Community

Mengapa Jalin Hubungan di Era Modern Justru Rentan Rapuh?

Jika di rata-rata dari jumlah kasus di pengadilan Agama, setiap 2 menit sekali terjadi perceraian di Indonesia. Iya, kamu tidak salah baca jumlahnya memang sebanyak itu. Secara prosentase, 15 persen dari pernikahan, harus kandas di pengadilan.

Tentunya ini sebuah ironi. Ketika di era modern segala hal dikatakan telah terhubung, perceraian justru mengalami peningkatan. Sejatinya para pasangan seharusnya dengan mudah mengail informasi tips-tips langgeng berumah tangga yang bertebaran di internet. Namun hal ini tak mampu mendongkrak suksesnya angka pernikahan. Apa yang menyebabkan usaha mempertahankan bahtera cinta justru lebih rumit di era saat ini?

Cara Kita Berkomunikasi dengan Pasangan Tidaklah Efektif, Meski Ada Smartphone yang Memudahkan Komunikasi

Komunikasi yang baik adalah fondasi bagi suksesnya suatu hubungan. Banyak terjadi kasus dimana emosi dipendam terlalu lama dan akhirnya malah menjadi bom waktu yang berbahaya. Ini terjadi karena tidak terjalinnya komunikasi yang baik.

Meski kini sudah ada ponsel cerdas yang seharusnya bisa memudahkan kita berkomunikasi dengan pasangan, justru keberadaannya malah menjaauhkan kita dari pasangan. Seberapa sering kamu berhubungan dengan pasangan (resmi) kamu dibandingkan dengan pasang status atau membalas komentar? Mana yang lebih penting buatmu, mengetahui kabar terakhir pasangan, atau tak mau ketinggalan informasi viral terakhir di timeline? Seringkali, kita asyik sendiri dengan smartphone daripada harus mengobrol dan mengakrabkan diri dengan pasangan.

Kita Terpaksa Bertahan dengan Orang yang Tidak Sungguh-sungguh Kita Cintai

Kebanyakan dari kita enggan menghabiskan waktu sendirian bukan? Karena ketakutan akan kesendirian ini, banyak orang yang memilih untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam keadaan “terpaksa” hingga akhirnya mereka tidak benar-benar bahagia.

Alasan lainnya mengapa seseorang harus bertahan dengan orang yang tidak sungguh-sungguh dia cintai adalah karena faktor usia, tekanan dari orangtua untuk segera menikah, dan lingkungan. Keadaan-keadaan yang memaksa untuk menjalin sebuah hubungan yang tidak disukai. Hubungan yang dilandasi keterpaksaaan hanya akan berakhir dengan perpisahan.

Gawatnya, tekanan ini diamplifikasi oleh teknologi terkini. Kita bisa dengan mudah menyaksikan kawan kita silih berganti menikah. Lalu di group-group messanger, tak jarang satu dua selentingan di alamatkan pada yang belum menikah. Walhasil, tekanan-tekanan macam ini membuat seseorang memilih untuk menikah padahal belum yakin dengan pasangannya.

Tidak Dilandasi dengan Kepercayaan Satu Sama Lain, Kecanggihan Teknologi Justru Membuat Kita Mudah Cemburu

Selain komunikasi, kunci lainnya agar hubungan dapat bertahan lama adalah kepercayaan satu sama lain. Sayangnya, banyak dari kita yang  tidak menjalankan hal ini ketika menjalin suatu hubungan.

Berapa banyak kita cemburu pada pasangan hingga sampai-sampai kita hampir gila dibuatnya? Hanya karena dia tidak memberi kabar dalam sehari atau karena dia lama membalas pesan WhatsApp yang kita kirim 5 menit yang lalu?

Kecemburuan berasal dari ketidakpercayaan pada pasangan. Ketika foto pasangan mendapatkan “like” atau reaksi lain dari lawan jenis, kita serta merta mudah mengasumsikan dia berselingkuh. Sewaktu melihat mantan pasangan menjadi pengikutnya di sosial media, kita pun merasa terintimidasi. Dan di saat dia tidak segera membalas pesan kita padahal jelas Last Seen-nya baru saja online, masalah besar pun terjadi.

Padahal sesungguhnya, jika hubungan ingin langgeng, kuncinya adalah membangun kepercayaan satu sama lain. Jika sudah percaya, maka tidak ada alasan lagi untuk terlalu cemburu pada pasangan.

Terlalu Sibuk Bekerja Mengejar Materi, Karena Silau Dengan Orang Lain

Konyol memang jika mengatakan hidup tak butuh materi. Namun berkonsentrasi penuh hanya melulu mengejar materi pastinya akan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat penting dalam berhubungan.

Sayangnya, teknologi lagi-lagi berperan dalam memperbesar tuntutan mendapatkan materi lebih ini. Banyak kawan yang memposting perjalanan terakhirnya ke luar negeri misalnya. Lalu tak terhitung juga yang berpose di depan mobil atau rumah barunya. Belum lagi urusan fashion yang tak kalah banyaknya.

Walhasil, tuntutan menghasilkan materi yang setara juga menjadi makin besar. Padahal mungkin pasangan malah tak pernah menuntut lebih. Mereka justru waktunya terbengkalai karena kita makin sibuk memacu diri mendapatkan materi.

Tidak Sabar untuk Mengerti Satu Sama Lain

Masalahnya saat ini, kita sudah dibiasakan dengan segala sesuatu yang cepat.  Makanan cepat saji,  kopi instan, kerja cepat, jalan yang cepat, dan sebagainya. Kebiasaan kita yang  ingin segalanya serba cepat membuat kita jadi tidak sabaran, termasuk dalam soal  percintaan. Segala sesuatu yang cepat dalam soal cinta bisa terlihat ketika kita ada masalah.

Saat ada masalah dengan pasangan, kita rasanya ingin cepat menyelesaikannya. Bukan karena peduli pada hubungan yang sedang dijalani, namun kita terlalu sayang pada waktu kita jika dipakai hanya untuk bertengkar. Alhasil banyak dari kita yang menghindari konflik dengan mengalah secara terpaksa agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan. Ada juga yang menyelesaikan masalah dengan uang.

Padahal, jika kita bisa meluangkan waktu sedikit lebih banyak dan tidak terburu-buru, kita bisa menyelesaikan masalah dengan berdiskusi dan mencari jalan keluar yang disepakati secara bersama-sama. Cara seperti ini merupakan salah satu cara yang baik, agar tidak menyisakan dendam di hati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top