Feature

Dia Bukan Mantan, Hanya Barisan Pernah Sayang

Belum juga kamu baca habis artikelnya, barangkali kamu akan berkomentar, “Mantan akan tetap jadi mantan”. Mungkin kamu sedang merasa bahwa dia yang kamu sebut mantan tak lagi seperti awal pertama kamu kenal. Ya, itu kan bagimu. Lain halnya denganku.

Oke, mari lupakan dulu semua hal buruk yang mungkin membuat kita akhirnya mengakhiri hubungan dengannya. Bukankah kita juga dulu pernah bahagia bersama? Lalu kenapa harus menyebutnya sebagai mantan dengan kesan yang kurang mengenakkan?

Kamu mungkin sedang ingin berdalih, meski hanya sekedar bilang, “Itu kan dulu, lain dengan sekarang!”. Tanpa harus terus memberinya gelar mantan, sesungguhnya dia adalah orang yang pernah kamu sayang.

Coba Ingat Kembali, Bagaimana Kamu dan Dia Dulu Memadu Kasih

Benar memang, saat ini kalian sudah tak lagi menjadi sepasang kekasih. Kisah cinta setiap manusia tentu berbeda, jika yang lain terlihat awet dengan satu pasangan saja hingga menikah, kita berdua mungkin berbeda. Ini bukan kesalahan, tidak pula aib yang harus disembunyikan. Sebab kita hanya bisa menjalani alur cerita.

Tanpa harus terus menerus melabeli dirinya mantan kekasih, cobalah tengok kembali beberapa kenangan yang dulu telah dilalui bersama. Jika katamu tak ada cerita yang patut untuk dibanggakan, itu artinya kamu sedang berbohong.

Hingga Perbuatan Lain yang Membuat Kalian Semakin Saling Mencintai

Meski katamu hubungan kalian berdua hanya sebentar, tentu ada satu dua cerita yang masih melekat diingatan. Bagaimana kamu dan dia pelan-pelan saling sayang, hingga hal remeh yang kerap membuatmu tersipu malu.

Kini rute ceritanya mungkin telah berbeda, dia tak lagi jadi pasangan yang kamu suka dulu. Setidaknya ini adalah alasan umum yang kerap membuat beberapa pasangan akhirnya berpisah.

Tak ada yang salah, toh ini adalah hal wajar untuk hubungan cinta. Tapi meski ceritanya sudah usai, bukan berarti kamu harus membencinya kan? Gugurnya dia dalam cerita, hanyalah satu babak dari banyaknya kisah yang sudah ada di depan mata.

Dan Mengapa Dirinya Berubah, Penyebabnya Tentu Bukan Hanya Karena Dia

Ini penting untuk kamu ketahui, agar pandanganmu tak hanya tertuju pada dia yang kamu sebut-sebut sebagai mantan. Tapi juga mengoreksi diri sebagai pasangan. Sebab alasan kalian akhirnya berpisah, tentu tak hanya datang dari dirinya saja.

Dibelakangnya kamu bisa saja menjadikan ia sebagai pihak yang bersalah, dan diseberang sana bisa jadi ia juga sedang bercerita hal serupa. Menjadikanmu sebagai pihak yang bersalah pula.

Padahal jika dipikirkan kembali, tak akan ada sesuatu yang berarti ketika kalian sama-sama menyalahkan. Daripada berkutat pada penempatan siapa yang salah, cobalah ambil sisi baik dari cerita cinta.

Cerita dengannya Memang Hanya Sebentar, Tapi Kenangan Bersamanya Tentu Tak Akan Pudar

Lama atau tidaknya sebuah hubungan, kadang jadi patokan untuk menentukan seberapa cinta kita pada mantan. Padahal dari beberapa kasus putus, durasi hubungan tak selalu jadi alasan seberapa kesakitanmu saat ditinggalkan.

Percayalah setiap manusia jadi pihak paling berkuasa untuk memeluk keraguannya masing-masing. Tak perlu risau untuk keras berkata tentang masa indah yang kamu dapat darinya. Sebab meski sudah berpisah, kemarin ia sempat kamu puja.

