Feature

Hanya Mereka yang Berjiwa Besar yang Bisa Memaknai Sebuah Pengampunan

Namanya Dr. Abdul Munim Sombat Jitmoud.  Hari itu sebagai Ayah, ia hadir dalam sebuah persidangan sebagai saksi dari pembunuhan anaknya. Salahuddin Jitmoud adalah nama sang anak. Dikenal baik dan selalu membantu orang tuanya dengan bekerja sebagai pengantar Pizza. Tapi malang bagi Salahuddin, karena satu hari ia dirampok ketika mengantar pizza dan ditikam dengan keji hingga meninggal dunia.

Sidang memberikan kesempatan untuk sang Ayah memberikan kesaksian dan berbicara. Semua bersiap untuk kemarahan beliau. Namun beliau berbicara dengan tenang meski terbata. Ucapannya jelas:

“Aku memaafkanmu” ujarnya dan kemudian ia memeluk pembunuh anaknya sendiri.

Ya, bukan kemarahan yang terlontar dari mulutnya. Justru pengampunan yang diucapkannya secara jelas. Seluruh ruangan sontak terkejut dan mendadak hening. Hakim dan mereka yang hadir menitikan air mata. Tak terkecuali Refold sang pelaku. Dalam pelukan ayah dari anak yang dibunuhnya Refold tak kuasa menahan tangis dan berkata:

“Saya meminta maaf atas semua yang terjadi. Saya tahu butuh orang yang kuat untuk bisa mengampuni orang yang telah menyakiti hati bapak seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan rasa sakit yang bapak rasakan, dan tidak ada hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya. Saya hanya bisa berterima kasih atas ampunan yang telah bapak berikan” ujar Refold sambil tetap memeluk.

Iya, mengampuni bukanlah perkara yang mudah. Karena ini pilihan dan bukan kewajiban. Tapi meski berat pengampunan bisa membuat dirimu lapang dan langkahmu ringan.

Kebaikan dari Sebuah Pengampunan Akan Kamu Rasakan untuk Dirimu Sendiri

Penelitian menunjukkan jika dendam bisa menyebabkan terjadinya peningkatan hormon stres yang bernama kortisol di dalam tubuh. Kalau dendammu tak kunjung selesai, yang ada seiring berjalannya waktu maka tekanan darah pun bisa naik dan kamu akan jadi sosok yang cenderung tegang.

Dilain sisi, masalah yang menderamu kalau tidak segera kamu selesaikan justru akan membuatmu merasakan penderitaan mental yang berkelanjutan dan mengarah pada peningkatan risiko akan kecemasan dan depresi. Efeknya, kamu pun akan semakin sulit membangun hubungan yang sehat.

Mengampuni Itu Pilihan, Karenanya Pengampunan Sangatlah Berbeda dengan Persetujuan

Mungkin ada beberapa orang yang beranggapan bahwa dengan memaafkan seseorang yang telah berlaku salah pada kita, berarti kita menyetujui perilaku orang tersebut. Konsep semacam ini tidaklah sepenuhnya benar, karena jika kamu menyetujui perilaku tersebut, maka ada atau tidak adanya pengampunan bukannya jadi sama saja bukan?

Karenanya, pengampunan itu adalah sebuah pilihan. Kamu memilih mengampuni dan mengakui seseorang berperilaku buruk terhadapmu namun kamu tahu perilaku tersebut diluar kendalimu. Dengan mengampuni, kamu tahu hal itu akan membebaskanmu dari rasa sakit yang kamu rasakan.

Sukar Mengampuni Pada Dasarnya Bisa Merusak Kepercayaan yang Telah Dibangun Selama Ini

Jika kamu masih ingin melanjutkan hubungan dengan seseorang yang telah melakukan kesalahan terhadapmu, maka pengampunan sepenuh hati sangatlah penting maknanya demi kelanjutan hubungan yang kamu jalani. Karena kalau masih ada dendam yang kamu simpan, maka yang ada kamu jadi tidak percaya lagi dengan orang tersebut.

Masih Suka Terbawa Emosi Justru Akan Membuat Pengampunan Lebih Sukar Dilakukan

Jika kamu masih terjebak dengan perasaan sakit hati, kemarahan, serta kesedihan, bisa dipastikan kamu akan jadi lebih sukar untuk memaafkan. Maka lebih baik kamu fokus dengan perasaanmu sendiri, cobalah pahami dan menerima keberadaan orang yang telah berbuat salah padamu. Jika kamu lebih bisa ‘legowo’, maka kamu akan lebih mudah untuk memaafkan.

Sebelum Berfokus untuk Memberi Pengampunan Pada Orang Lain, Maka Ada Baiknya Kamu Memaafkan Dirimu Sendiri Terlebih Dahulu

 

Banyak orang yang sangat cepat memberi pengampunan atas orang lain tapi jadi sangat lambat ketika memaafkan diri sendiri. Jika masih ada pergolakan atau perasaan dalam dirimu dimana kamu merasa kamu belum bisa sepenuhnya memaafkan diri sendiri, maka akan sukar rasanya melihat ada pengampunan. Yang ada, dampaknya terhadap kondisi psikologismu membuatmu jadi mudah cemas ataupun depresi.

Sebagai manusia, kamu harus bisa menerima dirimu sendiri terlebih dahulu. Cobalah memahami semua kesalahan yang telah kamu lakukan,  tetaplah belajar menerima dan memaafkan diri atas kesalahan yang telah kamu perbuat.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top