Feature

Hubungan Bisa Dibilang Naik Level Kalau Kamu Tak Masalah dengan Perubahan pada Pasangan

Perubahan itu sukar diterima. Kadang bisa membuat berantakan di separuh perjalanan, namun pada akhirnya akan menciptakan kebahagiaan di penghujung jalan,” begitu ungkapan dari penulis asal Kanada, Robin Sharma.

Perubahan pasti dialami setiap makhluk yang hidup. Kamu, aku, kita semua pernah mengalaminya. Bukan hanya perubahan fisik, karakter pun bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi masalah perubahan karakter ini agak sedikit berbeda. Terutama kalau konteksnya dalam sebuah relasi, perubahan karakter kadang justru bisa membuat pasangan tak senang dan berujung salah paham. Kamu pernah mengalaminya?

Nah, dikutip dari Life Hack, pernikahan yang usianya sudah lebih dari 20 tahun biasanya mengajarkan sebuah makna tentang perubahan karakter pasangan. Dan hal itu baru disadari oleh keduanya. Menikah di usia muda dan melewati setiap dekade baru bersama-sama tentu saja akan membuat kamu dan pasangan semakin berproses, bukan?

Mungkin kita belum mencapai usia pernikahan selama itu. Hanya saja, problem pasangan berubah hampir cukup sering kita dengar.

Alih-alih mensyukuri kebersamaan yang sudah terjalin, justru ada yang merasa perubahan besar terjadi. Bukan perubahan dalam relasinya, melainkan dalam diri pasangannya yang lantas mempengaruhi relasi mereka yang akhirnya bisa keluar pernyataan semacam ini:

“Dia bukan lagi seperti seseorang yang aku kenal selama ini”

Demikian kalimat yang sering terdengar. Bayangkan kalimat tersebut kamu utarakan di depan pasanganmu, bukankah menyakitkan saat dia mendapati pernyataan tersebut?

Yang Berubah Bukan Cuma Pasanganmu, Tapi Kamu Juga, Hanya Saja Kamu Mungkin Tak Sadar

Siapa bilang yang berubah itu pasanganmu? Belum tentu. Jangan-jangan kamu yang berubah tapi kamu tak sadar. Bisa jadi ‘kan? Karenanya, jangan langsung menganggap pasanganmu yang berubah. Coba introspeksi dahulu dari dirimu sendiri. Mungkin ada perspektif tertentu yang sekarang kamu yakini yang ternyata hal itu membuatmu punya cara pandang baru dalam memperhatikan setiap detail pasanganmu.

Sejatinya, Baik kamu dan Pasangan, Tak Ingin Hubungan Kalian Stagnan di Tengah Jalan, Kan?

Lantas kalau berubah, memangnya kenapa?

Coba pikirkan lagi, apakah perubahannya benar-benar merugikanmu? Atau memang kamu yang menolak adanya perubahan dari dalam diri pasangan? Bukankah yang namanya relasi justru tak menyenangkan kalau hanya jalan di tempat? Begini, mungkin awalnya susah, tapi belajar menerima setiap perubahan pasangan adalah bentuk kalau kamu sudah dewasa dalam menjalani suatu hubungan.

Terlebih, yang namanya manusia itu dinamis. Pasti akan berubah sekalipun butuh waktu yang lama. Untuk itu, daripada mengedepankan ego, jauh lebih baik kamu belajar menerima perubahan pasangan, kan? Siapa tahu, seiring dirinya yang semakin matang dalam hal tertentu, itu akan membuatmu mendapat sesuatu yang baru dari relasi yang kamu jalani selama ini.

