Feature

Berhentilah Mengatakan Generasi Sekarang Lebih Buruk Dari Generasimu Dulu

Apakah menurutmu, generasimu jauh lebih baik dari generasi sekarang? Apakah kamu menganggap anak sekarang lebih manja dibandingkan dengan kamu di masa lalu? Kalau kamu punya pikiran-pikiran macam ini, berhati-hatilah. Karena bisa jadi kamu sedang terjebak dalam sindroma “generasiku paling baik”.

Padahal tak sepenuhnya pikiran itu benar. Ada kalanya kita tidak menilai generasi sekarang secara adil. Coba letakan kakimu di sepatu mereka, rasakan yang mereka hadapi. Dan yang paling utama, hentikan membandingkan dirimu dengan mereka.

Generasi Kita Juga Dulu Dinilai buruk Oleh Generasi Sebelumnya

anak-anak

Sadarkah kamu bahwa generasimu dulu juga dinilai buruk oleh generasi di atasmu? Musik tahu 80-an dinilai buruk oleh generasi 70-an karena terlalu bernuansa mesin dan kering. Musik 90-an dinilai kurang kaya tema dan lirik oleh generasi 80-an. Musik era milenium dinilai kurang eksplorasi oleh generasi 90-an. Dan begitu seterusnya.

Itu baru bidang musik, belum bidang lain macam keilmuan, kebangsaan, dan lainnya. Tapi coba renungkan, generasi kita yang dulu dicap buruk dan begajulan, ternyata bisa juga mencapi titik ini. Kita tak seburuk yang digambarkan dan dikhawatirkan dulu. Jadi kenapa kita masih mengulang mental menilai buruk yang sama?

Apa Yang Dilakukan Generasi Sekarang Adalah Cermin Didikan Generasi Kita

hamil

Menurutmu perilaku generasi sekarang buruk? Memangnya mereka terlahir seperti itu? Siapa yang mendidik mereka? Bukankah generasi kita yang mendidik mereka. Kitalah yang menuliskan buku-buku pelajaran mereka. Generasi kita juga yang membuat film untuk mereka tonton. Generasi kita juga yang memberi patron perilaku, sopan santun dan etika.

Ambilah contoh Pokemon Go yang sedang ramai saat ini. Beberapa menyebut generasi saat ini terlalu asik dengan gadget mereka dan lupa sekitar. Sadarkah kita, bahwa yang mengenalkan layar sentuh dan mempopulerkan gadget adalah Steve jobs dari Apple dan orang-orang Android Google. Mereka adalah generasi 80 dan 90-an. Sementara Game Pokemon Go sendiri sudah dirancang sedari 20 tahun yang lalu, jelas bukan produk generasi masa saat ini. Lalu masih terheran ketika mereka bertinteraksi begitu? Faktanya, kita yang mendidik mereka seperti itu.

Menilai Mereka Menggunakan Apa Yang Telah Kita Lewati Sangatlah Tak Adil

revolution-body

Parahnya, kita sering menyamakan pikiran mereka dengan pikiran kita saat ini. Jelas hal tersebut sangatlah tak adil. Karena usia dan pengalaman tentunya telah mengajarkan kita banyak hal. Cobalah membandingkan perilaku mereka dengan perilaku kita di usia mereka. Maka niscaya kita akan lebih bijak.

Banyak dari kita begitu bencinya melihat mereka yang rapuh ketika putus cinta. Sementara kita lupa, dahulu pun kita yang meraung paling keras ketika ditinggal pacar. Tuduhan brutal “orang gak bener” dilancarkan untuk mereka yang sering pulang larut. Padahal dulu kamulah yang sering pulang pagi tanpa ada kabar. Mereka yang panik dengan kondisi tubuhnya yang gemuk langsung dinilai berlebihan, sementara kita lupa dulu kita yang sibuk diet supaya tak gendut. Dudukan mereka pada proporsinya, tak perlu berlebihan.

Fasilitas Mereka Memang Lebih Baik, Tapi Tantangan Mereka Pun Jauh Lebih Berat

pusing di komputer

Buatmu mungkin anak sekarang dimanja dengan berbagai fasilitas. Hal itu tidak keliru, namun sadarkah kamu, fasilitas itu ada karena tantangan yang harus mereka hadapi pun jauh lebih berat. Fasilitas itu dibuat oleh generasi yang lalu untuk tantangan saat ini.

