Trending

Film Ave Maryam : Cinta Dua Manusia di Bawah Kaki Tuhan

“Film bercerita kisah cinta jelas sudah biasa, tapi bagaimana jika cinta itu hadir diantara Biarawati dan Pastor dari agama Katolik yang sebenarnya tak diperbolehkan?”

Jika harus dipilah dari judul filmnya, ‘Ave Maria’ adalah lagu katolik yang berisikan pujian untuk Maria, sedangkan “Maryam” adalah nama seorang tokoh perempuan yang dimuliakan dalam Al-quran. Walau kedua nama tersebut menggambarkan tokoh yang serupa, namun dari penyebutannya kita bisa membedakan dalam agama mana tokoh yang dimaksudkan. Untuk itu, judul ini jadi sesuatu yang cukup berani.

Berkisah di Semarang tahun 1998,  Maryam yang diperankan oleh Maudy Koesnady adalah perempuan yang memilih untuk menjadi biawati di sebuah kesusteran. Disana ia membantu segala kegiatan gereja dan merawat pada biarawati lanjut usia. Hidupnya cukup terlihat damai dengan rentetan rutinitas berulang yang setiap hari serupa. Sampai akhirnya, Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang, yang selanjutnya jadi ujian batin bagi jiwanya. 

Kepadamu yang kebetulan beragama kristen atau katolik, kamu tentu sudah paham. Nama dua pemeran utama yang tadi sudah disebutkan adalah tunangan yang kemudian akan menjadi ayah dan ibu, Jesus dalam kitab perjanjian baru. Tapi balik lagi, ini adalah film bukan cerita alkitab yang kau biasa dengar di masa kanak-kanak.

Yap, sang sutradara, Ertanto Robby Soediskam, memberi kita sajian cerita yang berbeda. Kisah cinta Yosef dan Maria, memang dihadirkan dalam cerita suster Maryam dan Romo Yosef. Tapi bukan untuk kebahagian atas mendapat anak yang dianugerahkan, melainkan sebagai ujian ketaatan dalam pilihan hidup yang sebelumnya sudah mereka ambil.  

Memilih kota Semarang sebagai latar cerita, jelas bukanlah pilihan yang salah. Aura magis nan klasik dari Kota Lama di Semarang dalam balutan sinematografi yang dilahirkan pemenang Piala Citra, Ical Tanjung, membawa kita pada pemandangan Gereja Blenduk, Gereja Gedangan sampai Lawang Sewu dalam potret-potret ciamik yang manis. Bahkan harus saya akui, memasuki bulan ke-4 tahun 2019 ini. Film Ave Maryam adalah salah satu film terepic yang sudah saya tonton.

Tak banyak dialog, sekitar 10 menit awal saya hampir tertidur karena meski masih berusaha untuk tetap fokus dan mengikuti alur ceritanya. Hingga akhirnya Romo Yosef mengeluarkan kalimat pamungkas yang menjadi awal mula pergolakan batin bagi Maryam.

“Saya ingin mengajak kamu mencari hujan di tengah kemarau”,

Katanya pada Maryam di satu malam yang sudah hampir larut. Meski awalnya ajakan tersebut ditolak, Maryam tak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa satu sisi relung hati yang selama ini tak terisi, terasa genap sejak kehadiran Romo Yosef di kesusteran.

Jatuh dalam kesalahan dan melanggar janji kaulnya (janji tidak menikah), kasih yang ada diantara Romo Yosef dan Maryam adalah sebuah hubungan terlarang dalam ajaran agama Katolik. Tetapi tak hanya persoalan pelanggaran janjinya saya, cerita ini juga menunjukkan kepada kita bagaimana jalan hidup seorang biarawati untuk mengabdi dengan meninggalkan semua hal duniawi.

Lalu, sebagai penonton yang bukan datang dari latar belakang ajaran Katolik. Saya cukup kaget, karena pada akhirnya, film ini bukanlah tontonan kegaaman yang dikemas dalam ajaran agama Katolik. Sebab, Robby sang sutradara justru mengajak kita membuka mata dengan tak menjadi hakim atas Maryam dan Yosef, untuk menempatkan salah dan benarnya perbuatan mereka.

