Feature

Jelang Hari H Pernikahan, Ada Saja Cobaan yang Datang Jadi Penghalang

Semuanya sudah dipersiapkan! Mulai dari fisik, mental, dan berbagai macam keperluan pernikahan pun sudah dirasa lengkap. Tapi, beberapa saat menjelang pernikahan ada saja cobaan yang datang tiba-tiba.

Orang lain mungkin akan melihat hal ini sebagai perkara biasa, tapi dari cerita mereka yang lebih dulu menikah, beberapa hal yang katanya jadi cobaan itu, sering sekali mengacaukan pikiran. Bahkan tak sedikit pula yang akhirnya bersedih, dan sedikit kecewa. Karena cobaan tersebut datang tak tepat waktu.

Nah, untuk kamu yang mungkin sedang mempersiapkan diri, cobalah besarkan hati, jika nanti memang merasakan 7 hal ini.

Tak Tahu Angin Apa yang Membawanya, Mantan Pacar yang Sudah Lama Hilang Tiba-tiba Datang

Entah itu hanya sekedar berkirim pesan di sosial media atau datang langsung untuk menemui kita. Rasanya, pada situasi seperti ini, kehadiran mantan pacar, tentu jadi hal yang menganggu pikiran.

Bagaimana tidak, beberapa hari menjelang hari H, dia yang sudah jadi masa lalu, justru datang meminta bertemu. Selain harus menjaga perasaan calon suami atau istri, pastilah ada rasa tak enak hati jika pihak keluarga sampai tahu bahwa dirimu masih berhubungan dengan mantan kekasih.

Maka untuk menghindari hal-hal yang bisa merusak rencana pernikahan, cobalah untuk selalu libatkan pasangan untuk mengambil keputusan. Pastikan ia tahu, jika mantanmulah yang terlebih dahulu menghubungimu.

Sudah Susah Payah Menabung dan Membatasi Pengeluaran, Tapi Gambaran Keuangan Justru Semakin Buram

Umumnya, keresahan akan tak stabilnya kondisi keuangan banyak disuarakan mereka yang baru saja menikah dan menggelar pesta. Padahal nyatanya tidak selalu begitu, loh! Kita yang sedang sibuk mempersiapkan pesta juga sering kali dilingkupi hal serupa.

Nominal dari beberapa hal yang menjadi keperluan, bisa saja berubah dan berpengaruh pada anggaran pernikahan. Kalau tak cukup jeli melihat situasi dan mempersiapkan diri, bisa-bisa hal semacam ini, jadi sesuatu yang memperlambat jalannya pesta. Karena masalah keuangan jadi sesuatu yang sensitif, maka alangkah baiknya jika kamu dan pasangan sudah mempersiapkannya dengan baik dan matang.

Bukannya Tak Lagi Cinta, Tapi Mendadak Ada Keraguan Pada Kesungguhan Hatinya

Tak tahu apa yang merasuki dirinya, sikap manis yang dulu selalu membuat cinta mendadak berubah. Berganti dengan karakter baru yang jelas-jelas tak menggambarkan dirinya. Yap, ini adalah cobaan yang pasti akan selalu dirasa oleh setiap pasangan yang hendak menikah. Terlebih pada kaum hawa.

Beberapa pertanyaan bahkan mungkin akan memenuhi isi kepala, “Apa iya, dia adalah sosok yang kucari?”, “Benarkah dia akan jadi suami?”, hingga ragu pada pilihan yang sebentar lagi akan diresmikan.

Santai saja, nikmati semua keraguanmu dengan hati dan kepala yang dingin. Diskusikan hal-hal yang memang sedang kamu rasakan dengan pasangan. Biasanya ini akan jadi solusi untuk mencari jalan keluar. Jika setelah itu, keraguanmu tak kunjung reda, menunda pernikahan bukanlah sesuatu yang salah.

Lalu Ada Beberapa Pertengkaran yang Selalu Mewarnai Hubungan

Tunggu dulu, hal ini bukan berarti jika kalian berdua tidak cocok. Karena mempersiapkan pernikahan memang jadi ajang ujian pertama untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Sebab pada situasi ini kita akhirnya bisa tahu, seberapa besar ego masih menguasai masing-masing diri, juga jadi ajang untuk mengenal dekat karakter masing-masing diri.

Memutuskan untuk menikah, itu artinya kita sudah yakin akan bisa menerimanya dengan segala baik buruknya. Maka jika kepercayaan ini sudah kita miliki sebelumnya, pertengkaran-pertengkaran kecil menjelang hari H pernikahan, tak seharusnya jadi penghalang. Dengan catatan, pertengkaranmu itu memang hanya berkutat pada hal-hal sepele. Karena jika sebabnya adalah hal besar, jelas patut untuk dipertimbangkan.

