Feature

Hal-hal yang Kerap Luput dari Perhatian, Tentang Menikah Muda yang Banyak Digadang-gadang

Manfaat paling menonjol dari kampanye menikah muda yang belakang banyak disuarakan di media sosial, adalah ‘auto bahagia’ jika hubungan sudah sah. Padahal, kehidupan setelah menikah tak melulu tentang bahagia.

“Menikah menghindarkan kamu dari zinah, karena bisa ‘ena-ena’ dengan sah”

Jadi tagline lain yang dipakai untuk mendorong semangat para kawula muda untuk segera menikah.

Kamu pikir menikah hanya tentang Ena-ena saja? Begini, kalau kamu memang tak mau berzina, kamu hanya perlu tak melakukannya. Urusan selesai! Bukan lantas memilih menikah agar bisa melakukan hubungan seks dengan sah, apalagi dengan embel-embel karena itu adalah bagian dari ibadah. Pernikahan itu adalah sebuah prosesi yang suci, bukan sekedar legalisasi seks seperti yang kamu bayangkan.

Di twitter gerakan menikah muda banyak dinilai tak benar, bahkan tak sedikit dari warganet yang berpendapat itu hanyalah pembenaran dari manusia yang tak bisa menahan nafsunya saja. Tapi di sisi lain, sosial media macam Instagram, justru jadi ladang basah yang dijadikan wadah untuk mensuarakan gerakan menikah muda.

Mereka memilih mensederhanakan semuanya, tak perlu melanjutkan studi, menikah tanpa wali, hingga nominal biaya pernikahan yang sebenarnya cukup kecil. Lalu harus bagaimana kawula muda sebenarnya menyikapi gerakan ini? Ada beberapa hal yang perlu kita pahami.

Pernikahan Itu Sakral, Kamu Perlu Mempersiapkan Mental

Ini bukan cerita negeri dongeng yang selalu berakhir dengan bahagia, ini adalah kehidupan nyata, dimana bahagia bisa saja berdampingan dengan duka. Baru-baru ini Salmafina Sunan, pada salah satu wawancaranya berkata jika menjadi janda adalah sesuatu yang berat.

Ya, di usianya yang terbilang masih sangat belia, Salma sudah menjadi janda setelah sebelumnya pernah menikah dengan hafiz Alquran bernama Taqy. Semua perempuan, tak terkecuali Salma tentu tak pernah membayangkan jika pernikahannya harus berakhir di meja pengadilan. Dan hal lain yang akhirnya dijadikan alasan mengapa pernikahannya tersebut hanya berumur 3 bulan adalah kesiapan mental.

Di usia yang masih remaja atau belum cukup dewasa, bisa jadi kita masih berkelut mencari jati diri. Emosi yang masih meledak-ledak hingga logika yang sering dikesampingkan. Maka, daripada harus buru-buru memutuskan untuk menikah, sebaiknya siapkan mentalmu dulu saja.

Cinta Tak Membuatmu Kenyang, Kita Butuh Kesiapan Finansial

“Kalau sudah menikah, rejekinya pasti selalu ada”.

Tak bermaksud untuk meremehkan kuasa doa atau pun kepercayaanmu akan hal tersebut. Tapi manusia juga perlu berpikir dengan logika. Walau hidup tak melulu tentang materi dan harta, tapi berpikir bahwa menikah hanya butuh niat saja jelas salah. Selain kesiapan lain, finansial yang memadai jadi salah satu hal yang perlu dipikirkan.

Kalau sudah begini, biasanya mereka akan mengambil contoh beberapa pasangan yang memang sedari kecil sudah kaya. Menjadikan pasangan tersebut sebagai acuan, padahal tak semua pasangan yang menikah muda sudah stabil keuangannya. Alih-alih bisa membantu orang tua, biasanya pasangan yang menikah muda justru jadi penambah beban keluarga.

Akan Hidup Bersama Selamanya, Sudahkah Dirimu Yakin Bisa Berkomitmen dengan si Dia?

