Trending

Crazy Rich Asians Siap Mengubah Stereotip Orang Asia di Mata Dunia

Film komedi romantis Crazy Rich Asians tengah ramai dibahas dan dianggap sukses membuat orang-orang Asia bangga. Disutradai oleh Jon Chu dari Amerika Serikat, film ini menyuguhkan dongeng masa kini yang dipenuhi orang-orang kaya nan rupawan.

Menariknya, film ini berupaya tidak menampilkan artis-artis peran Asia dalam stereotip yang sering digambarkan oleh media. Cerita dalam film Crazy Rich Asians sejatinya diambil dari novel dengan judul yang sama karangan Kevin Kwan yang bercerita mengenai kehidupan asmara Rachel Chu.

Rachel Chu, diperankan oleh Constance Wu, merupakan profesor ilmu ekonomi di New York University. Ia memiliki kekasih bernama Nick Young, yang diperankan Henry Golding. Nick diceritakan berasal dari Singapura. Setelah berpacaran selama lebih dari setahun, pasangan itu mulai serius. Namun, mereka masih belum terpikirkan untuk menikah. Satu waktu, Nick Young mengundang Rachel Chu ikut ke acara pernikahan sahabatnya di Singapura. Ia juga berencana mengenalkan Rachel kepada keluarganya.

Constance Wu mengatakan bahwa film ini tidak menyuguhkan citra klise orang-orang Asia, sebagai minoritas yang terpinggirkan di AS.

“Acapkali Hollywood berpendapat bahwa orang-orang Asia itu memiliki citra tunggal. Seakan tidak ada perbedaan antara warga Asia sebenarnya dengan warga Amerika keturunan Asia. Atau dengan warga Inggris keturunan Asia, atau dengan warga Australia keturunan Asia. Padahal, ada perbedaan besar di sana! Karena, ada budaya yang berbeda. Film ini berusaha memperlihatkan perbedaan dan ini jarang terjadi,” ungkapnya.

Crazy Rich Asians mencatat rekor dalam penjualan tiket. Hal ini sekaligus memberi harapan bahwa artis-artis peran Asia akhirnya bisa menjadi bagian dari Hollywood. Akhir minggu lalu (19/8/2018) waktu setempat tercatat bahwa Crazy Rich Asians meraup kira-kira 25,2 juta dollar AS dari 3.384 tempat pemutaran film tersebut di AS selama akhir minggu lalu itu.

Mengutip Kompas.com, film tersebut telah mengantongi 34 juta dollar AS sejak diputar pada Rabu (15/8/2018) waktu setempat di AS, jauh melebihi perkiraan. Pada box office AS akhir minggu itu, Crazy Rich Asians menggeser film laga Mile 22 dari puncak ke posisi kedua.

Hal ini sekaligus jadi keberhasilan besar bagi film produksi Warner Bros lantaran film ini dibuat dengan anggaran sebesar 30 juta dollar AS.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top