Feature

Kenapa Kamu Tak Perlu Risau Meski Belum Punya Rumah Atau Mobil Mewah, Ini Alasannya

Kamu masih termasuk orang yang gelisah karena tidak punya rumah atau mobil? Saatnya kamu harus mengubah pandanganmu sekarang. Era dimana definisi sukses seseorang adalahketika ia sudah bisa membeli sesuatu yang mahal atau tidak dimiliki orang lain, sesungguhnya sudah lewat.

Di beberapa negara di belahan dunia muncul trend anti kepemilikan barang. Semakin sedikit memiliki barang maka dianggap makin bahagialah seseorang. Di Jepang misalnya, generasi mudanya sedang kerajingan budaya Zen. Ini adalah budaya yang berusaha memiliki sesedikit mungkin barang. Prinsipnya sederhana, semakin sedikit yang dimiliki maka semakin sedikit pula energi dan pikiran yang harus dicurahkan untuk hal yang tak penting.

Sejumlah penelitian di Amerika juga mengungkapkan para generasi milenial yang berusia 30-35 tahun semakin jarang yang membeli rumah bahkan mobil. Faktanya, generasi milenial tidak suka membeli sesuatu yang sangat mahal. Di Amerika, orang-orang yang berusia di bawah 35 tahun disebut sebagai “generasi penyewa”.

Untuk Apa Punya Rumah Dan Mobil Tapi Tiap Malam Memikirkan Utang?

pusing di komputer

Generasi sebelum kita mungkin bisa dengan tenang mencicil rumah atau mobil dalam jangka waktu yang panjang. Pasalnya di era itu, kondisi ekonomi lebih stabil. Semua bisa diprediksi bertahun-tahun ke depan.

Berbeda dengan sekarang. Kondisi perekonomian tidak sestabil dahulu. Tak selalu buruk, karena ini juga terjadi akibat pembangunan dan teknologi yang pesat. Tapi efek buruknya, jika terjadi sesuatu maka ekonomi bisa jatuh sewaktu-waktu.

Andaikan kita membeli rumah untuk jangka waktu 15 tahun misalnya. Bisa saja di tengah mencicil terjadi inflasi gila-gilaan macam krisis tahun 1998 dimana bunga cicilan naik 10 kali lipat. Atau bisa saja developer rumah yang kita cicil gulung tikar setahun kemudian sementara rumah yang kita cicil belum rampung dibuat.

Coba lihat andaikan tahun lalu kamu mengambil pinjaman untuk membeli motor Harley Davidson. Di tahun ini pabrikan motor Amerika itu menyatakan tutup layanan di Indonesia. Begitu juga pabrikan mobil ford. Bayangkan kalau kamu mencicil mobil atau motor selama 3-5 tahun. Sudah lah cicilan naik karena inflasi, motor dan mobil layanannya tak sempurna karena perusahaannya tutup.

Kalau Bisa Sewa Kendaraan Kenapa Harus Beli Mobil?

mobil mewah

Dahulu memiliki kendaraan seperti sebuah keharusan. Mengingat sulitnya kendaraan umum dan akses terhadap kendaraan non pribadi. Tapi toh meski belum sempurna, tapi saat ini kita sudah dimudahkan oleh teknologi.

Mau pergi? Kita tinggal ambil gadget dan bisa memilih mau memesan ojek, mobil, atau taksi secara online. Atau kita bisa mengunduh aplikasi-aplikasi trayek kendaraan umum yang disediakan pemerintah. Dengan metode ini, kita tak perlu lagi memikirkan mencari parkir, membayar pajak kendaraan, service kendaraan, dan lain sebagainya.

Untuk Investasi, Rumah Memang Bagus, Tapi Bisa Jadi Penghambat Karir

rumah

Secara nilai, rumah mungkin menjadi instrumen investasi yang menarik. Namun membeli rumah berarti pula harus punya komitmen jangka panjang. Apalagi jika kondisinya masih mencicil.

