Feature

Jangan Bimbang Pada Laki-laki yang Belum Mapan, Tapi Lepaskan Dia yang Mudah Menyerah Untuk Berjuang

Bagi perempuan perkara mencari pasangan jadi sesuatu yang cukup krusial. Tak heran jika akhirnya sebagian dari mereka kerap menjadikan beberapa syarat untuk dijadikan patokan. Dan mapan jadi poin paling atas yang sering dipakai oleh sebagian perempuan. Mereka terlihat memiliki ketakutan yang amat besar perihal materi dalam kehidupan.

Ini akan sah-sah saja jika ternyata kamu adalah perempuan cerdas yang juga cakap dalam hal materi. Sebab menurut salah seorang ahli sosiologi di University of Notre Dame, Elizabeth McClintock, para laki-laki yang tergolong sukses dan kaya cenderung memilih perempuan yang cerdas dan baik dalam hal karir.

Nah kalau ternyata kamu juga adalah seorang perempuan yang tergolong biasa-bisa saja. Apa iya masih akan bertahan pada kriteria mapan yang kamu punya. Padahal hal itu bukanlah satu-satunya indikasi yang akan menentukan dia laki-laki baik atau bukan. Kali ini kami akan membantumu untuk menelaah lebih dalam, tentang siapa laki-laki yang harusnya kamu perjuangkan.

Langkahnya Baru Saja Dimulai, Tapi Dia Sudah Mengeluh, Tinggalkan Segera, Bersamanya Kamu Tak Akan Bahagia!

Usiamu dan dia mungkin tak beda jauh. Sama halnya dengan kamu yang sedang meniti karir, dia pun begitu. Maka akan sangat wajar jika ada keluhan di beberapa persimpangan jalan. Tak perlu kamu risaukan, barangkali ia memang hanya butuh suntikan semangat darimu. Tapi jika keraguannya ternyata berlangsung terus-terusan dan membuatmu terganggu. Ada baiknya kamu tinggalkan dan cari yang baru!

Bukan apa-apa, apa iya kamu mau nanti setelah menikah akan dipimpin oleh seorang tukang ngeluh. Bukannya menopangmu agar lebih teguh, bisa-bisa dia malah jadi beban.

Dia yang sesekali terlihat menyerah namun akan kembali bersemangat ketika diberi dukungan adalah orang yang ingin maju. Lain halnya dengan dia yang memang malas dan hanya bisa menampakkan kelemahannya saja.

Dampingi Dirinya Menerjang Kerasnya Bebatuan, Namun Tak Perlu Bertahan dengan Dia yang Tidak Punya Semangat Juang

Sebagaimana pahlawan yang kerap dijadikan gambaran atas sebuah perjuangan. Laki-laki pun harus begitu, berjuang untuk hidupnya dan dirimu. Meski tak semua usahanya akan berjalan sesuai rencana, itu tak jadi alasan untuk meninggalkannya.

Dari kegagalannya itu kamu bisa belajar lebih mengenalnya, apakah dia adalah orang yang mudah menyerah atau tetap gigih untuk memenuhi keinginannya. Jika ternyata untuk memperjuangkan hidupnya saja dia ogah, untuk apa tetap bersamanya. Sebab pada diri sendiri saja dia enggan untuk berjuang. Bagaimana dengan kamu nanti?

Tatkala Dia Lelah Datanglah Untuk Menghiburnya, Tapi Jika Ternyata Dia Lebih Banyak Mengeluh Tinggalkan Saja

Seberapa besar pun semangatnya, suatu kali dia tentu lelah. Entah itu karena proses yang terlalu susah atau karena hasil yang masih jauh dari kata sempurna. Berperan sebagai pasangan yang baik, berada di sampingnya tentu jadi sesuatu yang dia butuhkann.

Sebab tak hanya pada dirinya saja, kesulitan untuk menghadapi kehidupan juga terjadi pada siapa saja. Cobalah memahami keluhannya, barangkali itu hanyalah salah satu cara untuk membuatmu lebih dekat dengannya.

