Community

Jangan Asal Mengeluh Kerap Sakit-sakitan, Barangkali Kebiasaanmulah yang Jadi Penyebabnya

Jangan dulu berpikir yang bukan-bukan, barangkali sakit yang kamu rasa adalah hasil dari kebiasaanmu sendiri. Jangan dulu mengelak, sebab beberapa hal ini mungkin bisa menyadarkanmu. Jika sakit yang kamu derita datang karena kesalahanmu sendiri.

Sering Begadang Setiap Malam

Hindari begadang jika memang tak perlu. Pola tidur yang kacau merupakan salah satu penyebab kamu sering lemas dan sakit-sakitan. Istirahatlah dengan cukup, agar kinerja tubuh pun bisa bekerja dengan optimal.

Pesimis dalam Menjalani Kehidupan

Memandang negatif setiap hal yang terjadi hanya akan menambah beban pikiranmu. Berhentilah bersikap pesimis dalam menjalani hidup. cukup nikmati dan terus berusahalah melakukan yang terbaik.

Sering Tertekan dan Stress

Sumber penyakit yang sering dialami oleh banyak orang adalah pikiran. Pikiran yang tak tenang bisa mendatangkan penyakit yang beragam. Kamu harus mulai menjaga pikiranmu sendiri. Tetaplah memandang positif setiap hal yang terjadi padamu. Jangan terlalu memikirkannya.

Sering Meminjam Barang Orang Lain

Kuman penyebab penyakit bisa saja bersarang dimana pun. Kebiasaan meminjam barang orang lain bisa membuatmu lebih mudah terserang penyakit. Kuman yang ada pada barang yang kamu pinjam bisa saja berpindah ke tubuhmu sehingga kamu akan lebih mudah lemas dan sakit-sakitan.

Kurang Olahraga

Kamu sering bepergian menggunakan kendaraan bermotor? Coba kurangi itu. biasakan untuk lebih sering berjalan kaki dan berolahraga. Hal ini untuk melancarkan aliran darah dan melatih otot tubuh agar tak kaku. Semakin kamu sering olahraga semakin bagus untuk kesehatanmu.

Berteman dengan Para Perokok

Meskipun kamu tidak merokok, berteman dengan perokok sama saja bisa mengancam kesehatanmu. Nyatanya perokok pasif lebih rentan akan penyakit. Jadi kamu harus lebih hati-hati dalam bergaul. Boleh saja kamu berteman dengan para perokok, asalkan kamu menjauhi posisi mereka saat sedang merokok agar kamu tak menghirup asap rokoknya.

Sering Mengonsumsi Antibiotik

Seringnya konsumsi antibiotik yang kamu lakukan bisa jadi menjadi penyebab dari tubuhmu yang mudah lemas dan sakit-sakitan. Nyatanya terlalu banyak mengonsumsi antibiotic bisa membuat bakteri dalam tubuhmu semakin kebal dan metabolisme tubuhmu pun bisa menurun.

Terlalu Serius dalam Menghadapi Segala Hal

Pikiran dan sikap yang terlalu serius nyatanya dapat membuatmu menjadi orang yang sakit-sakitan. Apa kamu pernah dengar sebelumnya bahwa tertawa adalah obat awet muda? Jadi jangan terlalu serius ya, terlalu serius bisa membuatmu depresi nantinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Menarik, Ternyata Lama Kamu Menguap Bisa Menunjukkan Tingkat Kecerdasanmu Loh!

Menguap adalah hal yang wajar dialami oleh setiap orang. Namun ternyata, para peneliti memandang cara menguap seseorang secara berbeda. Para peneliti ini percaya bahwa fenomena menguap merupakan cara untuk membantu mendinginkan otak dan melancarkan sirkulasi yang mengarah pada semangat yang kamu miliki.

Para Peneliti Mencoba Merekam Aktivitas Menguap pada Berbagai Spesies Hewan

Para peneliti mempelajari kecenderungan lamanya waktu spesies yang berbeda dalam menguap dengan merekam kumpulan klip dari hewan yang menguap kemudian dikompilasi dalam satu video. Setelah itu peneliti akan membandingkan jumlah neuron kortikalnya, yang menunjukkan indikasi kompleksitas otaknya.

Dan Primata Memiliki Lama Menguap yang Paling Panjang Dibandingkan Hewan Lainnya

Peneliti menemukan fakta bahwa semakin banyak jumlah neuron kortikalnya, maka lama menguapnya akan semakin panjang. Meski begitu, manusia tetaplah makhluk hidup yang memiliki lama menguap paling panjang. Artinya manusia memang termasuk makhluk hidup yang paling cerdas dibanding hewan primata maupun hewan lainnya. Penemuan ini dipublikasikan di The Royal Society Biology Letters.