Bukan Perihal Dia yang Berubah dan Tak Lagi Sama, Barangkali Porsinya dalam Hidupmu Memang Tak Lama

Untuk segala hal yang telah menjadi cerita, sesungguhnya tak satu pun kita bisa mengubahnya selain Dia yang berkuasa. Kamu dan dia yang kemarin sepakat untuk hidup berjalan bersama, akhirnya berpisah. Tak masalah, sebab ini adalah rute terbaik.

Hal yang kini perlu kamu pahami, kini perannya untuk menghiasi babak-babak kehidupanmu telah selesai. Tak ada yang perlu disesali sebab meski tak lagi jadi kekasih, dia pernah jadi pihak yang mewarnai beberapa cerita dalam hidup.

Tak Ada yang Pantas Disesali, Sebab Kalian Pernah Saling Menyayangi

Masa lalu tak akan pernah hilang, ia akan terus berada disana pada tempat yang memang semestinya. Ia memang sudah tak lagi terasa dekat, tapi sekuat apa pun kamu melupakanya tentu tak akan bisa.

Kamu bisa saja bilang sudah tak lagi berpikir tentang bagaimana ia dulu memanjakanmu dengan caranya. Tapi sesungguhnya itu semua hanyalah sebuah dalih untuk terbebas dari dakwaan. Terima dan jalani saja, barangkali ini akan mempermudah semuanya.

Jika Masih Saja Melabeli Dirinya Begitu, Baik Kamu dan Dia Adalah Mantan yang Tak Lagi Saling Sayang

Kamu boleh saja bercerita bahwa ia hanyalah seorang mantan yang tak lagi berarti. Seolah menjadi pihak yang memenangkan cerita, kamu merasa bangga sebab lebih dulu melabelinya “Mantan”.

Tak ada yang salah, biar bagaimana pun kalian memang sudah tak lagi bersama. Lalu apakah itu merubah cerita? Tentu tak ada.

Ia dan kamu sesungguhnya masih sama, tetap menjadi dua orang berbeda sebagaimana kalian dulu berusaha menyamakan irama.

Hanya saja kini, ada nada yang memang harus diganti dengan lantunan yang lebih indah. Bukan karena kamu berubah, tidak pula karena ia sudah tak lagi sama. Ini semua hanyalah masalah semesta, waktu, dan jalan cerita yang mungkin kurang sesuai.

Berhenti memberinya predikat mantan dengan kesan yang bisa membuat ia tak nyaman, sebab kamu ini pun adalah mantan dari dia yang kamu sebut mantan.

 

1 Comment

1 Comment

  1. noel

    March 1, 2018 at 9:25 am

    bt w kl dh mantan gk. perlu d bhs n d ingat. kl ingat pun y hrs tau batasannya mgkn msh da rs simpatik n mnrt w tu hl yg wjr. beda kl qm blm. pny pcr n mantan jg blm br qm bol mempertimbangkn mo balikan or gk. intinya tny k suara ht qm. pa dia patut u qm perjuangkn or gk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Berhentilah Berharap Lebih ke Manusia, Sewaktu-waktu Bisa Saja Mereka Berbalik Mengecewakanmu

Saat didera kegamangan, seringkali kita menyudutkan pihak lain dan menganggap mereka sebagai pemberi harapan palsu. Tak hanya soal asmara, tapi juga dalam lingkup karier, keluarga, dan pertemanan. Padahal kalau boleh dipikir lagi, sejatinya tak ada yang namanya pemberi harapan palsu. Kitanya saja yang terlalu menaruh harapan ke orang lain.

Untuk itu, kukatakan padamu, tak sebaiknya kita menaruh harapan lebih ke manusia. Sebab manusia selalu punya peluang untuk mengecewakan manusia lainnya. Cukupkan keinginanmu dan utarakan apa yang ingin kamu harapkan darinya. Terpenting, dan jangan menaruh harapan lebih, ya!

