Feature

Iya, Aku Tahu Dia Rekan Kerjamu, Tapi Aku Juga Berhak Cemburu kan?

Tujuh hingga delapan jam dalam sehari waktumu terpakai untuk bekerja kan Sayang? Berangkat pagi dan tiba di rumah saat malam hari, bagiku itu sudah jadi makanan sehari-hari. Aku tahu, bukan hanya aku sendiri yang mengalami hal ini. Istri-istri di luar sana pun pasti merasakan apa yang aku alami. Tapi sebentar, bisakah saat kamu sudah ada di rumah, pikiranmu tak usah lagi terpaku pada urusan kantor?

Sejujurnya aku jengah melihatmu masih sibuk mengurusi soal pekerjaan saat anak-anak ingin bercengkrama denganmu. Lihat saja, betapa gesitnya jemarimu membalas setiap pesan instan yang masuk. Kejengahanku belum selesai, aku lihat ada satu-dua rekan kerjamu yang terlihat intens berkomunikasi denganmu, bahkan ketika kamu sedang bersamaku. Apakah hal itu wajar?

Mataku Gesit Mengintai, Kulihat Kamu dan Dia Saling Melempar Tawa hingga Sering Menyelipkan Emoticon Gembira

Dari foto profilnya, terlihat jelas dia seorang wanita. Kamu hanya berkata dia adalah rekan kerjamu satu divisi. Mau tak mau pekerjaanmu selalu bersinggungan dengannya. Entah apa yang kalian bicarakan saat di kantor, tapi haruskah obrolan itu berlanjut bahkan ketika pekerjaan di hari itu sudah selesai? Tidakkah kamu bilang padanya kalau kamu punya keluarga yang butuh perhatianmu juga? Kamu terlihat akrab, bahkan saling melempar tawa sampai menyelipkan emoticon bahagia saat sedang berkirim pesan singkat. Kuakui, aku cemburu.

Kamu Mulai Membatasiku Untuk Tidak Boleh Mengakses Ponsel Pribadimu, Adakah Sesuatu yang Kamu Sembunyikan?

Bagaimana aku tidak cemburu kalau kamu justru membatasiku untuk mengetahui teman-temanmu. Tadinya kamu sangat terbuka, menceritakan satu per satu teman kerjamu hingga aku tahu siapa mereka, tinggal di mana, atau bahkan asal mereka. Tapi belakangan untuk urusan teman yang satu ini, kenapa kamu sedemikiannya membatasiku? Salahkah aku kalau hanya ingin tahu rupa dan kepribadian teman kantormu yang satu ini?

Tak Bisakah Kamu Makan Malam di Rumah Saja dibandingkan Menghabiskan Waktu Berdua di Luar Jam Kerja?

Coba kamu ingat lagi, kapan terakhir kali kamu makan malam di rumah? Walau kamu masih rutin menyantap bekal buatanku untuk makan siang, tetap saja rasanya kurang saat kutahu ketika pulang kerja ternyata perutmu sudah terisi. Tak ada lagi quality time bersama di meja makan. Waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk bercengkrama, rasanya semakin sulit karena alasanmu tetap sama: sibuk bekerja. Alasan itu mungkin terdengar relevan, tapi semakin kesini rasanya makin berat saja. Kamu lebih memilih menghabiskan waktu dengan rekan kerjamu itu dibanding pulang dan menyantap masakanku untukmu.

Prioritasmu Kalau Bukan Meeting, ya Pergi Ke Luar Kota. Sementara Aku Disini Terus Menunggu Kapan Kita Punya Waktu Berdua

Bagaimana pun, aku jadi menabung rindu padamu. Rindu saat kita menghabiskan waktu bersama, rindu kala kamu mendengarkan setiap cerita yang aku tuturkan dan tak sibuk menatap layar gawai. Kini aku jelas merasa kamu berbeda.

