Feature

Jangan Menikah Karena Dituntut Usia, Karena Hidup Berdua Tak Semudah Kelihatannya

“Kamu sudah bekerja, berpenghasilan dengan usia yang cukup matang. Lalu apa lagi? Menikahlah!”

Hampir merasa bosan, kalimat ini sering kali terdengar di telinga. Sebagian besar masyarakat kita memang masih percaya, bahwa usia dan penghasilan yang cukup jadi bukti kesiapan untuk sebuah pernikahan. Hah? Masa iya sih?

Perjalanan cerita ke jenjang dewasa hadir dengan berbagai macam konsekuensinya. Mulai bertanggung jawab pada kehidupan sendiri, hingga kesediaan diri saat akan dicecar pertanyaan, “Kapan nikah?”

Seakan lupa hak yang kita punya, orangtua dan keluarga kerap bertanya, tanpa coba memahami apa yang sedang memenuhi isi kepala. Kita perlu merenungkan pertanyaan ini pada diri sendiri. Apakah diri ini mau menikah hanya karena diburu usia?

Tak Perlu Takut Dianggap Telat Menikah, Jika Diri Ini Masih Ingin Hidup Sendiri dan Bahagia

Ilustrasi akan bahagianya hidup orang-orang yang baru menikah, tak selalu berjalan lurus dengan kenyataan. Kamu mungkin akan sedikit iri, melihat beberapa postingan liburan seorang teman bersama pasangan halalnya. Hingga gemasnya bayi-bayi lucu yang telah mereka punya. Bukan tak ingin percaya bahwa mereka memang benar-benar bahagia. Kamu perlu tahu bahwa,ada berbagai macam kelelahan yang sebenarnya sedang mereka sembunyikan.

Toh tanpa harus menikah buru-buru, kamu juga bisa bahagia dengan caramu. Tak ada yang perlu terlalu keras dikejar. Apalagi kata telat yang selalu dijadikan acuan.

Memang Benar Ini Adalah Kebutuhan Tapi Keputusan yang Dipaksakan Tak Akan Berumur Panjang

Katakanlah kamu memang akan menikah, demi kebutuhan akan desakan dari orangtua atau keluarga. Tak ingin jadi anak yang tak berbakti, kamu pun menuruti keinginan mereka. Tapi tunggu dulu, apa iya itu adalah keinginan dari hatimu? Kalau ternyata tidak. Lantas untuk apa?

Meski cinta katanya akan tumbuh jika sering bersama. Tapi sesuatu yang datang bukan dari hati sering berakhir dengan luka. Entah itu melukaimu atau melukai dirinya. Karena semuanya dilakukan dengan terpaksa.

Tidak Ada Aturan yang Mengharuskanmu Untuk Menikah, Semua Pilihan Tetap Ada Padamu Sepenuhnya

Entah bermula dari mana, orang-orang di negara kita menganggap jika mereka yang dirasakan telah pantas sebaiknya harus buru-buru menikah. Mulai dari masalah usia, adat hingga ibadah pun dibawa-bawa. Kalau kamu tak cukup kuat untuk menerima semua desakan yang ada. Bisa jadi siapa pun yang telah didepan mata, akan diterima.

Coba bayangkan, memangnya ada undang-undang yang mengatur kita harus menikah? Kalau ternyata tidak, kenapa harus resah? Sebagai manusia yang telah dewasa kita bebas menentukan apa saja yang akan kita lakukan.

Tutup Telinga Untuk Semua Cibiran, Jalani Hidupmu Seperti Biasa

“Kasihan ya sudah dewasa, tapi tak pernah terlihat menggandeng pacar!”

Jika didengar secara sekilas, kalimat tersebut terlihat sebagai bentuk perhatian. Tapi isi didalamnya malah jauh lebih menyakitkan. Banyak orang yang akan mencibirmu, dengan berlaku seperti hakim yang berhak memvonis seorang tersangka. Padahal kamu juga tak berbuat salah.

Menikah akan menyadarkan kita bahwa hidup tak lagi tentang diri sendiri saja. Banyak hal yang harus rela kita tanggalkan, untuk memulai hidup baru yang berbeda. Jika ternyata belum cukup kuat untuk menerima, berjalanlah ke manapun engkau suka, tanpa perlu menghiraukan komentar mereka.

