Feature

Fitness Bikin Fisikmu Sehat, Sering Posting Foto Fitness Pertanda Jiwamu Sakit

Mari kita buka-bukaan, dari sekian banyak teman yang kamu punya, mungkin ada satu orang yang kerap membagikan aktivitas olahraganya di laman media sosial, khususnya Facebook. Atau bisa jadi diri ini adalah salah satu dari mereka?

“Lumayan, lari 5 km sebelum ngantor pagi ini,” lengkap disertai foto yang menunjukkan diri sedang berkeringat dipagi hari. Meski kita sendiri kadang tak tahu betul, itu keringat sungguhan atau sisa air yang dipakai membasuh wajah.

Beberapa saat sebelum membagikan foto dan postingan status tersebut, kamu mungkin akan tersenyum tipis. Sembari berpikir bahwa hidupmu jauh lebih baik dibanding yang lain. Tapi jangan dulu senang Kawan, karena bisa jadi kamu sedang mengalami gangguan dalam hal kejiwaan.

Tidak percaya? Para ahli dari Universitas Brunel di London melakukan sebuah penelitian terhadap mereka yang kerap membagikan aktivitas fitness di laman media sosial, hasilnya ditemukan bahwa mereka yang kerap melakukan aktivitas tersebut adalah seseorang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Hasil ini jadi bukti yang cukup untuk membuat kita bertanya? Seberapa gilakah diriku?

Kecanduan Akan Sebuah Penghargaan, Jadi Faktor Utama yang Kerap Memicu Seseorang Berbuat Demikian

Teknologi telah mengubah banyak perilaku manusia dalam melakukan sesuatu. Dan salah satunya adalah mendokumentasikan kegiatan melalui telepon genggam jadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan. Bahkan kebiasaan ini nyaris dilakukan semua orang.

Untuk mereka yang kebetulan berprofesi sebagai personal trainer olahraga, ini tentu jadi salah satu kebutuhan akan pekerjaan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak berprofesi sebagai personal trainer olahraga? Kegiatan ini kerap jadi ajang untuk menunjukkan brand yang dikenakan hingga sejauh mana mereka telah menghasilkan keringat.

Bahkan penelitian dari profesor James Fowler dari University of California mengatakan tak hanya untuk diakui oleh sesama, media sosial jadi salah satu wadah yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk berolahraga. Beliau mengatakan bahwa seseorang akan mencoba berolahraga dan makan sehat apabila dia melihat dan mendengar temannya melakukan hal tersebut.

Padahal Bentuk Tanda Suka dan Komentar Berisi Pujian yang Disampaikan Orang-orang Tak Selalu Benar

Konon hal ini lebih sering dirasakan oleh generasi muda yang dibesarkan kemajuan zaman lewat sosial media Facebook dan Twitter. Orang-orang ini kerap berpikir bahwa membagikan potret yang memperlihatkan aktivitas olahraga, jadi salah satu rangkaian kehidupan masa kini.

Kita boleh merasa bangga atas jumlah like yang diterima pada setiap postingan. Tapi jika semua itu tak berarti  untuk kehidupan nyata, untuk apa? Toh tanda suka yang orang lain kirimkan, bisa juga jadi salah satu bentuk tak suka yang mereka resahkan.

Di kolom komentar dirinya bisa saja memuji pencapaian yang kamu bagikan. Akan tetapi jauh didalam hatinya, hal-hal seperti ini dianggap sebagai salah satu bentuk kesombongan.

Biar Bagaimana pun Membakar Kalori Hanya Dilakukan dengan Gerakan Bukan dengan Posting Foto di Media Sosial

Seorang psikolog olahraga dari Amerika Serikat bernama Jerry Lynch, Ph.D., mengatakan bahwa sifat adiktif seseorang terhadap smartphone membuat pelari menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial ketimbang aktivitas berlarinya.

Ungkapan ini sekaligus jadi gambaran akan sikap-sikap yang kerap kita tunjukkan. Tak perlu olahraga dengan durasi waktu yang lama, jika sudah berhasil mengirimkan status atau foto di timeline media sosial rasanya sudah cukup, mungkin begitu pikir kita.