Hingga Pada Perkara Orangtua yang Kerap Tak Bisa Seiya-sekata

Pernah merasakan ini tidak? Atau kamu justru sedang merasakannya sekarang? Bohong memang jika kita akan jadi satu-satunya pihak yang menentukan semua urusan pesta. Karena nyatanya, ada banyak hal yang menjadi masukan dari sisi orangtua. Entah itu jumlah undangan yang sebagian besar adalah kolega mereka, jenis makanan yang justru mengikuti seleranya, atau hal lain yang kadang membuat kita gemas sendiri.

Orangtua mempelai laki-laki ingin begini, sedangkan orangtua pihak perempuan maunya begitu. Karena menikah tak hanya tentang kita berdua saja, tapi juga menyatukan dua keluarga. Maka sudah sepantasnya kita bisa mengontrol diri sebaik mungkin, untuk memberi pengertian pada masing-masing orangtua. Jangan sampai karena urusan pesta pernikahan kita, mereka sampai terpecah.

Beban Pikiran yang Berlebih, Membuat Kita Kadang Tak Percaya Diri, Jika Sebentar Lagi Akan Menjadi Suami-Istri

Percaya atau tidak, perempuan atau laki-laki yang akan menikah, biasanya akan berpikir lebih banyak dari biasanya. Hasilnya? Kamu akan merasa ada beban berat yang sedang memenuhi isi kepala, hingga berpengaruh pada kepercayaan diri kita.

Selanjutnya, akan ada beberapa pertanyaan yang tiba-tiba meruntuhkan semua rasa percaya. Benarkah kita bisa jadi suami yang baik untuknya? Mampukah kita jadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga? Hal-hal tersebut jika tak bisa disikapi dengan baik, maka bisa merusak semua persiapan pernikahan yang tinggal sebentar. Oleh sebab itu, ajaklah pasangan untuk berdiskusi, bicarakan semuanya dari segala sisi dan berusahalah untuk tetap berpikir positif.

Dan Hal Lain yang Lebih Berat, Tiba-tiba Ada Tawaran Pekerjaan yang Sejak Lama Sudah Diimpikan

Barangkali, cobaan semacam ini adalah dilema yang paling berat untuk dihadapi dari sekedar pertikaian sepele dengan pasangan atau ibu yang mendadak ingin mengganti warna baju seragam.

Coba bayangkan, hal yang selama ini kamu idam-idamkan kini tiba-tiba hadir di depan mata. Namun, kini mendadak terasa berat untuk diambil, karena berbagai macam pertimbangan. Salah satunya adalah pesta pernikahan yang sebentar lagi akan digelar.

Menikah memang terlihat simpel dan gampang, tapi untuk mempersiapkan dan melaksanakannya kita mesti bersusah payah bersama dan berjuang untuk mewujudkannya. Dan teruntuk kamu yang saat ini merasakan hal serupa, tetap semangat ya!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Agar Tak Membahayakan Diri, Kita Perlu Bijak Mengelola Emosi

Kenyataan yang tak sesuai keinginan, teman yang menyebalkan, jalanan macet tak karuan, atau apa saja yang bisa memancing amarah untuk diluapkan. Serungkali jadi alasan, kita untuk emosi dan marah. Tapi tak semua bisa mengeluarkan uneg-unegnya. Beberapa orang justru diam, meski emosinya sudah ada diambang batas kemarahan.

Sialnya selepas emosi dan marah-marah, ada hal buruk yang bisa saja terjadi atas kita. Membuat lingkungan merasa risih atau tak suka. Namun, seolah tak ada habisnya. Memendam amarah justru bisa berbahaya pada diri kita. Lantas harus bagaimana?

Kenali Dulu Jenis-jenis Emosimu

Setiap emosi dalam hidup kita memiliki peran penting dalam segala hal yang kita lakukan. Berpikir, berperilaku, mengambil tindakan, berbicara, dan bisa terlihat pula pada raut wajah. Sayangnya, masih banyak kita yang belum paham. Bagaimana bisa mengenali emosi dan cara mengelolanya serta membeda-bedakannya. Agar tak lagi terjebak dalam pemahaman yang salah, ini 7 jenis emosi dasar manusia dengan fungsi yang berbeda yang perlu kamu kenali.

Bahkan Sering Merasa Sendiri, Adalah Bentuk Lain dari Emosi

Ya, meski sedang berada di tengah keramaian. Jiwa dan hatimu tetap saja merasa sendiri, manusia dan hal-hal lain yang ada seolah tak berarti. Tak pernah diminta, perasaan selalu merasa sendiri bisa datang kapan saja, yang belakangan diketahui. Ternyata perasaan ini adalah bentuk lain dari emosi.  

