Feature

Dampak Negatif Media Sosial Pada Pernikahan dan Hubungan Asmara Kita

Jadi bagian yang tak lagi bisa lepas dari kehidupan, faktanya ada banyak bahagia yang bersumber dari media sosial. Tapi, apakah semua hal yang terjadi di media sosial adalah sesuatu yang baik? Tentu saja tidak. Selain hal baik, ada pula dampak negatif yang akan mempengaruhi kehidupan khususnya pernikahan dan hubungan asmara yang kita jalankan.

Riset yang digelar oleh tiga peneliti dari St. Mary’s University di San Antonio membeberkan fakta yang mendukung hal tersebut. Yap, penelitian yang melibatkan pengguna Facebook berusia 18 – 82 tahun tersebut menyimpulkan bahwa keseringan menggunakan Facebook mampu memicu konflik yang berhubungan dengan media sosial, bahkan bisa berujung pada perselingkuhan, perpisahan, hingga perceraian bagi kita yang sudah terikat pada pernikahan. 

Dan berikut ini adalah dampak negatif yang paling banyak ditemukan, sebagai dampak negatif dari media sosial pada pernikahan dan hubungan. 

Melahirkan Kecurigaan Hingga Cemburu Pada Sesuatu yang Tak Semestinya

Marlynn Wei, seorang psikater dan kontributor The Huffington Post, mengamini beberapa studi terdahulu tentang adanya pengaruh penggunaan media sosial dengan kehidupan berumah tangga, dan salah satunya adalah tingginya tingkat penggunaan Facebook yang konon sering melahirkan kecurigaan hingga kecemburuaan. 

Ini adalah sesuatu yang terdengar wajar, sebab flatform yang satu ini memberikan akses kepada setiap pengguna untuk melihat siapa saja orang yang berinteraksi dengan pasangannya, misalnya. Baik dari komentar, like hingga tag yang dijadikan aktivitas. 

Padahal menurut Wei, ketika media sosial melahirkan banyak informasi tentang pasangan, ada semacam tekanan tersendiri yang justru terasa mendorong kita. Kita pun berusaha untuk menariknya tetap berada dekat dengan kita, hingga akhirnya menaruh curiga sebab kadang cemburu pada apa saja yang ia lakukan tanpa melibatkan kita. 

Kehilangan Momen Berkualitas untuk Bisa Berduaan

Coba perhatikan, bagaimana sosial media jadi yang paling utama dalam hubungan. Walau sedang duduk bersampingan, beberapa pasangan justru sibuk pada telepon genggam masing-masing. Berselanjar untuk saling memberi tanda suka dan komen di unggahan beberapa kawan dan lupa jika sedang bersama pasangan. 

Momen manis yang tadinya bisa lebih berkualitas, diganti dengan aktivitas ber-media sosial yang sebenarnya tak memberi manfaat apa-apa untuk hubungan. Maka tak jarang, banyak pertengkaran yang dipicu oleh aktivitas ini.

Bahkan nih, Di tahun 2014 Paw Research Center mendapati jika 25% dari responden studi mereka mengatakan jika mereka sering mendapati pasangannya terdistraksi oleh ponsel saat sedang bersamaan, 8% dari mereka mengalami pertengkaran terkait waktu yang lebih banyak dihabiskan di dunia maya, serta 4% sisanya pernah marah karena aktivitas pasangannya di dunia virtual. Masih mau mengelak?

Hingga Membuat Hubungan Jadi Sesuatu yang Tak Bahagia

Nih, asal kamu tahu saja pada tahun 2017, Instagram adalah media sosial yang paling berefek buruk pada kesehatan mental. Melibatkan 1.500 responden berusia 18-24 tahun, survei yang diadakan di Inggris mengungkapkan jika Instagram paling banyak menyumbangkan efek negatif dalam diri, seperti kecemasan, depresi, FOMO (fear of missing out), hingga bullying.

Sumber : Shutterstock

Cukup memprihatinkan memang, sebab ketidakbahagian personal berdampak pada hubungan dengan pasangan. Tim dari Departemen Psikologi Sosial and Organisasi di VU University Amsterdam juga pernah mengumpulkan pasangan suami-istri yang bersedia menjadi responden dari sejak satu bulan berumah tangga hingga tahun keempat. 

Selama empat tahun, mereka dievaluasi sebanyak lima kali bekaitan dengan tingkat kebahagiaan dan penggunaan internet. Hasilnya, banyak yang menyatakan jika mereka sulit berhenti berselancar saat di dunia maya, bahkan memilih hal tersebut dibandingkan bersama suami atau istri, bahkan kekasihnya. Hasilnya, bukannya bahagia mereka justru merasa kian jauh dari hati yang tenang sehingga tak pernah merasakan kebahagian pada pernikahannya. 

Bisa Pula Berujung Pada Perselingkuhan, Karena Membuatmu Kehilangan Kesetiaan

Tak bisa dielak, godaan media sosial memang sangatlah besar. Dari mulai godaan belanja hingga stalking sesuatu yang kadang tak kita butuh, acap kali membuat diri ketagihan. Berkenalan dengan seseorang yang baru maupun bersua dengan teman lama pun kian mudah terjadi. Bahkan terjebak dalam perangkap masa lalu yang justru merusak hubungan yang sudah dijalani sekarang. 

Maka tak salah jika, dari hasil surveri Pusat Riset Populasi Austin di University of Texas yang meneliti suami-istri berusia 18-39 tahun, tingginya penggunaaan media sosial tidak hanya memicu ketidakbahagiaan dalam pernikahan, tapi juga hubungan yang bermasalah hingga pemikiran untuk bercerai.

Bisa Menggoyahkan Kepercayaan Atas Pernikahan dan Hubungan

Melihat bagaimana seorang pasangan terlena dengan aktivitas media sosial, biasanya akan melahirkan rasa cemburu dan curiga. Hal inilah yang kemudian biasanya membuat kita jadi berpikir ulang, tentang arti dan makna dari sebuah pernikahan dan hubungan yang sedang dijalankan. 

Jika aktivitas tersebut hanya dilakukan pada kadar yang biasa saja, mungkin tak akan jadi masalah. Namun akan berbeda jika media sosial tersebut justru merubahnya jadi sosok yang tak biasa dan jauh dari apa yang kita harapkan sebelumnya. 

Jadi, agar terhindar dari beberapa dampak buruk tersebut. Cobalah belajar untuk mengakomodir diri untuk bisa mengontrol aktivitas pada media sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top