Bukan seperti pacaran yang bisa putus dan berganti pasangan, ketika memutuskan menikah. Itu artinya kita sudah berjanji untuk hidup bersama denganya selamanya. Bukannya memberikan gambaran tentang bagaimana kenyataan yang akan dihadapi dua orang, kampanye gerakan menikah muda lebih sering mempertunjukkan hal-hal manis nan bahagia.

Cintamu tak akan membara tetap besar, kadang kala kamu akan merasa dia jauh, mengecewakanmu, atau bahkan melukai hatimu. Disinilah komitmen akan bekerja tetap bersamanya atau memilih untuk berpisah saja. Dan tak hanya berkomitmen untuk pernikahan saja, kamu juga butuh berkomitmen untuk segala hal lain yang akan dilakukan selepas menikah.

Akan Jadi Istri atau Suami, Kamu Harus Mampu Mengontrol Emosi

Di usia yang masih belia, kemampuan untuk mengelola emosi masih jauh dari kata mumpuni. Hal-hal remeh yang sebenarnya bisa diredam sering jadi alasan pertengkaran dengan pasangan. Alih-alih bisa menghalau emosi pasangan, emosi dalam diri sendiri saja belum bisa dilawan.

Nah, ketidakmampuan kita untuk mengontrol emosi bisa jadi induk sikap dan perbuatan buruk lain yang mulai bermunculan. Bahkan tak sedikit yang kemudian berakhir dengan kekerasan. Merasa ia berubah, tak ada lagi cinta, kemudian memilih untuk bercerai saja. Padahal, bisa jadi kamulah yang memang terburu-buru. Tak mengenalnya lebih dalam, tiba-tiba menerima pinangan lalu kemudian menyesal.

Dan yang Terakhir, Pahami Juga Soal Kesehatan Reproduksi

Dengar, perempuan yang sudah melakukan hubungan seks pada rentan usia yang masih sangat muda beresiko besar terkena kanker serviks. Dilansir dari situs hellosehat.com, penelitian di British Journal for Cancer menunjukkan bahwa perempuan muda dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah lebih berisiko terjangkit infeksi HPV karena melakukan hubungan seks empat tahun lebih cepat dari perempuan muda dengan kondisi ekonomi yang lebih baik.  

Padahal kanker serviks, jadi pembunuh nomor 2 paling berbahaya yang menyebabkan kematian bagi perempuan Indonesia. Tak sampai disitu saja, kamu juga harus tahu jika sebenarnya organ reproduksi perempuan di bawah usia 20 tahun yang belum siap mengandung dan melahirkan. Hasilnya, kesehatan reproduksi yang kerap diabaikan ini   akan meningkatkan risiko kematian bagi ibu dan anak, tingginya angka anak yang lahir cacat, dan stunting.

Kalau sudah begini, masih mau bilang jika menikah muda jadi solusi dari masalahmu? Jangan menggebu dalam menentukan pilihan, karena hasilnnya bisa jadi hanya menambah beban.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hidup di Dunia Hanya Sebentar, Kurang-kurangin Nyakitin Hati Orang

Segala nikmat dan kepunyaann yang dimiliki, sering kali membuat kita gelap mata dan lupa diri. Bukannya lebih banyak bersyukur karena punya sesuatu yang lebih, hidup nyaman yang didapatkan justru digunakan jadi alat untuk membuat orang lain tersakiti. Duh, ngeri!

Tak peduli seberapa banyak harta yang kamu punya atau secantik dan setampan apa dirimu dan secerdas apa pemikiranmu. Satu hal yang wajib dan harus selalu diingat adalah, semua yang ada pada kita sekarang hanyalah sementara. Maka teruslah berbuat baik dan berhenti untuk menyakiti hati orang lain. Sebab kehidupan tak bisa diterka, kamu bisa saja pergi tanpa sempat meminta maaf pada mereka yang telah disakiti.  

Meski Diperlakukan Buruk, Berusahalah untuk Senantiasa Berbuat Baik Pada Siapa Saja

Jangan pernah jumawa atas segala hal yang dipunya. Siapapun kita sekarang, sebanyak apapun harta yang sudah berhasil dikumpulkan, hingga kecerdasan tingkat tinggi yang ada di pikiran. Tak boleh jadi alasan untuk berlaku semena-mena pada orang yang lebih rendah dan lemah.