Berhentilah Mengharapkan Orang-orang Akan Seterusnya Sependapat denganmu

Kamu yang sering jadi center of attention biasanya punya kekuatan untuk ‘mengumpulkan’ opini dari sekitarmu agar mereka seterusnya sependapat denganmu. Padahal dalam hal meyakini sesuatu dan memiliki pendapat yang sama, setiap orang punya alasan untuk percaya atau tidak. Terlepas dari logis atau tidaknya alasanmu, sejatinya setiap orang tidak akan selalu bisa setuju denganmu karena pikiran dan hati nurani setiap orang berbeda-beda. Tentunya hal ini diluar kontrolmu dan jelas saja tak bisa kamu paksakan.

Berhentilah Berharap Agar Orang Lain Menghargaimu Meski Kamu Sudah Berdamai untuk Terus Menghargai Keberadaan Mereka

Kita sering beranggapan jika kita menunjukkan sikap baik dalam hal menghargai orang lain, maka orang tersebut akan berbalik baik sesuai ekspetasi kita. Padahal tidak selalu demikian. Seperti pepatah lama yang mengatakan “jangan berharap seekor singa tak akan memakanmu, hanya karena kamu tidak akan memakan singa tersebut.” Tidak demikian Kawan, perasaan dan harapanmu terhadap orang lain tak selalu berlaku sama dengan yang kamu harapkan.

Berhentilah Menaruh Harapan Kalau Orang Lain Akan Menyukaimu

Hidup ini adalah tentang menerima apa yang akan terjadi di hidupmu. Jangan karena kamu merasa akan tertekan seumur hidupmu, kamu selalu berusaha membuat orang lain menyukaimu. Faktanya, suka atau tidaknya seseorang terhadapmu adalah diluar kontrolmu. Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik dan apa adanya dari hatimu. Jangan sampai merasa terbebani dan biarlah semua mengalir begitu saja.

Berhentilah Mengira Setiap Orang Tahu Apa yang Kamu Pikirkan

Ini fakta yang sering diabaikan. Lawan bicaramu bukanlah seseorang yang mampu membaca pikiranmu. Karenanya apa pun yang kamu pendam dan dirasa perlu disampaikan, maka utarakanlah. Komunikasi adalah satu-satunya cara supaya orang lain mengerti apa yang kamu rasa. Berhentilah berharap orang bisa tahu keadaanmu meski kamu diam saja. Tidak begitu, Kawan! Kamu harus mengomunikasikan apa yang sekiranya perlu kamu bicarakan.

Berhentilah Menganggap Sekitarmu Baik-baik Saja, Padahal Sejatinya Kamu Harus Lebih Lagi Memperhatikan Sekitarmu

Faktanya, setiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri. Punya masalah, beban, dan tanggung jawab hidup masing-masing. Jangan kira mereka adalah pribadi yang baik-baik saja sehingga kamu bebas mengekspresikan  apa pun yang kamu pikirkan.

Jangan berharap demikian, sebab sejatinya tak ada orang yang benar-benar dalam kondisi baik-baik saja. Pasti ada hal-hal yang berkecamuk di kepala mereka. Pada akhirnya, semakin kamu mampu untuk tidak berharap banyak, semakin kamu bisa menjalani hidup ini dengan bahagia. Kekecewaan lahir sering kali karena ekspektasi yang tinggi. Jadi jalani hidupmu sebagaimana seharusnya, dengan mengalir mengikuti prosesnya begitu saja.

1 Comment

1 Comment

  1. noel

    March 1, 2018 at 9:25 am

    bt w kl dh mantan gk. perlu d bhs n d ingat. kl ingat pun y hrs tau batasannya mgkn msh da rs simpatik n mnrt w tu hl yg wjr. beda kl qm blm. pny pcr n mantan jg blm br qm bol mempertimbangkn mo balikan or gk. intinya tny k suara ht qm. pa dia patut u qm perjuangkn or gk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Seintens Apa Pun Kita Berkirim Pesan Singkat, Tak Akan Bisa Menggantikan Kehadiranmu yang Senyatanya

Kata Mama, aku boleh bersyukur karena yang namanya komunikasi sekarang ini semakin dimudahkan. Dulu saat Mama dan Papa masih pacaran, tak ada yang namanya komunikasi intens setiap hari. Kalau tidak lewat telepon, ya terpaksa surat-menyurat sembari menabung rindu. Memang benar adanya, keberadaan teknologi seakan memangkas jarak yang mungkin terbentang jauh antara dua orang yang sedang menjalin relasi.

