Feature

Fisikmu Tak Selingkuh, Tapi Batinmu Sudah Milik yang Lain Ketika…

Siapa bilang selingkuh itu hanya terjadi lewat kontak fisik dan intens berkomunikasi? Mungkin selama ini kamu mengira, berselingkuh itu terjadi apabila semua chat-nya ketahuan oleh pasangan atau dia terpergok sedang berduaan dengan yang lain. Padahal tidak selamanya demikian. Pernah mendengar yang namanya “selingkuh batin”? Sebentar, biar aku jelaskan.

Selingkuh batin itu terjadi ketika kamu sudah merasa jatuh cinta dan memikirkan orang lain selain pasanganmu. Urusan pernah atau tak pernah berlaku demikian, itu sepenuhnya urusanmu. Hanya saja, kalau ada seseorang yang mengamini pernah berlaku demikian, berarti dia sudah sah berselingkuh batin dari pasangannya.

Seakan Merasa Tak Bersalah, Kamu Justru Bisa dengan Mudah Melakukan ‘Perselingkuhan’ Semacam Ini Di Mana Saja dan Kapan Saja

Mengapa tak merasa bersalah? Karena kalau ditanya, akan ada sejuta alibi untuk membenarkan perbuatannya itu. Kecuali kamu dan Tuhan, tak akan ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Selingkuh batin nyatanya memang tak terlihat secara kasat mata, itulah yang membuat pelakunya bebas mengimajinasikan ‘selingkuhannya’. Karena begitu bebasnya, kebiasaan berselingkuh batin pun jadi kebiasaan yang terus berulang setiap harinya, di mana saja, kapan saja, bahkan sekalipun kamu sedang berada di dekat pasanganmu.

Sudah Terbiasa Selingkuh Batin, Kamu Pun Jadi Enggan Berbagi Isi Hati

Semula mungkin kamu termasuk orang yang suka berbagi cerita dan keluh kesah pada yang lain. Setidaknya kalau bukan dengan pasangan, ya dengan teman dekatmu. Tapi semenjak suka memikirkan dia yang seharusnya tidak kamu pikiran, kamu pun jadi lebih tertutup dengan sekitarmu. Sekalipun dengan teman dekatmu. Kamu jadi lebih suka menyimpan setiap hal yang seorang diri dan mudah kesal jika ada yang menyinggung tentang perubahan karaktermu ini. Yakin, kamu masih mau seperti ini terus? Kalau tak segera dihentikan, bukan tak mungkin perselingkuhanmu bakal kian jauh.

Enggan Berhenti dan Merasa Sudah Terbiasa, Lambat Laun Kamu Menjadi Pribadi yang Bermuka Dua

Sudah terbiasa membagi rasa untuk dua orang yang berbeda, lambat laun kamu pun jadi semakin lihai memainkan sandiwara bermuka dua. Di depan pasanganmu, kamu all out demi terlihat bahagia dan menyenangkan hatinya, padahal pikiranmu sejatinya tersita memikirkan satu sosok lainnya. Jika kamu terjebak dalam situasi semacam ini, artinya kamu pun sedang membohongi diri sendiri. Kamu perlu menyadari, tidak jujur pada diri sendiri itu tak baik. Lambat laun kamu akan dibuat tak nyaman dengan keadaan semcam ini.

Tidak Ada Pasangan yang Rela Melihat Pasangannya Mendua, Dia Tentu Akan Tersakiti Kalau Tahu yang Sebenarnya

Di dunia ini, tak ada satu orang pun yang sanggup melihat pasangannya mendua. Sepintar apa pun kamu menyembunyikan ‘perselingkuhan batin’, suatu saat hal itu pasti akan diketahui pasanganmu. Benarkah kamu setega itu? Membuat hati pasanganmu terkejut sekaligus bersedih lantaran kamu ternyata sudah menduakan dia sejak lama? Kamu, sebagai pelaku, mungkin tak akan merasa kecewa. Tapi yang jelas, perasaan tersakiti yang begitu dalam pasti akan dirasakan oleh pasanganmu. Ingatlah, setiap tindakan pasti ada konsekuensinya.

Terbiasa Selingkuh Batin Membuatmu Kehilangan Makna Tentang Pentingnya Kejujuran

Terbiasa melakukan kebiasaan semacam ini, kamu jadi sukar menghargai kejujuran. Pemahamanmu soal kejujuran dan kebohongan jadi terombang ambing. Kamu teguh membenarkan perselingkuhan batin yang sudah kamu lakukan padahal jauh di dalam lubuk hatimu, kamu jelas tahu kalau hal itu tak benar.