Kompleksitas Otak Mampu Menentukan Lamanya Menguap Sekaligus Tingkat Kecerdasan

Tim peneliti mengungkap catatan penting bahwa ukuran struktur anatomi yang terkait dengan aktivitas menguap (seperti rahang dan bentuk tengkorak) tidak berpengaruh maupun relevan dengan lamanya menguap. Peneliti menyimpulkan bahwa ukuran otak atau lebih spesifiknya kompleksitas otak merupakan indikator yang berpengaruh pada lamanya menguap. Dimana hal itu bisa mengonfirmasi bahwa tujuan menguap memiliki hubungan dengan fungsi otak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kita Bisa Saja Depresi Tanpa Kita Sadari

Hidup berjalan dengan cepat, setiap hari ada saja tantangan yang harus kita selesaikan. Alih-alih menemukan solusi untuk merampungkan semua perkara, kegagalan dalam bertindak sering kali jadi beban pikiran yang berat.

Perasaan tertekan, merasa tak berdaya, rendah diri, sampai kepada putus asa, bisa dengan mudah datang menghampiri kita. Dan jika situasi seperti ini terus-menerus berlangsung, bisa-bisa kita akan depresi tanpa kita sadari.

Dikutip dari Tirto.id, pada titik tertentu, depresi dapat berujung pada bunuh diri. Data yang dikeluarkan oleh WHO pada 2012 memperkirakan terdapat 350 juta orang mengalami depresi, baik ringan maupun berat.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia pada 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional, yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang.

Maka, beranjak dari data tersebut. Bukan tak mungkin pula, jika kita bisa jadi salah satu penderitanya, hanya karena depresi yang sedang dihadapi. Untuk itu, ada beberapa gejala depresi terselubung yang bisa saja kita alami, tanpa disadari.

Tak Banyak Bergerak, tapi Tubuh Terasa Sangat Lelah

Suatu kali, masih dengan kegiatan yang serupa dengan hari sebelumnya. Mendadak tubuh terasa lebih lelah dari biasanya, seolah energi yang ada habis terkuras, tak tahu hilang kemana. Dan jika hal ini telah terjadi secara berturut-turut, bisa jadi tubuh kita memang sedang depresi.

Badan terasa berat, bahkan jam tidur pun sering terganggu karena acap kali terbangun pada tengah malam. Jangankan untuk bisa melakukan kegiatann fisik yang berat, untuk berdiri saja kadang tak bergairah. Coba berhenti sejenak dari aktivitasmu, lalu pikirkan adakah hal-hal yang sekiranya memang jadi beban.

Mendadak Merasa, Bahwa Hidup Kita Tidak Lagi Berharga dan Tak Berguna

Bayang-bayang untuk segera mengakhiri hidup, barangkali sedang memenuhi isi kepala. Kita merasa bahwa apa pun yang saat ini sedang dijalani tak berguna, dan tak memiliki tujuan yang jelas. Titik terang dalam hidup yang biasanya jadi sumber semangat, hilang dan membuat kita juga kehilangan harapan.

Situasi seperti ini, yang sering jadi titik akhir dari seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Meraih benda-benda yang ada disekeliling untuk bunuh diri, yang konon dinilai sebagai jawaban atas permasalahan hidupnya. Padahal jelas ini bukanlah solusi.

Barangkali ini memang akan terasa berat, tapi jika dalam situasi seperti ini, sebisa mungkin cobalah untuk belajar terbuka dan berbagi cerita dengan teman yang bisa dipercaya.

Ada Gangguan dalam Hal Berkonsentrasi yang Juga Menganggu Memori

Di tempat kerja, beberapa tanggung jawab dan tugas mulai terbengkalai. Hal-hal yang harusnya bisa diselesaikan tepat waktu, mundur dari jadwal yang sudah ditentukan. Dan sialnya lagi, hal-hal penting yang harusnya sudah ada diluar kepala mulai terlupakan begitu saja. Bahkan, untuk mengingat nama dan hal-hal remeh saja kita kesulitan.

Cobalah untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang sedang dijalani, rileksasikan pikiran dan tubuh sebentar. Jika memang dirasa perlu, kita disarankan untuk mengambil cuti barang beberapa hari.