Karena Olahraga yang Baik Tentu Membutuhkan Fokus, Pikiranmu Tak Boleh Terbagi

Menurut Dr Michael Rebold, asisten profesor ilmu latihan integratif di Hiram University, “Menggunakan handphone berarti perhatian Anda terbagi. Hal ini dapat mengganggu kestabilan bentuk postur tubuh Anda, serta memungkinkan Anda jatuh atau mengalami cedera muskuloskeletal”.

Karena biar bagaimana pun, membagi fokus pikiran dengan smartphone saat tengah berolahraga, sebenarnya membuang-buang waktu saja. Agaknya kita memang harus memfokuskan pikiran pada aktivitas olahraga. Bukan malah sibuk berpikir akan bagaimana caranya mengambil angle foto yang pas untuk di-posting di Instagram.

Dan Posting Status Sesaat Sebelum Berolahraga Jadi Bukti Kamu Tak Sedang Sungguh-sungguh Berolahraga

Tak pelak lagi, jika sudah begini sebagian besar waktumu pun akan terpotong begitu saja hanya karena menunggu respon dari mereka atas apa yang sedang kamu lakukan.  Sebagai contoh kamu mungkin bisa berlari sepanjang 15 menit setiap pagi. Namun oleh karena keinginanmu untuk dilihat dan dipuji oleh teman-temanmu di media sosial, waktu yang seharusnya bisa pakai untuk berolahraga justru terpotong begitu saja. Ini jelas mengurangi kesungguhanmu berolahraga.

Sesuatu yang harus kita pahami, jika memang ternayata hanya untuk pamer saja, sebaiknya tak perlu olahraga. Kecuali kamu memang menjadikan hal tersebut sebagai kebutuhan. Entah itu instruktur senam atau olahragawan yang kerap memberikan tips seputar olahraga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Apakah Kamu Juga Tambah Usia Makin Malas Update di Sosial Media?

Kehidupan kita di sosial media, memang terasa begitu nyata. Bagaimana tidak? Bersamanya kita tumbuh jadi manusia yang kini sudah (lebih) berbeda. Dari yang dulu suka ‘ngalay’ sampai yang sekarang hanya jadi pembaca saja.

Dulu, curhat panjang lebar di timeline facebook terasa jadi jalan keluar setiap kali kita butuh saran. Dan benar saja, beberapa kawan kerap berbaik hati untuk memberikan dukungan atau jawaban. Selain itu, sosial media punya semua hal yang kita butuhkan. Video-video lucu di instagram bisa jadi obat pelepas lelah, bertemu teman baru yang memberikan ilmunya. Hingga pacar pertama yang juga ditemukan lewat sosial media. Tapi kini, hal seperti ini terasa jadi sesuatu yang janggal kan?

Hidup terus berjalan, sosial media masih tetap jadi kawan. Bedanya kini kita tak lagi mau update sembarangan. Tapi kamu tahu tidak? Apa yang merubah kita jadi begitu?

Pandanganmu Berubah, Tahu Mana yang Layak Dibagikan dengan yang Harus Disimpan

Mari berbalik sebentar tentang aktivitas kita sebelum sedewasa sekarang. Berapa banyak cerita cinta-cintaan yang kita bagikan, hingga kekesalan lain yang sebenarnya tak berarti apa-apa meski sudah dijadikan status di sosia media. Kini, hal tersebut mungkin terasa menggelikan. Tapi tak apa, itu adalah bagian dari proses atas perubahan.

Sadar atau tidak, ada paradigma baru yang lahir pada dirimu. Kamu lebih paham, mana yang layak yang dibagikan dengan sesuatu yang memang seharusnya disimpan. Untuk itulah, sekarang hal-hal yang kamu bagikan sifatnya lebih umum, dan semua orang bisa menikmatinya tanpa merasa terganggu atas aktivitas sosial mediamu.