Meski kita tinggal di satu atap, kutahu jiwamu tak sepenuhnya di sini. Aku jadi semakin merasa jauh darimu seiring kesibukanmu yang tanpa jeda. Hari ini meeting, besok ke luar kota. Begitu seterusnya. Rinduku lambat laun beralih jadi kesal dan uring-uringan saat kutahu kamu ke luar kota dengan rekan kerjamu yang satu itu. Sementara kamu asyik mengobrol dengannya, aku di rumah hanya bisa membatin, kapan kita bisa menghabiskan waktu bersama?

Wajarkah Aku Jika Cemburu Pada Rekanmu Itu? Kamu Sah-sah Saja Berteman dengannya, Satu yang Kuminta: Jangan Mengorbankan Waktu Bersama Keluarga demi Dia yang Bukan Siapa-siapa

Bagaimana pun, kamu berhak punya waktu dengan teman-temanmu. Aku tak akan menuntup akses untuk itu. Hanya saja, tolong jangan abaikan aku dan keluarga. Sebab sejauh-jauhnya kamu pergi dan sepuas-puasnya kamu tertawa di luar sana, pada akhirnya kamu akan menutup hari dengan pulang ke rumah. Pada akhir pekan, tolong simpan dulu gawai dan urusanmu dengan kantor. Aku menantimu menyediakan waktu untuk sekadar jalan-jalan sebentar dan menggandeng tanganmu sebagaimana yang sering kita lakukan sejak dulu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kemarin Kita Berpisah, Hari Ini Semoga Kita Lebih Dewasa

Dari setiap kisah cinta yang sudah usai, sakit hati dan kecewa jadi sesuatu yang pasti kita rasakan. Aku manangis semalaman, begitu pula kamu yang tampak masih saja tak yakin jika hubungan kita sudah tak lagi bisa diteruskan. Sama-sama merasa kehilangan, membuat kita memendam sakit yang teramat dalam. 

Namun dari sekian banyak luka yang sedang bertengger di jiwa, ada banyak hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran untuk kisah cinta selanjutnya. Meski tak lagi bisa bersama, hidup kita tentu akan terus melaju seperti biasa. Mari sama-sama meyakini, sakit hati ini akan jadi pelajaran agar kita lebih dewasa di kehidupan mendatang. 

Setelah Putus Cinta Kita Belajar Arti Kehilangan dan Lebih Paham Bagaimana Cara Mempertahankan Hubungan

Percayalah, semua hal yang terjadi dan terlalui datang dengan masing-masing pelajaran. Selain merasakan kesedihan yang membuat hati terluka, kita berdua jadi lebih paham bagaimana rasanya kehilangan sosok yang dicinta. Sehingga kelak kita kita akan bertemu dengan sosok lain yang bisa dicintai, kamu dan aku akan lebih tahu, bagaimana cara menjaga dan mempertahankan hubungan dengan dirinya. Lebih kuat dalam urusan hati, perjalanan melewati kisah sedih ini jadi satu proses baru yang lebih dari sekeda cerita patah hati. 

Kita Berdua Kian Paham, Apa yang Sebenarnya Kita Cari dan Butuhkan 

Semua hal berubah, begitu pula kita berdua. Kamu yang tadinya kupercaya sebagai sosok yang tepat, ternyata bukanlah seseorang yang benar-benar aku inginkan. Begitu pula denganmu. Kita berdua kehilangan arah, tak lagi bisa menyatukan isi kepala. 

Hingga akhirnya memutuskan berpisah, yang secara tak langsung menikam satu belati ke masing-masing dada kita. Ya, sebagaimana aku yang merasa menderita, kamu juga terlihat kecewa dan sulit bersuara. 

Paham bahwa cerita kita sudah usai, kini kita tahu. Bahwa dia yang selama ini ada di dekat kita, bukanlah sosok yang benar-benar kita inginkan untuk bersama. Walau awalnya membuat gundah, aku dan kamu kini tahu bahwa ada sosok lain yang sebenarnya kita inginkan. 