Di era lalu, orang tua kita cenderung bekerja pada satu instansi saja. Walhasil mudah buat mereka untuk berkomitmen membeli tempat tinggal dengan memperhitungkan jarak tempuh waktu ke kantor. Beberbeda dengan generasi saat ini yang menurut survey Forbes, bahwa orang muda di dunia modern rata-rata berganti pekerjaan setiap tiga tahun.

Jadi anggaplah kamu membeli rumah di daerah selatan karena perhitungan akses yang lebih mudah ke kantor yang juga di daerah selatan. Lalu kemudian ada tawaran baru menantang namun kantornya berada di daerah utara.

Besar kemungkinan jauhnya jarak dari rumah akan jadi pertimbangan kamu menolak pekerjaan itu. Padahal seandainya kamu hanya menyewa rumah, tentunya mudah buatmu untuk segera pindah menerima tantangan baru tersebut.

Membeli Pengalaman Jauh Lebih Menyenangkan Daripada Membeli Barang

tandem

Yang membuat kita bahagia seutuhnya sebenarnya bukanlah barang yang kita miliki. Namun pengalaman yang kita punya. Jadi daripada menghamburkan uang di barang mewah yang tak diperlukan, lebih baik berinvestasilah pada hal lain seperti liburan, melakukan berbagai olahraga yang ekstrim, hingga membangu sebuah startup, misalnya.

Kenapa pula harus beli rumah di tempat yang sangat istimewa dan mahal jika kamu bisa menyewa sebuah penginapan ketika pergi ke tempat wisata yang istimewa? Menyewa sebuah penginapan saat berlibur tentunya lebih murah karena tidak perlu repot bayar pajak bangunan, tapi kamu sudah bisa merasakan tinggal di tempat tinggal sementara dengan pemandangan yang mengagumkan.

Hal ini diperkuat oleh James Hamblin, seorang kolumnis dari The Atlantic. Ia menjelaskan bahwa para psikolog menemukan fenomena yang telah terjadi pada beberapa dekade belakangan ini adalah, kebahagiaan dan rasa memiliki yang berasal dari menghabiskan uang pada pengalaman baru seperti liburan atau melakukan olahraga ekstrim lebih berharga daripada kebahagia yang hanya diperoleh dari membeli sebuah barang.

Coba Lihat Gaya Hidup Steve Jobs, Semakin Sedikit Barang Semakin Mudah Hidupnya

Steve Jobs Think Different

Dalam sisa hidupnya Steve Jobs pemilik perusahaan Aple praktis hanya mengenakan kaos leher tinggi warna hitam, celana jeans dan sepatu olah raga putih. Begitu juga dengan bos Facebook Mark Zuckerberg yang hanya mengenakan kaos berwarna sama setiap hari.

Metode ini juga diterapkan oleh presiden Amerika Serikat Barack Obama. Kenapa tokoh-tokoh tersebut melakukan hal ini? Karena mereka membutuhkan kesegaran otaknya untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Memiliki barang secara berlebihan dan memilihnya hanya akan menghabiskan waktu dan energi setiap harinya.

Jika kamu seseorang yang suka membeli barang-barang mewah, ingat ada risiko yang harus kamu tanggung yakni menjaga kondisinya tetap baik dan juga bebas dari pencurian. Memikirkannya saja sudah bikin cemas, rasa cemas yang datag setiap hari akan otomatis membuat kita tidak bisa menjalani hidup dengan tenang.

Kamu tentunya tidak mau mobil sport yang baru kamu beli tergores saat memakainya di jalanan, atau televisi super mewah keluaran terbaru akan cepat rusak setelah beberapa tahun pemakaian. Daripada membeli barang-barang itu, uang yang sudah susah payah kamu kumpulkan lebih baik dipakai untuk melakukan sesuatu yang lebih penting di masa depan.