Merasa lebih tinggi dari orang lain, kadang membuat kita berhak untuk berlaku sombong, meninggikan hati, hingga akhirnya membuat mereka sakit hati. Siapapun kamu dan sebesar apapun keberuntungan dalam hidupmu, berusalah untuk rendah hati dan tak menyakiti.

Sebab Tuhan Pun Tak Meminta Kita untuk Membalas Hal Buruk dengan Serupa Buruknya

Apapun agamamu, untuk perkara bersikap dengan sesama manusia. Kita selalu diminta senantiasa berbuat baik kepada siapa saja, meski itu adalah orang yang menyaki kita. Memang sih, ini akan jadi sesuatu yang sulit. Karena mendapat perbuatan jahat, selalu mengundang amarah untuk membalas hal yang sama jahatnya.

Tapi percayalah, semesta dan sang pemiliknya selalu bersikap adil atas segalanya. Dia yang sudah berbuat jahat, kelak akan mendapat balasan yang setimpal. Untuk itu, dengan kita tetap berbuat baik akan selalu ada hal baik yang juga kita dapatkan sebagai balasan.

Dan untuk Hidup yang Lebih Tenang, Teruslah Belajar Menjadi Lebih Baik dari yang Sekarang

Setiap hari sepanjang hidup adalah proses belajar yang tiada akhir. Cerita dan kisah hidup yang berbeda, akan memaksa kita selalu memetik hikmah dari semuanya. Titik inilah yang kemudian akan membantu kita membuka mata, melihat hal-hal baik mana yang perlu dijadikan pelajaran.

Buang semua rasa jumawa atas kemampuan diri yang sekarang. Berpikir kalau kita sudah pintar hingga tak perlu belajar, hanya akan menyeret kita pada kekalahan, jika sewaktu-waktu ada hal baru yang akan terjadi di hari mendatang. Namun, jika ada persiapan yang matang yang selalu dipelihara dalam segala bentuk pelajaran. Maka hidup akan lebih tenang.

Sembari Mengasah Kemampuan dan Pengetahuan, Jangan Lupa untuk Selalu Bersyukur atas Segala Kepunyaan

Ucapan syukur atas semua hal adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa terimakasih atas kehidupan. Jangan sampai apa yang dimiliki jadi alasan untuk bisa merendahkan orang lain atau menyakiti hati mereka.

Sebaliknya, ketika kita mempunyai sesuatu yang lebih dibanding orang lain. Jadikan itu sebagai ajang untuk bersyukur, berbagi, hingga memberi contoh bagaimana menikmati semua pemberian Tuhan dengan rasa syukur yang besar. Terus menerus belajar adalah kewajiban, serupa wajibnya dengan ucapan terimakasih yang tiap hari harus kita sampaikan.

Hidup Hanya Sebuah Persinggahan, untuk Itu Lakukan Semua Hal Baik yang Berkenan Bagi Allah dan Banyak Orang

Jangan gelap mata atas segala hal indah yang sedang Allah titipkan kepada kita. Semua itu bisa hilang dalam sekejap saja. Entah sore nanti, besok pagi, atau lusa. Apapun bisa terjadi atas hidup kita semuanya.

Untuk itu, selagi ada waktu dan masih diberikan kesempatan hidup dengan nyaman. Menjadilah berbeda dari orang-orang biasanya. Menjadi manusia yang taat kepada Tuhanmu dan baik kepada semua manusia yang ada di dekatmu. Jangan terkecoh, tetap rendah hati dan teruslah berbuat baik, selama kamu bisa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Karena Penelitian Bilang: “Benci Mantan Itu Normal”

Urusan perasaan memang tak selalu bisa ditebak. Hari ini masih sayang-sayangan, besok bisa saja sudah bersikap bak tak saling kenal. Dulu ia adalah segalanya, hari ini bisa jadi kita sangat membencinya. Jangan terlalu khawatir atas perubahan hati, karena membenci mantan pacar konon adalah sesuatu yang normal.