Karena Pilihan Ini Tak Cuma Soal Cinta Dua Manusia, Tapi Bagaimana Menyatukan Dua Keluarga

Kalau saja menikah hanya tentang dua kepala manusia, rasanya tak akan ada lagi kasus batal menikah cuma karena tak disetujui orangtua. Alasan semacam ini jadi hal lain yang patut dipikirkan matang-matang. Jangan sampai ketika hubungan sudah berjalan, tiba-tiba kamu merasa terjebak dan menyesal.

Selain berusaha menyakinkan diri bahwa dia adalah sosok yang kita cari. Dua belah keluarga tentu jadi pihak yang harus kita pikirkan. Adakah kecocokan yang memang ada titik temunya atau tidak? Jika ternyata dirasa tidak, sebaiknya jangan diteruskan.

Meski Kemapanan Katanya Membuat Bahagia Apa Artinya Jika Kamu Tak Nyaman Berada Disampingnya

Manusia lajang, khususnya perempuan kadang salah dalam mengartikan pasangan. Dan semoga kamu tidak akan bernasib sama dengan mereka. Entah atas dasar kemauan sendiri atau didesak orangtua dan orang-orang di sekeliling, masalah finansial jadi salah satu hal terkuat yang dijadikan patokan.

Seakan-akan kalau calon pasanganmu adalah sosok yang telah mapan, maka hidupmu akan lebih bahagia. Hal yang jadi pertanyaanya, apakah benar demikian? Tentu saja tidak. Ini bukan soal pergi ke KUA, lalu menikah saja. Tapi bagaimana kamu bisa mengikat diri untuk setia selamanya, meski tak akan langsung hidup bahagia. Merintis semuanya dari awal berdua dengannya tentu saja lebih membahagiakan. 

Semua Ini Tentu Jadi Perkara Kesiapan, Jika Masih Merasa Tak Mampu Cobalah Untuk Memantaskan Diri Dulu

Menikah jadi pilihan besar dengan segala konsekuensinya, kamu tak bisa tiba-tiba bilang ,“Ah aku udah nggak suka kamu lagi!”, lantas memilih pergi. Pernikahan adalah sebuah hubungan sakral. Kita tentu tak dapat mengakhiri sesuatu yang tak lagi disukai secara tiba-tiba.

Karena pada dasarnya tak ada istilah terlambat menikah. Semua ada masanya, kapan dan di mana kita akan menikah. Tak perlu memaksa diri untuk segera melepas masa lajang. Ini masalah kesiapan diri, baik mental, jiwa, serta materi.

Belum menikah sekarang bukan berarti kamu lebih buruk dari mereka yang lebih dulu menikah. Toh, dengan belum menikah bukan berarti kamu lantas tak bahagia!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kedewasaan Seorang Laki-laki Dilihat dari Seberapa Sabar Ia Menghadapi sang Kekasih

Jauh lebih penting daripada wajah rupawan, kedewasaan adalah pertimbangan yang akan dipikirkan perempuan saat hendak memilih pasangan. Apalagi jika hubungan yang dijalani akan dibawa ke jenjang pernikahan. Memang usia tak bisa dijadikan tolok ukur kedewasaan seseorang, itulah mengapa perempuan akan melihat kedewasaan laki-laki dari caranya bersikap. 

Jauh dari sikap emosional, ia memiliki pembawaan yang tenang dan selalu tahu kapan harus bersuara untuk menentukan segala hal. Jangankan untuk berkata kasar, bicara dengan nada yang tinggi saja ia mungkin tak pernah. Sabar dalam segala hal, kemampuannya untuk selalu bersikap baik pada semua orang akhirnya membuatmu jatuh hati.

Dan jika kekasihmu benar-benar memiliki sikap yang seperti itu, bersyukurlah kamu. 

Meski Kadang Menerima Perlakuan Tak Menyenangkan dari Orang, Ia Tetap Kalem dan Tenang 

Iya, kesabaran yang ia miliki mungkin akan membuatmu geram pada beberapa situasi. Semisal, tatkala kebaikannya dimanfaatkan oleh orang-orang. Bukannya menjauh atau membalas perbuatan mereka, ia masih saja bisa berkata ‘tak apa’ lalu memafkan yang sudah memanfaatkan kesabarannya. 

Darinya kemudian kamu belajar, bahwa meski perbuatan baik tak selalu dibalas dengan yang baik. Tapi kita tetap harus sabar. Menerima semua balasan, walau kadang jauh dari apa yang kita harapkan. 

Kesabarannya Padamu, Selalu Ia Tuangkan dalam Bentuk Perhatian yang Penuh

Tahu bagaimana cara untuk menempatkan diri di hadapan pasangan. Lelaki dewasa, selalu mampu bersikap sabar untuk menunjukkan perhatiannya padamu. Walau tak diminita, ia sudah tahu kapan harus bertanya dan bersuara. Memberimu perhatian untuk hal-hal yang kamu kerjakan, dan memberi dukungan untuk segala mimpi yang sedang kamu inginkan. 