Berbeda dengan sosok laki-laki lain yang ternyata memang akan selalu mengeluh setiap menghadapi masalah hidupnya. Entah itu apa saja, pokoknya satu hari terasa tak akan terlalui jika dia belum mengeluh. Kalau sudah begini, tak perlu ba-bi-bu-be-bo lagi, sudah tinggalkan saja.

Jangan Merendahkannya, Walau Kerap Masih Gagal Setiap Kali Mencoba, Itu Tandanya Dia Tak Mudah Putus Asa

Tak perlu buru-buru pergi untuk mencari penggantinya. Tetap setia mendampingi dirinya untuk keinginan lain yang mungkin akan dipenuhinya. Sembari belajar jadi pendamping yang setia, kamu akan lebih mudah memahami dan mengingatkannya jika suatu saat ada sesuatu yang kamu rasa salah.

Lagi pula tak ada sukses yang didapat dengan mudah. Kamu dan dia memang harus berjalan tertatih dulu untuk kemudian bisa melompat dengan bahagia. Melihat kerasnya dia berusaha, seharusnya kamu tahu bahwa dia akan jadi teman hidup yang kuat. Tetap berdiri meski berkali-kali gagal.

Bijaklah Membedakan Mana Dia yang Butuh Dukungan dengan Dirinya yang Memang Malas Sungguhan

Kamu tak boleh terkecoh, sebab sekilas dua hal ini jadi sesuatu yang tampak sama. Bisa jadi karena kondisinya memang sedang ada dibawah dan memintamu untuk menemaninya. Disini kemampuanmu untuk mendeteksi kebohongan lelaki akan diuji. Apakah kamu bisa membedakan mana dia yang sedang merasa lelah sebentar, dengan dia yang memang tak ingin berbuat apa-apa.

Dia yang saat ini memang masih tak mapan, tentu masih sedang berjuang. Memulai semuanya perlahan, hingga nanti akan menemukan hasil yang memuaskan. Beda halnya dengan dia yang memang tak ingin berubah. Masih nyaman dengan kondisi hidup yang tak punya.

Cobalah yakinkan laki-lakimu, bahwa kamu ini bukanlah perempuan yang meletakkan kemapanan jadi hal paling istimewa dari semuanya. Tapi beri tahu pula dia bahwa meski demikian bukan berarti dia akan berdiam diri tak berbuat apa-apa. Dan jika ternyata demikian, segera tinggalkan. Sebab kamu terlalu berharga untuk hidup bersama dengan dia yang mungkin hanya ingin ongkang-ongkang kaki saja.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Hanya Malas Membuka Hati Apalagi Kalau Akhirnya Hanya untuk Dikhianati

Keadaanku jauh lebih baik sekarang ini. Sekalipun menyadari statusku kini sendiri, tapi aku tak peduli sebab masa-masa berat itu akhirnya terlewati. Jika ditanya bahagia, maka jawabanku tentu “Ya”, aku lega karena tak harus memaksakan perasaanku untuk tetap menjalin hubungan pada orang yang hanya membuatku terpuruk setiap harinya.

Semuanya sudah berakhir. Aku benar-benar bersyukur. Namun ada tahapan baru yang harus kulalui, yaitu menghadapi berbagai opini dari sekitarku dengan keputusanku yang masih memilih sendiri. Ada rasa malas membuka hati yang mungkin kalian tak mengerti. Aku tak mau terburu-buru menemukan yang baru tapi berakhir pilu. Cukup sekali aku dikhianati.

Meski Aku Tak Menyimpan Dendam, Tapi Masih Jelas Rasanya Saat Memergoki Pasanganku Berselingkuh

Soal dendam, sudahlah, aku sama sekali tak dendam apalagi mau balas dendam. Hanya saja, efek dari perlakuannya terhadapku kala itu, aku sekarang jadi malas membuka hati. Untuk apa menjalin relasi kalau hanya untuk dikhianati? Bukan soal patah hati, tetapi aku tak ingin hal itu terjadi lagi di masa depan. Kenangan pahit itu akhirnya membuatku jadi amat selektif bahkan tak ingin lagi berpacaran apalagi jika ujung-ujungnya dibumbui perselingkuhan.

