Tips

Inspirasi Resume Mengesankan yang Membuat Kamu Diterima di Perusahaan Idaman

Sudah lulus Kuliah. Itu saatnya kamu mencari pekerjaan. Saatnya kamu merapihkan Resume kamu.

Membuat Resume secara online seperti di LinkedIn atau situs semacam JobsDB, di era digital saat ini adalah hal biasa. Kamu butuh  membuat Resume yang berbeda yang membuat Kamu dilirik oleh perusahaan yang kamu inginkan.

Sedang mencari ide bagaimana membuat resume wah dan membuat kamu bisa bekerja ditempat yang kamu inginkan?   Kamu harus belajar dari orang-orang ini nih:

Nina Mufleh  Membuat Resume dalam Bentuk Web yang Sangat Mengesankan

Apa yang dilakukan Nina Mufleh ini sangat menarik untuk kamu coba. Nina  Mufleh sangat ingin bekerja di AirBnb.com. Saking inginya, tentu dia berjuang dan membuat  sesuatu yang sangat berbeda .

Nina sudah mencoba mengApply lowongan via email maupun situs Jobs Listing, tetapi ia Masih kurang beruntung. Nina yang asli timur tengah dan sudah tinggal selama satu tahun di San Francisco  itu tidak menyerah begitu saja.

Nina membuat resume dalam bentuk web dengan domain nina4airbnb.com yang di khsuskan untuk  AirBnb.com. Nina membuat web yang berisi persentasinya yang di jabarkan secara detail dan desain yang menarik.

Nina mentweetkan resumenya kemudian memention Brian Chesky, Co-Founder dan CEO AirBnb.com di twitter. Dan luar biasa, Brian Chesky membalas bahwa ia sedang mereviewnya:

Postingan Blog Andrew Kim Membawanya ke Microsoft

Lain hal dengan nina, yang dilakukan oleh Andrew Kim ini berbeda. Andrew membuat sesuatu yang luar biasa dan membuatnya direkrut Microsoft.

Andrew Kim, seorang remaja kelahiran Seoul ini yang tengah belajar desain. Desain yang dibuat bukan desain sembarangan. Di Blognya dia membuat postingan  The Next Microsoft, dimana ia meredesain logo dan menerapkan karyanya di berbagai piranti Microsoft seperti Surface dan ponsel berbasis Windows Phone.

Postingan ini sempat menyebar di Internet. Atas keahliannya, Kim ditawari pekerjaan di Microsoft sendiri dan akhirnya ia bekerja disana.

baca postingannya http://www.minimallyminimal.com/2012/7/3/the-next-microsoft.html

Resume yang Berbicara Ala Victor Petit quickly

Ketika ingin magang di Agency Komunikasi Victor Petit quickly  merasa mendapatkan kesulitan proses wawancara. Ia kemudian membuat CV bebeda.

Victor  mencoba untuk membuat sebuah Resume yang akan memungkinkan ia untuk mengekspresikn diri secara vokal segera setelah manager HRD membaca versi kertas. Bagaimana caranya?

Victor mengkombinasi Resume dan QR code. Resume tulis sebelas sisi, Sisi lain terdapat Wajah Vitor dan QR Code terdapat dimulutnya. Jika QR Code tersebut di scan, maka akan diarahkan ke video youtube.

Simak disini untuk Resumenya: http://www.victorpetit.fr/QR-CODE-Talking-Resume

Bermimpi Bekerja dengan Top Creative, Director Alec Brownstein Gunakan Iklan di Google

Alec Brownstein adalah seorang Copywriter di New York. Ia bermimpi untuk bisa bekerja dengan Top Creative Director di New York. Ia sudah mempunya beberapa list nama creative Director tersebut.