Dikutip dari inc.com, sebuah penelitian terbaru dari Wellcome Laboratory of Neurobology meneliti para relawan yang memendam rasa benci pada seseorang, dan ternyata kebanyakan pada mantan kekasih, sebagian lain pada saingan dan figur politik terkenal. Para relawan itu kemudian dipindai otaknya.

Para peneliti menganalisis aktivitas saraf pada para partisipan saat mereka memandang foto dari orang yang paling mereka benci tersebut. Hasilnya cukup mengejutkan. Para peneliti menemukan bahwa lingkaran rasa benci dipengaruhi oleh dua bagian otak yang ada pada sub-korteks: putamen dan insula. Putamen adalah bagian pada otak yang berkaitan dengan fungsi sistem motorik juga perasaan menghina dan jijik. Insula diketahui ikut memengaruhi respon untuk menekan stimuli.

Menurut ahli neurologi dan kepala penelitian, Profesor Semi Zeki menjelaskan, “Jaringannya melibatkan area puteman dan insula yang hampir mirip dengan jaringan yang aktif saat ada gairah, perasaan romantis, dan cinta.” Dengan kata lain, jaringan di otak yang memengaruhi rasa benci sama dengan jaringan yang memengaruhi rasa cinta.

Di sisi lain, kita mungkin akan berpikir bagaimana bisa hal itu terjadi. Tapi faktanya, meski rasa cinta dan benci ini bagai dua kutub yang berlawanan, secara fisiologis keduanya saling berkaitan. Maka saat seseorang menatap orang yang dibencinya, ketika otaknya dipindai akan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil korteks serebral yang nonaktif. Tapi ketika mereka menatap orang yang dicintainya, sebagian besar area korteks serebal yang nonaktif. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa saat kita sudah jatuh cinta pada seseorang, kita akan sangat mudah kehilangan akal sehat.

Nah, selain hasil dari penelitian yang sudah dijelaskan di atas. Ada banyak hal lain yang juga menjadi alasan, mengapa kita membenci si dia ketika sudah jadi mantan.

Gelagat yang Tak Kita Sukai Kian Terlihat, Wajar Jika Dirinya Tak Lagi Mengangumkan

Pernah terbuai karena cinta, semua hal yang dilakukannya terlihat jadi sesuatu yang istimewa. Meski banyak kekurangan, kita kerap menggenapkan semuanya itu dengan berpura-pura tak melihat apa yang jadi kenyataan. Tapi selepas berpisah, kita jadi lebih kristis dalam menilai dia. Kekurangan yang selama ini seolah tak kita lihat, kini jadi alasan kuat untuk mantap berpisah.

Benar memang, barangkali ini dikarenakan pudarnya rasa cinta yang tadinya bersemanyan di hati kita. Putus cinta memang membuat mata kita kian terbuka, sehingga tak dan pikiran kita pun kembali aktif untuk melihat  bahwa ia memang tak pantas untuk dijadikan pasangan.

Pernah Bilang Cinta Lalu Pergi, untuk Apa Ditangisi?

Siapa sih yang tak kesal, jika seseorang yang pernah berjanji bersama mendadak pergi dan meninggalkan kita. Sekalipun alasan berpisah mungkin bukan karena dia saja, tapi selalu ada rasa kecewa yang bisa jadi amarah. Sudah berkhianat dan pergi melenggang, balasan yang paling sesuai tentulah memutus hubungan.

Tak perlu tak enak hati, hapus semua kontak yang ada. Bahkan memblokir dirinya di sosial media jadi sesuatu yang wajar untuk dilakukan. Anggaplah ini jadi salah satu bentuk kebencian atas janji yang tak lagi ia jalankan.

Sudah Tak Lagi Bersama, Tak Ada Keharusan untuk Tetap Baik Padanya

Lupakan dulu perintah berbuat baik yang jelas diajarkan agama, ini perihal perasaan. Sebab ada beberapa hal yang kadang bisa dilakukan sesuai kebutuhan. Dan untuk urusan hubungan yang sudah berakhir, bisa kita artikan sebagai tanda berakhir pula segala bentuk sikap baik padanya.