Dibuktikan dengan peran suster Monic yang diperankan oleh Tutie Kirana, dengan kalimat yang dilontarkannya. Setelah ia tahu apa yang sedang menjadi pergolakan batin dalam diri Maryam, yang juga bisa kita implementasikan pada kehidupan sekarang.

“Jika surga saja belum pasti untukku, buat apa nerakamu menjadi urusanku,” katanya, sembari memeluk Maryam yang menangis tersendu-sendu.

Secara keseluruhan, setidaknya Ave Maryam sukses memberikan suguhan warna baru bagi dunia film Indonesia. Selanjutnya, Robby memberikan setiap orang keleluasaan untuk memahami dan menggambarkan pesan moral apa  yang bisa kita dapatkan dari kisah Maryam dan Romo Yosef yang berakhir pada pengakuan dosa di bilik pengakuan.

Bagi saya, film ini adakah kunci yang justru mampu membuka sekat dalam semua agama. Sehingga siapapun kamu, pantas untuk menontonnya. Dan pada kenyataannya, serupa dengan kita, Maryam adalah perempuan dan manusia biasa yang juga butuh bahagia. Hanya saja jalan hidup yang ia pilih memang berbeda. Lalu, salahkan jika ia dan Romo Yosef saling mencintai? Dengar, kita bukanlah Tuhan yang berhak untuk mengakimi!

Sudah tayang sejak 11 April 2019 lalu, segera temui mereka di Bioskop langgananmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Trailer Resmi Film Adaptasi dari 2 Novel Pramoedya Ananta Toer Resmi Dirilis

Sama-sama diproduksi oleh Falcon Pictures, dua trailer film Bumi Manusia dan Perburuan yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer, sudah resmi dirilis pada Kamis, (4/07/2019). 

Bumi Manusia, disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan Iqbal Ramadhan akan berperan sebagai Minke, Mawar De Jongh sebagai Annalies dan Sha Ine Febriyantisebagai Nyai Ontosoroh. Sementara Perburuan disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Richard Oh. Dibintangi Adipati Dolken sebagai Hardo, prajurit Indonesia yang diburu oleh tentara Jepang.

Ditemui di acara perilisan trailer film tersebut di kawasan Jakarta Selatan, Hanung Bramantyo mengaku merasa lega karena dari antusiasme penggemar Iqbal yang hadir terlihat sangat tinggi. Tatkala cuplikan trailer tersebut ditayangkan, terlebih ketika Minke mencium pipi Annalies. 

“Melihat teman-teman histeris saya sedikit lega,” akunya ditemui di Epicentrum XXI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Sinopsis ‘Perburuan’

Hardo (Adipati Dolken) kembali ke kampung halamannya di Blora, enam bulan sejak kegagalan PETA melawan Jepang (Nippon). Mengetahui hal itu, Nippon mulai melacak dan mengejar Hardo. Dalam pengejaran sehari semalam jelang proklamasi kemerdekaan, drama di kehidupan Hardo justru terkuak. Hardo dikhianati oleh ayah tunangannya dan sahabatnya, Karmin.  Film ini menggambarkan bagaimana kejamnya masa penjajahan dan upaya Hardo menjadi manusia merdeka.

Sinopsis ‘Bumi Manusia’

“Bumi Manusia” mengisahkan tentang Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies yang saling jatuh cinta. Namun kebahagiaan dan kebersamaan mereka terenggut oleh hukum kolonial dan pergolakan batin tentang nilai-nilai leluhur pribumi. Minke adalah seorang pemuda Jawa yang terpelajar, sementara Annelies adalah gadis blasteran Belanda dan Jawa. Status ibunda Annelies, Nyai Ontosoroh, yang merupakan selir seorang pria Belanda, dianggap sama rendahnya dengan hewan peliharaan.

Sehingga ayah Minke yang baru diangkat menjadi Bupati, tak setuju jika putranya bergaul dengan keluarga Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh adalah orang yang paling membela Minke, ketika Annelies terpaksa direnggut dari sisinya karena hukum kolonial.