Sebab, Meskin Jarang Disadari Memendam Emosi Bisa Berbahaya Pada Diri

Menurut psychmechanics, memendam emosi adalah cara seseorang untuk tidak mengakui emosinya atau tidak mengekpresikan emosi dengan cara yang sehat. Padahal pada dasarnya, emosi tidak bisa ditekan dan tetap harus dikeluarkan dengan cara apapun, salah satunya adalah meditasi. Sebab, emosi yang dipendam justru akan menimbulkan banyak masalah. Bagaimana saja dampaknya bisa kamu baca disini.

Untuk Itu Kita Harus Lebih peka, Cari Tahu Apa yang Membuatmu Marah-marah

Karena suka marah-marah nggak jelas, hasilnya bisa merusak mood diri dan orang-orang di sekitar. Untuk itu kita perlu lebih peka, sebab yang namanya asap tentu pastilah ada sumber api. Untuk itu, cobalah kenali berbagai hal yang mungkin jadi penyebab, kenapa belakangan ini kamu mudah tersulut amarah untuk berbagai hal yang sebenarnya bukanlah masalah.

Dan Jika Sedang Emosi, Cobalah Lakukan Hal Ini

Ada hal-hal buruk yang bisa saja terjadi setelah emosi, mulai dari membuat orang lain terluka atau justru melukai diri kita. Bertumbuh jadi manusia dewasa memang banyak tantangannya, dan mengelola emosi jadi salah satunya. Maka untuk tak buru-buru marah, coba lakoni hal-hal ini saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Agar Hidupmu Tidak Hancur Begitu Saja, Sertakan Logika Dalam Cinta

Galau, sebuah kata yang tak asing lagi di telinga kita. Hampir di setiap negara kata ini ada meskipun berbeda dalam penyebutannya. Galau disini menggambarkan perasaan seseorang yang sakit hati, gelisah dan tak karuan. Penyebabnya bisa jadi karena putus cinta, hubungan keluarga, atau ekspektasi yang bertolak belakang dengan realita.

Entah siapa yang pertama kali memproklamirkan kata galau ini, namun sepertinya kata ini sudah begitu fenomenal di Indonesia. Semua kalangan bisa saja merasakannya, namun kebanyakan memang orang dewasa yang sering mengaku dan merasakan galau. Dan alasan yang paling banyak di utarakan adalah karena putus cinta.

Hmm, pernah berpikir nggak sih apa untungnya dari galau? Dengan galau kita bisa merusak diri kita bahkan aktifitas kita. Galau bisa membuat kita kehilangan semangat melakukan sesuatu, bahkan sampai nafsu makan pun menurun. Memang sih, saat galau logika kita entah pergi kemana. Semuanya terasa hampa, dunia rasanya tak berpihak lagi pada kita.

Galau juga tidak hanya berpengaruh terhadap diri sendiri, tapi akan berpengaruh terhadap orang-orang di sekitar kita. Bagaimana tidak? Yang biasanya kita adalah orang periang, ketika galau tiba-tiba diam seribu bahasa. Tidak ada lagi senyuman di wajah kita, tentu saja orang lain akan merasa aneh dengan kita. Mungkin banyak yang empati, namun tidak sedikit juga yang memang tidak perduli.

Ada yang sampai galau bertahun-tahun karena putus cinta, memang ya jika sudah berkaitan dengan cinta logika kita entah kemana. Padahal, jika seseorang itu pergi meninggalkan kita sudah jelas dia bukan yang terbaik untuk kita. Sakit memang sakit, namun bangkit tetap harus bangkit. Hidup bukan hanya tentang meratapi luka, semuanya hanya tentang waktu. Perlahan luka akan sembuh dengan sendirinya, selama ia masih menganga cobalah untuk menata hati kembali. Merapikan yang sudah dia hancurkan, memeluk puing-puing harapan yang ia tinggalkan. Jangan melulu terpuruk dengan keadaan.

Kebanyakan yang merasakan galau ini adalah perempuan. Karena apa? Karena saat jatuh cinta perempuan hampir menggunakan seluruh perasaannya daripada logika, berbanding terbalik dengan laki-laki. Perempuan mencinta tanpa memikirkan logika, sedangkan laki-laki lebih mengutamakn logika daripada rasa. Maka dari itu saat ada yang terluka, laki-laki lebih memiliki peluang cepat sembuh karena logikanya berjalan. Sedangkan perempuan, ia hanya mengikuti perasaannya sampai suatu hari nanti logikanya terbuka dengan sendirinya, butuh waktu yang lama.

Galau ini sebenarnya belum ada obatnya, namun mendekat kepada sang pencipta bisa menjadi pereda. Ketika kesetiaan dibalas dengan pengkhianatan, ketika ketulusan dibalas dengan kebohongan, bersyukurlah karena Allah telah memperlihatkan siapa diri mereka sesungguhnya. Kata-kata motivasi dan hiburan dari teman-teman memang sedikit menguatkan, namun tetap saja bangkit dan kembali seperti semula butuh waktu yang lama.

