Feature

Ego: Bagai Debu Yang Membuat Mata Kelilipan, Takkan Terlihat Sebelum Mata Dibersihkan

Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”

Peribahasa ini memang sangat tepat untuk menggambarkan sikap yang banyak dimiliki oleh kita. Sering mempermasalahkan kekurangan yang ada pada diri orang lain, tapi diri sendiri tak kunjung dibenahi.

Bertindak sebagai seseorang yang hebat karena mampu mengkritisi orang lain, memang apa enaknya? Coba tanyakan pada diri sendiri, memangnya hidup kita sudah benar? Sayangnya jawabannya sering sekali “tidak”.

Bukannya membuat diri terlihat lebih baik dari mereka yang dikritisi, hal itu justru jadi beban jika ternyata diri ini hanya sibuk berkomentar saja.

Berdalih Ingin Memberi Saran, Padahal Niatnya Ingin Menunjukkan Bahwa Hidupnya Jauh Lebih Benar

Sebagian orang mungkin bisa tertipu, bahwa apa yang kita sampaikan adalah sebuah saran yang membantu. Padahal lebih dari itu, ini semua hanyalah alasan semata. Secara tidak langsung kita hanya ingin bilang, bahwa caramu salah dan caraku yang benar.

Jangan dulu marah dan buru-buru protes, karena jika ternyata tidak benar kamu tentu hanya akan bereaksi biasa. Untuk sikap yang ingin terlihat menujukkan empati, sungguh tak ada salahnya. Hanya saja cara yang kita pakai justru jadi pemicunya. Bilangnya sih untuk membantu orang lain agar lebih baik lagi, tapi seringnya malah membuat mereka semakin tak percaya diri.

Tak Mau Mengakui Pencapaian Orang Lain Sedang Dirinya Tak Punya Prestasi Apa-apa

“Ah segitu, saya juga bisa lebih baik dari itu”, jika didengar secara sekilas ucapan ini bisa diartikan sebagai bentuk dari rasa percaya diri yang kuat. Tapi jika ditelisik lebih dalam, ucapan ini bisa berarti jadi bentuk ketidakrelaan. Ya, kita sering merasa tak senang jika ternyata ada orang lain yang mampu berbuat sesuatu lebih dari kita.

Bukannya berlomba untuk menciptakan hal-hal baru yang lebih besar. Kita hanya fokus pada perkembangan kemampuan yang dimiliki orang. Lalu bagaimana dengan kita? Tentu sama sibuknya. Jika orang lain sibuk berlomba untuk mencapai mimpinya, kita sibuk mengomentari upaya orang lain untuk meraih angan-angannya.

Berkomentar Memang Mudah, Tapi Menerima Kritikan dengan Senang Hati Jauh Lebih Mulia

Sebagai orang yang merindukan inovasi, kita memang butuh kritikan sebagai masukan untuk diri. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang buruk, karena biar bagaimana pun orang lain adalah guru terbaik yang akan menilai kinerja kita. Untuk dapat mempengaruhi orang dari komentar memang sangatlah mudah.

Cobalah lihat, seberapa banyak orang yang mampu memberi sepatah dua kata kalimat dorongan untuk seorang teman yang baru saja gagal. Banyak sekali bukan? Anehnya ketika dikomentari orang lain, kita malah kerap tak bisa membendung emosi, segala luapan amarah kita jadikan hal yang melindungi diri.

Lagi Pula Setiap Orang Punya Cara Hidup yang Berbeda dan Pilihannya Tak Selalu Jadi Urusan Kita

Nampaknya kita lupa, jika isi kepala setiap manusia tentu berbeda. Sesuatu yang kita anggap benar, tak selalu sejalan dengan yang dipikirkan orang. Kita bisa saja memilih giat bekerja pada usia muda, kemudian bersantai dimasa tua. Tapi ada orang lain yang tentu punya pandangan berlawanan. Bisa saja mereka beranggapan bahwa masa muda harus diisi dengan hal-hal menyenangkan, dan giat bekerja tidak termasuk didalamnya.

Tapi apa iya kita bisa menjamin bahwa kelak ia akan hidup susah di masa tua? Tentu saja tidak Kawan! Tak ada seorang pun yang mampu menilai baik dan buruknya pilihan orang. Jika memang hal tersebut tak jadi beban. Mengapa harus dipermasalahkan?

Dimata Kita Diri Ini Selalu Benar Sedang Orang Lain Selalu Salah

Hal tragis lain yang kerap kita lakukan adalah memandang segala hal diluar pemikiran kita sebagai kesalahan. Tanpa ragu kita kerap menyuarakan suara, untuk sekedar merendahkan pilihan orang yang bisa jadi tak kalah hebatnya. Ego jadi salah satu pemicu yang memperlambat kita berkembang. Merusak relasi dengan taraf yang lebih besar.