Tak perlu berpura-pura merasa biasa dengan tetap berbuat baik padanya. Jika memang kamu merasa ia berubah dan menunjukkan sikap yang tak lagi bersahabat. Membalasnya dengan perbuatan yang sama, bisa jadi jalan keluar untuk menuntaskan rasa kecewa. Setidaknya kita punya alasan mengapa harus membencinya. Selain ia sudah mengecewakan, sikapnya memang tak pantas dijadikan teman.

Lagipula Hanya Psikopat yang Masih Berteman Sama Mantan

Kamu perlu tahu, berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Justin Mogilski dan Dr Lisa Welling dari Oakland University, pada 861 orang yang diberi pertanyaan tentang alasan mengapa mereka tetap berteman dengan mantan. Hasilnya para peneliti ini menemukan perilaku menyimpang yang mencakup, sifat narsistik, sifat mendominasi, dan psikopat.

Lebih parahnya lagi, para peneliti tersebut merangkum bahwa mereka yang memiliki skor tinggi pada uji coba ini, cenderung memilih berteman dengan mantan karena ada manfaat lain yang akan menguntungkan diri sendiri. Nah, kalau ternyata mantanmu menunjukkan gelagat demikian. Perlu untuk mengatur  jarak darinya.

Tak Ada yang Salah, Seperti Pilihan untuk Mencintai Kita Juga Berhak untuk Membencinya

Untuk segala hal yang akan terjadi atas hidup kita. Diri sendiri selalu jadi pihak penentu tentang apa yang akan terjadi. Tak ada yang perlu ditakutan, selama hal tersebut baik untuk diri, lakukan saja. Tak perlu menghiraukan orang lain yang mungkin menyarankanmu untuk tetap bersikap baik pada mantan. Jika memang dirimu merasa tak nyaman, karena masih menyimpan kemarahan. Jauhi ia semampu yang kamu bisa. Tapi dengan catatan, jangan sampai rasa bencinmu itu merusak dirimu sendiri. Jadi bencilah dengan sewajarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Buat Apa Menyimpan Dendam Cuma Buat Diri Remuk Redam

Tak melulu tentang bahagia, beberapa perkara dalam hidup kadang menyisahkan luka. Alih-alih bisa melupakannya, sebagai manusia biasa kadang kita malah memeliharanya jadi sebuah amarah. Memupuknya subur dengan rasa benci, hingga akhirnya menjadi dendam yang terus tumbuh di hati.

Dendam adalah suatu kondisi dimana kita berharap orang lain yang berbuat salah kepada kita. Kelak akan mendapatkan balasan serupa dengan yang telah diperbuatnya. Sialnya, daripada buru-buru melupakan amarah atau mengelola emosi dengan cara yang lebih baik. Kita justru memilih untuk menyimpan dendam yang kemudian membuat kita selalu beranggapan bahwa, orang lain adalah ancaman. Meski kejadian yang membuat kita marah itu mungkin sudah lama berselang.

Kita tak sadar, jika menyimpan dendam hanya akan membuat diri kesal, merusak hubungan dengan orang-orang sekitar hingga gangguan kesehatan yang bisa merusak tubuh tanpa diduga. Sebelum nanti akan menyesal karena sudah terlambat, cobalah pahami apa saja yang bisa dilahirkan oleh dendam.

Membuatmu Lebih Tua dari Usia yang Sebenarnya

Kamu pasti pernah dengar kan, kalau mudah tersenyum membuat kita awet muda. Nah, menyimpan dendam serupa dengan memelihara amarah dalam diri. Sehingga, tak ada lagi sumber energi positif yang bisa melahirkan bahagia untuk sekedar tersenyum. Efek samping dari dendam, akan jadi pemicu stres yang kemudian menimbulkan depresi dan frustasi.

Selain gangguan emosi, tubuh akan merespon stres berlebih dengan cara memicu penuaan dini. Hal ini disebabkan adanya perubahan kromosom DNA dalam proses regenerasi untuk pembentukan sel baru. Sehingga memicu penuaan biologis organ dalam tubuh yang lebih cepat. Sebaliknya, memaafkan akan menghasilkan hormon stress yang lebih terkendali dan diminimalisir sehingga proses respon stress pada tubuh dapat kembali normal.