Walau jauh dari hal-hal manis atau romantis, namun perhatian yang ia sampaikan selalu berhasil membuatmu merasa senang. Tak berlebihan, tapi itu membuktikan jika dirinya memang benar-benar sayang. 

Tahu Apa yang Ingin Diraihnya, Termaksud Bagaimana Kelangsungan Hubungan Bersama

Seorang lelaki dewasa tentulah punya tujuan hidup yang jelas dan apa saja mimpi yang ingin diraihnya di masa depan. Begitu pula kelangsungan hubunganmu dengan dirinya. Jika di depan perjalanan nanti akan ada konflik yang akan melanda hubungan berdua. Ia selalu siap dan tahu bagaimana cara untuk menghadapinya. 

Tak akan mudah menyerah begitu saja, dalam dirinya ada kebulatan tekad yang kuat untuk menghadapi semua hal yang ada. Maka, ketika lelaki sudah punya tujuan yang jelas, ia akan dengan sabar menjalani proses dan melewati semuanya dengan baik. Meskipun butuh perjuangan ekstra, ia tak akan mudah patah arang. Jadi kamu cukup beruntung mendapatkannya. 

Tanpa Harus Terbawa Emosi, Dirinya Selalu Bisa Bersikap Lembut dalam Menyelesaikan Masalah

Lain denganmu yang tak bisa berpikir jernih jika tengah menghadapi masalah. Entah mengapa lelaki ini selalu berhasil membuatmu membuka mata. Jika orang lain akan lelap dalam amarah saat kecewa, dirinya justru sebaliknya. Tenang dan selalu memberimu kedamaian, adalah dua hal yang akan selalu kamu rasakan saat sedang menyaksikannya menyelesaikan masalah. 

Bertolak belakangan dengan sikap dan kemampuanmu, ada bagian dari dalam dirimu yang terasa penuh setiap kali ada dia di dekatmu. 

Menghormati Privasi dan Mengerti Batasan 

Walau sudah berstatus sebagai pacar yang kelak akan jadi suami, tak sekalipun ia bersikap mengekang. Ia selalu percaya jika saling menghargai dengan memberi pasangan ruang gerak adalah penting untuk hubungan. Ia memberimu kebebeasan untuk berekspresi, membantumu bergerak untuk mewujudkan mimpi, dan selalu bersikap jadi teman baik setiap kali kamu butuh berbagi. Ia akan selalu mendengar, setiap kali ada hal yang ingin kamu bagikan. Menopangmu ketika kamu butuh dibantu. 

Serta Menempatkanmu Sebagai Prioritas yang Harus Selalu Diperhatikan dan Diutamakan

Tahu jika dirimu penting, kedewasaan yang ia miliki membuatnya menempatkanmu sebagai sosok penting yang harus selalu diutamakan. Dirinya paham, apa yang harus dipikirkan sekarang dengan hal lain yang sebaiknya diabaikan. Ia berpikir jauh ke depan dan sadar mana yang penting untuk didahulukan dan salah satunya adalah dirimu. 

Jadi Tak Heran, Jika Bersamanya Selalu Membuatmu Senang dan Tenang 

Kesabaran dan kemampuannya dalam memperlakukanmu dengan baik, tentu memberimu rasa nyaman dan bahagia yang tak biasa. Berbeda dari laki-laki yang sebelumnya mungkin kamu temui. Ia hadir membawa suasana dan dampak yang berbeda. Berdua bersamanya, membuatmu belajar banyak makna. Memberimu bahagia sebab telah menghadirkan warna-warna yang berbeda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hiduplah Sesuai Pilihan, Bukan Seperti Apa yang Orang Lain Inginkan

Menjadi manusia yang hidup dan bernafas, perjalanan kita hari demi hari adalah tentang bagaimana kita berjuang dan menerima semua yang kita dapatkan. Akan ada banyak pencapaian yang diraih, ada pula kegagalan yang tak bisa dipenuhi. Tak apa, bangkit dan jatuh memang dua hal berbeda, tapi keduanya akan terus berjalan beriringan, memberi kita kekuatan dan pelajaran.

Itulah sebabnya, kita tak butuh mendengar apa yang selalu orang lain katakan. Apapun yang terjadi, diri sendiri akan tetap jadi pihak penentu atas segala hal yang ingin dilakoni. 