Tak hanya trailer yang dirilis berbarengan, ternyata kedua film ini juga akan tayang di tanggal yang sama, yakni 15 Agustus 2019 mendatang.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Parasite : Komedi Brilian yang Pantang untuk Dilewatkan 

“Apa jadinya, jika satu keluarga miskin bersekongkol untuk bekerja sama menipu satu keluarga kaya?”

Kalau kamu berpikir yang miskin selalu kalah, yang miskin tak selalu lebih pintar dari yang kaya, di film ini kamu tak akan menemukannya!

Jika harus menarik arti dari judulnya, Parasite sering diartikan sebagai hewan atau tumbuhan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan atau tumbuhan yang ia tumpangi. Tapi tak hanya berlaku di pada hewan atau tumbuhan saja. Menusia di sekitar kita pun bisa saja melakukannya. 

Tak mau menonton trailernya terlebih dahulu, saya pikir capaian sang sutradara Bong Joon-ho melalui film ini yang meraih perhargaan tertinggi, Palme d’Or pada ajang Festival Film Internasional Cannes 2019, cukup jadi alasan kenapa saya merasa perlu melenggang ke bioskop meski seorang diri. 

Foto Bong Joon-ho, Sumber : TSM Entertainment

Masih pada adegan pembuka, kita akan disajikan sebuah potret kehidupan dari sebuah keluarga miskin yang harus tinggal di dalam apartemen bawah tanah yang kumuh dan dipenuhi serangga. 

Kim Ki-taek (Song Kang-ho) yang berperan sebagai ayah, dan sang istri Chung-sook (Chang Hyae-jin), serta anak-anaknya Ki-woo (Choi Woo-shik), dan Ki-jung (Park So-dam) hidup miskin dan menganggur. Bahkan mereka rela bekerja apa pun, demi bisa menghasilkan uang, seperti melipat kardus pizza yang dilakukan bersama-sama di rumahnya.  

Ditengah krisis ekonomi dan hidup yang terus kian susah, mendadak Ki-woo ditawari menjadi guru les Bahasa Inggris oleh seorang teman sekolahnya, untuk anak keluarga kaya raya Park. Sempat ragu atas latar belakangnya yang tak kuliah, mendadak ia punya ide dan langsung menerima tawaran tersebut hingga membuat berkas bohong tentang latar belakang pendidikannya. 

Sumber : TSM Entertainment

Merasa rumah keluarga Park bisa jadi lumbung padi nan baik bagi keluarganya, mendadak Ki-woo merekomendasikan adiknya serta seluruh Ayah dan Ibunya untuk bekerja di rumah tersebut, dengan tetap berpura-pura tak saling mengenal. Nah, di tengah-tengah masa nyaman atas apa apa yang sedang mereka terima dari bekerja di rumah keluarga Park. Serangkaian kejadian menegangkan, justru bermula ketika mereka sedang menikmati semua fasilitas rumah tuan Park, tatkala keluarga itu pergi berkemah untuk merayakan ulangtahun anak keduanya. 

Memiliki alur yang tak bisa ditebak, kamu akan tertawa dari menit pertama film berlangsung bahkan hingga ke babak menegangkan yang juga mulai hadir di sepertiga film berjalan. 

Terlihat ingin menggambarkan realitas sosial yang sebenarnya, narasiyang ingin disampaikan Join-ho melalui film ini terasa begitu dekat dan nyata. Mulai dari dialog, perilaku, dan mimik seluruh pemain, disajikan dengan begitu sempurna bahkan nyaris tanpa cela. Selepas tertawa bahagia dan merasa kagum dengan segala ide brilian keluarga Ki-taek, sang sutradara akan membawa kita pada perjalanan gelap bermisteri yang kita sendiri tak tahu apa yang akan menjadi akhir dari semuanya. 

