Feature

Jangan Pernah Berhenti untuk Menjadi Orang Baik 

Sedikit saja menerima perbuatan tak menyenangkan, kadang kala emosi kita sudah kian memuncak. Berniat membalas perbuatannya dengan kelakukan yang sama, lalu mendadak sadar jika kita bukanlah orang seperti dia. 

Yap, pada umumnya setiap manusia itu memang sama. Bisa berbuat baik dan berbuat jahat, hal yang kemudian membedakan adalah bagaimana respon kita tatkala menerima perbuatan tak enak. Apakah membalas dengan serupa tak enak, atau tetap berbuat baik sebagaimana kita biasanya. 

Butuh waktu seumur hidup untuk terus belajar menjadi baik, tapi tak ada alasan untuk berhenti menjadi baik, sekalipun banyak orang licik yang mungkin berniat tak baik pada kita. Lalu untuk tahu apakah mereka yang ada di sekitar kita adalah orang baik yang sungguh. Ada 10 kebiasan yang tak bisa dipisahkan dari mereka yang memang benar-benar baik tanpa kebohongan. 

1. Dapat Dipercaya

Konon untuk mendapatkan kepercayaan adalah sesuatu yang mudah. Seseorang bisa menjadi apa saja demi menuai simpatik hingga akhirnya dianggap baik. Tapi dia yang tetap teguh mempertahankan kepercayaan seseorang adalah sosok baik yang memang benar-benar baik.

Tak hanya pada hal-hal besar, mereka akan tetap menjaga kepercayaan pada hal apa saja yang disampaikan oleh seseorang. Tetap menjaga kucing peliharaan yang kau titipkan hingga akhir pekan padanya, misalnya. 

2. Bertanggung Jawab

Setiap orang tentu pernah berbuat salah, namun dia yang memang memiliki tanggung jawab yang tinggi selalu tahu kapan akan disalahkan. Maka jika ada sesuatu yang sekiranya jadi kesalahan, tanpa harus menunggu orang lain yang bertanya. Dengan sigap, ia akan lebih dulu mengakui kesalahannya.  

3. Dapat Diandalkan

Masih jadi bagian dari tanggung jawab, sikap ‘dapat diandalkan’ adalah bukti bahwa seseorang memang baik tulus dari hatinya. Tanpa menghitung waktu dan materi yang ia sudah keluarkan, dirinya akan bersikap mengambil bagian untuk mengerjakan sesuatu yang memang sudah bagidan dari tanggung jawabnya sendiri. 

4. Mau Berbagi dan Kompromi

Penting untuk diperhatikan, apakah dia adalah sosok yang mau berbagi dan berkompromi. Apalagi jika itu adalah sesuatu yang menyangkut pekerjaan atau hubungan pacaran. Segala seuatu harus dibicarakan, berbagi untuk merembukkan, dan berkompromi untuk mencari jalan keluar. Jika sikap tersebut sudah ada dalam dirinya, itu berarti dia memang sosok baik yang bica dipercaya. 

5. Rendah Hati

Rendah hati adalah indikasi lain yang menandakan apakah seseorang itu baik atau tidak. Tak ada yang salah dengan rendah hati memang, namun jika ia terus-menerus menghindar dari pujian. Coba sampaikan padanya jika ia juga berhak dipuji dan menerima pujian. Dari sikapnya menerima pujian, kita bisa melihat apakah ia benar-benar baik atau tidak. 

6. Selalu Berusaha untuk Menemukan Solusi

Siapapun itu orangnya, akan ada masa dimana kita butuh bertanya. Mencari cara untuk mencari jalan keluar sebuah masalah atau diam saja menunggu apa yang akan jadi akibatnya. Salah dan benar adalah manusiawi, tapi bagaimana seseorang berlari mencari solusi adalah hal baik  yang patut diapresiasi. Tak menghabiskan waktu untuk berdebat, mencari solusi adalah langkah yang tepat. 

7. Tak Suka Berpura-pura

Menemukan orang yang tulus mungkin seperti mencoba menemukan jarum di tumpukan jerami. Tak suka berpura-pura berarti tulus dalam segala hal yang dilakoni. Ketika seseorang yang bertanggung jawab memberi pujian, ia tahu jika pujian itu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh. Selalu berkata apa adanya, mereka ini tak suka jika harus menyenangkan orang lain dengan berpura-pura. 

8. Murah Hati

Memang, murah hati selalu dekat dengan kemampuan seseorang untuk memberi. Entah itu materi atau bantuan lain yang beragam bentuknya. Seseorang bisa dikatakan murah hati karena ia memberi seorang gelandang makan, memberikan uang pada pengemis di jalan, atau menambah nominal tips pada pelayan di sebuah restoran. Jadi untuk bisa tahu apakah seseorang yang katamu baik adalah murah hati, cobalah lihat dari berbagai macam hal yang sering ia lakukan dalam hal memberi. 

9. Mau Memberi Bantuan

Selain bermurah hati untuk membantu orang, memberi bantuan juga jadi salah satu tanda seseorang yang baik sungguhan. Tak terbatas dalam hal materi, bantuan bisa diberikan dalam bentuk apa saja. Bahkan mendengarkan teman bercerita untuk keluh kesahnya saja adalah bentuk lain dari bantuan. Ia peduli pada situasi dan nasib seseorang, jadi apa saja dilakukan untuk membuat orang lain kembali tenang.  

10. Orang yang Percaya

Tidak hanya dapat dipercaya, dia yang baik juga haruslah bisa percaya pada orang lain. Jika ia memegang dan mempertahankan kepercayaan orang lain pada dirinya, ia juga menaruh percaya pada orang dengan tak asal bicara. Tak mau berpikiran negatif, ia selalu mencari sisi positif dari segala yang diterimanya. 

Jika kamu atau orang-oran yang disekitarmu sudah memiliki beberapa kebiasaan ini, itu berarti kalian adalah orang-orang baik yang sudah memiliki kebiasaan baik. Sehingga kemana dan dimana pun kalian berada, kebiasaan baik itu akan terus terjaga dan tetaplah baik meski banyak orang yang ingin menyakiti. Dengan catatan, jika perbuatannya sudah diluar bata, kamu pun berhak untuk membalas. Namun tetap, membalas dengan cara yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top