Memutuskan Berpisah Karena Adanya Perbedaan, Mengubah Kita Agar Bisa Berubah Jadi Pribadi yang Lebih Baik Lagi 

Bukan tak berjuang menyelematkan hubungan, kita berdua sudah jadi manusia hebat yang terus mempertahankan semuanya demi hati dan pikiran. Hingga akhirnya kita sadar, bahwa apa  yang selama ini kita pertahankan bukanlah sesuatu yang layak untuk terus dijalankan.

Kita berdua mungkin terlihat bahagia, menikmati masa indah sebagai sepasang kekasih yang dipenuhi bahagia. Tapi terus berpura-pura baik-baik saja tentu tak berguna. Maka berpisah adalah jalan terbaik yang bisa kita ambil untuk semuanya. 

Satu babak kebahagian yang diakhiri dengan perpisahan sudah berhasil kita lewatkan, kini saatnya untuk saling membuktikan. Jika kita berdua bisa berubah lebih baik untuk dia yang kelak mau mencintai kita sebagaimana kita ada. 

Tak Akan Mengutuki Situasi, Kita Belajar Menerima Walau Akhir Cerita Ini Menyisahkan Sedih

Diawal perpisahan ini, kita memang akan merasa asing pada diri sendiri. Berpikir sebagian dari diri kita telah hilang dan tak lagi bisa menjalani kehidupan sebagaimana kita biasanya. Tapi ini adalah kenyataan yang mau tak mau harus kita jalankan. Belajar untuk gagal, kesalahan dan kekecewaan yang ada dihadapan jadi sebuah pelajaran yang membantu kita menerima dan memahami semuanya.

Daripada mengutuki situasi, kita belajar bahwa tak semua yang kita inginkan dapat kita dapatkan. Manusia yang tadinya kita cintai, harus pergi dan tak bisa kita tahan lagi. Luka kita mungkin tak akan sembuh dengan begitu saja. Tapi memangis dalam waktu yang lama pun tak akan merubah situasinya. 

Dan yang Paling Penting Kita Lebih Dewasa, Belajar Sabar untuk Menerima Semuanya

Kedewasaan tertinggi dalam menanggapi sebuah perpisahan tentu dengan belajar menerima semuanya dengan hati yang lapang. Tak lagi saling menyalahkan, kita tahu bahwa semua ini adalah kenyataan yang memang benar-benar harus dijalankan. Berterimakasih karena sudah pernah saling membahagiakan, kini saatnya kita saling melepaskan genggaman. 

Lupakan semua yang sudah lalu, biarkan hatimu sembuh. Jika memang sudah waktunya, kelak kita akan bertemu lagi dengan sosok lain yang bisa dicintai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Inilah 5 Sifat yang Menandakan Dia Layak Menjadi Pendamping Hidupmu

Menikah bukanlah untuk satu hari saja, melainkan satu kali dalam seumur hidup. Memilih seseorang untuk kita jadikan pendamping hidup memang tidaklah mudah. Kita harus benar-benar tahu sifat dia agar yakin bahwa dia bisa menjadi pasanganmu sampai akhir hayat nanti.

Lamanya hubungan pacaran tidak menjadi jaminan bahwa ia adalah jodohmu, begitu pula sebaliknya. Jika kamu menemukan 5 hal ini pada pasanganmu, bisa jadi ialah yang pantas kamu jadikan pendamping hidupmu.

1. Mampu Membimbingmu Secara Spiritual

Hal terpenting untuk memilih pasangan adalah bagaimana dia dalam menjalankan ibadahnya. Jika ia sangat rajin beribadah dan mencintai Tuhannya maka ia juga akan mencintai kamu dengan sepenuh hati. Pasangan yang baik akan berusaha mengajarkan hal-hal keagamaan demi mendekatkanmu dengan Sang Pencipta. Ia mampu membedakan mana yang baik dan buruk di mata Tuhan. Ia mengajakmu untuk beribadah bersama atau berbuat sesuai dengan ajaran agamanya.