Pernah Jadi Korban Kekerasan Saat Menjalin Hubungan, Membuatku Semakin Jauh Dari Keinginan Membuka Hati

Bayangkan, aku dan dia bahkan belum menikah. Tapi nyatanya dia justru berani main tangan dan berani memukul saat kami selisih paham. Hal semacam ini yang akhirnya membuatku trauma dan memilih untuk menunda dulu dalam membuka hati. Banyak teman yang bilang, tak semua orang suka memukul, tapi entah kenapa aku hanya belum bisa menyingkirkan rasa malasku untuk membuka hati. Semacam ada luka yang memang belum sepenuhnya sembuh.

Baik Laki-laki Maupun Perempuan, Rasanya Hanya Buang-buang Waktu Kalau Membuka Hati Tapi Ujung-ujungnya Digantungkan

Hal ini terjadi tak cukup sekali. Entah salahku dimana, tapi hubungan yang aku dambakan tak pernah berhasil. Saat aku mengajaknya membicarakan soal kepastian, dia justru pergi dan tak kembali sekian lama, tersisa hatiku yang sudah hancur dan tak tahu bagaimana menatanya kembali. Intinya, aku benar-benar malas dengan segala hal yang berbau romansa. Niat baikku, perasaanku, segala hal yang tadinya kusimpan dan akhirnya kuutarakan baik-baik, ternyata berujung kisah diriku yang hanya dipermainkan.

Traumaku Belum Sembuh Sebab Kala Itu Keberadaanku Hanya untuk Dimanfaatkan

Pernahkah kamu merasa kebaikan hatimu hanya dimanfaatkan oleh seseorang semata-mata untuk kepentingan dirinya? Ini salah satu hal yang membuatku kapok pacaran. Entah bagaimana, aku menemukan fakta kalau mantanku hanya memanfaatkan keberadaanku demi kesenangannya saja. Materi yang kebetulan ada padaku, pada akhirnya berusaha dimanfaatkan olehnya. Bukan hanya rasa malas yang muncul, aku pun jadi lebih hati-hati pada siapapun yang berniat mendekatiku.

Alasanku Enggan Membuka Hati Salah Satunya Karena Sulit Sekali Kompromi dengan Gebetan yang Maunya Terus Dominan

Dominan yang kumaksud adalah selalu mengatur kemauanku sehingga aku merasa tak bebas melakukan hal yang aku inginkan. Bagaimanapun, aku ingin sesekali bersama duniaku sendiri dan tak ingin satu orang pun mengaturnya. Kalau terus-terusan bersama si dominan, entah mengapa rasanya seperti dikekang. Itulah alasan aku memilih perpisahan. Dan sekarang, pada akhirnya aku sadar urusan memilih pasangan pun harus lebih selektif lagi. Rasa malas memang masih ada, tapi semoga aku bisa mengatasi perasaan ini secepatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Berdamailah dengan Masa Lalu, Buka Hati untuk Cinta yang Baru

Perkara masa lalu, biarkan dirimu terus belajar dari orang-orang sekitar. Aku yakin, akan ada saatnya kamu mau menerima dan mengikhlaskan hubungan yang sempat berakhir di tengah jalan. Aku tahu rasanya memang sulit, kamu harus mengalami kenyataan pahit di masa lalu.

Tapi, kamu sudah melalui hal itu, kini saatnya untuk membuka hati dan melihat masa depanmu pada sebuah hubungan yang baru tanpa perasaan ragu. Kawan, sudahlah, bukan lagi saatnya untuk meragu. Bagaimanapun, kamu berhak mengukir kisahmu dengan hal-hal yang baru yang lebih indah dengan seseorang dimana nantinya kamu bisa merasakan bahagia lagi.

Saat Ragu Mulai Menyapa, Pikirkanlah Kalau Kamu Juga Berhak Bahagia

Setiap orang dibekali Tuhan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kamu hanya harus fokus pada kelebihan yang kamu miliki dan kembangkanlah kemampuan tersebut setiap harinya. Hal ini bisa jadi langkah sederhana yang membuatmu percaya bahwa kamu itu berharga.

Terlepas dari seberapa besar pengalaman membentuk pemikiran untuk menghindari hubungan dengan seseorang yang baru, kamu itu berhak bahagia. Tak usah membandingkan dirimu yang sekarang dengan yang lama serta mengungkit lagi soal kegagalan hubungan dengan orang baru yang datang menghampiri.