Apa yang Alec lakukan? Ia memasang iklan di Google. Jadi ketika Top Creative Director tersebut googling namanya, maka akan muncul iklan dari alec. Dengan Total biaya iklan $6 saja Alec menerima panggilan interview dari list Creative Director yang dia harapkan terabit dan hanya 2 orang yang menawarinya bekerja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Ternyata Ini 5 Hal yang Paling Dibenci Perempuan Hebat

Di era milenial ini, perempuan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri. Iya, keberadaannya memang disetarakan dengan posisi laki-laki. Banyak perempuan yang dituntut untuk menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Nah, inilah 5 hal yang ternyata menjadi hal paling dibenci oleh para perempuan hebat.

1. Tidak Dihargai

Perempuan juga tak suka saat dirinya tidak dihargai dengan baik. Jika ada orang yang mengkritik atau memberi saran terhadap ide yang dimilikinya mungkin mereka akan berusaha menerimanya sebagai perbaikan diri. Namun jangan salah, jika ada yang menganggapnya remeh, mereka tak akan tinggal diam.

2. Tidak Diberi Ruang Bebas

Tentu saja semua perempuan butuh yang namanya ruang bebas untuk bisa mengekspresikan diri mereka. Mereka pun punya keinginan untuk berkembang dan tumbuh menjadi apa yang mereka cita-citakan. Mereka tak suka jika diri mereka dibatasi dengan alasan title “perempuan” yang melekat pada dirinya.

3. Membohongi Diri Sendiri

Perempuan hebat paham tentang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Mereka tahu caranya mengontrol diri sendiri tapi tetap menjadi dirinya. Mereka bukan orang yang suka menipu dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekelilingnya.

4. Mengeluh

Selanjutnya, perempuan hebat tidak suka mengeluh. Mereka punya jiwa yang kuat untuk menghadapi masalah sebesar apapun. Pantang untuknya mengeluh pada hal yang bisa dicari solusinya.

5. Dihantui Kegagalan

Perempuan hebat tak suka hidup dengan bayang-bayang kegagalan. Mereka mengerti bahwa gagal adalah suatu hal yang lumrah. Dari kegagalan pulalah mereka bisa belajar menjadi seorang yang lebih baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Bukan Tidak Betah, 7 Tanda Ini Menunjukan Kamu Sedang Bekerja Di Tempat Yang Salah.

Bekerja memang tidak selalu harus sesuai dengan passionmu, yang terpenting adalah kamu merasa nyaman dengan pekerjaanmu itu. Namun, jika kamu sudah merasa berusaha sebaik mungkin tapi tetap saja hasilnya tidak memuaskan hatimu, bisa jadi kamu berada di lingkungan tempat kerja yang salah.

Saat loyalitas dan komitmen sudah kamu berikan sepenuhnya, namun yang kamu terima tidak sesuai dengan perjuangannya. Nah, ada 7 tanda yang menandakan bahwa kamu sedang berada di tempat kerja yang salah. Jika kamu merasakan semuanya maka bersiaplah untuk pindah, ini untuk kebaikanmu juga ya.

1. Kamu Tidak Menyukai Hari Senin

Hari sabtu dan minggu adalah surga untukmu. Namun, ketika hari senin tiba semangatmu menurun seketika. Seperti kamu tidak merasa nyaman dengan pekerjaanmu dan merasa tersiksa harus melanjutkannya. Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang bisa membuatmu semangat, bukan malah membuatmu stres. Jika di hari pertama dalam seminggu saja kamu sudah tidak bersemangat, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?

2. Kamu Merasa Bekerja Karena Terpaksa

Selain tidak bersemangat, kamu juga merasa apapun yang kamu kerjakan adalah karena keterpaksaan. Semuanya kamu lakukan karena tidak ada lagi pilihan. Jika hal ini sudah kamu rasakan maka jangan dilanjutkan, itu tandanya kamu harus segera berhenti dari kantormu atau kamu akan menyesal sudah membuang banyak waktumu di sana.