Teruntuk kalian yang sedang merasakan, mari jemput logika agar luka kalian tidak berlangsung sama. Percayakan segala hal kepada yang maha kuasa, termasuk cinta. Yang terbaik akan dipersatukan dengan yang baik juga, lalu jika kamu masih berharap dengan seseorang yang telah menyakitimu apakah kamu tidak akan merasa rugi jika dipersatukan dengan seseorang yang tidak baik untukmu? Segera Move On dan perbaiki kehidupanmu sekarang, sebelum galau benar-benar membawamu dalam penderitaan. Semangat !

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Belajarlah Dari Kecewa, Agar Kamu Percaya Ada Bahagia yang Nyata Dari Hasil Menata Luka

Kenapa kamu kecewa? Karena Tuhan menciptakan air mata sebagai salah satu pereda dari sedihnya dikecewakan.

Hidup bagaikan roda yang berputar, siang berganti malam, panas berganti hujan, dan kekecewaan yang berganti menjadi kebahagiaan. Susah dan senang selalu berdampingan mengiringi perjalanan kehidupan, jangan harap kamu akan selalu merasakan bahagia, tanpa pernah merasakan luka. Hidup terlalu monoton jika dihabiskan dengan bahagia.

Lalu, setelah yang ku sampaikan barusan kamu masih bertanya mengapa Tuhan memberikanmu kekecewaan? Sini, mendekatlah. Biar aku jelaskan sekali lagi, coba ceritakan hal apa saja sebenarnya yang membuatmu kecewa? Kamu terluka karena cinta? Harapanmu tentang cita-cita kandas? Keluarga yang tak utuh, pendidikan yang tak bisa diraih, dan karier yang hanya jalan ditempat tanpa kemajuan, semua itu yang membuatmu kecewa? Tolong, coba berpikir dan mencoba bersyukur sekali saja.

Jangan selalu memikirkan hal-hal yang tak dapat kamu capai, karena semua itu diluar kendalimu. Ada takdir yang lebih berkuasa dari kekuatan otak, otot dan mental. Cobalah untuk lebih fokus dengan apa yang sedang kamu genggam, kamu miliki. Merasa cukup bukan berarti harus berhenti berjuang, hanya saja itu bisa dijadikan obat kekecewaan.

Pernah kah kamu membaca kisah-kisah orang yang sukses diluar sana? Apakah kesuksesan mereka raih dengan cara instan? Apakah dengan sekali berjuang mereka langsung ber-uang? Dan apakah mereka tidak pernah merasakan kecewa dalam hidupnya. Tentu saja mereka pernah jatuh, sebelum bangkit dan menikmati hasil dari perjuangannya.

Jatuh, bangkit. Gagal, bangkit. Kecewa, menata luka. Tidak ada kata menyerah dalam kamus orang-orang sukses. Seperti halnya mereka, mengapa tak kamu coba untuk mengambil sisi positif dari kecewa? Menjadi lebih dewasa misalnya. Setelah luka yang kamu dapat, dari situ kamu belajar lebih dalam tentang kehidupan. Belajar menerima bahwa ada beberapa hal yang memang diluar kendali makhluk bernyawa.

Semuanya hanya tentang proses, orang-orang sukses diluar sana mengalami jatuh bangun atas usahanya, lalu apa yang mereka lakukan setelah itu? Apakah mereka terpuruk sepertimu? Apakah mereka menyalahkan dunia atas takdir-Nya? Dan apakah mereka sepertimu yang hanya bisa menyalahkan tuhan lalu mengutuk keadaan. Mengaku menjadi orang yang paling terpuruk, sakit hati terhadap dunia.

Kini, masih mau kah kamu menyalahkan Tuhan atas kekecewaan yang kamu rasakan? Apa yang akan kamu dapatkan dari semua itu? Kebahagiaan? Tidak, semua itu hanya akan memperburuk keadaan. Tuhan diam saja bukan berarti dia ingin melihatmu terpuruk, sekarang apa yang akan tuhan ubah sedangkan dirimu sendiripun tak mau berubah. Jika kau bangkit dan mampu mengobati kecewamu dengan hal positif maka tuhan juga akan menggantikan tangisan dengan senyuman.

Kamu hanya perlu yakin atas takdirNya, nikmatilah prosesmu sendiri meskipun panjang. Jangan banyak mengeluh, lebih baik kamu keluarkan lebih banyak peluh agar kebahagiaanmu terbayar utuh. Tuhan memberimu kecewa bukan berarti dia ingin melihatmu terluka, justru dia ingin membuatmu bangkit dan menatanya. Hey, kamu yang sedang dilanda kecewa, aku yakin kamu kuat, bangkitlah segera, ya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top