Mungkin Kamu Akan Merindukan Dia yang Dulu, Tapi Perubahannya ke Arah yang Lebih Baik Juga Harusnya Membuatmu Bersyukur

Seorang perempuan pernah bercerita tentang suaminya dan mengatakan kalau suaminya berubah. Awal perkenalan, suaminya adalah sosok yang lucu, periang, selalu bisa menghiburnya serta memiliki hati yang baik dan berani. Ia berkata, ada masa dia rindu dengan sosoknya yang dulu begitu lucu. Namun seiring berjalannya waktu, ia sadar kalau mencintai seseorang bukan soal secara tak sadar menuntut atau mengharapkannya agar terus lucu. Peran serta tanggung jawab sebagai pasangan dan kepala keluarga secara tak sadar jadi mengubahnya jadi sosok yang lebih serius.

Sementara itu, sang istri tak keberatan. Ia memilih belajar menerima segala dinamika yang dialami pasangannya. Termasuk saat dia merasa pasangannya berubah. Adaptasi itu tak cuma sekali dua kali. Faktanya, dalam sebuah hubungan yang namanya adaptasi memang harus terus dilakukan.

Bila kamu sudah memiliki kerendahan hati untuk menerima dan beradaptasi, maka tinggal nikmati saja perjalananmu yang lebih jauh bersamanya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hasil Studi : Perempuan yang Doyan Selfie Seksi, Berarti Sedang Krisis Ekonomi

Digadang-gadang sebagai bentuk ekspresi diri, potret selfie cukup banyak digemari. Mulai dari menjadi trend di sosial media, hingga pose-pose menggoda dari para kaum hawa. Tak ada yang salah memang, toh setiap orang berhak melakukan apa saja di sosia media miliknya. Selama hal tersebut tak menganggu orang dan melanggar UU, ya sah-sah saja.

Menariknya, maraknya presentasi para perempuan yang kerap mengunggah potret selfie, ternyata membuat para peneliti dari University of New South Wales (UNSW) di Australia, tertarik untuk melakukan penelitian. Sebab, dibandingkan generasi sebelumnya, generasi saat ini, dinilia tidak canggung foto sensual di sosial media.

Awalnya Para Peneliti Mencari Tahu, Latar Belakang dan Karakter Setiap Perempuan yang Doyan Foto Sensual

Dengan menggunakan hastag sexy, hot, dan kata-kata sensual lainnya, tim peneliti berhasil mengumpulkan foto-foto dan melacak lokasi pengunggah foto tersebut. Para tim peneliti dari UNSW mengumpulkan 68.562 foto sensual yang diunggah di media sosial seperti Twitter dan Instagram. Foto-foto tersebut terkumpul dari 113 negara, termasuk Indonesia. 

Setelah mendapatkan lokasi pengunggah, tim peneliti kemudian mencari data tentang informasi di lokasi tersebut, baik persoalan gender maupun ekonomi. Nah, Dari penelitian tersebut, mereka menemukan fakta jika para perempuan yang gemar selfie sensual ternyata kebanyakan berada di wilayah yang memiliki ketimpangan ekonomi sangat tinggi.

Dr Khandis Blake, selaku pemimpin tim peneliti mengatakan jika temuannya ini ternyata berbeda dengan perkiraannya sebelumnya. Karena, tadinya ia menyangka jika mereka yang suka berselfie seksi kebanyakan berasal dari kota. Tapi ternyata tidak! Dan dibandingkan perkotaan, daerah dengan tingkat ekonomi rendah ternyata lebih banyak menyumbang foto-foto sensual di dunia maya.

Dan Ternyata Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Mereka Berani Mengunggah Foto Selfie Seksi di Dunia Maya

Dijadikan sebagai ajang untuk menarik perhatian. Menurut Dr Khandis Blake, ketimpangan ekonomi di daerah-daerah menjadikan banyak perempuan gelisah dengan status sosialnya. Demi  “menyelamatkan” status sosialnya, mereka akan lebih berani mempertontonkan seksualitas guna menaikkan pamor.

Lebih lanjut, Dr Khandis Blake juga menjelaskan, jika selfie dengan pose seksi bisa menjadi jembatan perempuan untuk meningkatkan perekoniman, dengan harapan kelak akan dilirik oleh lelaki yang tingkat ekonominya lebih baik.