Perubahan Berat Badan yang Tak Wajar

Untuk perkara ini, biasanya ditandai dengan nafsu makan yang berubah secara tak wajar. Kamu yang tadinya tidak bernafsu makan, bisa mendadak sangat bernafsu untuk melahap apa saja yang ada di hadapanmu. Begitu pun sebaliknya, dari yang tadinya punya nafsu makan wajar dan berjalan baik-baik saja. Mendadak tak bernafsu untuk mengonsumsi apa-apa.

Hasilnya, kamu bisa saja mendadak kehilangan berat badan dengan drastis, juga mengalami kenaikan berat badan yang sama tinggi. Intinya, kalau nafsu makanmu memang terasa berubah dan tak seperti biasanya. Coba dilihat-lihat lagi, barangkali benar jika kita memang sedang depresi.

Dari Berbagai Macam Hal, Tak Satu Pun Mampu Membuat Kita Bahagia

Kebosanan yang terasa, mulai merambat ke berbagai hal yang ada di depan mata. Aktivitas sehari-hari, mulai terlihat menjenuhkan dan tak lagi bisa dijadikan sumber semangat. Bahkan, mereka yang tadinya kita cintai, kita senangi, kita sukai saja, tak menambah nilai bahagia.

Kita terus-menerus merasa bosan, lelah dan tak memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal baru. Agenda bertemu teman yang tadinya rutin dilakukan pun, mulai kita tinggalkan. Sebab kita tak suka bertemu dengan banyak orang.

Suasana Hati Sering Kali Memburuk dan Susah Untuk Diobati

Tanpa bisa mencari penyebab yang jelas. Mendadak saja suasana hati kita berubah. Rasa sedih yang tak beralasan, cemas yang berlebihan, atau jengkel pada sesuatu hal tanpa alasan. Jangan pikir kamu akan tahu apa sebabnya, karena meski sudah susah payah mencari alasannya, kita masih saja bingung, mengapa perasaan seperti itu menghinggapi kita.

Meski diri merasa tak ada alasan yang menyebabkan perubahan suasana hati tersebut. Tapi pastilah ada alasan lain yang membuat kita merasa demikian. Ini bisa jadi tanda dari depresi, karena kita tak bisa memahami diri sendiri.

Pelan-pelan, Kesehatan Kita Ikut Terpuruk

Tak jelas bagaimana mulainya, kondisi kesehatan kita mendadak berubah menjadi buruk. Mulai dari sakit atau nyeri pada bagian persendian atau punggung, hingga beberapa gangguan pada percernaan yang datang bersamaan.

Selalu ingat, bahwa gejala depresi datang dengan kondisi yang demikian, dan jika situasi ini masih berlanjut. Ada baiknya, kita segera meminta bantuan dokter atau psikolog. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan bantuan pada waktu yang tepat. Berdiam diri dalam segala perubahan kesehatan yang sedang kita alami, hanya akan memperparah situasi.

Lalu, Adakah Pengobatan yang Tepat Untuk Depresi dan Bagaimana Ini Bisa Dicegah?

Pada beberapa situasi serupa, biasanya seorang dokter akan merekomendasikan terapi atau pengobatan berbicara. Meminta kita untuk berani membicarakan semua hal yang kita rasakan dan bagaimana situasi hati kita saat ini.

Selain itu, beberapa penelitian juga mencoba untuk memberikan metode pencegahan depresi. Dimana salah satunya menyatakan bahwa beberapa bentuk depresi, dapat diobati dengan asupan vitamin D. Dengan catatan, kamu hanya boleh mengkonsumsi pil tersebut sesuai anjuran dari dokter.

Akan tetapi, jika memang depresi yang dialami sudah tergolong berat. Segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis yang bisa memberikan penanganan dengan tepat. Karena hal ini akan lebih mudah diatasi, jika diamati dari tahap awalnya.

Sekilas depresi jadi bentuk lain dari situasi hati yang sedang baik, tapi percayalah hal ini bukanlah situasi yang bisa dianggap remeh.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Terlihat Menarik di Kaca, tapi Biasa Saat di Foto. Kira-kira Kenapa?

Tak hanya perempuan yang dikenal sering berlama-lama di cermin, laki-laki mungkin juga pernah mengalaminya. Berkali-kali kita memastikan, bahwa penampilan diri sudah cukup terlihat cantik atau tampan di depan kaca. Tapi anehnya, hal itu seketika berubah dengan apa yang ada di foto di kamera atau telepon genggam saat kamu mencoba memotretnya di waktu yang sama.

Ini jadi pertanyaan besar, tentang apa yang sebenarnya mempengaruhi perubahan penampilan diri jika dilihat dari alat yang berbeda. Kami rangkum dari berbagai macam sumber, beberapa penjelasan berikut ini mungkin bisa kamu pahami.

