Trending

Jokowi : Selama Empat Tahun Saya Diam, Tapi Kini Saya Harus Jawab!

“Selama ini, selama 4 tahun saya diam. Tapi kini saya harus jawab. Saya harus ngomong!” ujar Jokowi.

Kabar simpang siur soal asal usul keluarga Jokowi memang masih diperdebatkan sampai sekarang, banyak pihak yang menyatakan kalau orang Tiongkok yang berasal dari singapura. Namun ia menjelaskan kalau ia harus menjawab semua isu miring yang menerpa dirinya termasuk keluarga. Terlebih lagi beredar nama Oey Hoi Liong yang dikatakan sebagai orang tua dari Presiden Joko Widodo.

“Bapak ibu saya itu orang desa di Boyolali,” katanya.

Selebihnya Presiden yang kembali maju dalam Pilpres 2019, menjelaskan kalau soal silsilah keluarga itu berdampak kepada anaknya, Kaesang Pangarep yang menempuh pendidikan di Singapura yang menjawab tudingan dengan cara yang cukup kreatif, yakni dengan membuat kaos hingga topi.

“Anak saya itu langsung buat kaus tulisan ‘cucunya Oey Hoi Liong. Pakai topi juga sama,” katanya.

Untuk diketahui, ibunda Jokowi, Sujitami lahir dan tumbuh di Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Sementara ayah Jokowi, almarhum Notomiharjo menjalani masa muda dan sekolah di desa itu bersama kakek dan neneknya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Bekerjalah dengan Wajar, Kamu Tetap Tak Bisa Terselamatkan dari Kehilangan 4 Hal Ini Meski dengan Materi yang Berlimpah

Kerja keras memang hal yang perlu kamu lakukan. Namun jangan bekerja terlalu keras sampai melewati batas kemampuanmu sendiri. Seberapa besar pun materi yang kamu miliki itu tak akan pernah cukup jika kamu tidak mencukupkannya. Kamu harus paham, bahwa hakikat yang sebenarnya, materi bukanlah segalanya.Jangan hanya mementingkan harta dan harta, karena hal itu tak akan pernah menyelamatkanmu dari kehilangan 4 hal ini.

1. Waktu Berharga Bersama Keluarga

Walau katamu punya uang banyak adalah sebuah keberuntungan, tapi itu tak akan pernah bisa setara dengan waktu bersama keluarga. Sisihkan waktu dari jam kerjamu, dan luangkan waktu bermain atau sekedar berkumpul dengan keluarga di rumah.

2. Waktu Bersama Teman dan Pasangan

Coba ingat, kapan terakhir kamu bertemu dan menikmati waktu bersama dengan sahabatmu. Empat bulan lalu? satu tahun lalu? atau bahkan sudah lama sekali tak bertemu. Kegilaanmu akan kerja, mungkin sudah menguras waktumu selama ini. Untuk itu, inilah saatnya kamu kembali pada mereka dan menikmati waktu bermsa. Sebab, kamu tak akan pernah tahu sampaia kapan kamu punya waktu bersama dengan mereka.

3. Waktu Istirahat

Walau jam kerjamu hampir tak ada istirahatanya, jangan pernah lupa untuk mengambil waktu istirahat sejenak. Tenangkan dirimu dari semua kegaduhan dan lelahnya pekerjaan. Karena rileksasi diri adalah sesuatu yang perlu.

4. Waktu untuk Menikmati Kehidupan

Jangan melulu berpikir bahwa hidupmu adalah tentang pekerjaan. Kamu berhak untuk menikmati waktu luang untuk menikmati semua yang bisa kamu lakukan diluar pekerjaan. Pergi menepi sejenak ke tempat mana yang kau mau. Lupakan semua pekerjaanmu dulu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Tak Ingin Disangka Laki-laki Alay, Ini 7 Gaya Berpakaian yang Harus Kamu Hindari

Cara berpenampilan bisa menunjukkan bagaimana selera style seseorang. Tak hanya itu, orang juga akan menilaimu pertama kali dari caramu dalam berpakaian. Oleh karena itu, jika kamu tak ingin dianggap sebagai laki-laki alay, lebih baik hindari 7 style berpakaian ini.