Durasi berkirim pesan pun tak lagi jadi masalah yang berarti. Tinggal ketik, kirim, ceklis dua, penerima pesan pun bisa langsung membacanya. Begitulah kira-kira. Meski dua orang yang menjalin relasi tetap berjarak, setidaknya bisa saling tahu kabar masing-masing tanpa perlu lelah menunggu.

Hanya saja, benarkah relasi yang semacam ini akan seterusnya membawa dampak yang baik? Sekalipun bisa terus  terhubung sepanjang hari dan saling tahu kabar masing-masing kapanpun kita mau…

Hingga Hari Ini Tiada yang Bisa Menggantikan Makna Kehadiran yang Sesungguhnya

Apalah arti relasi tanpa sebuah kehadiran yang nyata adanya. Kalau ada orang bilang dalam relasi penting sekali yang namanya perhatian dan afeksi, mungkin itu bisa kita rasakan dengan saling terhubung setiap hari lewat telepon dan bertukar pesan singkat. Tapi soal kehadiran yang nyata, teknologi belum sanggup menjawab kegamangan ini.

Padahal, ketika menjalin relasi, yang paling didambakan adalah kehadiran kekasih hati di setiap momen penting hidup kita, bukan? Lantas kalau kita berdua justru sama-sama nyaman via suara dan menabung rindu di udara, benarkah relasi ini sedang baik-baik saja?

Membangun Chemistry Tak Cukup dengan Tertawa Online dan Tersenyum Via Emoji

Aku tertawa dengan lelucon yang kita bicarakan. Pun dengan kamu di seberang sana. Tapi rasanya ada yang kurang, aku tetap tak bisa melihat tawamu. Kalaupun via videocall, aku tetap tak merasakan suasana nyata bahwa kamu benar-benar tertawa di samping atau di depanku. Gelak tawa kita memang tidak palsu, hanya saja aku tak cukup puas kalau belum merasakan sendiri perihal tawamu benar-benar nyata di depanku.

Chemistry mungkin bisa muncul lewat percakapan. Tapi seberapa kuat hal itu akan bertahan? Aku bertanya, saat kamu menyematkan emoji tawa, benarkah kamu memang sedang tertawa? Atau saat kamu mengirim emoji senyum, benarkah wajahmu memang sedang memulas senyum? Namun diatas semua itu, aku hanya rindu kita saling bertatap muka saat kamu atau aku sedang bicara.

Jangan Kira Situasi Semacam Ini Tak Menarik Perhatian Para Peneliti, Justru Ternyata Ada Juga Penelitiannya

Apa yang kukatakan di atas sejatinya tak hanya kurasakan seorang diri. Ketidakyakinan kalau pasangan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sama ternyata jadi sekelumit kekhawatiran bagi mereka yang terbiasa berkirim pesan singkat. Journal of Couple and Relationship Therapy pernah melakukan penelitian pada 276 orang tentang kebiasaan mereka mengirim pesan dan kepuasan dalam suatu hubungan.

Orang-orang tersebut berusia sekitar 18 – 25 tahun, kemudian mereka diminta melaporkan kebiasaan komunikasi dan perasaan tentang hubungan mereka. Peserta juga diminta menjawab pertanyaan seperti berapa kali mereka telah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka dan sejauh mana mereka merasa seolah-olah pasangannya memperhatikan mereka. Kalau begini, benar-benar memprihatinkan, bukan? Aku tak ingin sampai seperti mereka…

Tapi Bukan Berarti Aku Tak Suka Berkirim Pesan Singkat denganmu, Aku pun Sadar Ini Satu-satunya Cara Agar Kita Tetap Terhubung…

Untuk beberapa situasi seperti mendamaikan hati setelah bertengkar, mengutarakan sesuatu yang sungkan dikatakan, rasanya lebih nyaman diketik lewat pesan singkat. Bagaimanapun, aku menyadari intensitas paling nyata bisa diwujudkan dengan berkirim pesan singkat. Tapi kumohon, janganlah kita sampai terlalu nyaman berkirim pesan singkat sehingga menyepelekan pertemuan bahkan mengurangi intensitas bertemu. Jangan juga jadikan hal ini sebagai cara mempertahankan jarak dariku sebagai pasanganmu. Kalaupun kamu ingin punya waktu sendiri, bukankah lebih baik kita bicarakan baik-baik?