Bermula dari Kebiasaan Kita yang Lebih Sering Melihat Diri Lewat Cermin dan Mere Exposure Effect

Yap, hampir semua manusia yang ada dimuka bumi ini terbiasa untuk melihat dirinya sendiri melalui cermin. Padahal ada beberapa cermin yang tidak jujur, loh. Pemandangan akan sosok wajah kita yang terlihat di cermin, menjadikan kita beropini bahwa itulah wajah kita yang sesungguhnya. Faktanya, foto wajah yang kita lihat menunjukkan secara terbalik dari apa yang terbiasa kita lihat di cermin, sehingga kita merasa sedikit aneh untuk hal itu.

Selain itu, seorang psikolog bernama Robert Zajonc juga menemukan sebuah teori, yang diberi nama Mere Exposure Effect atau paparan semata. Dimana seseorang akan merasa lebih baik pada sesuatu yang sering dilihatnya. Untuk itu, ketika kita diminta untuk melihat potret diri dari posisi yang sebenarnya, barulah kita merasa ada sesuatu yang janggal terasa.

Juga Dipengaruhi Oleh Distorsi Kamera yang Merubah Ulang Proporsi Penampilan Tubuh

Coba ingat-ingat kembali, tanpa kita sadari ada satu foto yang mungkin memperlihatkan bagian tubuh yang berbeda dengan situasi sebenarnya. Tidak, kamu tak salah lihat kok. Hal ini disebabkan oleh peran kamera, apalagi jika fotomu tersebut diambil dengan kamera selfie.

Dikutip dari IDNTimes, beberapa fotografer menyatakan bahwa hampir 90% kliennya mereka merasa lebih puas, ketika hasil fotonya di-rotate secara horizontal menyerupai cermin. Selain itu, tipe lensa yang dipakai untuk memotret dirimu juga memberikan pengaruh untuk perbedaan yang sering kita lihat. Katakanlah lensa wide angle yang terdapat pada ponsel, yang jelas-jelas membuat segala sesuatu lebih terlihat besar dari aslinya.

Angle dan Cahaya Jadi Dua Hal yang Juga Mempengaruhinya

Kamu mungkin sudah pernah dengar, istilah fotogenik yang sering dipakai untuk seseorang yang memang terlihat menarik ketika difoto. Dengan kata lain, kamu juga perlu paham tak semua orang dikarunia kemampuan seperti ini. Kamu boleh punya hidung lebih mancung daripada orang lain, leher yang jenjang dengan rambut panjang terurai bagus. Tapi anehnya, setiap kali difoto, sosok kawan yang wajahnya biasa saja, justru terlihat lebih cantik daripada kamu. Bagaimana, sampai sini paham? Ya semoga saja ya…

Selanjutnya, sumber cahaya selama proses pengambilan foto juga jadi hal yang memengaruhinya. Konon setiap cahaya, memiliki suhu sendiri. Tapi ketika sedang bercermin, kita tak memberi fokus pada hal tersebut. Kita justru meratakan pandangan atas apa yang sedang dipertontonkan untuk kita. Sedangkan pada foto hasil jepretan, dengan detail dan teliti kita justru akan melihat semua sisi yang mungkin berbeda.

Terlalu Terfokus pada Objek Tertentu

Ketika sedang memandang wajah sendiri di cermin, biasanya ada satu bagian tertentu saja yang kita amati dengan sedemikian rupa. Namun, hasil foto biasanya akan mengajak kita untuk melihat gambaran diri pada semua sisinya.

Jadi jangan heran, jika saat sedang bercermin kita merasa cantik atau tampan. Itu karena hanya ada bagian tubuh yang kita jadikan fokus utama. Sebaliknya saat sebuah potret dari dirimu, ada saja yang terasa kurang sempurna dan terlihat berbeda dari aslinya.

Dan Refleksi dari Mata yang Berbeda

Percaya atau tidak, setiap orang punya cara pandang yang berbeda pada suatu hal. Kamu bisa bilang potret bunga matahari lebih indah dari potret bungan mawar, tapi sebaliknya ada saja orang yang menganggap bahwa potret dari bunga mawar jauh lebih indah dari bunga matahari.

Ya, refleksi kita  cermin memberikan kita gambaran foto diri sendiri dari mata kepala kita. Sedangkan foto-foto yang kita saksikan adalah bentuk lain dari gambaran diri dari mata orang lain.

Dengan kata lain, sesungguhnya hasil foto jadi satu gambaran yang justru lebih dekat dari situasi dan gambaran diri yang sebenarnya. Lalu, menurutmu kira-kira bagaimana? Cantikkan di cermin atau foto?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top