Feature

Jika Niatmu Berteman Tak Pakai Perasaan, Jangan Buat Aku Terbawa Perasaan

Untukmu yang beberapa waktu belakangan jadi teman dekatku, rasanya ada sesuatu yang perlu kusampaikan padamu. Sebelum rasa terlalu dalam, sebelum semuanya berubah dan sulit kita lupakan.

Aku paham, jika tak ada yang salah dengan dua orang yang memutuskan berteman. Tapi, sejalan dengan itu, agar tak menimbulkan kekeliruan antara aku dan kamu. Ada beberapa hal yang perlu kutegaskan, perihal perasaan yang tak boleh kau beri harapan. Kalau memang kita hanya akan berteman.

Untukmu Biasa, Tapi Perhatian yang Sering Kau Sampaikan Terkadang Memberi Makna yang Berbeda

Percayalah, setiap perbuatan dari lawan jenis yang terasa tak biasa. Selalu bisa diartikan sebagai bentuk lain dari cinta. Kecuali jika kamu memang hanya ingin melempar umpan saja, bersikap seolah-olah punya rasa meski sebenaranya hanya ingin main-main saja.

Jangan salahkan aku jika akhirnya aku merasa dirimu juga menyukaiku, karena kesimpulan itu adalah hasil dari perhatian yang selama ini kau berikan. Walau dimatamu hal tersebut adalah sesuatu yang biasa. Sebagai orang yang diperhatikan, hal tersebut beberapa kali memberi arti yang berbeda. Dan jelas, tak seperti sikap seorang teman biasa.

Bersikap Seolah Jadi Pacar, Tapi Setiap Kali Ditanya Perasaan, Jawabanmu Hanya Ingin Berteman

Menawarkan diri untuk mengantar-jemputku bekerja, mengajak makan malam setiap akhir pekan, hingga hadiah-hadiah kecil lain yang selalu kau berikan. Apa ini masih kurang untuk bisa bilang, kalau kamu memang sayang? Sialnya, jawaban yang kuterima selalu saja serupa. “Aku hanya ingin berbuat baik kepada temanku, salah?”

Sulit untuk memberimu respon balasan, kadang kala diam lebih baik untuk dijadikan pilihan. Kamu mungkin sulit untuk melihat bagaimana sikapmu itu sudah membuatku berharap. Tapi sesuatu yang harus kau tahu, tak perlulah bersikap seperti pacarmu. Jika ternyata kau tak punya rasa apapun padaku.

Seperti Teman Lainnya, Kamu Tak Perlu Mengirimiku ‘Chat’ Setiap Waktu

Tak cukup dengan perbuatan, di sisi lain kau tetap kerap membuat hatiku gaduh. Berusaha untuk selalu tahu apa kegiatanku, hingga bertanya ‘bagaimana harimu?’ yang kerap membuatku berpikir jika kamu memang menyukaiku. Tak ada rasa untuk memotong niat baikmu, namun interaksi yang selama ini berjalan haruslah dikurangi.

Kamu tak perlu mengucapkan selamat pagi ketika aku ingin memulai hari, tak perlu mengingatkanku makan jika sudah siang dan malam. Selain  aku bisa melakukannya sendiri, perhatianmu hanya akan jadi harapan yang tak berarti. Jadi untuk apa harus kita lakoni?

Membuatku Nyaman, Lalu Tiba-tiba Pergi dan Menghilang

Tak bisa berbuat banyak, ikatan pertemanan yang selama ini melandasi hubungan. Hanya bisa membuatku pasrah dan menunggu saja. Hari ini kamu mungkin ada bersamaku untuk menghabiskan waktu sepanjang hari dengan berbagai macam sikap manis yang meluluhkan hati. Tapi besok, kamu bisa saja pergi. Menghilang tanpa permisi, meninggalkan aku yang mungkin baru saja menaruh hati.

Dirimu mungkin merasa nyaman, sebab bebas untuk membuat siapa saja merasa dicintai. Sedanngkan aku yang jadi (mungkin) jadi korban hanya bisa berharap, bahwa semua sikap manismu adalah kenyataan. Walau lagi-lagi, aku harus sadar. Sebab sedari awal kamu hanya ingin berteman.

Tak Berniat Melarang Perbuatan Baik, Tapi Memberi Harapan yang Tak Pasti Jelas Tak Baik

Harus kuakui memang, segala yang kau berikan dan lakukan adalah perbuatan baik yang tak bisa sepenuhnya disalahkan. Meski kubilang itu adalah sebauh jebakan untuk membuatku memberimu perasaan, dirimu tentu bisa berkata jika itu adalah hal biasa yang bisa dilakukan oleh siapa saja kepada siapa saja. Untuk persoalan ini, kamu mungkin sering menang. Lepas dari ikatan yang coba aku kencangkan, dengan dalih kita ini adalah teman. Namun bagiku, membuat seorang kawan berharap tentulah tak baik dilakukan. Jadi, berhentilah mulai dari sekarang.

Bukan Ingin Memutus Pertemanan, Aku Hanya Tak Ingin Masuk dalam Jebakan

Sekarang kamu bebas akan menilaiku sebagai sosok yang seperti apa. Keputusanku untuk menjaga jarak tentulah ada alasannya. Meski bagiku ini terdengar berlebihan, tidak bagiku yang sebelumnya pernah jadi korban si pemberi harapan palsu. Tak ingin jatuh pada loban yang sama meski dengan orang yang berbeda. Sebagaiman kamu yang bersikukuh hanya ingin berteman tapi kerap memberiku harapan. Aku pun punya hak serupa untuk bilang, pertemanan kita sampai disini saja.

Karena Jika Memang Hanya Ingin Berteman, Tak Perlu Bersikap Berlebihan

Aku pernah percaya jika kita memang punya cara pandang yang berbeda dalam hal menyikapi sikap dan rasa. Semua hal yang selama ini terjadi dan kau berikan, bagimu terasa biasa dan tak berarti apa-apa. Lain denganku yang justru melihat semuanya sebagai upaya untuk perebutan rasa percaya, sayang dan cinta. Hingga akhirnya kita bentrok atas kata ‘berteman’  yang kerap kau jadikan senjata.

Kali ini untuk yang terakhir kali, kuharap kamu akan mengerti jika segala hal yang selama ini kau berikan bagiku lebih dari sekedar pertemanan. Tapi jika memang dirimu tak ingin membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih dari sekedar teman. Berhentilah bersikap berlebihan, agar diriku tak terbawa perasaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top