1. Skinny Jeans

Sumber : Glamour

Celana ketat ini akan terkesan alay jika kamu pakai sebagai seorang laki-laki. Untuk menghindarin kesan itu, lebih baik jangan pernah kenakan celana jenis ini, ya.

2. Kaos V-Neck

Sumber : Unbound Merino

Kaos dengan model leher berbentuk V ini memang cukup bagus. Namun akan berbeda kesannya jika kamu pakai. Orang yang memandangmu pasti akan merasa aneh dengan penampilanmu.

3. Celana Jeans di Bawah Panggul

Sumber : Lazone.id

Mungkin kamu pernah melihat aktor atau musisi dunia mengenakan celana model ini. Tapi untukmu, lebih baik jangan mengikuti gaya mereka ya. Itu akan terkesan aneh jika kamu kenakan.

4. Warna Tabrakan Antara Kemeja dan Celana

Misalnya saja kamu mengenakan celana merah. Sedangkan untuk kemejanya kamu mengenakan kemeja berwarna hijau. Tentu saja setelan ini tidak akan cocok di badanmu. Lebih baik gunakan warna atasan dan bawahan yang lebih cocok ya.

5. Kaos yang Terlalu Ketat

Laki-laki akan terlihat menawan meski hanya memakai kaos saja. Namun jika kaos yang kamu pakai terlalu ketat, tentu saja penilaiannya akan berubah. Bukannya keren, tapi malah terlihat nyeleneh.

6. Celana yang Terlalu Pendek

Sumber : IDN Times

Jangan membandingkan celana  yang terlalu pendek di tubuh laki-laki dan perempuan ya. Hasilnya sudah tentu akan berbeda. Akan biasa jika celana yang terlalu pendek itu dipakai oleh perempuan, tapi tentu tidak jika kamu yang memakainya.

7. Pakaian Atasan yang Berbulu

Terlebih jika kamu memakai pakaian ini bukan di musim dingin. Pasti akan terlihat sangat aneh. Pakaian berbulu lebih identik dengan perempuan sehingga jika yang memakainya adalah seorang lelaki, itu akan terlihat alay.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pertemanan yang Berat Sebelah, Buat Kita Terjebak dalam Masalah

“Pakai uang lu dulu, nanti gue ganti”

Jadi salah satu kalimat yang akhir-akhir ini terdengar menyeramkan di telinga. Bukan tak percaya pada dia yang mungkin adalah teman kita. Tapi, seringnya ucapan itu hanyalah bualan belaka. Dilupakan jika sudah kejadian, hingga jadi sumber masalah kalau kita coba ingatkan.

Memang sih, pinjam-meminjam sudah jadi hal lumrah dalam sebuah perteman. Tapi yang jadi masalahnya, yang memberi pinjaman hanya kita saja. Sedang si dia masih tetap dengan peran tetapnya, peminjam yang tak pernah ingat untuk mengembalikan hutangnya.

Ini bukan perkara, siapa pihak yang paling banyak uang. Bukan juga kawan yang gajinya puluhan juta lebih besar. Maka dari itu, baiknya kita bisa membedakan. Manakah pertemanan yang memang sungguhan, dengan sikap parasit yang hanya ingin memanfaatkan dengan alibi pertemanan.

Jumlahnya Mungkin Tak Seberapa, Tapi Dampaknya Bisa Besar untuk Hubungan Kita

Katakanlah dia mungkin hanya meminjam Rp.1 Juta, dengan janji akan dikembalikan bulan berikutnya di tanggal serupa. Berpikir dia akan berinisiatif untuk mengembalikan tanpa diminta, si kawan justru diam-diam saja sampai 3 bulan berikutnya. Perkara uang memang agak krusial, tapi yang namanya hutang pinjaman tetap harus dikembalikan. Kecuali sedari awal dia memang niatnya meminta, dan kita ikhlas untuk memberinya dengan cuma-cuma.