Lagipula Selfie Tak Butuh Banya Biaya, Mereka Bisa Menarik Perhatian dengan Mudah

Sebagian besar, potret selfie tersebut dilakukan dengan alat seadanya. Cukup dengan kamera pada ponsel, filter editing dan beberapa aplikasi yang bisa merubah penampilan. Mereka bisa terlihat cantik bahkan meski nyatanya jauh dari hasil yang dibagikan pada laman Instagram.

Yap, selfie seksi bisa jadi alternatif untuk meningkatkan popularitas tanpa mengeluarkan banyak anggaran. Setelah merasa dirinya sudah banyak dikenal, biasanya mereka akan memakai kesempatan ini untuk menghasilkan uang dengan menerima endorsement.

Jadi, selain haus akan pujian, para perempuan yang doyan mengunggah foto-foto seksi di sosial media juga krisis dalam hal ekonomi dan jati diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hati-hati! Curhat Pada Sembarangan Teman, Bisa Jadi Rahasiamu Terbongkar

Mengira dia bisa menyimpan rahasia, sering kali kita menceritakan semua hal pada seorang teman. Bukannya menutup rapat mulutnya, ia malah jadi pihak yang kerap membeberkan cerita. Tak bermaksud membuatmu menaruh curiga, tapi beberapa orang bersedia mendengar hanya karena tahu ada informasi yang bsia dijadikan bahan gibah.

Uneg-uneg yang kita keluarkan, mendadak jadi bahan gosip dengan tambahan beberapa kalimat yang sejatinya tak kita sebutkan. Alih-alih membuat diri lebih tenang, curhat ke sembarangan orang malah membuat hati kian gusar. Curhat memang membuat tenang, memberi jawaban atas masalah yang kita sampaikan. Tapi perlu diingat pula, teman curhat yang kita pikir kawan bisa mendadak berubah jadi lawan.

Jangan Langsung Menyerah, Sebelum Curhat Berusahalah Sendiri dalam Menyelesaikan Masalah

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya seorang diri. Hanya saja, kadang kala kita butuh teman untuk mendengarkan apa yang sedang kita rasakan. Inilah yang mungkin jadi penyebab, mengapa kita memilih curhat dengan teman. Berharap mereka bisa memberi saran yang tak kita pikirkan atau hal lain yang bisa membantu jalannya pikiran.

Namun sebelum memutuskan untuk bercerita pada temanmu, cobalah untuk berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar dari semua masalah. Uraikan semuanya pelan-pelan, cari titik mana yang jadi sumber persoalan, hingga nanti akan ada jalan keluar yang jadi jawaban.

Lagipula Daripada Curhat ke Teman, Bercerita ke Pasangan atau Keluarga Justru Lebih Aman

Yap, meski katamu teman bisa seperti saudara, pada waktu tertentu mereka bisa saja berubah secara tiba-tiba. Berbeda dengan pasangan atau saudara dan keluarga yang akan tetap menjaga rahasia yang kamu bagikan pada mereka. Tapi, lain hal jika kamu memang lebih percaya teman daripada pasangan atau keluargamu.

Semuanya kembali pada kita sebagai si pencerita. Apakah yakin sudah memilih teman curhat yang benar, atau memilih bicara pada pasangan saja, setiap kali ada masalah. Tapi ingat, sebaik-baiknya teman, keluargalah yang akan selalu menerima kita untuk pulang dalam segala keadaan.

Tapi Jika Memang Terpaksa Butuh Didengar Orang Lain, Pilihlah Teman yang Bisa Menyimpan Semua Cerita

Sejalan dengan yang tadi sudah dijelaskan diatas, kadang kala kita memang butuh didengar. Tapi persoalan yang sedang mendera mungkin adalah masalah kelaurga, sehingga kita merasa akan lebih baik jika yang mendengar adalah teman saja. Harapannya cuma satu, didengar atau diberi saran dan semua cerita tak akan bocor keluar.