Tubuh Akan Mudah Terserang Penyakit dengan Rasa Nyeri dan Kronis

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukan bahwa seseorang yang menyimpan dendam memiliki peluang 50% lebih tinggi untuk mengalami penyakit dengan rasa nyeri seperti ulserasi lambung, sakit punggung dan sakit kepala.

Dengan kata lain, jika kamu giat menyimpan dendam dalam hati atau pikiranmu, bukan tak mungkin jika suatu waktu kamu akan merasakan hal yang sama juga. Diserang penyakit dengan rasa nyeri yang bersifat kronis. Selain itu, peneliti juga mengambil kesimpulan bahwa menyimpan dendam berkaitan kemungkinan berkaitan dengan gangguan psikosomatis.

Secara Tak Langsung Juga Menuntun Kita Pada Gaya Hidup yang Tak Sehat

Ketika pikiran telah dipenuhi dengan berbagai macam dendam yang terus tumbuh tanpa kita hilangkan. Sebagaimana yang tadi sudah dijelaskan, stres yang kemudian menghinggapi pikiran akan membuat kita kurang memerhatikan kondisi kesehatan.

Bahkan sebuah studi menunjukkan kondisi mental yang sedang tak stabil, mendorong seseorang lebih banyak merokok dan mengonsumsi junkfood yang tinggil kalori. Perilaku macam inilah yang kemudian merusak kesehatan tubuh. Yang selanjutnya mendatangkan berbagai macam jenis penyakit berbahaya yang bisa membuat kita sakit parah.

Dan Mengubah Susunan Hormon Otak Kita

Salah satu organ tubuh terpenting, otak akan bekerja saat kita berpikir, berkomunikasi, dan membentuk hubungan sosial dengan orang lain. Nah, fungsi tersebut konon dipengaruhi oleh dua hormon yang saling berkaitan namun dapat bekerja berlawanan yaitu hormon kortisol dan hormon oksitosin.

Hormon kortisol biasanya dilepaskan saat kita berada di bawah tekanan mental besar, seperti saat menyimpan dendam. Sebaliknya, hormon oksitosin diproduksi ketika kita memaafkan atau saat berdamai dengan diri kita maupun orang lain.

Agar fungsi otak bisa tetap berjalan dengan seimbang, kedua hormon tersebut perlu  menciptakan stress baik atau yang disebut juga eustress. Seperti saat bekerja untuk mencapai tujuan, serta mengendalikan stress buruk atau distress.  

Padahal, Hormon kortisol dikenal sebagai hormon yang berbahaya jika diproduksi secara terus menerus dalam waktu yang lama, karena tidak hanya memengaruhi kerja sistem saraf pusat namun juga kerja organ lainnya. Kamu bisa bayangkan kan, bagaimana jadinya fungsi otak akan terganggu karena adanya hormon kortisol yang lahir dari dendam yang terus membara.

Serta Dipercaya Meningkatkan Risiko Kerusakan Jantung Juga

Setiap emosi dan kecewa yang ditumpuk, pelan-pelan akan jadi bukit kebencian yang terus tumbuh dan tak bisa hilang. Padahal, situasi ini disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya tekanan darah tinggi pada seseorang. Dan akan sangat berbahaya jika berlangsung dalam waktu yang lama.

Serupa dengan kemunculan emosi negatif yang kemudian membuat kita merasa tertekan. Dan akan menjadi akar dari meningkatnya resiko penyakit jantung jika terjadi terus menerus dalam waktu yang lama. Hal ini sejalan dengan hasil dari sebuah riset yang dilakukan oleh Asosiasi Jantung Amerika sudah membuktikan bahwa menyimpan rasa marah dan dendam dapat memicu terjadinya penyakit jantung koroner yang didahului oleh kondisi tekanan darah tinggi dan arterosklerosis.

Jadi, masih mau menyimpan dendam lagi? Memaafkan mungkin tak mudah, namun daripada membahayakan diri kita, lebih baik belajar untuk jadi orang yang peyabar. Dan selalu lembutkan hati untuk memafkan kesalahan orang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top