga tak hanya menikmati matahari terbenam, namun juga melihat Jakarta dari ketinggian. Restoran ini menawarkan konsep indoor atau outdoor, namun penting diingat kalau ingin masuk ke restoran ini terutama di bagian outdoor, kamu harus pakai baju rapi dan formal.

Kalau Kebanyakan Orang Memilih Datang ke Hutan Mangrove PIK Saat Siang Hari, Cobalah Untuk Datang ke Sana Pada Sore Hari Menuju Senja

sumber: cumacuma.org

Kalau kamu datang ke tempat ini di sore hari, kamu tak akan mendapati cuaca yang panas dan gerah. Suasananya justru sejuk, asri, dan hijau. Cocok sekali dimanfaatkan sebagai “pelarian” sejenak kalau kamu penat sekali dengan padatnya kehidupan Jakarta. Lokasi hutan mangrove PIK dekat dengan pantai, karenanya kamu bisa menikmati momen matahari terbenam yang tak kalah kece dari tempat lainnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ternyata Laki-laki Bertubuh Pendek Lebih Sering Marah Dibanding Mereka yang Tinggi

Kalau harus diperhatikan, seorang lelaki yang bertubuh pendek ternyata lebih sering marah dan mudah terbakar cemburu dibanding mereka yang lebih tinggi. Tapi ini bukan sekedar perkiraan biasa. Karena dari hasil temuan para ilmuwan yang melakukan penelitian di Centres for Disease Control di Atlanta, ternyata lelaki bertubuh pendek lebih mudah terpancing emosi.

Menariknya lagi, penelitian yang dilakukan terhadap setidaknya 600 lelaki berusia 18 sampai 50 tahun ini, juga menemukan bahwa laki-laki bertubuh pendek juga lebih mudah emosi dan melakukan kekerasan dibanding mereka yang bertubuh  tinggi.

Hasil dari penelitian tersebut berkata, bahwa mereka yang pendek menganggap dirinya kurang maskulin yang kemudian bisa memicu tingkat ketakutan dan amarah dalam diri mereka.

Sumber : The Mirror

Disamping itu, penelitian lain yang dilakukan ilmuwan di Universitas Oxford juga mengungkapkan jika alasan seseorang bertubuh pendek lebih mudah marah sebenarnya sangat sederhana. Rasa percaya diri yang kurang, ditambah anggapan masyarakat tentang orang pendek kurang menarik, menjadikan mereka lebih mudah marah hingga berpikir negatif.

Namun tak selalu buruk, karena selain hasil temuan yang tadi sudah disebutkan. Peneliti tersebut juga menemukan fakta bahwa tak semua laki-laki bertubuh pendek lebih mudah marah. Karena, penelitian lain juga menemukan bahwa beberapa laki-laki pendek bahkan memiliki kesabaran yang lebih baik. Beberapa dari mereka juga memiliki rasa percaya diri tinggi, bahagia yang natural dan kemampuan menerima diri sendiri yang lebih baik.

Sumber : YouTube

Dengan kata lain, kita pun harus tahu jika faktor fisik bukanlah satu-satunya pemicu untuk seseorang, (khususnya laki-laki) kehilangan rasa percaya dirinya. Karena biasanya, ada beberapa hal lain yang juga mempengaruhinya. Mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, keluarga, dan pekerjaan yang dimiliki.

Karena tinggi pendeknya seseorang kadang bukanlah sebuah jaminan bahwa ia mudah marah, cemburu atau tak percaya diri. Karena semuanya itu, kembali pada masing-masing pribadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanie Putria dan Angga ‘Maliq & D’Essentials’, Resmi Bercerai!

Berbeda dengan Angga yang tak tampak dalam persidangan, Melanie Putria terlihat hadir dengan didampingi oleh kuasa hukumnya, pada sidang perceraiannya, yang digelar di Pengadilan Agama Jakarta Barat, kemarin Senin (21/1).

Dan atas kesepakatan bersama, keduanya akhirnya resmi bercerai sebagaimana hasil putusan yang dibacakan oleh hakim.

“Hari ini dikarenakan bukti sudah cukup, keterangan saksi juga sudah menguatkan alhamdulillah hari ini juga sekalian putusan. Sudah resmi bercerai,” ujar Indah Dewi Yani, kuasa hukum Melanie saat ditemui di Pengadilan Agama Jakarta Barat, dikutip dari laman detik.com.

Ternyata proses perceraian keduanya sudah sejak lama dilangsungkan dan sepakat berpisah dengan baik-baik. 

Sebelumnya, keduanya menikah pada 7 Maret 2010 lalu. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sheemar Rahman Purariredja. Jarang terlihat dalam gosip miring, keduanya tampak mesra di sosial media. Namun, mendadak harus berpisah setelah 8 tahun berumah tangga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dihargai Rp. 1.500/Kg, Petani di Banyuwangi Buang Buah Naga ke Sungai

Dinilai tak mendapat harga yang cukup mempuni, beberapa petani buah Naga di Bayuwangi terlihat membuang hasil panen ke sungai. Hanya dihargai sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram (kg). Tindakan para petani yang membuang buah naga ke sungai ini jadi salah satu bentuk protes atas merosotnya harga buah tersebut.

Dikutip dari laman Detik.com, Hari candra setyawan (29), warga Dusun Silirbaru Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi mengaku, anjloknya buah naga di Banyuwangi membuat dirinya merugi.

“Terpaksa saya buang ke sungai karena memang tidak laku. Dijual pun juga tidak nutut dengan ongkos petani,” ujarnya kepada wartawan, Senin (21/1/2019).

Dan dari foto dan video yang beredar luas di dunia maya, konon kegiatan membuang buah naga tersebut adalah kali kedua. “Ini bentuk protes kami karena buah naga dari Banyuwangi tidak laku dipasarkan. Kemarin kita buang 100 kilo. Ini lebih banyak lagi. Hampir 200 kilogram,” tambahnya.

Dianggap tak bisa mengembalikan modal, beberapa petani buah naga di wilayah sekitaran Banyuwangi, yakni di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, akhirnya mempersilahkan masyarakat untuk memetik sendiri buah naga di kebunnya.

“Silakan kalau mau ambil sendiri di kebun. Gratis. Harga tidak nutup dengan ongkos petik,” ujar Ukri, dikutip masih dari laman yang sama.

Situasi ini sudah berjalan sekitar 2 minggu lebih, padahal menurut Ukri para petani baru bisa dikatakan mendapat untung jika harga buah naga diatas Rp. 6.500/kg.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top