Feature

Insecure Setiap Waktu, Buat si Dia Jengah Padamu

Asam-manis percintaan, konon jadi bumbu yang akan menambah kekuatan. Membantu kita dan pasangan saling memahami, hingga menumbuhkan percaya dalam hati. Tapi, bagaimana jika ternyata apa yang kita pikir baik, justru tak baik baginya?

Berpikir bahwa apa yang kita lakukan adalah bentuk lain dari sayang, padahal buat si dia bosan. Bilang ini adalah tanda dari cinta, tapi disampaikan terus menerus jelas saja buat ia tak suka. Sebelum dia bilang “lelah” dan meminta “kita bubaran saja”. Kita perlu tahu bahwa ada hal-hal yang akan membuat ia tak suka, jika disampaikan terus-menerus pada dirinya.

Tak Dikabari Hitungan Jam, Kamu Sudah Menuduhnya yang Bukan-bukan

Coba ingat-ingat lagi, berapa kali kamu marah-marah nggak jelas. Hanya karena si dia membalas pesan lebih dari satu jam. Mulai dari membalas chat-nya dengan kata-kata yang terkesan cuek, sampai mulai drama dengan bilang dia tak perhatian. Yap, bukannya berhenti dan coba mendengar alasannya dulu. Kamu justru memilih untuk menyerangnya dengan tuduhan yang lahir dari ketakutan.

Kamu takut jika dirinya, sedang melancarkan obrolan dengan perempuan atau orang lainn. Padahal, faktanya bisa saja ada sesuatu yang memang benar-benar sedang ia kerjakan. Pekerjaan yang harus diselesaikan, hingga kegiatan lain yang membutuhkan fokus pikiran. Bukannya pengertian dan rasa memahami, kamu hanya memberinya kecurigaan yang tak berarti.

Cemburu Itu Wajar, Tapi Kalau Keterlaluan Jelas Tak Normal

Tanpa harus ditanya, sebenarnya pacarmu pasti suka jika kamu mencemburuinya. Karena biar bagaimanapun, sikap ini bisa jadi salah satu indikasi rasa sayang terhadap pasangan. Akan tetapi, akan berbeda jika disampaikan dengan kadara yang berlebihan. Bukannya, jadi bukti sayang, cemburu kian berubah jadi bentuk larangan.

Tak boleh begini, tak boleh begitu. Harus begini, dan harus begitu. Dan berbagai macam peraturan lain, yang kau buat demi kepuasan diri sendiri. Agar si dia tak lagi dekat-dekat dengan perempuan atau lawan jenis lain. Ingat, cemburulah sewajarnya. Karena jika sudah lebih dari batasnya, itu tak akan baik untuk hubungan kalian berdua.

Selalu Merasa Tidak Salah, Tak Mau Minta Maaf dan Mengalah

Ingat ya, menjalin hubungan itu adalah bagaimana kamu dan si dia bisa meredam ego untuk saling berdamai. Mengesampingkan keinginan pribadi dengan sesuatu yang lebih baik untuk hubungan ke depan. Bukan hanya perkara apa yang jadi “Inginmu” dan apa yang “tak ia ingini”. Lebih dari itu, harusnya kamu dan dia bisa sama-sama belajar. Jadikan beberapa perbedaan pendapat yang ada, jadi jembatan untuk lebih saling mengenal. Bukan malah jadi ajang bertengkar.

Meminta maaf lebih dulu, bukan berarti kamulah yang bersalah. Mengalah bukan berarti kamu lebih rendah. Hubungan adalah tentang kerendahan hati dari keduanya, kalau si dia saja bisa menurunkan egonya, hal yang sama harusnya juga bisa kau tunjukkan padanya.

Hanya Demi Menarik Perhatiannya, Kamu Bersikap Manja dengan Berlebihan

Tak ada yang salah, jika kamu ingin bermanja-manja dihadapannya. Memintanya untuk menemani berbelanja, membeli makan, hingga memaksa untuk mengantar jemput setiap kali ingin bepergiam. Sungguh, itu tak salah. Dengan catatan, kamu bisa melihat situasi dan keadaan. Adakah hal lain yang sedang ia kerjakan, saat kamu meminta bantuan atau beberapa keinginan yang tak bisa ia lakukan.

Dari yang tadinya ia merasa senang, karena sikap manjamu yang terkesan manis. Bisa jadi ia akan berubah menjadi lelah karena tak kuasa, menghadapi hal-hal remeh yang selalu kamu bebankan padanya.