Siapakah kita ini yang selalu memandang buruk pada orang lain? Bukankah mereka juga sama seperti kita. Berada sedikit lebih tinggi bukanlah sesuatu yang patut diagungkan, untuk kemudian merasa sombong. Apa lagi hingga memaksa orang lain untuk minta maaf tapi diri sendiri kadang tak bersedia untuk mengucap maaf.

Padahal Percaya Diri Berlebih Sering Membuat Kita Lupa Diri

Diberbagai kesempatan tentu kita tak selalu jadi pemenang, mempersiapkan diri pada beberapa kemungkinan buruk tentu harus dilakukan. Tapi tak peduli pada situasi apa pun, kadang kala kepercayaan diri yang lebih malah membuat kita jadi pribadi yang tak bersahabat.

Satu hal yang perlu diyakini, bahwa diri ini tak mampu untuk menyenangkan hati semua orang. Ada yang suka ada pula yang tidak, akan selalu begitu hingga seterusnya. Meski percaya diri jadi syarat untuk berbenah diri, tapi jika kadarnya berlebih malah akan jadi bumerang untuk diri sendiri.

Kita boleh percaya atau tidak, tapi faktanya sikap inilah yang kerap kita lakukan pada orang lain. Entah disengaja atau tidak, hal-hal ini jadi sesuatu yang memang harus segera dihilangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Rendah Diri dan Jangan Pula Tinggi Hati, Hidup Bisa Berubah Kapan Saja

Kamu mungkin pernah berandai-andai, kalau saja hidupmu berkecukupan. Pastilah bahagia dan tak sesedih sekarang. Padahal jika itu benar-benar terjadi, belum tentu demikian, kan? Sebaliknnya, jika saat ini hidupmu terasa bahagia sekali, jangan sesekali kau bertinggi hati. Apalagi sampai memandang rendah orang lain yang hidupnya tak lebih baik dari kita. 

Siapa pun dan bagaimana pun keadaanmu saat ini, berhenti untuk larut dalam sedih, tapi tak pula dianjurkan angkuh dan menyombongkan diri. Tetap jalani semua yang memang kau ingini, berusaha untuk mewujudkan mimpi, dan percaya jika hidup bisa berubah kapan saja.

Setelah Sedih Tentu ada Hal yang Akan Membahagiakan Hati 

Percayalah, tak ada hidup yang isinya melulu kesedihan saja. Suatu waktu, jika momennya sudah tiba dan semesta telah memberi restunnya, kamu pun bisa merasakan apa itu bahagia. Tertawa atas semua pencapaian yang sudah kamu lakukan, bersyukur atas segala hal yang mungkin bisa kamu dapatkan. 

Itulah mengapa kau tak bisa bersedih berlama-lama, tak pula menganggap semua kekurangan yang ada dalam diri akan berlangsung selamanya. Asal percaya dan terus berusaha, bahagia yang memang sudah ditakdirkan menghampirimu pasti akan datang juga. 

Begitupula Dengan Kesombongan Diri yang Bisa Berganti dengan Sebuah Kesedihan

“Hidup dan semua yang kita miliki, hanyalah sebuah titipan”

Begitu para orangtua mengingatkan. Dan percaya atau tidak, itu adalah sebuah pernyataan sekaligus nasihat yang benar. Segala yang ada dan kita miliki sekarang, bisa saja hilang dalam sekejap mata, jika memang Allah mengkehendakinya. Itulah mengapa, kita dilarang untuk menyombongkan diri sebanyak apapun harta yang dimiliki. 

Tetaplah santun, dan tetap rendah hati, tak perlu merasa menjadi manusia yang ‘paling’ hanya karena ada sesuatu yang kita miliki. Jaga semua yang sudah ada, dengan tetap menjadi manusia baik yang bersikap biasa-biasa saja.

Sisi Baik dan Buruk datang Bergantingan, Serupa dengan Sedih dan Bahagia yang Tentu Akan Datang

Sebab begitulah hidup, apa yang terjadi tak selalu sesuai dengan yang tadinya kita ingini. Tapi ini adalah perjalanan untuk berproses, bagaimana semua itu kita lewatkan tanpa merasa segalanya jadi beban. Nikmati semua sedihmu, jalani semua hari beratmu, walau semua terasa berat dan menyiksa, percayalah masa bahagia akan segera tiba.

Semua hal punya sisi baik dan buruk, jika hari ini masih sedih esok mungkin kita akan tertawa lagi. Dan begitu pula sebaliknya, jika hari ini tertawa terlalu bahagia, bisa jadi esok ada kesedihan yang harus kita rasa. 