Tak Perlu Bersikap Baik Hanya untuk Disenangi

 

Sibuk untuk mendapatkan pengakuan, kita terlalu sering lelap dalam kepura-puraan. Bersikap sebagaimana yang orang lain inginkan, hanya untuk dicap baik dan disenangi semua orang. Tak perlu terlalu memaksa, mengakui kekurangan bukanlah sebuah kesalahan. Karena berbohonglah yang seharusnya kamu hindari.

Mendapat pengakuan meski dengan cara yang tak benar, mungkin memberimu sedikit kepuasan. Tapi akan lebih baik jika kamu bisa hidup dalam kebenaran, bukan dalam pembenaran yang kamu karang. Celaan tak akan membuat kita mati, tapi pujian bisa membuat diri terlena hingga lupa arah. Kekuranngan dan kelebihan adalah sesuatu yang memang pasti dimiliki, jadi terima saja. 

Lakukan Apa yang Kamu Suka Jika Itu Adalah Sesuatu yang Ingin Kamu Jadikan Nyata

Agar hidup terasa lebih berharga, kita perlau menemukan apa yang memang benar-benar kita suka. Setidaknya, cari satu hal yang memang benar-benar kamu suka. Dalami hal tersebut, dan cari tahu maknanya. Jika nanti sudah berhasil menemukan, kamu akan merasakan bagaimana bahagianya, ketika kamu percaya pada satu hal yang kita yakini. Meski semua orang mungkin mencaci. 

Berhasil jadi manusia yang berlimpah materi, bukanlah jaminan kebahagian atas hidup seseorang. Gali potensi dalam diri, dan carilah jati diri yang benar-benar kau ingini. 

Setiap Orang Punya Takaran Bahagia yang Berbeda, Jangan Pernah Membandingkan Hidup dengan Mereka

Tak akan bisa berjalan ke depan, jika kamu masih selalu menjadikan pencapaian orang sebagai ukuran. Orang lain yang katamu berhasil itu, tentu sudah berjuang untuk mewujudkan apa yang kamu lihat sekarang. Jadi mulailah langkahkan kaki untuk berjuang, dan berhenti membanding-bandingkan pencapain orang dengan apa yang sudah kamu pegang. 

Mereka mungkin bisa tertawa meski sedang menghadapi masalah, sedang dirimu selalu merasa resah setiap kali ada persoalan melanda. Suka dan duka sudah ada porsinya, dan bagaimana cara setiap orang menikmatinya tentulah berbeda-beda juga. 

Dan Semua Hal Akan Lebih Terasa Berharga, Jika Kamu Tahu Cara Mensyukurinya

Jangan jadi pribadi yang maruk, ingin semua hal tanpa tahu cara berterimakasih atas apa yang sudah digenggam. Tak punya pertahanan dan selalu terbawa gelombang pergaulan hanya akan membuat lelah sendiri. Menjadi subjek yang bisa digerakkan ke sana dan ke mari hanya karena gengsi. 

Mulailah berpikir pelan-pelan, resapi semua hal yang kamu inginkan dan tanyakan pada hati dalam-dalam. Apa  yang sebenarnya kamu cari? Dan masih kurangkah yang kini sudah kamu ingini? Karena semua hal akan terasa lebih berharga jika kita tahu cara untuk mensyukurinya. 

Berhenti Bukan Tak Lagi Punya Mimpi, Melepas Bukan Berarti Membenci 

Pada beberapa fase kehidupan, kita mungkin akan dihadapkan dengan sebuah pilihan. Tetap melaju atau berhenti mewujudkan mimpi, masih akan terus bertahan atau memutuskan untuk melepaskan genggaman. Semua yang kita lakukan selalu memiliki alasan, adan apa yang kita inginkan tak selalu seburuk yang kita bayangkan. 

Belajarlah abai pada semua cibiran, pegang teguh apa yang selama ini memang membuat dirimu senang. Bahagiakan hati dengan tak lagi sembarangan memilih, dan selalulah berpikir tenang sebelum mengambil keputusan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Menasehati Orang Jatuh Cinta adalah Sebuah Upaya yang Sia-sia

Tahukah kau pekerjaan paling sia-sia di muka bumi? Memberi nasihat kepada orang yang sedang jatuh cinta,” –Semar

Sudahlah semuanya pasti sia-sia, karena apapun yang akan kita sampaikan tak akan didengar. Bagi mereka yang sedang jatuh cinta, semua hal tentang pujaan hatinya adalah sesuatu yang benar. Bahkan meski sudah tahu ada sesuatu yang salah, baginya itu selalu bisa dimaafkan. Jadi ya percuma saja, meski akan kau nasehati sampai mulut berbusa sekalipun ia akan tetap pada pemahamannya (setidaknya pada masa awal-awal pacaran). 