3. Kamu Tidak Tahu Jelas Peranmu Di Tempat Kerja

Selama ini kamu bekerja hanya karena perintah atasan saja. Kamu tidak pernah tahu jelas apa fungsimu disana. Padahal pekerjaan yang baik adalah yang memposisikan kita sebagai seseorang yang sangat di butuhkan, bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Kamu harus segera mencari kantor yang lebih cocok untukmu.

4. Seringkali Kamu Merasa Tidak Dihargai

Seringkali usahamu tidak mendapat apresiasi, dan saat itulah kamu merasa tidak dihargai. Meskipun kamu sudah berprestasi, datang paling pagi dan pulang paling akhir, namun tetap saja usahamu terlihat sia-sia. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa kamu pertahankan. Jangan bertahan dengan tempat yang tidak menghargaimu.

5. Kamu Masih Memimpikan Perusahaan Lain

Jika kamu masih menginginkan bekerja di tempat lain, itu artinya kamu tidak nyaman dengan tempat kerjamu sekarang. Cobalah untuk bekerja di tempat yang kamu impikan, agar kamu bisa merasa nyaman dan tidak mempunyai beban.

6. Kamu Merasa Asing Di Kantormu Sendiri

Kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah, harusnya kamu bisa menjadi diri sendiri saat bekerja, namun yang terjadi malah sebaliknya. Itu tandanya kamu mulai menyadari bahwa kantormu memiliki lingkungan yang tidak sehat sehingga kamu enggan berbaur. Mungkin kamu memang tidak cocok berada disana.

7. Tempat Kerjamu Menghentikan Potensimu

Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik, termasuk kamu. Jika di tempat kerjamu kamu berhenti belajar, maka itu sama saja dengan mematikan potensi yang ada dalam dirimu. Kita bekerja untuk berkembang, bukan hanya stuck di satu bidang. Segeralah pindah dan cari tempat kerja yang lebih memberimu ruang untuk berkembang.

Jika salah satu atau bahkan semua hal di atas kamu rasakan, maka segeralah untuk pindah. Bekerja untuk jangka panjang, maka kenyamanan harus kamu dapatkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Fresh Graduate UI Tolak Gaji Rp 8 Juta Sah-sah Saja, Asal…

Sebuah postingan dalam fitur instastories dari seseorang yang mengaku lulusan baru dari Universitas Indonesia sedang jadi bahan perbincangan. Stories instagram tersebut awalnya dicapture oleh salah seorang temanya, lalu dibagikan di sebuah akun base pada platform twtitter yang sampai sekarang masih menjadi trending topik. 

Sumber : Twitter

“Jadi tadi gue diundang interview kerja perusahaan lokal dan nawarin gaji kisaran 8 juta doang. Hello meskipun gue fresh graduate gue lulusan UI, Pak. Universitas Indonesia. Jangan disamain sama fresh graduate dengan kampus lain dong ah. Level UI mah udah perusahan luar negeri. Kalau lokal mah oke aja, asal harga cocok,” begitu ia menumpahkan kekesalan pada postingan instastory  yang viral itu.

Melihat itu, sebagian besar netizen di twitter menilai postingan itu bernada angkuh dan tak mencerminkan attitude yang baik. Membawa nama besar kampus untuk menyombongkan diri, begitu kira-kira netizen beropini. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, memangnya kenapa kalau Fresh Graduate UI tolak gaji 8 juta? Bukankah itu adalah hak pribadinya, sebagaimana perusahaan juga berhak mencari karyawan yang mau digaji sesuai angka yang ditawarkan. 

Begini, rasanya tak ada takaran yang bisa dijadikan acuan gaji dalam bekerja, untuk kita-kita yang baru saja mendapat gelar sarjana. Bahkan meski sama-sama lulus dari universitas yang sama, punya gelar serupa dan bekerja di perusahaan yang sama. Tetap ada kemungkinan jika gaji yang diterima oleh masing-masing orang berbeda. 