Pada Akhirnya, Kuakui Seintens Apa Pun Kita Mengobrol Lewat Pesan Singkat, Tak Ada yang Bisa Mengalahkan Kualitas Obrolan saat Kita Sedang Bertatap Muka

Selama denganmu, tak akan pernah bisa cukup. Baik dalam hal komunikasi maupun intensitas pertemuan. Itulah mengapa rasanya akan tetap kurang sekalipun kita terus-menerus berkirim pesan singkat hanya demi tahu kabar masing-masing.

Tapi di lain sisi, bertukar pesan terlalu sering pun tak terlalu baik untuk kita. Kamu pasti akan menemukan titik penat, kamu tak bisa menebak intonasiku, mimik wajahku, atau emosiku saat mengutarakan sesuatu. Untuk itulah meski berkirim pesan singkat akan menolong kita, di lain sisi justru jadi tantangan kita.

Ke depannya, mungkin ada baiknya kita berjanji untuk lebih menjaga kata-kata yang kita utarakan lewat pesan singkat. Semaju apa pun teknologi, tetap ada kelemahannya, bukan? Kalaupun ada percakapan yang cenderung berpotensi menghasilkan perasaan sakit hati, mungkin lebih baik disimpan dan tak diutarakan sampai suasana benar-benar kondusif. Sebab saat sedang sendiri-sendiri di tempat masing-masing, seseorang akan lebih punya waktu lebih untuk memikirkan perkara omongan pasangannya, bukan?

Karenanya aku ingin kamu tahu, sesukar apa pun jalan di depan, aku hanya ingin membuat pasanganku tidak hanya merasa dicintai, tapi juga membuatnya merasa dihargai.

1 Comment

1 Comment

  1. noel

    March 1, 2018 at 9:25 am

    bt w kl dh mantan gk. perlu d bhs n d ingat. kl ingat pun y hrs tau batasannya mgkn msh da rs simpatik n mnrt w tu hl yg wjr. beda kl qm blm. pny pcr n mantan jg blm br qm bol mempertimbangkn mo balikan or gk. intinya tny k suara ht qm. pa dia patut u qm perjuangkn or gk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

“Seleb English” Konten Edukasi dari Sacha Stevenson, Bagaimana Berbahasa Inggris yang Baik dan Benar

Tak lama setelah membuat video berjudul “How To Act Indonesian”, nama Sacha Stevenson mulai banyak dikenal oleh sebagian besar pegiat media sosial. Dalam seri video tersebut, Sacha menampilan beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana masyarakat kita melakoni hidupnya sehari-hari. Mulai dari kebiasaan, kekonyolan, sikap, bahkan pada keramahan setiap masyarakat kita. Jadi jangan heran, jika selama menyaksikan videonya. Barangkali kita akan berkata “Wah ini gue banget”.

Lahir di Kanada, pada 21 Januari 1982 lalu. Sacha sudah tinggal dan menetap di Indonesia selama 17 tahun lamanya. Menikah dengan lelaki Indonesia, yang juga jadi teman duet untuk berkarya dalam melahirkan konten youtube di saluran pribadinya.

Memiliki pengikut kurang lebih 400 ribu orang, Sacha selalu melahirkan konten-konten menarik untuk disaksikan. Tapi, jika saya akan ditanya manakah konten miliknya yang paling saya sukai. Pilihan saya, jelas jatuh pada seri “Seleb English” yang selalu memberi banyak pelajaran baru seusai menontonnya.