Ia mungkin akan mendengar apa yang kita sampaikan, mendengar apa yang kita bicarakan, tapi tak akan pernah melakukan apa yang kita sarankan. Nasib baik jika pujaannya juga cinta, kalau hanya bertepuk sebelah tangan barulah ia akan tahu rasa. 

Dirinya Sedang Mabuk Kepayang, Berpikir Cintanyalah yang Paling Benar

Pada situasi seperti ini, ungkapan jika ‘Cinta itu Buta’ adalah benar adanya. Karena ketika seseorang sedang jatuh cinta, logika dan kemampuan berpikirnya kerap tertutup dan tak bisa digunakan dengan benar. Ia tak lagi bisa melihat beberapa kejanggalan atau kesalahan yang mungkin dilakukan oleh sang pacar secara terang-terangan. Dan selalu terlihat menjadi tuli atas semua saran yang mungkin diberikan oleh teman. 

Kalau harus diibaratkan, ia sedang berada di puncak rasa percaya diri yang tertinggi. Merasa apa yang diyakininya-lah yang paling benar dan tak akan mendengar celotehan dari orang-orang. 

Bahkan Meski Didengarkan, Nasehatmu Hanya Akan Bertahan Beberapa Detik Setelah Kamu Sampaikan

Setelah mengalami beberapa kecewa, ia mungkin akan datang untuk bercerita. Meminta kita mendengarnya, dan berharap diberi saran atas masalahnya. Namun sayangnya nasehatmu tak akan mampu bertahan lama diingatannya. Mereka akan mendengar nasehatmu, mengiakan apa yang kamu katakan dan merasa yakin bisa melakukan seperti yang kamu sarankan.

Tapi, percayalah sekalipun ia bilang akan move on, melupakan dan bla-bla lainnya itu hanya berlaku beberapa menit saja. Tak lama dari permintaan saran tersebut, ia akan kembali menjadi bucin (budak cinta) dan menjunjung tinggi cintanya itu. 

Untuknya Tak Ada Kesalahan yang Tak Dapat Dimaafkan

Yap, ini adalah level terbucin yang akan membuat kita merasa kesal sekaligus kasihan padanya. Di mata orang-orang yang sedang jatuh cinta, tidak ada kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.

Jadi meski pacar atau gebetannya sudah berbuat kesalahan, sesakit dan sekecewa apapun hatinya, dengan senang hati ia akan selalu bersedia untuk memaafkan orang yang dicintainya. Serta tak segan-segan untuk meminta maaf lebih dulu, meski yang salah bukanlah dirinya. 

Senyata Apapun Bukti yang Kamu Tunjukkan, Dia Tak Akan Percaya yang Kau Katakan

Kamu mungkin sudah tahu jika pacar atau gebetan yang ia ceritakan, nyatanya tak benar-benar sayang. Satu waktu kamu mungkin punya bukti yang bisa meyakinkannya dirinya, jika orang tersebut bukanlah orang yang tepat untuknya. Berniat membantunya keluar dari hubungan yang salah, bukti yang kita bawa justru membuatnya berpikir bahwa kita tak suka melihatnya bahagia.

Meski sudah berupaya, meyakinkan dirinya, jika sang gebetan tak memiliki perasaan setulus dirinya. Ia akan selalu yakin, bahwa apa yang kita  bicarakan tak benar. 

Maka Satu-satunya Hal yang Paling Tepat Adalah Memberinya Dukungan dan Mengiyakan Semua yang Ia Sampaikan

Selama ia memang masih tak merugikan kita, satu-satunya sikap yang paling benar untuk menyikapi orang yang sedang jatuh cinta adalah dengan memberinya dukungan. Mendengarkan semua cerita yang ia bagikan, dan selalu mengiyakan semua obrolan yang ia sampaikan. Tak perlu dibantah, itu hanya akan jadi sesuatu yang sia-sia. 

Bairkan ia menikmati semua masa indah dengan bayang-bayang bahagia ata cinta yang ia anggap sebagai sesuatu yang nyata. Jika memang apa apa yang ia yakini tak benar, suatu saat ia akan sadar. Sadar jika, apa yang selama ini kita sampaikan adalah sebuah kenyataan yang seharusnya sudah lama ia dengar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top