Di lain sisi, ini memang jadi dilema, menyebutkan angka diatas yang ditawarkan perusahaan disangkanya sok kepinteran, tapi menerima gaji yang disebutkan kadang kita juga enggan. Membuat tolok ukur standar gaji dari seorang lulusan baru yang tak punya pengalaman apa-apa memang agak abu-abu, tapi kita tak pernah tahu kan apa alasan si alumni UI tersebut membuat standar gaji yang ingin diterimanya.

Bisa jadi ia sudah tahu kapasitasnya, makanya ia berani menolak angka 8 Juta. Meski di luar sana, ada banyak orang dengan strata pendidikan serupa tetap bahagia menjalani pekerjaannya meski upah yang diterima masih sedikit diatas UMR kota. 

Di sisi lain, daripada ikut-ikutan nyinyir untuk mencemooh dirinya, ada baiknya kita belajar bagaimana cara ia membuat standar atas diri. Sebab pada kenyataannya, tak semua kita bisa percaya diri untuk menghargai diri seperti ia. Dan tak menutup kemungkinan pula, jika angka 8 juta baginya tak ada apa-apanya. Jadi wajar jika ia mau lebih.

Belum lagi gaya hidup yang ia miliki, terbiasa dengan segala sesuatu yang terpenuhi. Bisa jadi angka 8 juta hanya untuk jajan dua minggu saja. Maka dengan menghitung semua pengeluaran bulanan yang nantinya ia butuhkan, angka yang ditawarkanperusahaan tersebut bisa jadi masih jauh dari jumlah pengeluaran yang ia perlukan. Kalau ternyata faktanya begini, ya wajar sih ia menolak. 

Dia juga butuh menyisihkan untuk dana darurat, tabungan untuk kelak menikah, membeli rumah, mobil, dana pensiun, sampai ke biaya beli makan binatang peliraan. Padahal 8 juta yang ditawarkan perusahaan, hanya mampu menutupi kebutuhan dan gaya hidupnnya selama sebulan. Meski harus diakui pula, sebesar apapun gaji yang kita terima akan selalu terasa kurang jika harus mengikuti gaya hidup yang kita inginkan. Tapi anehnya, sekecil apapun gaji yang kita terima selalu terasa cukup, jika dipakai untuk hal-hal yang memang dibutuhkan.

Hal lain yang harus kita pahami sebagai orang yang ‘ngakunya’ berpendidikan, sebelum mematok harga atau angka untuk gaji yang diinginkan, ada baiknya kita berkaca terlebih dahulu. Ketahui sampai mana kemampuan dan keahlian, barulah bernegosiasi perihal gaji. Kalau memang kita merasa layak menerima angka yang kita inginkan, tak ada salahnya untuk disampaikan. Dengan catatan, jika ternyata perusahaan menolak dan tak menerima angka yang kita sebutkan. Tak perlulah mencak-mencak di instagram, apalagi sampai membawa-bawa nama kampus lain dengan nada yang ‘meremehkan’.

Dan sekedar informasi, mengutip dari hasil penelitian tentang situasi alumni UI di dunia kerja atau Tracer Study UI periode 2017-2018. Sebagian besar fresh graduate UI bergaji berkisar antara Rp 3-6 juta, dan hanya ada sekitar 5,7% yang bergaji di atas Rp 15 juta. Dengan kata lain, nama besar kampus mungkin meloloskan kita dari satu seleksi alam, tapi keahlian, kontribusi, etika dan sopan santun adalah nilai lain yang kadang jauh lebih dibutuhkan untuk melamar pekerjaan.

Untuk menutup ini, saya akan mengutip salah satu kalimat dari Bos kami di kantor yang selalu saya ingat sejak awal masuk bekerja sampai sekarang.

“Keahlian bisa dipelajari, ilmu bisa digali. Tapi attitude sulit dibenahi”. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top