Taruhlah Mereka memang punya fasilitas bisa mencari lamaran kerja dan mengirimkan CV via online. Bahkan wawancara kerja pun bisa dengan webcam. Terkesan lebih mudah memang, tapi sadarkah kamu bahwa memenuhi standar yang dibutuhkan lowongan kerja tak semudah dahulu? Tuntutan skill dunia pekerjaan pun jauh lebih tinggi. Mereka harus lebih berjibaku dibandingkan kita dahulu.

Generasi Kita Pun Belum Tentu Sanggup Seperti Mereka

bijak menulis

Kamu yakin, generasi kita lebih mampu dari generasi yang ada saat ini. Ambilah contoh soal waktu sekolah. Taukah kamu berapa lama waktu yang harus mereka habiskan di sekolah? Betapa padatnya pelajaran yang harus mereka hadapi.

Sementara kamu dulu? Sekolah hanya sampai jam 12 itu pun masih sering didiskon karena guru harus ikut rapat. Sungguh tantanganmu jauh lebih mudah.

Dan Kata Siapa Mereka Lebih Buruk Dari Generasi Kita?

tim ns

Apa kita punya data statistik bahwa generasi kita lebih baik dari mereka? Sudahkah kamu melongok berapa banyak generasi saat ini yang menang olimpiade science? Lihatlah para ilmuwan muda Indonesia di bangku kuliah yang mampu membuat mobil paling irit di dunia. Berapa banyak dari anak-anak muda ini yang dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi bisa membangkitkan keperdulian sosial bersama. Sudah pernah dengar anak-anak muda yang tergabung di gerakan Nusantara Sehat?

Kemarin ramai soal Awkarin, selebgram dengan follower 600 ribu yang menghebohkan dunia maya. Karakternya memang jadi kontroversi. Tapi setidaknya perempuan yang punya nama asli Karin Novilda ini pernah jadi “anak baik-baik” menurut penilaian generasi kita. Ia peraih nilai tertinggi ke tiga Ujian Nasional SMP tingkat Provinsi Kepulauan Riau pada 2013 dengan hasil UN 37,9 dan rata-rata nilai 9,6.

Kamu yakin pernah berprestasi lebih baik dari itu di masa lalu? Lantas siapa yang paling bertanggung jawab dengan perubahannya yang drastis saat ini kalau bukan karena kita?

Bisa Jadi Masa Generasimu Sudah Lewat, Biarkan Mereka Yang Melanjutkan

nasehat investasi

Suka tidak suka, mungkin kita harus mulai mengakui ini. Bisa jadi masa keemasan generasi kita sudah lewat. Ini saatnya adik-adik muda yang maju berprestasi.

Ambilah contoh bidang olah raga. Salah satu sumber kegagalan Indonesia saat ini adalah karena terlambatnya regenerasi. Kita tak memberikan peluang yang cukup untuk generasi muda berkembang dan menimba pengalaman.

Ini saatnya membiarkan mereka lewat, sementara kita memperhatikan dari belakang layar. Ingat regenerasi adalah strategi manusia untuk terus abadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketahui Sisi Gelapmu Menurut Zodiak, Agar Kamu Bisa Mawas Diri

Astrologi konon dapat mengungkap kehidupan seseorang, juga memprediksinya dari segi karakteristik. Nampaknya, rasi bintang tersebut memiliki pengaruh yang dapat dipercayai dan diyakini memang akan terjadi seperti sebuah ramalan keuangan atau cinta. Namun dibalik itu semua, pengklasifikasian karakteristik menjadi salah satu hal menarik. Entah percaya atau tidak, secara alam bawah sadar ada orang-orang yang memang tersugesti untuk meyakini hal-hal dari kacamata astrologi. Kamu juga begitu?

Tetapi bagaimana kalau astrologi sebenarnya menyimpan hal-hal yang menakutkan tetapi mereka enggan menyebutkan. Kalau selama ini kamu selalu mendapatkan saran kencan dan karir secara baik padahal ada saran yang harus mereka bagikan agar kamu tak berbuat menyimpang yang bersumber dari rasi bintangmu. Lantas kalau memang ada, apa yang kamu lakukan? Dilansir dari Ranker.com berikut ini adalah hal yang paling menyeramkan dari diri kamu menurut zodiakmu sendiri.

Aries

Orang yang berzodiak Aries, diibaratkan seperti sebuah amarah mendidih yang tiba-tiba bisa meledak begitu saja. Kenapa? Karena dirinya bisa bersikap keras secara eksplosif alias marah-marah tak terbendung. Aries butuh me-manage kemarahan itu sendiri.