Ingat, dengan berani melakukan hal semacam ini, jelas kamu sudah memantik api dalam hubunganmu. Pada akhirnya, kamu sudah tahu kalau selingkuh batin itu sama buruknya dengan selingkuh fisik. Sekarang, keputusan mutlak ada di tanganmu. Pesanku, jangan sampai karena perbuatanmu ini, ada hati yang tak seharusnya patah tapi akhirnya harus merasakan sakit walau tidak berdarah.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Belajarlah Dari Kecewa, Agar Kamu Percaya Ada Bahagia yang Nyata Dari Hasil Menata Luka

Kenapa kamu kecewa? Karena Tuhan menciptakan air mata sebagai salah satu pereda dari sedihnya dikecewakan.

Hidup bagaikan roda yang berputar, siang berganti malam, panas berganti hujan, dan kekecewaan yang berganti menjadi kebahagiaan. Susah dan senang selalu berdampingan mengiringi perjalanan kehidupan, jangan harap kamu akan selalu merasakan bahagia, tanpa pernah merasakan luka. Hidup terlalu monoton jika dihabiskan dengan bahagia.

Lalu, setelah yang ku sampaikan barusan kamu masih bertanya mengapa Tuhan memberikanmu kekecewaan? Sini, mendekatlah. Biar aku jelaskan sekali lagi, coba ceritakan hal apa saja sebenarnya yang membuatmu kecewa? Kamu terluka karena cinta? Harapanmu tentang cita-cita kandas? Keluarga yang tak utuh, pendidikan yang tak bisa diraih, dan karier yang hanya jalan ditempat tanpa kemajuan, semua itu yang membuatmu kecewa? Tolong, coba berpikir dan mencoba bersyukur sekali saja.

Jangan selalu memikirkan hal-hal yang tak dapat kamu capai, karena semua itu diluar kendalimu. Ada takdir yang lebih berkuasa dari kekuatan otak, otot dan mental. Cobalah untuk lebih fokus dengan apa yang sedang kamu genggam, kamu miliki. Merasa cukup bukan berarti harus berhenti berjuang, hanya saja itu bisa dijadikan obat kekecewaan.

Pernah kah kamu membaca kisah-kisah orang yang sukses diluar sana? Apakah kesuksesan mereka raih dengan cara instan? Apakah dengan sekali berjuang mereka langsung ber-uang? Dan apakah mereka tidak pernah merasakan kecewa dalam hidupnya. Tentu saja mereka pernah jatuh, sebelum bangkit dan menikmati hasil dari perjuangannya.

Jatuh, bangkit. Gagal, bangkit. Kecewa, menata luka. Tidak ada kata menyerah dalam kamus orang-orang sukses. Seperti halnya mereka, mengapa tak kamu coba untuk mengambil sisi positif dari kecewa? Menjadi lebih dewasa misalnya. Setelah luka yang kamu dapat, dari situ kamu belajar lebih dalam tentang kehidupan. Belajar menerima bahwa ada beberapa hal yang memang diluar kendali makhluk bernyawa.

Semuanya hanya tentang proses, orang-orang sukses diluar sana mengalami jatuh bangun atas usahanya, lalu apa yang mereka lakukan setelah itu? Apakah mereka terpuruk sepertimu? Apakah mereka menyalahkan dunia atas takdir-Nya? Dan apakah mereka sepertimu yang hanya bisa menyalahkan tuhan lalu mengutuk keadaan. Mengaku menjadi orang yang paling terpuruk, sakit hati terhadap dunia.

Kini, masih mau kah kamu menyalahkan Tuhan atas kekecewaan yang kamu rasakan? Apa yang akan kamu dapatkan dari semua itu? Kebahagiaan? Tidak, semua itu hanya akan memperburuk keadaan. Tuhan diam saja bukan berarti dia ingin melihatmu terpuruk, sekarang apa yang akan tuhan ubah sedangkan dirimu sendiripun tak mau berubah. Jika kau bangkit dan mampu mengobati kecewamu dengan hal positif maka tuhan juga akan menggantikan tangisan dengan senyuman.

Kamu hanya perlu yakin atas takdirNya, nikmatilah prosesmu sendiri meskipun panjang. Jangan banyak mengeluh, lebih baik kamu keluarkan lebih banyak peluh agar kebahagiaanmu terbayar utuh. Tuhan memberimu kecewa bukan berarti dia ingin melihatmu terluka, justru dia ingin membuatmu bangkit dan menatanya. Hey, kamu yang sedang dilanda kecewa, aku yakin kamu kuat, bangkitlah segera, ya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jarang Disadari, Memendam Emosi Bisa Berbahaya Pada Diri

Disamping kita yang suka meluapkan marah-marah, ternyata di sisi lain ada orang yang justru memilih untuk memendam semua amarahnya diam-diam. Terlihat manis di luar memang, sebab kamu tak akan pernah mendapatinya dengan emosi yang meluap-luap. Seolah-olah hidupnya damai tanpa ada masalah, padahal bisa jadi ada pergumulan berat yang sedang ia alami.

