Feature

Cintai Apa yang Kamu Kerjakan dan Kerjakan Apa yang Kamu Cintai

Tak selalu bisa memilih, beberapa orang bisa saja terjebak pada profesi yang sebenarnya tak ia sukai. Kondisi seperti ini memang kerap jadi dilema, sudah berupaya untuk produktif bekerja. Tapi hasilnya, selalu jauh dari rencana. Berdamai dengan apa yang tadinya tak kita sukai, memang tak selalu bisa berjalan mudah. Tapi untuk urusan pekerjaan yang bertujuan menyambung nyawa, baiknya ini harus diupayakan segera.

Begini, saya meyakini tak semua orang bisa duduk manis untuk mengerjakan apa yang ia cintai. Sebaliknya, ada ribuan atau bahkan jutaan orang yang mau tak mau harus bekerja walau sebenarnya itu bukanlah yang ia suka. Tapi, bagaimana mereka bisa bertahan hingga sekian lama? Mulai mencintai adalah kuncinya.

Hal Semacam Ini Wajar, Tak Ada yang Perlu Ditakutkan

Ya, namanya juga tidak suka. Pasti ada beberapa fase yang masi terasa kurang berkenan di hati. Entah itu cara kerja, lingkungan, atau hubungan dengan atasan. Tapi kalau mau dipikirkan lagi, hal-hal semacam ini tak hanya akan kau temui di lingkungan dengan bidang kerja yang tak kau suka saja. Ketika nanti kamu bekerja sudah pada apa yang kamu suka pun, hal-hal seperti ini masih akan ada.

Bekerja berarti mengaplikasikan ilmu yang sudah dimiliki, tapi kalau memang ini bukan bidang yang kita kuasai tak ada salahnya kan untuk belajar lagi. Rajinlah bertanya, berinisiatif untuk bersuara dan belajar lebih banyak. Kalau hal ini sudah berhasil dijalankan, istilah kata ‘tak suka’, pelan-pelan akan hilang.

Pelan-pelan, Coba Cari Satu Nilai yang Bisa Kamu Jadikan Alasan untuk Mencintai Situasi Ini

Daripada memaksakan diri untuk mencari pekerjaan sesuai bidang yang diminati. Mengambil sedikit waktu untuk bisa berpikir lebih jernih dan membuka diri, akan situasi ini, jauh lebih perlu untuk dilakukan segera. Jangan buru-buru memutuskan untuk keluar, kesampingkan dulu rasa tak nyaman yang belum bisa berkenan. Dengan hal lain yang bisa dijadikan manfaat baik untuk tetap bertahan.

Barangkali pekerjaan ini bisa jadi batu loncatan ini mimpi yang selanjutnya, memperluas relasi dengan kawan lain, hingga memberi peluang yang lebih besar dalam hal mengembangkan karir. Nah, kalau sudah seperti ini. Apa lagi yang ingin kau cari?

Belajarlah untuk Bertindak dan Berpikir Positif, Sebab Itu Jauh Lebih Baik

Menfokuskan pikiran pada hal-hal negatif dari pekerjaan, jelas tak bisa membuatmu senang. Ini akan membuatmu kian sering mengeluh, tak bersemangat untuk memulai pekerjaan, hingga selalu berpikir bahwa semuanya berat. Meski sebenarnya, ini bisa jadi pekerjaan yang menyenangkan.

Pakar psikologi Sherrie Campbell, PhD, mengatakan kunci utama menjalani hidup yang berkualitas ada di pikiran. Jika berpikiran positif, maka setiap masalah dan hambatan yang datang akan bisa dilalui dengan baik. Jika ini sudah berhasil dilakukan, bisa dipastikan rasa senang atas pekerjaan bisa kamu rasakan. Dan ketika itu sudah berhasil didapatkan, semua tantangan dalam pekerjaan yang tadinya terasa berat. Pelan-pelan mulai terlihat sebagai peluang yang sebenarnya bisa dimanfaatkan.

Walau Tak Cepat, Perlahan Pekerjaan Ini Bisa Jadi Sesuatu yang Menyenangkan

Tak bisa diukur atau ditentukan, setiap orang punya kemampuan yang berbeda dalam hal mencintai pekerjaan yang tadinya tak ia suka. Biar bagaiamana pun proses adaptasi, jelas berbeda-beda. Namun hal yang bisa disamakan adalah hasil dari upaya yang sedang dijalankan.

Menjadi seorang ‘custumer service’ yang tadinya terasa menyebalkan, kini berubah jadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan karena bisa membantu banyak orang. Begitu kira-kira gambarannya.  