Aries, Leo dan Sagitarius memang tipikal keras kepala dan berpendirian tetapi energi dan rasa antusiasme yang dimiliki bisa menjadi bumerang bagi dari sendiri. Hal ini terjadi dipicu ada stres dalam diri. Sangat disarankan untuk ikut gym supaya dapat mengalihkan rasa tersebut.

Taurus

Taurus memiliki rasa posesif yang membuatnya sangat tidak nyaman. Seolah-seolah semua hal harus dijaga sesuai dengan keinginannya meskipun itu sering sebatas obsesi. Dalam hal asmara, ada kecenderungan suka menyesali apa yang dulu terjadi, kenangan yang terbangun, sampai rasa ingin sekali memiliki hingga membuat pemikirannya kamu tidak seimbang. Sebaiknya lupakan dan ikhlaskan saja, jangan menyesal kalau dulu sempat berusaha sekuat tenaga meskipun hasilnya sia-sia.

Gemini

Gemini memiliki keresahan dalam hatinya untuk terus berbicara sesuai dengan apa yang ia rasakan. Dengan kata lain Gemini adalah tipikal orang bermuka dua. Teman-temannya pun telah tahu kalau curhatannya akan dibicarakan karena dirinya tak kuat menahan. Gemini juga tak bisa membiarkan orang lain tahu bagaimana perasaannya. Meski begitu, setidaknya dirinya cukup menawan untuk menambah teman baru demi menggantikan orang-orang yang merasa telah dikhianati.

Cancer

Cancer adalah orang yang sangat tersakiti, dapat diibaratkan mereka seperti seorang pengasuh yang kuat namun menderita. Dia rela melakukan banyak hal untuk apa yang dicintai, meskipun tak suka untuk mengakuinya. Dirinya bukannya diam saja, namun dia juga berpikir bahwa sebenarnya bisa mendapatkan lebih karena banyak orang yang hutang budi kepadamu. Sehingga dia selalu merasa kekurangan dari segala aspek kehidupan.

Leo

Leo adalah orang yang narsisnya tingkat dewa. Kemanapun orang berzodiak Leo pergi, pasti sorotan selalu mengarah kepadanya dan dia pun tak munafik tuk menyukai hal seperti itu. Teman-temannya banyak yang peduli padanya, karena dia merupakan orang yang baik dan murah hati. Namun seketika sorotan itu pergi, dia rela melakukan apa saja untuk kembali menjadi pusat perhatian, bahkan sampai membuat sesuatu drama agar orang kembali menaruh simpati kepadanya. Kamu adalah yang terbaik, benarkan Leo?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Cara Pandang Bermasalah, Merasa Berhak Menunjuk yang Salah

“Semut diseberang lautan terlihat, tapi gajah di pelupuk mata tak dilihat”

Ungkapan barusan, barangkali jadi gambaran yang pas untuk orang-orang yang kerap bertindak bak Tuhan. Menyalahkan orang lain dengan seenaknya, tanpa tahu bahwa manusia lain pun punya hak serupa. Ya, hak untuk sepaham denganmu atau tidak.

Asal kamu tahu saja, puncak kedewaasaan tertinggi dari seseorang adalah, ketika kamu setuju untuk tidak setuju. Jadi, jika beberapa hal yang kerap terlihat sering jauh dari pandanganmu, bukan berarti kamu berhak untuk bilang itu adalah sesuatu yang salah. Meski sesungguhnya, hal itu mungkin salah.

Maka sebelum bersikap dan merasa dirimu paling benar, ada beberapa hal yang perlu ditanyakan pada diri sendiri.

Setiap Orang Punya Pandangan dan Pilihan Terbaik Sesuai Versinya

Kamu mungkin bisa berkata bahwa, kamu adalah orang terbaik yang ada di kelompok pertemanan milikmu. Tapi, pendangan itu tak selalu sejalan dengan kawan lain yang nyatanya ia adalah seorang teman. Menganggap diri adalah yang terbaik, boleh jadi sudah mendarah daging. Tapi, merendahkan orang hanya karena tak sepaham jelas salah.

Walau mungkin apa yang kita percaya adalah sesuatu yang benar, dan yang dibicarakan oleh kawan adalah salah. Kita hanya berhak untuk menyampaikan kebenaran yang kita percaya. Selanjutnya, ia bebas untuk menentukan pilihannya dan kita pun tak bisa memaksa dia untuk percaya. Karena biar bagaimanapun, serupa dengan kita. Ia juga punya hak yang sama, untuk mempercayai sesuatu sesuai dengan versi dirinya.