Pilihanmu Akan Menentukan, Bagaimana Situasi Hatimu di Masa Depan

Coba bayangkan seseorang yang sudah terbiasa hidup dengan hati yang serupa setiap hari. Walau ada sedih ia tetap tertawa, walau ada bahagia yang bisa jadi alasan menyombongkan diri, ia tetap biasa saja. Jadilah seperti itu, bersikap serupa meski apapun yang sedang kamu rasa. Tak berlebihan, tak pula terasa kurang.

Ketika hati dan jiwa sudah terbiasa, maka apapun yang akan terjadi atau kita terima di masa depan, tentu rasanya akan sama seperti kehidupan kita pada masa silam. 

Hadapi Semua Sedih dan Bahagia dengan Lapang Dada

Tak ada sedih yang tak punya jalan keluar, tak ada pula bahagia yang tak akan berkesudahan. Semua hal di dunia sudah ada porsi dan waktunya, kapan setiap perasaan itu akan mengahampiri kita dan kapan pula mereka pergi untuk meninggalkan kita. Belajarlah menerima, ikhlaskan hati untuk semua yang terjadi, dengan begitu kau akan lebih paham, apa itu bahagia yang sebenarnya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tetap Waspada, Inilah 5 Ciri-ciri Lelaki yang Hanya Inginkan Fisikmu Saja

Kalau sudah kepalang cinta, perempuan memang sering lupa untuk memakai logikanya. Mengira kekasihnya benar-benar cinta, padahal si lelaki bisa saja sedang memasang umpan untuk mendapatkan yang ia inginkan. Memang sih, tak semuanya brengsek seperti yang kamu kira. Tapi selain, orang-orang baik yang memang masih ada itu, ada beberapa ciri-ciri lelaki yang hanya menginginkan tubuhmu saja. 

Beberapa kali, dirimu mungkin sudah bisa membaca gelagatnya, tapi karena masih ragu dan sudah telanjur percaya. Hal-hal dibawah ini mungkin bisa lebih membuatmu percaya, apakah dirinya memang benar-benar cinta atau ingin menyalurkan nafusnya saja. 

Ia Terlalu Sering Memuji Fisikmu Dibandingkan Kemampuan Lain yang Kau Miliki

Jika diawal perkenalan ia memuji dari penampilan fisik mungkin akan terdengar wajar. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pengetahuannya tentang dirimu seharusnya bertambah. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya memujimu dengan kemampuan atau kelebihan lain, ia malah terfokus untuk memuji fisikmu dengan bahasa yang sedikit liar. Jika ini terjadi selama berkali-kali, kamu memang perlu untuk berhati-hati. 

Obrolannya Tak Jauh-jauh dari Perbincangan yang Mengarah ke Seks

Tanda-tanda lain yang juga perlu diwaspadai adalah bagaimana ia ketika sedang mengobrol bersamamu. Coba lihat dan perhatikan, bagaimana ia membangun obrolan setiap kali sedang berdua atau berkomunikasi lewat ponsel. Seolah jadi bahan perbincangan favorit, topik yang ia bicarakan selalu mengarah ke sesuatu yang bersifat mesum. Kalau sudah begini, mulailah ambil jarak, siapkan langkah-langkah untuk segera menjauh darinya. 

Mencarimu Saat Sedang Ada Maunya Saja

Lain dari saat pertama kali bersama, kini ia berubah dan tak lagi perhatian seperti awal hubungan. Tak lagi memberi perhatian, ia mendadak hilang setiap kali sedang dibutuhkan. Lalu akan datang jika ada sesuatu yang ia inginkan. Dari gelagat seperti ini, harusnya perempuan sudah tahu.

Jika lelaki ini memang tak benar-benar mencintaimu. Ada  sesuatu yang memang ia incar darimu, itulah mengapa ia datang saat sedang butuh saja. Dan ketika ia sudah berhasil mendapatkan yang ia mau, bukan tak mungkin jika kau akan ditinggalkan.

Mengajakmu ke Tempat-tempat Sepi yang Sebenarnya Tak Membuatmu Nyaman

Sepi di sini adalah sepi yang bermakna negatif, bukan sepi karena memang ingin ketenangan, tapi tempat sepi yang memungkinkan ia bisa leluasa untuk berbuat banyak hal atas dirimu bahkan tubuhmu. Bahkan meski kamu sudah berkata tak nyaman, bisa jadi ia tetap memaksakan. 

Padahal seorang lelaki yang memang benar-benar mencintai perempuannya, akan selalu berusaha membuat pasangannya nyaman dan merasa senang, Jika ternyata ia justru melakukan hal sebalikknya, tak apa untuk mencari penggantinya saja. 

Dan Mulai Berani Menyentuh Bagian-bagian Tubuhmu, Walau Sebenarnya Kamu Tak Mau

Tadinya, ia mungkin hanya beranin mengenggam tanganmu, merangkul pinggul mu atau sentuhan-sentuhan lain yang memang masih wajar. Tapi makin lama, ia terlihat berubah dengan sikap yang makin tak dijaga. Bukannya berhenti walau dirimu sudah bersuara, sentuhan-sentuhan yang ia berikan mulai menjalar dengan berani tanpa mau peduli dirimu suka atau tidak.