Lagipula, Kegagalan Seharusnya Bisa Membuatmu Memiliki Hati yang Lebih Lapang

Kalau kamu pernah putus cinta, bukan berarti kamu gak bisa mencinta lagi. Kegagalan dalam hubungan justru bisa menjadikan pribadimu lebih dewasa dalam hal mencintai dan dicintai. Sudah selayaknya kamu lebih bisa mencintai dirimu yang sekarang, kawan. Menerima seseorang yang pastinya bisa menghargai dirimu lebih dari sebelumnya, dan menjalin hubungan yang lebih naik tingkat. Karenanya, kegagalan memang seharusnya bisa membuatmu memiliki hati yang lebih lapang.

Pahamilah Kalau Setiap Pilihan yang Kamu Tetapkan Selalu Ada Risikonya

Keraguan dalam menerima seseorang justru bisa membawa dampak bagi dirimu sendiri. Mau sampai kapan kamu meragu dan terpenjara dengan perasaan itu seterusnya? Padahal, kamu sendiri juga tahu bahwa setiap hal yang membuatmu bahagia juga sepaket dengan kemungkinan terburuk serta kesedihannya.

Bagaimanapun, kegagalan di masa lalu harus membuatmu lebih bijak dalam mengambil langkah di masa depan. Setiap pilihan ada sisi enak dan tak enaknya memang, tapi jangan sampai kamu justru berhenti menutup diri untuk menjajal kesempatan baru dalam hidupmu.

Yakinkan Diri, Jika Kamu Memang Sudah Benar-benar Belajar dari Masa Lalu

Kalau dulu kamu masih main-main dalam menjalin hubungan, karena kegagalan yang terdahulu otomatis membuatmu makin bisa berpikir rasional, kan? Kamu jadi tahu mana yang lebih cocok dan mengeliminasi yang sekiranya tak sesuai sama dirimu. Termasuk soal memilih dan memantapkan hati pada hubungan yang baru.

Sekalipun memilih seseorang tanpa bayang-bayang orang di masa lalu memang bukan hal yang mudah, Janganlah sering membandingkan keduanya hingga tak kunjung mengambil kesempatan saat ada yang mendekati. Saat ini, yang perlu kamu perlu menghilangkan kebiasaan membandingkan ini, karena setiap orang punya kelebihannya sendiri.

Terpenting, Kamu Harus Sayangi Dirimu Lebih Dulu

Keraguan saat mau menjalin hubungan bisa datang dari ketidakyakinan diri untuk bertahan pada pilihan. Nah, jika kamu merasa dalam kondisi yang semacam ini, cukup jalani segala sesuatu dari apa yang ada di depan mata, terima dirimu seutuhnya. Dengan ini, maka kamu akan lebih mudah mempersilahkan seseorang hadir dan menjalani hubungan baru. Ingatlah, Tuhan pasti punya alasan dalam mempertemukanmu dengan seseorang yang  baru. Terlepas dari kenangan atau kejadian yang tak menyenangkan, aku berharap kamu bisa menjalani hubungan yang lebih berkualitas lagi dari sebelumnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hubungan Kian Hambar Tapi Enggan Tuk Meninggalkan, Aku Tahu Bagaimana Rasanya Kawan!

Relasi yang sudah berjalan dalam kurun waktu tahunan, tak bisa jadi patokan hubunganmu dengannya bisa tetap baik-baik saja. Justru ada saja rintangan yang jauh lebih besar yang akan kamu hadapi. Yang paling sering kejadian, ada sekian orang merasa tak punya lagi cinta yang sama besarnya seperti dulu saat baru awal-awal jadian. Semacam kehilangan gairah dalam hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Tapi dirinya sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan selain bertahan.