Konon, Kata Sacha Video Seri Ini Adalah Sesuatu yang Baru

Jika kita coba melihat pada beberapa video karya miliknya, kurang lebih ada 20 jenis playlist video pada saluran youtube pribadinya. Dan benar saja, jika seri “Seleb English’ ini adalah sesuatu yang baru ia lahirkan pada pertengahan April 2018 lalu.

Dengan modal, pernah menjadi guru bahasa Inggris selama 7 tahun. Tak ada salahnya jika Sacha membuat video ini sebagai bahan pelajaran untuk para pengikutnya di Youtube. Hanya saja, objeknya mungkin berbeda dari tempat kursus atau sekolah. Ia tak menyampaikan pemahaman lewat materi dari buku-buku tebal atau kamus yang biasa kamu gunakan. Tapi, menggaet para selebriti sebagai bahan pembelajaran.

Tidak Menyebut Dirinya Benar dan yang Dikoreksi Salah, Ia Datang Hanya Untuk Membenarkan Apa yang Seharusnya

Pada video pertama seri “Seleb English” ia mencatut nama Rich Brian, Ayu Ting-ting, Agnezmo, Dian Sastro dan Sule. Hampir serupa dengan seorang guru yang sedang melakoni peran dalam hal menjelaskan sesuatu pada seorang murid. Sacha memberhentikan rekaman suara yang jadi subjek pembahasan, menjelaskan titik salahnya dan menuturkan bagaimana pengucapan yang benar yang seharusnya disampaikan. Mulai dari aksen yang harusnya ditekan, atau kata yang seharusnya diganti dengan kata lain. Sampai beberapa hal, yang mungkin sebelumnya belum kita ketahui sama sekali.

Bahkan tak sampai disitu saja, ia juga mengapresiasi setiap kemampuan berbahasa Inggris semua orang yang ia jadikan bahan koreksi. Mulai dari yang dinilai buruk, sedang, baik, hingga sangat baik.

Sacha Membuktikan, Jika Konten di Youtube Tak Selalu Buruk Seperti yang Banyak Digambarkan

Kita jelas sudah jengah dengan video-video sensasi dari akun-akun yang mengaku konten kreator, video sensasi dengan judul-judul klik bait yang hanya ingin mendulang pundi-pundi dolar dari satu klik para pengguna media sosial, hingga para aksi-aksi tak pantas yang seharusnya tak dijadikan tontonan.

Dan, lahirnya konten “Seleb English” dari Sacha ini. Mungkin bisa jadi sesuatu yang tak hanya menyengarkan tampilan timeline saja. Tapi juga memberikan pelajaran baru untuk siapa saja yang merasa butuh tahu lebih dalam, bagaimana berbahasa Inggris yang baik dan benar.

Disambut Baik Oleh Pengikutnya, Konten-konten Seperti Ini Memang Jadi Sesuatu yang Kita Butuhkan

Setidaknya, tak hanya membuang-buang kuota untuk menonton video-video youtube yang kadang tak ada juntrungannya. Mulai sekarang, ada satu hal baik yang sudah akan kita bayangkan tiap kali akan menonton deretan video miliknya, yakni pelajaran baru dalam berbahasa Inggris yang ia berikan. Karena biar bagaimanapun, ini jadi salah satu bahasa yang seharusnya kita kuasai.

Lebih dari itu, kedepan kita mungkin berharap, akan lebih banyak kreator yang menciptakan konten mendidik serupa yang juga sama baiknya. Memberi edukasi pada setiap orang yang menyaksikan, dan jadi bahan pelajaran baik untuk semua orang.

Dan untuk Sacha, tetap berkarya dan lahirkan lebih banyak konten mendidik lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. noel

    March 1, 2018 at 9:25 am

    bt w kl dh mantan gk. perlu d bhs n d ingat. kl ingat pun y hrs tau batasannya mgkn msh da rs simpatik n mnrt w tu hl yg wjr. beda kl qm blm. pny pcr n mantan jg blm br qm bol mempertimbangkn mo balikan or gk. intinya tny k suara ht qm. pa dia patut u qm perjuangkn or gk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top