Kalau sudah begini, kamu memang perlu untuk membuat keputusan. Tinggalkan ia dan carilah lelaki lain yang bisa menghargai dan memperlakukanmu dengan benar, 

Jatuh cinta dan percaya itu sah-sah saja, tapi jangan sampai karena terlalu cinta, kamu menjadi bodoh dan mengiyakan semua yang ia inginkan. Bangunlah pertahanan baik yang jadi tembok pembatas atas diri dan tubuhmu dengan lelaki yang jadi pacarmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Walau Masih Cinta, Hubungan yang Menyiksa Harus Ditinggalkan Segera

Embel-embel ‘cinta’ atau ‘sudah pacaran lama’ kadang membuat kita menutup mata, atas banyaknya perilaku tak enak yang kita terima. Ya, kita memang tak bisa memilih akan jatuh hati kepada siapa, tapi kita tentu bisa memilih sosok seperti apa yang harusnya dipertahankan cintanya. 

Kalau saat ini, dirimu memang sedang terjebak dalam sebuah kubangan besar yang membuat perih dihati, bukan berarti kau tak bisa berbuat apa-apa. Jangan selalu menganggap dirimu lemah, kisah cinta yang toxic baiknya segera ditinggalkan. Bahagia adalah pilihan, cobalah renungkan beberapa hal ini jika dirimu masih ragu untuk meninggalkan. 

Tak Perlu Menunggu Dirinya untuk Berubah

Memang kalau masih cinta, kita kadang terlalu percaya bahkan memberinya kesempatan, walau nyatanya terus melakukan kesalahan yang sama. Maka tak jarang, jika hubungan yang toxic berakhir dengan kekerasan fisik. Melepasnya memang tak mudah, tapi demi kebaikanmu berhentilah untuk menunggu ia berubah.

Seseorang yang memang sudah memiliki kebiasaan untuk berbuat kasar, berbicara tak sopan, hingga memukul pasangan adalah watak yang sulit untuk dihilangkan. Ia tak akan berubah, jadi berhenti mencintai dan mempertahankan hubungan dengannya. 

Coba Ingat Lagi, Sudah Berapa Kali Kau Menangis Karena Ia Terus Menyakiti

Kalau dirimu masih sulit untuk melupakan banyaknya kebaikan yang (mungkin) pernah ia lakukan, cobalah ingat sudah berapa kali ia berbuat kasar. Sudah berapa kali ia memukulmu, membuat hatimu terluka, hingga akhirnya kau hanya bisa menangis berharap ia akan mengaku salah.

Sudahlah, katakan pada diri sendiri, tangisan terakhir yang ia hasilkan akan jadi perpisahan terakhir atas hubungan yang sedang kalian jalankan. Pergilah, tinggalkan ia dengan semua perbuatan buruknya. 

Kebahagian Ada di Tanganmu, Kau Berhak untuk Menentukan yang Terbaik untukmu

Ingatlah selalu, apapun yang terjadi atas hidup kita. Diri sendiri adalah satu-satunya pihak penentu yang akan memutuskan apa saja. Begitu pula dengan hubungan beracun yang mungkin selama ini sudah banyak membuat kita kecewa.

Meski dengan berat hati, dirimu harus berani memutuskan untuk meninggalkan pasangan yang sudah berlaku kasar. Ambillah satu keputusan dan berusahalah untuk kuat meski tak ada lagi pasangan. 

Lupakan Perasaannya Jika Kau Tinggalkan, Karena Perasaanmu Pun Tak Pernah ia Pikirkan

Demi hati yang bisa sembuh seperti sediakala, kamu memang harus ada sedikit rasa tega. Tak perlu berkutat dalam pertimbangan-pertimbangan yang bertujuan untuk dirinya. Hanya karena kau tak ingin ia kecewa, bersedih karena akhirnya kalian berpisah, berpura-pura memohon agar  kau tetap bersamanya, dan banyak drama lain yang bisa saja ia sedang berbohong demi menahanmu.

Abaikan semua pikiran yang masih menganggu, perasaan dan hatimu adalah prioritas yang haru kau dahulukan dari apapun.

Dan yang Paling Penting, Dirimu Layak untuk Mendapatkan Pasangan yang Lebih Baik dari Manusia Itu

Pada kenyataannya, mencintai seseorang saja tidaklah cukup jika ia tak balas mencintai kita. Waktu yang kau habiskan terlalu berharga untuk bersama dengan seseorang yang tak pantas untuk hidup bersamamu. Lepaskan ia yang memang tak tulus mencintai, kamu berhak mendapatkan cinta yang lebih baik dari yang ia beri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top