Trending

Film The Gift : Romansa Cinta dari Novelis Perempuan dengan Pemuda Tunanetra

Mendatangi Yogyakarta memang adalah candu bagi semua jiwa, barangkali itulah yang sedang dirasakan oleh Tiana yang diperankan oleh Ayushita, seorang perempuan yang menyebut dirinya novelis gagal. Inspirasi untuk menyelesaikan tulisan, jadi tujuannya bertandang kesana. Dan memilih indekos di salah satu ruang pavilun milik Harun (Reza Rahardian), seorang pemuda anak kolong yang terlihat frustasi akan hidupnya. Karena menjadi tunanetra usai kecelakaan yang konon disengaja olehnya.

Walaupun terlalu ditarik ulur diawal cerita, kalian mungkin sudah paham bagaimana alur selanjutnya. Ya, mereka berdua saling jatuh cinta. Tiana merasa ada sisi yang memang serupa dalam dirinya, juga hadir dalam diri Harun. Mereka berdua lahir dan tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. Ayah dari Tiana, adalah lelaki yang temperamen, dan kerap berbuat kasar pada sang ibu yang berakhir dengan gantung diri. Sedangkan Harun  adalah anak dari seorang Militer yang dididik keras. Ia bercerita bahwa hubungan ayah dan almarhum ibunya pun tak baik, dan itulah mengapa ia tak suka pada sang ayah.

Saya memang tak banyak menonton karya-karya, dari Mas Hanung Bramantyo tapi kalau boleh jujur dari beberapa film beliau yang saya tonton, The Gift bisa jadi film terbaik yang ia buat. Digarap bersama Seven Sunday Films, pengampilan gambar, dialog, alurnya mengalir ringan, tapi sampai saya menulis ini masih saja tergiang-giang.

Dan dari penuturan Harun yang berkata bahwa dulunya ia adalah sosok pemuda yang nakal, suka kebut-kebutan, mencuri, dan main perempuan. Tak tahu apa yang merasuki isi kepala saya, saya pikir ia akan mengekspresikan rasanya dengan kata-kata, sebab ia tak bisa melihat Tiana untuk sekedar tersenyum atau mengedipkan mata. Tapi saya salah, tak banyak kata-kata yang berarti cinta, Hati yang sudah jatuh itu bisa akan menjelaskan dengan sendirinya. Dan itulah yang saya lihat dilakukan oleh Harun.

Setelah Harun mulai membuka diri pada Tiana, romansa selanjutnya jadi babak yang paling menyanyat jiwa. Sang penulis cerita Ifan Ismail, memang nampaknya ingin membawa semua penonton pada posisi Tiana dalam cerita. Kehadiran Dion Wiyoko sebagai Arie, Dokter muda yang sukses, dan juga teman kecil Tiana yang kini kembali datang untuk memenuhi janjinya. Yap, tepat di hari ulang tahun Tiana yang ke 30 tahun, Arie datang untuk memberi sebuah hadiah.

Arie meminta Tiana untuk menerima sebuah kotak katanya adalah hadiah, memberi kabar akan keberadaan Ayah Tiana yang ternyata kini berada pada salah satu panti Jompo, dan diurus oleh ibu asuh yang dulu juga mengasuh Tiana, selepas ibunya meninggal. Selepas itu, Arie mengantarkan Tiana pulang ke tempat tinggalnya, dan melamar sang perempuan tepat didepan pintu, dibawah cucuran hujan yang ternyata didengar dengan jelas oleh Harun. Bisa dibayangkan rasanya jadi Harun? hatinya pasti Hancur juga!

Mengambil latar kota Yogayakarta dan Italia, selama 118 menit saya berhasil terpukau dengan latar gambar dan romansa yang ada. Bahkan sejak tayang dari 24 Mei lalu, respon masyarakat yang beredar di beberapa Flatform media sosial juga hampir serupa dengan apa yang saya rasa.

Akhir dari ceritanya memang sungguh jauh dari apa yang saya tadinya bayangkan. Tapi saya tak kuat untuk menceritakan, sebab ini jadi sebuah keputusan berat yang mungkin harus dilakukan oleh seseorang. Dan akan lebih seru jika kamu menontonnya sendiri.

Tapi selain alur dan romansa yang berbeda, memilih pemeran untuk memerankan sebuah cerita yang ternyata tidak diadaptasi dari buku atau novel, jadi kemampuan berakting yang patut diapresiasi untuk seluruh pemain yang terlibat. Terlebih Dion Wiyoko yang sepanjang film berhasil membuat para perempuan dideretan belakang tempat saya duduk mengerang dan berkata “Sini mas, sama adek saja”. 

Ini bukan sekedar film, tapi tentang rasa, intuisi dan kenyataan!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top