Menggunakan uang yang sudah diperoleh dengan susah payah untuk mendapatkan pengalaman baru akan jauh lebih bermakna dibanding memakainya hanya untuk kepuasaan sesaat. Pengalaman baru yang didapat setiap hari akan mengasah kepribadian kamu menjadi lebih matang dan dewasa dalam menyikapi segala hal.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Siasat Jitu Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Nyelekit’ dari Keluarga Saat Lebaran Tiba

Setahun sekali, kita menantikan 1 Syawal untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Bermaaf-maafan, saling bertukar kabar, sampai bertanya seputar kesibukan yang sedang dilakukan sudah jadi bagian dari silaturahmi keluarga saat lebaran.

Tapi ada kalanya di tengah situasi yang kamu harapkan bisa berjalan kondusif, ada saja hal-hal diluar ekspetasi yang harus kamu hadapi. Misalnya, menghadapi pertanyaan ‘nyelekit’ berbau sindiran, sinisme, atau bahkan sarkasme pasti pernah kamu terima, bukan?

Begini, kuncinya yang terpenting ada pada dirimu yang menanggapi. Daripada dimasukkan ke dalam hati, cobalah untuk menanggapi omongan atau pertanyaan tersebut dengan senyuman. Ingat lho, di hari yang Fitri, sebaiknya rayakan dengan sepenuh hati.

Saatnya Kamu Memiliki Pengendalian Diri yang Baik, Kali Ini Kuminta Anggaplah Omongan yang Datang Sebagai Bentuk Perhatian…

Sebab ada banyak cara untuk mengungkapkan perhatian. Tak melulu dengan sikap yang positif dan omongan yang membangun. Sebab ada lho yang justru menunjukkannya dengan melontarkan pertanyaaan nyelekit seperti yang kamu rasakan. Angap saja begitu.

Anggaplah apa yang kamu terima sebagai bagian dari rasa perhatian mereka. Sukar memang, tapi cobalah untuk mengendalikan dirimu agar tidak terbawa perasaan atau emosi saat menghadapi omongan nyelekit dari saudara.

Memberi Senyum Adalah Hal Terbaik dan Terindah yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membangun Komitmen untuk Saling Bermaaf-maafan

Di hari yang Fitri, kamu pasti ingin suasana kumpul keluarga terasa hangat dan membahagiakan. Langkanya intensitas bertemu dengan anggota keluarga yang lain, sebaiknya kamu manfaatkan untuk lebih sering lagi memberi senyum. Jangan hanya karena kamu menghadapi omongan atau komentar mereka yang begitu nyelekit, mood-mu jadi ikut berantakan.

Nah, untuk menghadapi situasi semacam ini, ya cukup senyum saja lalu beralih ke saudaramu yang lain. Cukupkan pembicaraan antara kamu dan dia yang melontarkan pertanyaan atau omongan tersebut, manfaatkan waktumu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga yang lainnya juga ya.

Saat Mereka Bertanya, Sebaiknya Lontarkan Kembali Pertanyaan yang Serupa tapi dengan Nada Positif

Membangun image yang positif itu perlu. Seiring bertambahnya usiamu. Tapi tentu image yang dibangun harus dengan ketulusan hati. Seperti membuktikan kalau kamu pun sekarang sudah  bisa dewasa dalam menyikapi segala situasi yang mungkin menyulitkanmu.

Tunjukkan kalau pertanyaan atau komentar yang nyelekit tak akan mampu meruntuhkan mood baikmu dan ada baiknya kamu mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada si penanya.

Biasanya orang akan lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dibanding mendengarkan jawaban orang.