Menjadi Pacar, Membuatmu Merasa Paling Berhak Menentukan Apa yang Akan Dilakukan Sang Pasangan

Perlu kamu tahu, sekalipun ia adalah pasanganmu. Bukan berarti kamu berhak atas apa saja yang akan dilakukannya. Membatasi kegiatan yang akan dilakukan, hingga mengatur kepada siapa saja ia bisa berteman.

Sebagai dua orang yang sudah dewasa, harusnya kamu dan dia bisa saling mengerti. Bahwa setiap orang punya hak yang serupa, untuk melakukan apa saja yang diingininya. Berpacaran memang membuatnya mengikat janji padamu, tapi bukan berarti juga ia harus mengikuti semua yang kau ingini. 

Bilang si Dia Tak Mau Berusaha, Hubunganmu Selalu Kau Bandingkan dengan Kawan Lainnya

Percaya atau tidak, tak ada lelaki yang suka dibanding-bandingkan. Bahkan jika boleh berkata jujur, ini adalah jadi sesuatu yang paling dibenci oleh para lelaki. Lalu, tanpa merasa berdosa. Berpikir bahwa membandingkan hubunganmu dengan orang lain akan merubahnya. Yang terjadi justru sebaliknya.

Ini akan membuatnya merasa tak dihargai, seolah-olah apa yang sudah ia lakoni tak berarti. Daripada terus menerus membandingkan hubunganmu dengan orang lain, bukannya lebih baik untuk terus berlomba saling menyanyangi?

Walau Katamu Cinta, Terlalu Memaksa Jelas Melanggar Hak dan Kebebasannya

Dari sekian banyak poin tadi yang sudah dijelaskan, “Cinta” jadi alasan yang mungkin akan kau sebutkan. Terlalu menggebu untuk menjadikan pasanganmu seperti yang kau ingini, lalu lupa bahwa ia juga punya hak untuk menjadi diri sendiri. Tak ada yang perlu dipaksa dan memaksa. Biarkan kalian berdua, tumbuh dengan saling menunjukkan rasa sayang dengan cara yang mungkin berbeda.

Walau harus diakui pula, tak ada yang salah dengan keinginan untuk merubah pasangan sebagaimana sosok yang kita impikan. Dengan catatan kita pun mau berubah sebagaimana yang ia mintakan. Kalau ternyata, kau hanya tahu menuntut. Jelas tak fair dong.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Tipe yang Mana? Suka Memantau Obrolan di Gawai Pasangan atau Berikan Dia Kebebasan

Saat sedang kencan, pasti ada momen dimana kamu merasa ingin sekali memeriksa gawai pasangan. Setidaknya kamu ingin tahu, saat tak sedang bersamanya, siapa saja yang mengobrol dengan pasanganmu ya…

Untuk sebagian orang, memeriksa atau memantau obrolan pasangan di gawai mereka bukanlah hal yang aneh. Justru lazim dan harus dilakukan. Sementara sebagian lainnya, mengaku tak sepakat kalau ranah privasi sebagai individu pun harus dibagikan ke pasangan. Semua itu kembali ke keputusan kalian saja. Hanya saja, kalau suatu kali kamu tak sengaja melihat daftar chat teratas di gawai pasanganmu justru bukan kamu, melainkan teman atau koleganya. Kira-kira, sikap apa yang kamu tunjukkan setelahnya?

Syukur-syukur kalau kamu bisa memahami. Berarti memang hubunganmu sudah sampai ke fase yang cukup dewasa. Apalagi soal memahami, bukan hal yang mudah. Jadi kalau memantau obrolan pasangan hanya karena kamu tak sengaja melihat sesuatu yang ‘janggal’ berdasarkan asumsimu, kamu sendiri akan bagaimana?

Ada Chat dari Lawan Jenis, Tetap Tenang atau Langsung Curiga?

Setiap orang tentu punya respon yang berbeda saat dihadapkan dengan urusan semacam ini. Ada yang langsung curiga, ada yang amarahnya langsung terpancing, atau ada juga yang tetap tenang. Memang ada baiknya coba dulu bersikap tenang. Tak usah dibawa overthinking terlebih dahulu. Belum tentu pasanganmu main hati.  Waspada ya boleh saja. Tapi disinilah kemampuanmu mengontrol amarah dan rasa cemburumu jelas sedang diuji. Kamu perlu ingat lagi, cemburu justru tak akan membuatmu bisa berpikir jernih.

Selanjutnya, Menurutmu Perlukah Mencari Tahu Mengenai Siapa-siapa Saja yang Mengontak Pasangan Kita?

