Trending

Jafro Megawanto : Dulu Diupah 5 Ribu Rupiah, Kini Dapat Bonus 2,35 Miliar Rupiah  

Selain pagelaran Asian Games 2018 yang menorehkan banyak kesan haru dan bahagia, prestasi para atlet kita jadi sesuatu yang patut diacungi jempol. Jika sebelumnya pemerintah berharap kita akan masuk di 10 besar, nyatanya kontingen Indonesia dengan mantap bisa duduk di posisi ke 4. Bagaimana tidak? para punggawa yang membawa nama Indonesia itu, berhasil menyabet 93 medali, diantaranya 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu.

Seremoni pembukaan dan penutupannya jadi perbincangan di berbagai negara, gegap gempita bahagianya masih kian terasa. Dan tak lupa para atlet kita pun mendadak kaya. Wajar saja, sebagaimana janji pemerintah seluruh atlet dan pelatih yang mendapat medali, mendapat kucuran bonus dengan nominal yang cukup fantastis. 

Dan dari banyak nama atlet yang tadinya jadi pusat perhatian, Jafro Megawanto jadi sosok yang mendadak banyak diperbincangkan. Sebab perolehan medali yang disumbangkannya, menempatkan ia jadi sosok atlet yang paling banyak menerima bonus dari pemerintah.

Sumber : https://www.instagram.com/jafromegawanto/

Wajar saja, karena Jafro telah menyumbang dua medali emas dan satu medali perunggu. Satu  medali emas tersebut didapat dari nomor ketepatan mendarat perorangan atau men’s individual accuracy, sedang yang satunya lagi didapat dari nomor akurasi beregu putra atau men’s team accuracy. Sedangkan satu perunggu ia dapatkan pada kategori lintas alam beregu putra.

Maka tak heran, jika laki-laki kelahiran Malang, 25 tahun silam tersebut dikabarkan mendapat bonus dengan total nilai sebesar Rp. 2, 35 miliar rupiah. Dengan pembagian, Rp. 1,5 miliar dari medali emas paralayang akurasi tunggal putra, Rp.750 juta dari medali emas dari paralayang akurasi beregu putra, dan Rp.150 juta dari medali perunggu lintas alam beregu putra. Dengan begitu, ia memang jadi atlet dengan perolehan bonus tertinggi dari seluruh kontigen Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018.

Sumber : https://www.instagram.com/jafromegawanto/

Tak hanya nominal bonus yang kini sudah masuk dipundi-pundi rupiah miliknya. Perjalanan yang dilalui Jafro hingga jadi seperti sekarang ini juga patut diapresiasi. Tinggal di sekitar lokasi pendaratan paralayang, Jafro sudah menggeluti dunia paralayang sejak kelas 2 SMP. Diusianya yang masih 13 Tahun, ia sudah menjadi seorang peraboy atau tukang lipat parasut dengan upah 5 ribu rupiah.

Bahkan pada salah satu percakapannya dengan kompas.com, Jafro mengaku masih menggeluti hal kegiatan tersebut sampai sekarang. “Sampai sekarang masih ngelipet (melipat), Mas. Upah dari melipat itu buat naik ojek untuk latihan,” katanya melalui sambungan telepon genggam dengan awak media kompas.

Sebelum berlaga di Asian Games 2018, Jafro juga sudah pernah mengikuti berbagai kejuaraan baik tingkat Nasional maupun Internasional. Di tahun 2016, dirinya sudah mendapatkan medali emas PON di Jabar. Lalu pada 2017, berhasil menjadi juara 2 Piala Dunia Paralayang Akurasi di Kanada. Kemudian di tahun 2018, ia juga menjadi juara 5 pada kejuaraan paralayang dunia di Kazakhstan.

Jadi jangan hanya fokus pada besarnya bonus yang ia terima ya, kamu juga perlu tahu perjalanan panjang yang juga ia lalui untuk sampai di titik seperti sekarang ini.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top