Kalau di Momen yang Sekarang Ini Kamu Masih Ditanya Soal Karier, Target Menikah, atau Mungkin Kapan Mau Memiliki Momongan, Hadapilah dengan Kepala Dingin dan Tetap Meminta Doa

Perihal bagaimana saudara, tante, paman, ya siapapun itu dalam lingkup keluarga besarmu yang suka bertanya soal ‘kapan’, lebih baik jawablah dengan sebijak mungkin. Tak perlu kamu emosi atau jadi malas mengobrol dengan mereka, semalas apapun itu, lawanlah egomu dan jawablah dengan tetap meminta doa. Jadi orang bijak memang sukar, tapi justru akan lebih baik untuk dirimu sendiri sekaligus belajar mengendalikan diri, bukan?

Di Hari dimana Kamu Merayakan Kemenangan, Jangan Mau Kalah dengan Situasi yang Suka Semena-mena

Coba pikirkan kembali, setelah satu bulan menahan hawa nafsu dan amarah, ini adalah momen kamu meraih kemenangan di hari Lebaran. Untuk itu, jangan mau terusik dengan omongan-omongan yang mungkin tak mengenakkan hatimu.

Fokuskan niatmu untuk menikmati kemenangan dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Toh merayakan dan menikmati kemenangan di momen Lebaran ini sepenuhnya hakmu sebagai manusia. Tak perlu lagi lah pusing-pusing mikirin mereka. Sebab belum tentu apa yang mereka ucapkan ini benar-benar dipikirkan sebelumnya.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Laki-laki yang Sudah Melukai, Jadi Sosok yang Paling Sulit Hilang dari Hati?

Tenang, tenang ini bukan perkara belum move on atau tidak. Tapi jika saat ini, kamu sedang merasakan hal yang serupa, kamu tak sendiri.

Konon dia yang selama ini sudah berhasil melukis tawa, bisa saja jadi pihak yang melahirkan luka. Membuat kita bersedih, menangis hingga menimbulkan benci yang bisa merusak hubungan. Cinta pertama katanya akan selalu dikenang. Disisi lain, sejalan dengan itu, dia yang sulit dilupakan justru adalah sosok lelaki yang sudah melukai hatimu begitu dalam.

Berbagai upaya untuk melupakan sudah dilakukan, anehnya sosoknya justru selalu datang dalam pikiran. Lalu, apa hal yang sebenarnya menjadi penyebab dari ini semua?

Kamu Sudah Mencintai dengan Sangat Dalam, Namun Pada Waktu yang Bersamaan Ia Justru Memilih Pergi dan Melenggang

Gambarannya begini, kita mungkin sudah merasa ia adalah sosok yang akan menemani sampai akhir usia nanti. Hingga tak segan untuk percaya sepenuh hati, padahal si dia justru berbalik dan memilih untuk pindah ke lain hati.

Kecewa dan sakit hati itu wajar, karena biar bagaimana pun kita pernah saling sayang. Namun hal yang justru membuat kita sulit untuk melupakan adalah besarnya rasa sayang yang sudah kita berikan, beberapa saat sebelum ditinggalkan. Cinta boleh saja sudah dicurahkan, tapi memaksa orang lain untuk tetap tinggal jelas diluar kemampuan.

Mencoba Beralih pada Sosok yang Baru, Tapi Nyatanya Bayang-bayang Mantan Masih Seperti Hantu

Hal lain yang kita perlu ingat adalah, kisah cinta yang berakhir tak sesuai keinginan. Sudah menjadi takdir atas kehidupan. Tak bisa dicegah atau dihindari, mau tak mau memanglah harus dihadapi.

Setelah putus karena telah dilukai, beberapa orang memilih untuk buru-buru mencari mengganti. Seolah ingin membuktikan bahwa diri ini juga bisa hidup tanpa tanpanya. Tak apa memang, jika kita sudah menemukan orang yang tepat. Tapi biasanya, hal ini diputuskan hanya untuk sebuah pelarian.

Hasilnya? Bukannya membantu proses melupakan lebih cepat, menerima orang baru dengan buru-buru justru membuat kita merasa bersalah. Karena meski sudah bersamanya, sosok yang dibayangkan masih saja dia yang telah jadi cerita.