Sebagai pasangan, kamu pasti ingin tahu apapun tentang pasanganmu, kan? Termasuk teman dekatnya. Nah, kalau situasinya ada lawan jenis yang tengah akrab dengan pasanganmu, dan kamu ingin mencari tahu, sejatinya hal itu lazim saja untuk kamu lakukan. Asal dengan cara-cara yang positif dan tak merugikan pihak manapun. Bisa saja kan, kamu hanya sedang diliputi cemburu padahal pasanganmu hanya berkomunikasi menyangkut pekerjaan yang sedang dikerjakannya sehingga pembicaraan dengan teman lawan jenisnya itu bersifat profesional.

Kalau Dia Sampai Mencari ‘Kenyamanan’ dengan Mengontak Teman Lawan Jenisnya, Mungkinkah Perhatianmu Terhadapnya Dirasa Kurang?

Kalau sampai kamu mendapati kenyataan jika pasanganmu memang mencari ‘nyaman’ pada temannya dibanding denganmu, maka tahan dulu emosimu.  Tanyakan dulu pada dirimu sendiri, benarkah memang waktumu terlalu kurang sampai ia mencari perhatian lebih dari lawan jenis yang lain? Atau, pikirkan kembali soal relasi kalian, benarkah dia memang serius padamu atau hanya ingin main-main?

Saat pasangan sampai ‘main hati’, maka bukan kamu yang sepenuhnya salah. Melainkan pasanganmu yang mungkin tak cukup dewasa dalam berelasi. Bila situasinya sudah seperti ini, menanyakan mengenai siapa saja teman lawan jenisnya tentu berhak kamu sampaikan.

Sembari Mencari Tahu Kebenaran, Agar Tak Membuatnya Tersinggung Jangan Pakai Kalimat yang Terkesan Memojokkan

Memutuskan membuka gawai pasangan atau tidak, semuanya ada di tanganmu. Tapi pasti ada saja pertanyaan yang kamu hendak tanyakan pada pasangan lantaran berdasar asumsi atau kecurigaanmu. Misalnya, saat membuka gawai, lalu mellihat nama lawan jenis lain selain kamu di daftar obrolan pesan singkatnya, dan kamu langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Atau, memutuskan untuk tidak membuka gawai, tapi belum bisa mengontrol kecurigaanmu, bukankah sama saja?

Bagaimanapun, hindari untuk memojokkan pasangan dan memberinya banyak pertanyaan yang menyudutkan. Hal ini bakal membuatnya merasa sebal sekaligus jengah. Bisa jadi pasanganmu justru malah marah karena merasa tidak dipercaya dan dituduh yang macam-macam. Hal ini bisa memancing pertengkaran dan menciptakan konflik di antara kalian.

Atau Kalau Kamu Memang Gelisah, Lebih Baik Tanya Secara Langsung dan Mintalah Dikenalkan Saja Pada Temannya Itu

Diantara sekian banyak cara, pilihan yang paling relevan saat mendapati pasanganmu akrab dengan yang lain di gawainya yaitu dengan bertanya langsung.  Secara halus dan dengan intonasi suara yang datar, tanya siapa orang yang selama ini rutin bertukar pesan dengannya. Mintalah dikenalkan dengannya. Jika memang pasanganmu tidak memiliki hubungan spesial dengannya maka dia pasti gak segan untuk mengenalkanmu padanya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Bekerjalah dengan Wajar, Kamu Tetap Tak Bisa Terselamatkan dari Kehilangan 4 Hal Ini Meski dengan Materi yang Berlimpah

Kerja keras memang hal yang perlu kamu lakukan. Namun jangan bekerja terlalu keras sampai melewati batas kemampuanmu sendiri. Seberapa besar pun materi yang kamu miliki itu tak akan pernah cukup jika kamu tidak mencukupkannya. Kamu harus paham, bahwa hakikat yang sebenarnya, materi bukanlah segalanya.Jangan hanya mementingkan harta dan harta, karena hal itu tak akan pernah menyelamatkanmu dari kehilangan 4 hal ini.

1. Waktu Berharga Bersama Keluarga

Walau katamu punya uang banyak adalah sebuah keberuntungan, tapi itu tak akan pernah bisa setara dengan waktu bersama keluarga. Sisihkan waktu dari jam kerjamu, dan luangkan waktu bermain atau sekedar berkumpul dengan keluarga di rumah.