Bahkan nih, Menurut psychmechanics, memendam emosi adalah cara seseorang untuk tidak mengakui emosinya atau tidak mengekpresikan emosi dengan cara yang sehat. Padahal pada dasarnya, emosi tidak bisa ditekan dan tetap harus dikeluarkan dengan cara apapun, salah satunya adalah meditasi. Sebab, emosi yang dipendam justru akan menimbulkan banyak masalah.

Perubahan Mood dalam Durasi Waktu yang Cepat

Yap, kamu yang sering memendam emosi pasti paham apa yang kami maksudkan. Perubahan mood atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘mood swing’ akan jadi sesuatu yang kerap kamu rasakan jika terbiasa memendam kemarahan. Suasana hatimu tak bisa dikontrol, selepas tertawa dan bahagia, kamu bisa saja mendadak merasa sedih dan menangis secara tiba-tiba. Dan jika kondisi terus kamu alami, secara tiba-tiba kamu bisa saja marah walau tanpa alasan yang jelas.

Gangguan Tidur yang Kian Merusak Kesehatan dan Menambah Beban Pikiran

Kamu pasti paham kan, bagaimana susahnya untuk tidur  ketika diri sedang punya masalah. Nah, serupa dengan itu, orang-orang yang selalu memendam emosi hampir setiap hari akan merasakan hal yang sama. Gelisah dan tak bisa berbuat apa-apa, hingga akhirnya terjangkit insomnia yang kemudian menganggu kesehatan kita.

Padahal kebutuhan tidur untuk tubuh orang dewasa setidaknya terpenuhi sebanyak 8 jam sehari. Akan tetapi, insomnia akan memangkas durasi tidurmu yang kemudian berpengaruh pada kondisi fisik dan psikismu.

Beresiko Pula untuk Mendatangkan Penyakit dan Kematian

Asal kamu tahu saja, seseorang yang terbiasa memendam emosinya akan membawa pikiran negatif dalam tubuh yang dapat mengganggu keseimbangan hormon. Padahal hal ini meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan kerusakan sel, seperti kanker.

Itulah sebabnya, risiko kesehatan akan kian meningkat ketika seseorang tidak mempunyai cara mengekspresikan perasaannya. Dalam kasus apapun, para peneliti memperingatkan bahwa emosi yang tertahan dalam tubuh dan pikiran dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang serius dan bahkan kematian dini.

Untuk itu para ahli selalu menyarankan untuk dapat mengutarakan emosi yang dirasakan, terutama emosi yang menyedihkan, demi kesehatan mental tetap terjaga.  

Bahkan Berpengaruh pada Kesehatan Mental Karena Bisa Menimbulkan Stress Ringan

Dipandangan kita, hal ini mungkin terlihat sepele, ‘Ah cuma nggak mau marah doang’. Padahal kenyataannnya, memendam emosi dengan menekannya agar tak dikeluarkan akan menjadi emosi negatif yang kemudian merubah perubahan suasana hati, hingga membuat kita depresi.

Bahkan pada beberapa kasus serupa, seseorang yang sudah sering memendam emosi akan mulai terbiasa dan menyebabkan mati rasa. Keadaan ini akan berdampak buruk pada masa depan kita tentunya. Tumpukan emosi yang sekian lama dipendam suatu saaat menjadi bos waktu yang bisa membuat kita depresi.

Lalu Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tak ada obat yang bisa menyembuhkan kita dari situasi ini, satu-satunya jalan untuk bisa terlepas dari semua kemungkinan buruk ini adalah dengan memberanikan diri untuk meluapkan emosi. Cobalah berdamai pada diri sendiri, jika memang marah, ya marah lah. Jika memang sedang kecewa atau bersedih, menangislah.

Jujurlah pada apa yang kamu rasakan, tanp perlu menyembunyikannya dihadapan orang-orang. Dengan begitu, kamu bisa mengekspresikan perasaanmu dengan baik. Tak ada lagi yang dipendam, tak ada lagi emosi negatif yang menganggu pikiran dan kesehatan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Setiap Kali Emosi, Cobalah Lakoni Hal Ini

Walau tak semua orang sentimen, tapi pada beberapa hal pastilah kamu pernah emosi. Kenyataan yang tak sesuai keinginan, teman yang menyebalkan, jalanan macet tak karuan, atau apa saja yang bisa memancing amarah untuk diluapkan. Setidaknya ini mungkin bisa membuat lega, tapi dilain sisi, yang namanya emosi pastilah tak baik kan?

Ada hal-hal buruk yang bisa saja terjadi setelahnya, mulai dari membuat orang lain terluka atau justru melukai diri kita. Bertumbuh jadi manusia dewasa memang banyak tantangannya, dan mengelola emosi jadi salah satunya. Maka untuk tak buru-buru marah, coba lakoni hal-hal ini saja.