Maka untuk berjaga-jaga, cobalah cari teman yang bisa dipercaya. Bisa menyimpan rahasia, dan tahu batasan tentang menjaga semua isi pembicaraan. Meski tak bisa memastikan jika ia tak akan bercerita kepada orang lain. Kesediannya untuk mau mendengarkan adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Dan akan berbeda jika ternyata dirinyalah yang kemudian membeberkan semua rahasia kita.

Minta Ia Menutup Rapat Mulutnya, Jangan Ember dan Mengobral Semua Masalah

Demi mengingatkan seorang kawan, tak ada salahnya jika kita kembali menngingatkan dirinya tentang semau cerita yang baru saja kita bagikan bersamanya. Sampaikan padanya, jika kita tak ingin kabar ini diketahui banyak orang atau terdengar sampai keluar. Memilihnya menjadi teman bercerita karena kita percaya, jadi sebisa mungkin mintalah ia tetap menjaga kepercayaan yang sudah kita sematkan padanya.   

Namun Jika Tak Ingin Menambah Masalah, Cobalah Curhat Kepada Allah

Nah, alternatif paling baik setiap kali ada beban yang mendera, tentu saja curhat kepada Alla. pasangan bisa saja berubah tak mau mendengarkan, sahabat atau kawan bisa saja membeberkan semua rahasia dan cerita yang kamu sampaikan, tapi Tuhan sang pemiliki semesta akan selalu siap untuk mendengarkanmu bercerita, dimana dan kapan saja.

Jangan takut ceritamu dijadikan bahan gosip, karena yang sesungguhnya akan kau dapat bisa jadi jalan keluar dari persoalan yang kau sampaikan. Dekatkan diri untuk berbagai semua hal, datang padanya setiap kali kamu lemah dan bahagia. Dengan begitu, Allah tahu jalan seperti apa yang sedang kamu butuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Bertemu Teman 2 Kali Seminggu, Turunkan Resiko Kematian

Selain menghabiskan waktu dengan pacar, bertemu teman di akhir pekan jadi salah satu kegiatan yang menyenangkan. Bahkan tak hanya itu saja, energi dalam diri terasa seakan baru selepas selesai bercerita dengan mereka. Tapi ternyata, tak hanya membuat hati bahagia saja. Bertemu teman juga berdampak baik bagi kesehatan tubuh dan mental kita.

Bahkan semakin banyak jumlah teman yang kita miliki, semakin sedikit pula resiko kesehatan. Mulai dari kemungkinan kecil untuk menderita penyakit, lebih cepat pulih dari operasi, dan lebih baik lagi, mengurangi resiko kematian dalam diri.

“Angka dua kali seminggu berasal dari temuan kami bahwa ini adalah jumlah waktu yang biasanya Anda habiskan bersama teman atau keluarga terdekat,” kata profesor psikologi evolusi Dr. Robin Dunbar, dikutip dari Huffington Post, Kamis, 13 Juni 2019.

Beliau melanjutkan, jika ketika kita memiliki jaringan sosial yang besar dan terintegrasi dengan baik memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan fisik dan emosional. Ada sejumlah alasan untuk ini.

Paka kaum Hawa memiliki mekanisme koping yang oleh peneliti UCLA disebut “kecenderungan dan berteman.” Pada dasarnya, anak perempuan merespons stres dengan lebih baik ketika mereka memiliki teman. Ini banyak berhubungan dengan faktor hormonal, yakni oksitosin, alias ‘hormon cinta’ yang dihilangkan dalam otak kita ketika menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai.

“Ikatan dapat dibentuk melalui serangkaian kegiatan, mulai dari olahraga tim hingga bercerita tentang pria atau sekadar minum bir bersama teman-temanmu pada Jumat malam,” lanjut Dunbar.

Selanjutnya, Ia juga menyampaikan sebuah kunci untuk tetap bisa mempertahankan hubungan persahabatan dengan teman adalah dengan bertemu dau kali dalam seminggu. Dengan melakukan hal-hal menyenangkan, setidaknya bersama 4 orang sahabat terdekatmu. Jadi sudah ketemu teman belum minggu ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top