Sumber : TSM Entertainment

Choi Woo-sik yang memerankan (Ki-woo/Kevin) dan Park So-dam (Ki-jung/Jessica) jadi duel hebat yang berhasil memerankan kakak-beradik dalam sebuah misi licik nan menguntungkan. Bahkan terjadi sejak mereka berdua berburu sinyal wifi tetangga hingga ke atas closet kamar mandi dalam apartemen mereka. Satu lagi, Lee Jeong-eun (Moon-gwang) dan Park Myeong-hoon (Geun-se) tampil sebagai pihak pembawa suasana horor, khususnya mimik wajah mereka, yang kemudian membuat penonton berimajinasi dengan segala kemungkinan gila yang bisa saja terjadi. 

Bahkan sampai hingga ke fase klimaks, film ini masih menyajikan sesuatu yang membuat penonton terperangah dan takjub secara bersamaan. Film yang tadinya bisa terasa mengerikan, bisa berubah jadi sesuatu yang indah dan menakjubkan. Maka tak heran kalau Parasite bisa dapet standing ovation selama lima menit di Festival Film Cannes 2019 dan jadi salah satu andalan Box Office Korea, tapi juga jadi film yang dapat skor 98% di Rotten Tomatoes dan 8,6/10 di IMDb.

Sumber : TSM Entertainment

Pada akhirnya, selepas menonton film ini, kita mungkin akan menghadapi pertanyaan yang serupa. Tentang siapa mereka yang layak disebut sosok protagonis dan antagonis, sebab ide cerita dan serta alur dan makna yang disampaikan, justru membuyarkan pikiran sehingga tak lagi berpikir untuk mencari siapa yang jahat dan siapa yang baik. 

Sedang tayang di bioskop, cobalah temui mereka dan rasakan sensasi petualangan komedi dan thrillernya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

JFlow Rilis Single “Poco-Poco (Best Dance of Our Lives)”

Siapa yang tak tahu ‘Poco-Poco’? Lagu ciptaan Arie Sapulette yang populer dibawakan oleh Yopie Latul ini memang sudah akrab di telinga semua orang. Bahkan tak hanya lagunya yang terkenal, gerakan tari Poco-Poco juga sering dijadikan tarian modern untuk senam aerobik.

Nah, kesuksesan lagu dan tari ‘Poco-Poco’ inilah yang kemudian menginspirasi JFlow untuk merilis single berjudul ‘Poco-Poco Best Dance of Our Lives’. “Lagu ini memiliki lirik dan musik yang diaransemen dengan nuansa hip hop ala JFlow. Dari sisi musik dan liriknya lebih santai, lebih mewakili nuansa alam dan orang Maluku yang memang laidback”, kata JFlow pada release yang diterima media.

Selain itu, JFLow mengaku dirinya merasa terpanggil untuk memperkenalkan lagu yang kental dengan budaya Maluku ini.

“Saya sebagai musisi muda berdarah Maluku terpanggil untuk memperkenalkan ulang budaya Maluku lewat versi baru lagu ‘Poco-Poco’ ini. Lagu ‘Poco-Poco’ dari jaman saya kecil sampai tahun 2019 tidak pernah absen dihampir setiap acara kumpul-kumpul orang Indonesia dimanapun, karena lagu ini sudah melegenda. Jadi tantangan juga buat saya bagaimana membuat orang yang sudah familiar dengan versi lama untuk jatuh cinta dengen versi saya ini”, tambah JFlow.

Dalam penyelesaian lagu ‘Poco-Poco Best Dance of Our Lives’, JFlow dibantu oleh co-producer A. Monteya dan arranger Soundstarz. Seluruh proses penyelesaian lagu tersebut membutuhkan waktu satu hari untuk penulisan liriknya dan beberapa bulan untuk aransemen musik, mixing, dan masteringnya.

Lagu ini merupakan karya kolaborasi Musica Studios dengan Right Now Music yang sudah dirilis pada 29 April 2019 lalu diseluruh digital music platform. Melalui lagu ‘Poco-Poco Best Dance of Our Lives’ ini JFlow ingin berbagi cara pandangnya terhadap kehidupan. Menurutnya, bukan mudah atau susahnya hidup yang menentukan kebahagiaan, tetapi bagaimana cara kita melihat hidup itu sendiri.

Berikut adalah tautan dari video klip musiknya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top