Bukan Keluh Kesah, Membagikan yang Mengundang Tawa Kini Lebih Terasa Indah

Harus diakui memang, dari semua keresahan yang sedang dirasakan, sosial media bisa jadi jalan keluar untuk menenangkan pikiran. Bisa jadi orang yang berbeda dari kehidupan nyata, meski sedang gundah gulana. Kita bisa saja jadi orang paling berbahagia di sosia media. Dan salah satunya dengan membagikan hal-hal lucu yang bisa mengundang tawa.

Aktivitas update status mungkin dikurangi, diganti dengan berbagi hal-hal lucu yang bisa menyenangkan hati. Tak hanya membuat kita lupa pada kesusahan yang sedang dialami, kegiatan macam ini bisa jadi obat penenang diri.

Lagipula, Kalau Dipikir-pikir Toh Tak Ada Orang yang Akan Peduli dengan Masalahmu

Pada masa lampau, kamu mungkin senang mendapat banyak komentar atas curhat yang kamu bagikan. Padahal faktanya mereka bisa jadi hanya sedang ingin tahu saja, bukan ingin membantumu mencari solusinya. Bahkan bisa jadi, mereka malah menjadikanmu sebagai bahan tertawaan karena terlihat kurang kerjaan.

Seiring dengan bertambahnya usia, kita pun sadar bahwa hanya segelintir orang yang bisa benar-benar peduli atas apa yang kita bagikan. Karena kini, mereka punya hidup yan juga perlu dipikirkan.

Tak Lagi Punya Waktu Luang, Jangankan untuk Buka Instagram Pulang Kerja Saja Sudah Larut Malam

Sudah punya kesibukan menyelesaikan skripsi atau bekerja, hampir seluruh waktu yang kita punya, dipakai untuk melakukan hal lain yang jadi tanggung jawab harian. Mulai dari harus bertemu dosen untuk bimbingan, menyelesaikan pekerjaan agar tak selalu pulang larut malam, hingga pada kegiatan lain yang selalu kamu lakukan di akhir pekan. Bahkan jika harus membagikan cerita kehidupan, sepertinya tak ada hal yang menarik untuk dibagikan. Untuk itu, kamu lebih menikmati semuanya secara nyata. Bukan untuk dibagikan pada kawan-kawan dunia maya.

Bahkan Kalaupun Ada Waktu Luang Kosong di Akhir Pekan, Tidur Siang Lebih Terasa Menyenangkan

Hayo, kamu pasti setuju kan? Kalau memanfaatkan waktu untuk tidur siang, jauh lebih menyenangkan dibanding stalking instagram sampai berjam-jam. Kamu semakin sadar jika ada hal-hal yang memang sebaiknya dikurangi, dengan sesuatu yang lebih berarti. Dan mengistirahatkan diri dengan tidur siang jadi sesuatu yang lebih penting.

Secara tidak langsung, kamu pun kian sadar jika menikmati setiap momen dalam hidup secara langsung. Lebih terasa menyenangkan daripada membagi fokus pikiran untuk membagikannya kepada orang-orang, wlaau hanya lewat fiturs stories di instagram.

Karena Pada Akhirnya Kamu Sadar, Kehidupan Nyata Jauh Lebih Dibutuhkan

Setiap kali ada masalah, sahabat dekat yang menjadi kawan di kehidupan nyata datang jadi penolong yang setia. Sedangkan mereka yang kau kenal di sosial media, barangkali hanya akan mengirimkan emoji ‘sedih’ yang tak berdampak apa-apa. Ya, semakin dewasa kamu makin sadar, bahwa 2 orang kawan yang berada di kehidupan yang nyata ternyata lebih berarti dari ribuan manusia yang menjadi temanmu di facebook.

Dan di Usia Sekarang, Media Sosial Bukan Lagi Jadi Sesuatu yang Harus Diprioritaskan

Lebih penting dari segala aktivitas di sosial media, ada ratusan hal penting lain yang perlu untuk dikerjakan dalam kehidupan. Mendalami hobi yang sempat tertunda, belajar hal-hal baru demi pekerjaan yang kita punya, dan kegiatan lain yang bisa menyokong kehidupan agar lebih baik ke depannya.