Sehat atau tidaknya sebuah relasi pun hanya kamu dan pasanganmu yang tahu. Bersyukurlah kamu kalau saat ini relasimu baik-baik saja, kamu dan pasangan bisa merawat cinta yang ada di tengah-tengah kalian. Sementara di luar sana, ada banyak sekali orang yang memutuskan untuk bertahan dalam sebuah hubungan walau ia merasa hubungannya sudah tak lagi sehat untuknya. Aku pernah merasakannya. Beberapa alasan mungkin terdengar klise, tapi memang itulah kenyataan…

Terlalu Malas Mengulang Pola ‘Kenalan-Pendekatan-Pacaran’ Seperti yang Sudah-sudah…

Memulai lagi. Rasanya malas sekali. Harus cari gebetan lagi, kenalan lagi, pendekatan, bahkan sampai mengulang lagi fase pacaran dari awal—yang berbeda cuma satu, yaitu pasangan yang baru. Yup, yang namanya menjalin hubungan yang baru, semua mau tak mau dilakukan kalau memang memilih untuk melepaskan pasanganmu yang sekarang. Kala itu aku pun berpikir demikian. Terlalu malas untuk berkutat dengan hal-hal semacam itu, karenanya aku memilih bertahan.

Tapi izinkanku memberi saran. Sebab ini soal masa depan, apa iya kamu terlalu malas untuk semua itu?  Bukankah lebih menyebalkan terjebak dengan seseorang yang membuatmu tidak sreg lagi dengan hubunganmu yang sekarang? Soal pasangan, masa depanmu pun ikut dipertaruhkan. Sekali kamu mengiyakan sebuah pernikahan yang tidak kamu inginkan, selamanya kamu akan terjebak di dalamnya. Kalau memang hatimu tidak untuk si dia yang ada disampingmu sekarang ini, lantas untuk apa terus bertahan dan berusaha keras?

Berusaha Mencoba untuk Nyaman Hanya Karena Takut Tak Bisa Menemukan yang Sepadan

Tak usah menghakimi diri sendiri dan takut tak akan dapat pasangan, yang perlu kamu pikirkan sekarang ini adalah bisakah kamu keluar dari hubunganmu yang hambar? Kalau kamu berani mendobrak hal ini, percayalah, akan ada seseorang yang tidak akan membuatmu merasa bosan walau setiap hari bersamanya. Kalau kamu belum merasakannya sekarang, tandanya dia memang bukan orang yang dipersiapkan untukmu, jangan takut putus dengannya.

Kamu Memilih Bertahan Karena Pertimbangan Usiamu yang Dicap Pantas Menikah

Dulu aku begitu, aku memilih bertahan karena usia jadi pertimbangannya. Usiaku seakan mengejarku untuk segera berumahtangga dengan pasanganku kala itu. Bertahun-tahun aku memegang prinsip “selagi ada pasangan” aku pun jadi ‘mau-tidak-mau’ tetap bertahan. Untukmu, jangan sampai terjebak situasi yang sama sepertiku. Selalu ada kesempatan asal kamu mau mengusahakannya. Lagipula, untuk apa kamu fokus pada usia menikah padahal kamu sendiri tidak yakin bisa hidup bahagia dengannya?

Kamu Merasa Dirimu Pantas Menerima dan Berada di Situasi Tersebut

Jangan sekali-kali berpikir kamu pantas berada di situasi yang sulit hanya karena kamu berlaku buruk di masa lalu. Bangunlah kepercayaan diri dan tunjukkan bahwa semua orang patut bahagia. Jangan pernah beranggapan kamu pantas menderita dengan bertahan pada cinta yang hambar. Kamu selalu pantas bahagia, asal kamu sendiri mau memperjuangkannya.

Kamu Tak Percaya Diri Karena Takut Mendapatkan Pasangan yang Lebih Buruk dari yang Sekarang

Padahal tak ada jaminan hal itu bisa terjadi. Begini, tak ada salahnya kamu juga peduli dan memikirkan dirimu sendiri untuk urusan relasi seperti ini. Jangan sampai bertahan membuatmu stres setiap harinya. Bahkan sekalipun kamu sudah sendiri, itu lebih membahagiakan dibanding jadi pasangan orang yang tidak lagi kamu cintai.

Hindari menyiksa dirimu sendiri. Kalau memang kamu tidak merasa nyaman, jangan takut untuk segera pergi dan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Cinta tak bisa dipaksakan, kawan. jangan salahkan dirimu atau dia yang tidak bisa membuat cinta kalian seindah dulu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top