Tiba di hari H, saat kita tagih janjinya. Biasanya ia akan berdalih dengan macam-macam alasan. Mulai dari perkara-perkara di luar kendali, hingga kebutuhan lain yang konon lebih mendesak lagi. Lalu bagaimana jika kita juga sedang butuh uangnya? Bukannya mengerti kondisi kita, ia justru menilai kita terlalu perhitungan sebagai teman. Kalau begini, apa yang harus dilakukan?

Terlalu Sering Merasa ‘Nggak Enak’, Juga Bisa Bahaya Loh!

Namanya juga teman, sudah kenal lama, kemana-mana sering bersama. Maka akan jadi sesuatu yang wajar jika ada beberapa rasa tak enak, tiap kali ngomongin piti dengannya. Tak akan berbuntut panjang, jika rasa enggan yang kita miliki cepat disadari oleh dirinya. Tapi bisa berbuntut panjang, jika si dia tak sadar-sadar.

Berjuang mati-matian untuk menahan diri agar tak emosi, tapi dirinya masih saja tak mengerti. Pilihannya hanya akan ada dua, diam untuk masalah yang semakin dalam atau bersuara agar dia sadar, walau buat dia marah dan menghindar.

Karena Meski Sudah Dikasih Hati, Beberapa Orang Justru Makin Tak Tahu Diri

“Gue pinjem duit lu lagi dong 500 ribu, nanti gue bayar sekalian sama yang 3 juta kemarin”.

Oke katakanlah, kamu memang jadi orang yang cukup lebih beruntung dari dirinya secara finansial. Tapi, bukan berarti juga semua kebutuhannya kamu yang pikirkan kan? Sekalipun ia memang sudah tak lagi punya uang sepeser pun, harusnya ia juga berusaha untuk bisa tetap punya cadangan tabungan tanpa harus terus menambah pinjaman. Yang ujung-ujungnya juga tak akan dibayar.

Sebagai teman, kita pun perlu bijak dalam memilah-milah sikap mereka. Manakah teman yang memang benar-benar kawan, dengan dia yang memang hanya ingin memanfaatkan kita. Selalu ingat, pertemanan akan terus terjaga dengan baik kita kita saling memberi dan menerima. Bukan hanya jadi pemberi dan dia terus menerus jadi penerima dan peminjam saja.

Hari Ini Janji Akan Diganti, Besok Alasannya Pasti Beda Lagi

Berapa kali ia mengingkari janji, dengan membuat janji baru lagi? Saking seringnya ingkar, kita bahkan tak bisa membedakan lagi. Manakah kalimatnya yang merupakan sebuah janji dengan ucapan manis yang hanya sekedar untuk terhindar dari tagihan hutang yang sebenarnya ia lah yang menjanjikan.

Janji hari ini belum juga ditepati, tapi dirinya sudah kembali membuat janji baru lagi. Begitu seterusnnya sampai kita bosan menangih dan akhirnya lupa. Yap, barangkali itulah yang memang diinginkannya.

Jangan Berdiam Diri dengan Alasan Tak Mau Menyakiti Hati, Pertemanan Seperti Itu Hanya Akan Membebani Diri

Dengar, menunjukkan rasa peduli dan empati pada teman memang bisa kita lakukan dengan membantunya ketika kesusahan. Dengan catatan, kita tak lantas jadi pihak yang nantinya menggemban beban yang sebenarnya adalah masalahnya. Berikan temanmu pinjaman kalau  memang kamu ada, bukan malah membuatmu susah.

Selanjutnya, jika kesabaranmu memang sudah berada pada titik puncak. Sah-sah saja jika kamu akan marah karena ia sudah ingkar dari janji yang dibuatnya. Utarakan semua keluh kesahmu atas sikapnya yang terlihat berat sebelah, walau itu membuatnya sakit hati dan menarik diri dari kita.

Hal lain yang perlu kita camkan adalah, cobalah lihat siapa dia teman yang akan kau beri pinjaman. Kalau omongannya tak bisa dipegang, jangan segan-segan untuk bilang “Maaf aku tak punya uang”. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top