2. Memiliki Sifat Penyabar

Sifat manusia yang sulit dicari adalah penyabar. Jika pasanganmu jarang marah, maka kamu beruntung. Bukan berarti ia tidak peduli dengan permasalahan, beberapa orang berpikir bahwa memaafkan lebih baik. Bukan berarti membiarkan masalah terulang kembali, melainkan menerima kesalahan tersebut dengan jalan pikiran yang berbeda. Dia memiliki banyak stok sabar dan maaf untukmu, sangat layak untuk dijadikan pendamping hidup.

3. Selalu Ada Ketika Dibutuhkan

Selalu ada disini bukan berarti dia harus selalu mengabarimu 1×24 jam atau setiap menit. Meskipun sibuk, ia meluangkan waktunya untuk sekedar mengingatkanmu makan atau tidur. Dia tak harus selalu bersamamu. Tetapi, perasaan dia selalu ada yang akan membuatmu nyaman dan merasa tak sendiri. Dan yang paling penting adalah dia selalu siap untuk membantumu kapan saja, dia selalu ada disaat kamu membutuhkannya.

4. Memiliki Sifat Humoris

Salah satu keuntungan memiliki pasangan yang humoris adalah kalian akan menghiasi hari-hari dengan keceriaan, jauh dari kata hambar. Humoris bukan berarti selalu menganggap segalanya adalah candaan. Tetapi, dia tahu kapan harus bercanda dan kapan harus serius terhadap suatu hal. Dan ketika kamu sedang memiliki suasana hati yang kacau, ia bisa menenangkanmu dengan sifat humor nya.

5. Menghargai Pasangan

Seseorang yang mencintaimu pasti akan menghargaimu. Pasanganmu tidak mengaturmu secara berlebihan, memang dia membimbing, tetapi bukan berarti mengekang. Dia membiarkanmu hang out dengan teman-temanmu dan tidak membatasi pertemananmu. Tetapi, kita juga harus tahu batasan-batasan tertentu jika sudah menikah nanti. Dia memberikanmu ruang, bukan kebebasan. Karena itulah salah satu cara dia menghargaimu sebagai pasangannya.

Nah, Itulah 5 hal yang perlu kalian perhatikan jika memilih pasangan suatu saat nanti. Tidak ada orang yang sempurna dan tidak perlu menunggu yang sempurna. Perbaiki dirimu sendiri maka tuhan juga akan memperbaiki kualitas pasanganmu kelak. Jadilah yang terbaik agar ditemukan oleh orang baik pula!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Nikah Diam-diam, Seorang Suami Disiram oleh Istrinya dengan Air Panas Hingga Meninggal

Seorang lelaki di Makassar, Sulawesi Selatan Bahtiar (28), meregang nyawa setelah sebelumnya disiram oleh sang istri Aminah (30) dengan air panas. Sang istri mengaku kesal terhadap suaminya, yang konon menikah diam-diam dengan perempuan lain. Saat ini, Aminah sudah ditangkap aparat kepolisian dan sedang menjalani pemeriksaan.

“Iya, pelaku yang juga istri korban telah diamankan,” kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani pada Minggu (21/7/2019), dilansir dari detik.com. 

Aminah diamankan oleh Polsek Bangkala bersama Polres Jeneponto setelah suaminya meninggal. Dari interogasi yang dilakukan oleh polisi, perempuan tersebut melakukan perbuatannya karena sakit hati kepada suaminya.

“Pelaku melakukan perbuatan tersebut dikarenakan sakit hati kepada suaminya karena telah menikah dengan perempuan bernama Marsela tanpa sepengetahuannya,” kata Dicky.

Dicky juga menambahkan, pelaku baru mengetahui kalau suaminya telah menikah secara sembunyi-sembunyi setelah mendapatkan kabar dari keluarganya.

“Istrinya mengetahui setelah mendapatkan kabar tersebut dari keluarga suaminya, kemudian pelaku pulang ke rumah dan menanyakan hal tersebut kepada suaminya dan suaminya mengakuinya bahwa telah menikah dengan Marsela di kota Makassar sekitar tahun 2018,” jelas Dicky.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top