Orang Lain Mungkin Bisa Salah, Tapi Siapa Kamu yang Berhak Menghakiminya?

Lain hal jika kamu adalah orangtuanya, bosnya di kantor hingga posisisi lain yang memang mau tak mau menugaskan dirimu untuk menentukan. Batas mana yang akan jadi garis antara salah dan benar. Bahkan meski begitu, ia masih berhak untuk menentukan akan setuju atau tidak denganmu. 

Untuk beberapa kesempatan, diri kita mungkin berada pada posisi yang benar. Tapi bukan berarti itu sudah benar sesuai aturan. Barangkali, diri kita sendirilah yang menganggap itu benar. Bagaimana dengan pandangan orang lain? Belum tentu serupa. Ingatlah, bahwa apapun yang kita katakan benar, bukan berarti akan mendapat hasil yang sama dengan yang orang lain lihat.

Serupa dengannya yang Katamu Salah, Dimata Orang Lain Kamu Pun Pernah Berbuat Hal Serupa

Konon ketika kita memilih untuk menunjuk orang lain bersalah dengan jari telunjuk, ada tiga jari lain yang sudah menunjuk diri kita secara bersamaan. Dengan kata lain, setiap kali kita bertindak untuk menyatakan seseorang bersalah, ia juga punya hal yang sama untuk mengelaknya dan tak setuju dengan pendapat kita.

Hari ini kamu mungkin bisa berkata bahwa rekan kerjamu salah, karena kebetulan ia datang terlambat untuk pertemuan yang sudah dijanjikan. Tapi disaat bersamaan, bisa saja ada orang lain yang datang untuk menyadarkanmu. Bahwa pada hari-hari lain di masa lalu, kamu pun pernah begitu.

Lagipula Mereka yang Terlalu Mudah Menyalahkan Orang, Punya Gangguan dalam Mengendalikan Diri Sendiri

Yap, beberapa ahli yang melakukan penelitian untuk sikap dan penguasaan diri seseorang berkata bahwa, mereka yang terlalu terburu-buru untuk marah dan menyatakan orang lain salah. Memiliki kemampuan mengontrol emosi yang rendah. Dan sialnya, sikap seperti ini bisa membuatmu dijauhi orang. Karena biar bagaimanapun, tak ada orang yang suka berteman dengan manusia yang merasa dewa. Tak pernah berbuat salah, dan berhak menjatuhi orang lain apa saja yang menurutnya tak benar.

Salah dan Benar Itu Perkara Biasa, Jadikan Pelajaran Bukan jadi Ajang Merendahkan Orang

Percayalah bahwa tak ada satupu manusia yang sempurna. Dia yang katamu benar, boleh jadi salah pada tindakan lain. Dan begitu sebaliknya, dia yang katamu salah, bisa saja lebih hebat darimu pada beberapa hal yang kau tak bisa. Cobalah untuk lebih jeli melihat situasinya, dengan mulai memilah-milah hal mana yang layak dijalankan persoalan, dengan yang tak seharusnya dipermasalahkan.

Perbedaan cara pandang, harusnya membuat kita sama-sama belajar. Jika apa yang ada dalam isi kepala satu manusia, belum tentu bisa diterima makhluk lainnya. Tak perlulah merasa paling unggul sendiri, lalu melenggang untuk menyombongkan diri dengan apa yang kita percayai.

Tak Boleh Melihat dari Satu Sisi, Kamu Pun Perlu Paham Bagaimana Ia dari Sisi yang Berbeda

Ingat ya, setiap orang punya pendapat, pandangan, pola pikir, hingga kemampuan yang berbeda-beda. Tak ada yang serupa, dan tak bisa pula kita memaksanya untuk sama. Sebab meski serupa doyan makan mie, kamu jelas tak bisa mengajak orang lain mengangguk untuk memilik mie goreng, jika ternyata ia lebih suka mie kuah. Dari sini kita harusnya bisa belajar, bahwa apa yang sejalan saja, kadang tak bisa disamaratakan semua.

Cobalah untuk membuka mata, melepaskan apa yang kita percaya tadi. Untuk kemudian belajar melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda. Dengan begitu, barangkali kita bisa lebih memahami dirinya.

