Trending

Dua Kubu Penonton “Dilan”, yang Kalau Digabung Sudah Hampir 2 Juta Orang

Kalau Payung Teduh punya fans yang mencintai mereka sejak kelahirannya dan mereka yang hanya tahu lagu “Akad”-nya saja. Nampaknya sekuel film Dilan pun sama, mereka yang mencintai Dilan sejak cerita Milea pertama dalam seri Dilan 1990, dengan fans yang mencintai pemeran Dilan-nya saja.

Pidi Baiq yang lebih dikenal sebagai Ayah, memang pernah berkata jika cerita dari novel laris ini tak akan dijadikan film layar lebar. Namun dengan berbagai alasan, termasuk antusiasme penggemar yang dibuat jatuh cinta tanpa diminta, akhirnya keinginan itu jadi kenyataan. Digarap oleh PH Falcon Pictures, pada pertengahan tahun lalu, sekitar bulan juli 2017 persiapan syuting pun akhirnya dimulai.

Setelah mencari pemeran Dilan hingga satu tahun lamanya, beberapa orang memang terlihat dibuat kecewa. Bagaimana tidak, sosok anak SMA laki-laki nakal nan tampan dan romantisnya itu akhirnya diperankan oleh Iqbal Ramadhan yang tak lain adalah mantan personil Boy Band CJR. Ea…Eaa…

Baiklah mari kita kembali ke pembahasan utama, tak perlu saya jelaskan lagi kata-kata “rindu, berat, kamu tak akan kuat” hingga “Biar aku saja” pasti sudah berseliweran di segala penjuru media sosial. Kata-kata dari Dilan memang bak candu, bahkan menjadi alasan mengapa saya selalu tersenyum sendiri selama membaca 3 seri novelnya, secara berurutan sejak 2014 lalu.

Tak ingin melabeli diri sebagai yang paling tahu Dilan dan segala tingkah lakunya, kali ini biarkan saya bercerita dari sisi pembaca yang nampaknya agak sedikit tak kecewa dengan apa yang saya saksikan di hari pertama penayangan filmnya.

Maaf nih saya bukan tak suka Iqbal, bukan pula tak percaya jika dirinya mampu memerankan Dilan dengan maksimal. Sebab melihat sepak terjangnya yang sudah pernah berperan dalam seni akting, harusnya ia sudah bisa lebih luwes dalam hal memahami karakter. Ya, setidaknya tak berbicara layaknya sedang membaca Pancasila, apa lagi saat menyampaikan kata-kata manis pada Milea.

 “Jangan rindu! Berat. Kamu tak akan kuat. Biar aku saja”. Lalu diiringi jeritan histeris dari beberapa perempuan di samping saya, sedangkan saya hanya bisa menggerutu sembari berkata dalam hati “Dia, bukan Dilanku!” Huffft…

Sumber : https://www.instagram.com/falconpictures

Saya tentu tak bermaksud untuk berkata bahwa film ini jelek, tapi ya tidak bagus juga. Setidaknya ini menurut saya. Datang dengan modal kecewa saat melihat tayangan trailernya, tadinya saya ingin mematahkan stigma buruk yang lebih dulu terbangun.

Dengan bekal imajinasi yang berhasil terbangun saat membaca 3 seri novelnya, jelas saya memang sedikit kecewa. Kata-kata manis dari Dilan yang selalu berharap pada Milea, mendadak sirna seketika, karena Dilan berbicara bak petugas upacara. Nah iya, paham kan? Kaku! Dan saat itu pula imajinasi akan Dilan mendadak rusak.

Beruntungnya ada Vanesha yang menjadi Milea, perawakan dan gaya bicara hingga kostum-kostum yang ia kenakan sepanjang film ditayangkan jadi satu-satunya hal yang membuat saya merasa tak sia-sia menerjang macet demi menonton di hari pertama. Happy Salma yang menjadi ibu Milea juga bermain cukup epic, berbanding terbalik dengan ibu Dilan yang diperankan oleh tante Ira Wibowo. Entah janjian dengan Dilan atau bagaimana, tapi rasanya kakunya sama. 

Sumber : https://www.instagram.com/falconpictures

Kisah ini memang tak tertuju pada satu garis usia. Karena latar belakang anak SMA di tahun 1990-an, terbukti dengan mereka yang duduk di samping saya, terlihat lebih tua dari saya. Manis memang, bahkan beberapa perempuan mungkin tiba-tiba akan berharap jadi Milea yang diperjuangkan habis-habisan oleh Dilan.

Sedang yang laki-laki, mulai belajar menggombal dengan hal-hal baru yang diluar nalar. Memberi gebetan hadiah TTS yang sudah diisi mungkin, seperti Dilan. Eh, emang masih ada? Silahkan cari saja, mungkin di warung Bi Eem ada.

Walau faktanya ada beberapa bagian yang nampaknya dipotong dari cerita novel aslinya, dan salah satunya bagian yang tadinya saya tunggu ketika Dilan dan Milea akan berkunjung untuk yang pertama kali ke rumah Dilan. Entah untuk apa, Dilan mampir dulu ke rumah tetangganya lalu ditanya oleh Milea “Ini rumah kamu?”, yang dijawab Dilan dengan, “Bentar aku tanya dulu,” mereka yang membaca pasti sudah bisa menebak. Yap, dengan santai Dilan tanya ke sang tetangga “Masa kata dia ini rumahku?” sembari menunjuk Milea. Di filmnya, sehabis dari pasar membawa bahan masakan, Dilan dan Milea tiba-tiba sudah sampai di rumah.

Dan untuk kesekian kalinya, setelah menonton film yang diadaptasi dari novel. Lagi-lagi saya harus merasakan hal yang sama. Sebab untuk kesekian kalinya pula, saya akan berpendapat sama, bahwa sebaik-baiknya novel memang akan lebih baik jika tetap menjadi novel saja. Walau  Ayah Pidi Baiq juga duduk di kursi sutradara, nampaknya upaya untuk membangun karakter Dilan versi nyata memang sulit untuk diterima oleh setiap pembaca.

Namun biar bagaimana pun, sebagai manusia yang selalu menikmati karya-karya dari Ayah Pidi Baiq, saya turut berbangga. Karena faktanya, belum genap seminggu tayang, film ini sudah ditonton hampir 2 juta orang. Ini jadi pencapaian besar yang memang layak diapresiasi bersama.

Menempatkan Iqbal sebagai pemeran Dilan memang bukanlah upaya yang salah, karena meski saya tak suka, faktanya ada jutaan orang ciwiew-ciwiew lain yang mencintainya. Meski ada hal lain yang mendadak saya sadari, bahwa jualan kadang lebih penting dari sebuah peran.

“Dilan, aku belum menyukai pemeranmu, nggak tahu kalau nonton lagi. Tunggu saja!”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top