Di Lain Sisi, Kamu Juga Butuh untuk Melakukan Hal-hal Lain yang Disukai

Nah, sembari menjalani proses perubahan dari yang tadinya ‘tak suka’ menjadi ‘suka’. Ada kegiatan lain yang juga perlu untuk kamu kerjakan. Yap carilah apa yang selama ini kamu suka, ingat-ingat lagi kegiatan seperti apa yang sebenarnya kamu ingini.

Saat ini, kamu mungkin bekerja di tempat yang belum sesuai dengan hati. Tapi tak ada salahnya untuk tetap mengerjakan apa yang kamu cintai. Maka jika sewaktu-waktu, kamu memang benar-benar tak bisa mencintai pekerjaan tersebut. Ada hal lain yang bisa dengan mudah kamu kerjakan lagi.

Selain Membuat Diri Merasa Puas, Biasanya Hasilnya Pun Dekat dengan Harapan

Tak ada yang lebih menyenangkan memang, dibanding mengerjakan apa yang kita sukai. Ibarat sebuah kecintaan atau kesukaan, hobi kita kali ini mungkin akan mendapat bayaran berupa gaji. Selanjutnya, kamu bisa melihat bagaimana hasil dari pekerjaan yang kamu lakoni. Dan selalu ada perbedaan yang jauh lebih baik, ketika kamu mengerjakan sesuatu yang memang sudah dicintai sejak lama.

Kecintaanmu akan hal tersebut, membawamu pada keinginan untuk memberikan yang terbaik dari yang kamu bisa. Walau sesungguhnya, hasil yang serupa juga bisa kita lahirkan meski pada pekerjaan yang kurang berkenan. Asal bisa berjanji pada diri sendiri, untuk melakukan yang terbaik, pastilah hasilnya baik juga.

Perkara menjalani pekerjaan, memang tak semua hal bisa kita dapatkan. Profesi dan kecintaan yang berbeda pun kerap jadi penghalang, tapi satu hal yang tetap harus kita percaya, belajarlah mencintai apa yang sedang kita kerjakan, dan selalu kerjakan apa yang memang kau cintai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

PSI Kalah Pemilu dan Tak Akan Punya Wakil di DPR-RI

Dari hasl quick count, Grace Natalie selaku ketua umum Partai Solidaritas Indonesia alias PSI mengakui kekalahannya dalam Pemilu 2019. Hal ini diungkapkan berdasarakan perolehan suara yang didapat dari beberapa lembaga survei yang menggelar hitung cepat. Dimana PSI hanya memperolehan suara 4 persen.

Padahal, syarat yang menjadi ketentuan Undang-undang sebuah Partai bisa masuk ke parlemen, setidaknya harusnya memperolah 4 persen suara. Barulah partai tersebut bisa mempunyai wakil di DPR-RI.

“Menurut quick count, PSI mendapat 2 persen. Dengan perolehan itu PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun ke depan,” tutur Ketua Umum PSI Grace Natalie dalam keterangan tertulis, Rabu (17/4/2019).

Perempuan tersebut menuturkan, bahwa dirinya dan tim telah berjuang maksimal sehingga tak mau menyalahkan siapa pun terkait hasil jeblok tersebut.

“Kami telah berjuang dengan apa yang kami bisa. Tidak, kami tak akan menyalahkan siapa-siapa. Kader kami, pengurus PSI, Caleg kami, telah bekerja keras siang dan malam meyakinkan rakyat. Tapi inilah keputusan rakyat melalui mekanisme demokrasi yang harus kami terima dan hormati,” jelasnya.

Namun tak hanya itu saja, sebagai salah satu Partai pendukung 01, Grace juga menuliskan ungkapan rasa bahagianya atas keunggulan suara yang diperolah pasangan calon priseden nomor urut 01. Bahkan di pernyataannya, meski kalah mereka mengatakan jika mereka akan segera kembali. Sebab mereka bukanlah Partai yang datang ke rakyat lima tahun sekali. 

PSI memang kalah dan tak bisa melaju ke Senayan, tapi menariknya di media sosial macam Twitter dan Instagram. Para pengguna yang memang memberikan surat suaranya ke PSI tetap memberi dukungan dan semangat agar mereka tak patah arang dan siap melaju lagi di 5 tahun mendatang.

“comeback stronger, we are with you. bangga menjadi bagian 2% yg memilih psi jaga eksistensi, gaspol di 2024!” Cuit akun @aqli aulia

“2% suara buat partai baru udah gokil banget sih, keep up the good work!” tambah akun @taufmeister

“Bangga menjadi bagian dari 2% @psi_id @grace_nat @TsamaraDKI Tetap berjuang untuk Pancasila, UUD 1945, dan NKRI 2% adalah tangga awal agar PSI dapat lebih baik 👍☝️ tweet akun @fantoniw

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top