Bahkan Kenangan Buruk Akan Dirinya, Kerap Membuat Kita Takut Kembali Terluka

Bayangan yang ada dipikiran sekarang adalah dia yang tadinya kita cinta justru jadi pihak yang menggoreskan luka. Pelan-pelan membuat diri tak nyaman, sebab mencintai dia yang tadinya kita percaya akan membuat bahagia saja, akhinya berujung dengan sia-sia.

Selain hal buruk yang sering terbayang, memang masih ada jenis bahagia yang pernah dirasakan berdua. Namun, tingkat dari rasa sakit hati yang kita lalui terasa lebih tinggi. Beberapa kali demi memastikan diri, kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa dia yang kita cintai dengan tulus justru membuat hati terluka? Dan akhirnya kita pun masih sering tak bisa menerima orang yang sedang berusaha untuk mendekatkan hatinya kepada kita.

Takut Kehilangan Itu Sah-sah Saja, Tapi Tetap Mempertahankan Hubungan Jelas Bukan Pilihan

Tak ada yang salah dengan pilihan untuk tetap tinggal, barangkali hati mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Hal lain yang justru menjadi kesalahan adalah langkah apa yang akan kita ambil jika ternyata dia tak terlihat menunjukkan perubahan.

Bukan, itu jelas bukan cinta. Karena faktanya kita hanya takut kehilangan sosoknya saja. Sehingga apa pun yang ia lakukan, akan tetap kita terima dengan dada yang lapang.

Melepasnya Memang Tak Akan Mudah, Tapi Tetap Lelap Dalam Luka, Untuk Apa?

Proses melupakan seseorang yang pernah kita cinta, barangkali memang jadi sesuatu yang susah. Jatuh-bangun kita menyembuhkan luka, hingga belajar untuk ikhlas dalam menerima semua. Tak ada yang bilang ini akan mudah, tapi bukan berarti juga kita tak bisa.

Tanpa ada yang akan memaksa kita tetap tinggal lagi, sebenarnya kita berhak untuk memilih hal apa yang akan dilakoni. Namun, jika ternyata tetap berada disampingnya hanya akan membuat luka kian menganga, lantas untuk apa?

Belajarlah untuk lebih bijak dalam memilah-milah pilihan, tentang jalan mana yang harus kita ikuti dan jalani.

Cobalah Nikmati Masa Transisi Ini, Hingga Benar-benar Tak Ingat Lagi

Jangan dipaksakan untuk benar-benar melupakan dengan cepat, tapi tak juga tetap lelap dalam bayang-bayang pacar yang sudah pergi meninggalkan. Buka hati dan pikiran, lihat sosok mana yang benar-benar sayang, dan terima hal-hal yang memang sudah jadi ketentuan.

Sebab tak satu pun dari kita bisa menentukan, jalan cerita seperti apa yang besok terjadi atas kehidupan. Hal yang bisa kita lakoni hanyalah menunggu dan menjalani alur cerita yang sudah disiapkan untuk kehidupan kita.

Karena Bukan Tak Bisa Melupakan, Kamu Hanya Terlalu Mengingat Hal-hal yang Nyaman dan Lupa Pada Luka yang Juga Telah Ia Goreskan

Jika memang saat ini kamu masih saja berkutat pada proses melupakan yang tak bisa diijalankan. Cobalah fokuskan diri pada keinginan yang sedang ingin dijalani, bukan malah berdiam diri pada bayang-bayang bahagia yang dulu ada.

Tanamkan pada pikiranmu, jika lelaki itu pernah dengan tega melukai hatimu. Cobalah ingat kembali, bagaimana ia pergi meninggalkanmu saat sedang butuh, hingga tak adanya rasa bersalah dari dia yang sudah menorehkan luka.

Bukan berarti tak bisa melupakannya dia, hanya saja dirimu kurang giat mengingat luka hati yang telah dibuatnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top