2. Waktu Bersama Teman dan Pasangan

Coba ingat, kapan terakhir kamu bertemu dan menikmati waktu bersama dengan sahabatmu. Empat bulan lalu? satu tahun lalu? atau bahkan sudah lama sekali tak bertemu. Kegilaanmu akan kerja, mungkin sudah menguras waktumu selama ini. Untuk itu, inilah saatnya kamu kembali pada mereka dan menikmati waktu bermsa. Sebab, kamu tak akan pernah tahu sampaia kapan kamu punya waktu bersama dengan mereka.

3. Waktu Istirahat

Walau jam kerjamu hampir tak ada istirahatanya, jangan pernah lupa untuk mengambil waktu istirahat sejenak. Tenangkan dirimu dari semua kegaduhan dan lelahnya pekerjaan. Karena rileksasi diri adalah sesuatu yang perlu.

4. Waktu untuk Menikmati Kehidupan

Jangan melulu berpikir bahwa hidupmu adalah tentang pekerjaan. Kamu berhak untuk menikmati waktu luang untuk menikmati semua yang bisa kamu lakukan diluar pekerjaan. Pergi menepi sejenak ke tempat mana yang kau mau. Lupakan semua pekerjaanmu dulu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Ingin Lanjut S2 dengan Biaya Sendiri? 7 Tips Ini Mungkin Bisa Membantumu

Pendidikan adalah hal penting di masa sekarang. Banyak orang ingin menuntut ilmu setinggi mungkin. Nah, buat kamu yang saat ini sudah menjadi seorang sarjana S1 dan ingin melanjutkan studimu di S2, kenapa tidak? Kamu bisa kok melanjutkan S2 mu dengan biaya sendiri. Berikut adalah 7 tips yang mungkin bisa membantumu untuk mewujudkan impianmu melanjutkan S2 dengan biaya sendiri.

1. Teguhkan Niatmu

Kamu perlu meneguhkan niatmu untuk melanjutkan kuliah. Hal ini karena akan ada banyak hal yang mungkin nantinya harus kamu korbankan, misalnya waktu, uang, dan masih banyak hal lain lagi. Jangan sampai kamu menyerah di tengah jalan.

2. Pilih Jurusan yang Cocok dan Kamu Minati

Jika memang memungkinan, akan lebih baik jika kamu memilih jurusan yang linier dengan jurusanmu di S1 dulu. Meskipun tak linier pun sebenarnya tak masalah asalkan kamu sudah sangat mantap untuk terjun di dalamnya.

3. Jika Biaya Menjadi Masalah Utamanya, Mungkin Kamu Bisa Mencoba Mencari Beasiswa

Jika memang kamu masih memiliki masalah dalam hal biaya, kamu bisa mencoba mencari beasiswa. Saat ini juga sudah ada banyak beasiswa yang mungkin cocok untukmu. Yang pasti kamu harus jeli untuk mencari kesempatan untuk mendapatkan beasiswa.

4. Kamu Bisa Bekerja Dulu Selama Satu atau Dua Tahun untuk Menabung Guna Biaya Melanjutkan S2

Tips ke empat, kamu bisa menunda dulu niatanmu melanjutkan kuliah S2 dan menghabiskan waktu sekitar satu sampai dua tahun untuk menabung terlebih dahulu. Jika uang sudah terkumpul dan dirasa sudah cukup, barulah kamu bisa memulai untuk melanjutkan kuliahmu.

5. Kamu Bisa Memberitahu Orangtuamu Tentang Niatmu Melanjutkan S2, Untuk Jaga-jaga Jika Kamu Kekurangan Dana, Kamu Bisa Meminjam Dulu pada Orangtuamu

Bisa dibilang tips ini sebagai jaga-jaga saja. Jika suatu saat di tengah perjalananmu menempuh pendidikan, uang yang kamu miliki tak cukup. Mungkin kamu bisa meminjam terlebih dulu kepada orangtuamu untuk hal biaya kuliah yang masih kurang.

6. Mencari Pekerjaan Sambilan di Bidang yang Kamu Kuasai

Misalnya saja kamu jago dalam hal mendesain, kamu bisa mencoba mencari pekerjaan sampingan saat kamu kuliah di bidang tersebut. Atau buat kamu yang suka menulis juga bisa bekerja sebagai seorang penulis konten atau editor misalnya.

7. Kelola Waktu dengan Baik

Gunakan waktu belajarmu sebaik mungkin. Jangan sampai kamu membuang waktumu begitu saja. Kamu harus bisa lulus tepat waktu, agar biaya yang kamu keluarkan pun tidak semakin menggunung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top