Kamu telah tumbuh menjadi manusia baru yang berbeda, yang sadar bahwa apapun yang terjadi di sosial media tak pernah bisa menggantikan kehidupan nyata yang kau punya. Kini, kamu kian sibuk membangun koneksi untuk hal baik demi kehidupan, sedangkan aktivitas media sosial dilakukan kalau sedang ingin saja. Tak lagi jadi sosok yang aktif untuk posting status, kini kamu hanya jadi pembaca status orang-orang yang lalu lalang di timeline.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Patung ‘Kelinci’ Jeff Koons Dilelang Rp 990 Miliar

Buah tangan dari Jeff Koons memang selalu berhasil menarik perhatian publik. Dan salah satunya, patung dari tahun 1986 yang baru-baru ini menarik perhatian adalah patung ‘kelinci’. Dan menariknya, patung tersebut akan dijadikan bahan lelang di Balai Lelang Christie’s New York dengan angka fantastis. Yakni sekitar Rp 707 miliar hingga Rp 990 miliar.

Diperkirakan, Karya Jeff Koons ini akan berpotens memecahkan rekor karya Koons sebelumnya di tahun 2013 dengan angka Rp 826 miliar. Angka tersebut untuk patung ‘Balloon Dog (Orange)’.

Alex Rotter mewakili Christie’s New York menagatakan jika, patung kelinci tersebut bakal mengguncang dunia seni.

“Bagi saya ‘kelinci’ adalah anti-Daud yang menandakan kematian patung tradisional. Serta menganggu media dengan cara yang sama dengan karya ‘Number 31’ ciptaan seniman Jackson Pollock dan kembali memikirkan apa itu gagasan melukis,” katanya.

Sebelumnya, patung tersebut dipamerkan untuk yang pertama kali pada tahun 1986. Selama tiga dekade belakangan, patungnya itu menjadi ikon seni kontemporer. Unutk jadwal pelelangannya sendiri, dijadwalkan pada 15 Mei di New York.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Respon Garin Nugroho Terhadap Petisi Tolak Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’

Sudah tayang sejak 18 April 2019 lalu, film “Kucumbu Tubuh Indahku” merupakan karya terbaru dari Garin Nugroho yang sebelum tayang secara reguler di Tanah Air. Film tersebut sudah dibawa melanggang buana ke beberapa festival film Internasional dan meraih banyak penghargaan.

Namun, rupanya “Kucumbu Tubuh Indahku” tak begitu bisa diterima di Indonesia. Terbukti dari munculnya petisi untuk menolak penayangan film tersebut di laman change.org. Rakhmi Mashita, sang pembuat petisi, menolak film “Kucumbu Tubuh Indahku” karena dianggap menyebarluaskan paham LGBT.

Sebuah film selain dibuat untuk menceritakan true story, seharusnya sebuah film bisa membawa efek positif bagi penontonnya, seperti menjadi inspirasi positif,kreatif,dan menambah wawasan yg bernilai positif jgJika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yg mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini.”  tulis Rakhmi di website change.org. Hingga ini dituliskan dari target 5 ribu orang, sudah 3 ribu lebih orang yang ikut menandatangi petisi tersebut.

Menanggapi hadirnya petisi tersebut, Garin Nugroho buka suara. Ia memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Petisi untuk tidak menonton film “Kucumbu Tubuh Indahku” lewat ajakan medsos, tanpa proses dan ruang dialog, bahkan tanpa menonton telah diviralkan di media sosial. Penghakiman massal lewat media sosial berkali terjadi pada karya seni dan pikiran atas keadilan. Gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme massal.

Bagi saya, anarkisme masa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja serta cipta yang penemuan warga bangsa, serta mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi.

Lewat keprihatinan ini, saya ingin menyatakan keprihatinan terbesar atas gejala menjamurnya penghakiman massal tanpa proses dialog dan penegakan hukum berkeadilan. Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apapun, baik senjata hingga anarkisme massal tanpa proses berkeadilan.” tutupnya.

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” sendiri menceritakan kisah penari Lengger bernama Juno. Film produksi Fourcolours Films ini diperankan oleh Muhammad Khan, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Randy Pangalila, dan sederet artis peran pendukung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top