Dan Percayalah, Terbiasa Menyalahkan Orang Lain Tak Membuat Dirimu Lebih Besar

Barangkali kamu berpikir bahwa berupaya untuk menunjukkan kesalahan seseorang akan membuatmu dipandang lebih baik. Mendapat penghargaan karena sudah menujukkan sesuatu yang besar, hingga berharap akan lebih dikenal, sebab sudah mengoreksi orang. Padahal faktanya, seringkali tidak begitu.

Dipandang baik tak dilihat dari kemampuan kita untuk berteriak salah dan benar pada seseorang. Tapi bagaimana kita bisa menyampaikan pendapat dengan baikk tanpa terkesan menggurui dan bertindak paling benar sendiri. Ingat, bintang yang bersinar tak pernah berkata jika ia tinggi. Tapi semua orang tahu, jika setiap malam ia ada di langit untuk menerangi bumi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Berada di Kubu yang Mana, Menyalakan Atau Mematikan Tanda ‘Read’ di WhatsApp?

Saat mengirim pesan kepada orang lain via aplikasi WhatsApp, kamu pasti berharap orang tersebut dapat membalas dalam jangka waktu yang tidak lama. Namun, setelah selang satu sampai dua jam ternyata ia tidak kunjung membalas bahkan pesan kamu tidak ada indikasi kalau sudah di-read. Lantas apa yang terjadi kira-kira ya?

Kemungkinan orang tersebut sibuk memang ada sih, tapi bisa saja ia mematikan tanda read atau centang biru di WhatsApp, lho. Meskipun bagi sebagian orang masih merasa sungkan dengan tidak membalas pesan kendati telah membacanya, adapula yang mengambil jalan tengah dengan mematikan centang biru agar bisa membaca terlebih dahulu, dan sesuka hati untuk membalasnya. Jadi bagaimana mengatasi agar pesan lebih cepat mendapatkan respon?

Kembali Bertanya guna Memastikan kalau Ia Berada di Sana

Bagi kubu yang menyalakan tanda ‘Read’ di WhatsApp, menunggu seseorang membalas lama saja sudah membuat jengkel apalagi kalau tidak ada kepastian seperti tidak di-read sampai tidak dibalas. Nah, bagi mereka yang mematikan tanda ‘read’, pasti akan mudah untuk berlama-lama tak membalas pesan.

Untuk itu apabila pesan kamu tak kunjung mendapatkan respon lebih baik kamu bertanya kembali guna menyadarkan bahwa ada seseorang yang sedang bertanya kepadanya. Sambil berharap kalau orang tersebut peka.

Berikan Sindiran Halus supaya Chat-mu Dibalas

“Memangnya koran, dibaca doang?”, sindiran macam itu biasanya dilakukan kepada seseorang yang kerjaanya hanya read pesan yang ditujukan kepadanya tapi tak membalas. Lantas bagaimana kalau tak ada tanda di-read tapi sudah hampir beberapa jam tak ada respon?

Hal yang kamu lakukan tetap sama yakni memberikan sindiran. Salah satunya tentang meme perihal orang yang lama membalas pesan. Selain buat lucu-lucuan, hal ini biasanya ampuh untuk memancing respon orang yang dituju.

Responnya Lama? Coba Telepon Saja!

Menunggu respon orang yang dituju untuk membalas chat di WhatsApp sangatlah tidak nyaman. Ya namanya saja menunggu, tentu tidak ada kata enak. Oleh karena itu daripada terlalu lama menunggu balasnya, lebih baik kamu telepon saja ke nomornya, dan langsung membicarakannya. Semoga saja dia mengangkat teleponmu, ya!

Gunakan Medsos untuk Menegaskan kalau Ada Pesan yang Harus Dibalas

Perihal menjengkelkan adalah di era sekarang sudah terlihat saat seseorang menonaktifkan tanda ‘Read’, kemudian ia tak membalas, namun update status atau foto di media sosial.  Orang-orang seperti itu harus kamu senggol dengan cara bertanya di media sosialnya, sehingga ia akan sadar kalau ada pesan yang tidak terabaikan.

Bila Semua Cara Sudah Ditempuh, tapi Tak Juga Dibalas, Lupakan Sajalah Mungkin Itu Kemauannya

Semua cara di atas sudah kamu lakukan, namun balasan tak kunjung datang. Kalau sudah seperti ini ya lupakan saja, buat apa juga kamu mengeluarkan effort sekuat tenaga demi seseorang yang sebenarnya tak begitu penting juga. Mungkin dengan bersikap seperti ini adalah jalan keluar yang terbaik bagi kalian berdua.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top