Setiap Kali Emosimu Terpancing, Berusahalah untuk Menenangkan Diri Terlebih Dahulu

Kamu akan kalah jika ternyata sikap marah-marah bisa menang atas dirimu. Bendung hasrat untuk marah-marah, cari celah untuk bisa membuat dirimu tenang. Dan salah satu cara paling mudah yang bisa kamu lakukan adalah dengan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.

Menahan diri ketika emosi memang tak semudah yang kita bayangkan, karena ada saja  hal lain yang bisa mendorong kita untuk lebih marah. Tapi jika ingin hidup yang lebih damai, belajarlah untuk mengontrol diri dimulai dari tak terpancing emosi.

Jika Sudah Lebih Tenang, Coba Cari Tahu Apa yang Membuatmu Marah Sampai Begitu

Ini perlu, karena kadang kala ada saja penyebab yang tak begitu terlihat mengapa akhirnya kita emosi. Gambarannya begini, kamu kesal pada pacar karena sudah seminggu tak ada kabar. Kemudian karena merasa sedang emosi, candaan seorang teman yang sebenarnya biasa kamu anggap sebagai sesuatu yang berlebihan. Ya, kamu menjadikanya sebagai sasaran pelampiasan kemarahan. Dan jelas itu salah.

Nah, demi menghindari hal-hal yang tak kau ingini. Kamu perlu mencari tahu, apa alasan yang membuatmu marah-marah. Karena degan begitu, setidaknya kita jadi bisa mengontrol diri. Tak melampiaskan kemarahan pada sembarangan orang.

Lempar Semua Pikiran Buruk dan Bayangkan Resiko dari Emosimu

Memang, saat sedang dilanda oleh masalah yang pelik, otak kita cenderung lebih fokus memikirkan jalan keluar terbaiknya. Padahal nih tanpa disadari, terkadang bukan masalah yang mendorong munculnya reaksi negatif. Melainkan pikiran dan asumsi buruk yang justru kita ciptakan sendiri.

Maka salah satu jalan keluarg terbaik untuk mengendalikan emosi, bisa kita mulai dengan berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang terus menghantui pikiran. Terdengar klise memang, tapi menghindari diri agar tak terlalu larut dalam masalah jadi jalan untuk meringankan beban.

Selain itu, penting juga untuk memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika kita mengikuti emosi. Dicap buruk oleh teman, dianggap tak dewasa oleh rekan kantor, atau hal-hal lain yang nantinya merugikan diri sendiri.

Selanjutnya Cobalah untuk Berlapang Dada, Menerima Semua Sebagai Perkara yang Biasa

Kamu mungkin emosi karena macetnya kendaraan di jalan, pekerjaan yang terus datang, pacar yang akhir-akhir ini kurang perhatian, sampai menu makan siang yang tak sesuai pesanan. Iya, kami tahu ini meyebalkan, tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Hal tersebut tak hanya terjadi atas dirimu saja.

Diluar sana, ada banyak orang yang kemacetan lebih parah, masih sibuk mencari pekerjaan, depresi karena tak punya pacar, sampai tak bisa merasakan apa itu namanya makan siang. Lagipula hal-hal seperti itu adalah perkara biasa, karena hidup memang tak melulu tentang bahagia. Ada beberapa kekesalan yang akan kita hadapi, untuk itu belajarlah menerimanya jadi sesuatu yang memang sudah seharusnya terjadi. Setidaknya ini akan membantumu menahan emosi.

Kalau Memang Masih Kurang Membantu, Alihkan Pikiranmu Pada Hal-hal Menyenangkan

Dari banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menahan emosi, mengalihkan pikiran pada energi positif jadi yang terbaik. Dan salah satu kegiatan yang bisa kita lakukan adalah, membentengi emosi dengan hobi. Dengan begitu kita bisa lupa, tentang emosi yang tadi memenuhi jiwa. Abaikan semuanya, ganti dengan kegiatan yang kamu suka. Tak melulu dengan hobi, menonton video-video lucu di internet pun bisa berhasil mengalahkan emosimu.

Demi Energi Positif Baru, Kamu Bisa Bercerita dengan Siapa Saja yang Kau Percaya

Walau tak selalu memberi jalan keluar untuk masalah yang kita miliki. Berbagi cerita dengan teman selalu jadi sumber kekuatan. Ketika semua keluh dan kesah kita bagikan pada dirinya, seolah-olah ada beban lain yang sudah hilang dari pundak kita.

Maka kalau akhir-akhir ini kamu sering emosi, cobalah minta waktu dari teman atau keluarga yang menurutmu bisa kamu percaya dan mau mendengarmu bercerita. Ingat, jangan marah-marah dan emosi lagi ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top